Albern & Lily

Albern & Lily
Ucapan Tak Terduga


__ADS_3

Zivanna membeku, tak tahu harus berbuat apa.


"Maaf, Zi. Aku tidak bermaksud membuatmu marah." Darrel berujar dengan penuh penyesalan.


Zivanna masih diam tak mengatakan apapun. Dadanya berdesir. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia masih terbuai dengan perlakuan Darrel padahal jelas apa yang Darrel lakukan saat ini tak bermakna apapun untuk pemuda itu.


"Sana, pergi!" sergah Zivanna kemudian. Tapi Darrel tak mau pergi.


"Papamu membujuk Mamamu dengan cara seperti itu karena dia mencintai Mamamu. Sedangkan kamu, memangnya apa alasanmu melakukan hal itu? Toh kamu tidak memiliki perasaan yang dimiliki Papamu terhadap Mamamu, kan?" Zivanna membuang mukanya ke arah lain. Antara kesal tapi dadanya juga berdebar.


"Siapa bilang?" Darrel balik bertanya.


Sontak Zivanna langsung kembali menoleh dan menatap Darrel dengan penuh tanda tanya.


"Papa pernah bilang jika Mama adalah satu-satu perempuan yang ingin dia lihat setiap kali membuka mata, dan Mama juga adalah satu-satunya perempuan yang Papa harapkan menjadi ibu dari anak-anaknya," gumam Darrel sebelum akhirnya ia menoleh ke arah Zivanna.


Zivanna masih terdiam tak mengerti. Mencoba memahami ke mana arah pembicaraan Darrel saat ini.


"Aku juga merasa seperti itu," tambah Darrel lagi.


Tanpa sadar Zivanna menahan nafasnya. Dadanya agak bergemuruh menunggu kata-kata Darrel yang selanjutnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Zivanna dengan agak tak sabar.


"Aku juga ingin kamu menjadi satu-satunya perempuan yang aku lihat setiap kali aku membuka mata, dan berharap kamu juga yang akan menjadi ibu dari anak-anakku." Darrel menjawab dengan serius sembari menatap Zivanna.


"Uhhukk!!! Uhhukk!!! Uhhhuuukkk!!!" Zivanna tersedak ludahnya sendiri saking kagetnya. Setelah sebelumnya mengatakan hal yang teramat sangat menjengkelkan, tiba-tiba saja Darrel mengatakan sesuatu yang terlampau manis. Apakah Zivanna tidak salah dengar? Atau mungkin matahari sudah terbit dari barat?


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Darrel kemudian. Dia terlihat khawatir karena tiba-tiba saja Zivanna terbatuk-batuk tanpa alasan.


Zivanna hanya menggeleng sembari agak memegangi dadanya.


"A-apa yang kamu katakan tadi?" Zivanna berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika dia tidak sedang berhalusinasi dan indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Tidak ada. Anggap saja kamu tidak mendengar apa-apa," jawab Darrel tanpa beban.

__ADS_1


Sekali lagi Zivanna terperangah. Ia kembali mendengkus kesal sembari membuang muka ke arah lain. Kali ini pun Darrel sedang mempermainkan perasaannya. Dasar lelaki menyebalkan tidak punya perasaan!


"Aku pikir apa yang aku pikirkan adalah hal yang baik, tapi ternyata tidak.


Buktinya kamu sampai syok dan tersedak seperti itu saat mendengarnya. Aku minta maaf. Anggap saja kamu tidak mendengar apa-apa," tambah Darrel lagi.


Zivanna kehabisan kata-kata. Dia tak tahu harus menanggapi pernyataan Darrel itu seperti apa. Salahnya karena tadi sudah bereaksi berlebihan sehingga manusia kaku ini jadi menarik kata-katanya lagi.


Tapi tunggu dulu, itu berarti tadi Zivanna memang tidak salah dengar, kan?


"Darrel," panggil Zivanna kemudian dengan wajah agak bersemu merah.


"Ya?"


"Yang kamu ucapkan tadi serius, kan?"


Darrel terdiam sesaat.


"Aku 'kan sudah bilang, anggap saja kamu tidak dengar apa-apa," ujarnya kemudian.


"Tapi aku sudah terlanjur dengar. Jadi sekarang aku tanya, kamu serius tidak dengan kata-katamu itu?"


"Tentu saja aku serius, tapi itu hanya pemikiranku secara pribadi, jangan merasa terbenani ataupun tertekan. Aku tidak akan memaksa ...."


"Darrel." Zivanna menyela sebelum Darrel menyelesaikan kata-katanya.


"Aku pegang kata-katamu. Jangan berharap kamu bisa menarik kata-katamu lagi. Kalau sampai itu terjadi, habislah kamu!" tegas Zivanna dengan nada sedikit mengancam.


Darrel agak tertegun. Entah kenapa dia merasa dejavu. Sepertinya dia pernah mengalami sekali ancaman seperti ini.


"Tapi ...." Wajah Zivanna yang bersemu merah tampak agak sedikit berubah. Ia seperti sedang menyadari sesuatu.


"Jika memang kamu memiliki perasaan padaku seperti yang dimiliki Papamu untuk Mamamu, lalu kenapa tadi kamu jawab tidak tahu saat aku tanya kamu bakal menyukai gadis lain atau tidak? Harusnya 'kan kamu merasa yakin jika kamu tidak akan menyukai gadis lain selain aku?" tanya Zivanna kemudian dengan tatapan tajam.


Darrel memandang Zivanna dengan raut wajah tak terlukiskan. Ia pikir urusan tentang menyukai gadis lain sudah selesai, ternyata belum.

__ADS_1


"Zi, apa seharian ini kita hanya akan membahas tentang ini saja? Gadis yang kamu pertanyakan itu juga tidak nyata, kan? Kenapa kamu kelihatannya dendam sekali dengan dia?" Darrel balik bertanya.


"Ini bukan tentang gadis lainnya itu, Darrel, tapi tentang perasaanmu. Kamu tidak yakin dengan perasaanmu sendiri terhadapku!"


"Kalau aku bilang sangat yakin, lalu apa? Memangnya kamu bersedia aku ajak menikah dalam waktu dekat?" Darrel tak mau kalah.


"Apa?" Zivanna kembali terkejut mendengar pertanyaan Darrel.


"Apa aku mesti minta orang tuaku buat melamarmu supaya kamu tidak curiga dan berpikiran macam-macam lagi?"


Zivanna membeliakkan matanya tanpa sadar dengan wajah tak percaya.


"Ka-kamu bicara apa? Melamar? Menikah?"


"Kenapa kamu kaget begitu? Bukankah komitmen kita adalah menikah suatu hari nanti, kan? Kamu tanya tentang keyakinanku, kan? Sekarang kamu sendiri yakin tidak?" Darrel balik mempertanyakan keseriusan Zivanna.


Sungguh, Zivanna benar-benar kehabisan kata dibuatnya. Benar ia ingin memastikan perasaan Darrel padanya, tapi tidak dengan menikah secepatnya juga.


"Tidak begitu juga, Darrel. Kita bahkan belum menyelesaikan kuliah," kilah Zivanna dengan agak salah tingkah.


"Berarti kamu yang belum yakin." Berganti Darrel yang membuang muka ke arah lain.


"Hei, kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya yang marah itu aku!" sergah Zivanna tak terima.


"Ya sudah, kalau begitu kita jangan saling marahan."


Lagi-lagi Zivanna mendengkus. Untuk ke sekian kalinya dia harus kalah dari Darrel. Jelas ia merasa kesal karena lagi-lagi harus memaklumi ketidakpekaan pemuda itu. Tapi kemudian sebuah ide jahil muncul dalam otaknya hingga bibirnya sedikit menipis.


"Darrel, aku sudah memutuskan," ujar Zivanna kemudian dengan nada serius.


Darrel menoleh dengan agak menautkan kedua alisnya.


"Karena kita sudah sama-sama yakin, mungkin memang lebih baik kita segera menikah. Aku akan memberitahu Mama dan Papaku kalau kedua orang tuamu akan segera datang melamarku. Kebetulan Grandma juga sudah sangat menginginkan seorang cicit dan Kak Al juga tidak mungkin menikahi Lily dalam waktu dekat ini. Jadi lebih baik kita saja yang memenuhi keinginan Grandma. Kamu sudah siap menjadi seorang Ayah, kan?" Zivanna bertanya sembari mengulas senyuman manisnya.


Berganti mata Darrel yang membeliak sempurna. Pemuda itu membeku dengan wajah yang memerah, membiru atau memucat. Entahlah ....

__ADS_1


Bersambung ....


Masih edisi Darrel dan Zivanna, next part bakal liat Lily lagi.


__ADS_2