Albern & Lily

Albern & Lily
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Lily mengulum senyumnya mengingat momen pertama ia mengenal Darrel. Suka menonton serial Naruto, membuat temannya itu sampai bercita-cita ingin menjadi seorang Hokage, Shinobi terkuat yang didapuk menjadi pemimpin desa Konoha. Lily bahkan masih sering meledek Darrel tentang cita-cita masa kecilnya itu. Dan reaksi Darrel hanyalah memalingkan wajah dengan pipi memerah. Tampaknya pemuda itu agak malu jika mengingat saat kecil dulu dia punya cita-cita mulia yang tergolong unik.


Suara ketukan di jendela kamar Lily membuyarkan ingatan masa lalu gadis itu. Seperti dugaannya, tampaknya saat ini Darrel telah datang. Segera Lily membuka jendela kamar. Seketika datang sosok tinggi dengan menggunakan pakaian serba hitam serta penutup wajah menerobos masuk ke dalam kamar Lily. Sudah dapat dipastikan jika itu adalah Darrel.


Setelah sekian lama, akhirnya jiwa ninjanya ini kembali tersalurkan. Tapi kemudian, terasa ada yang sedikit janggal dari kostum yang dikenakan Darrel. Lily mengamati, mencoba mencari apa yang salah dari penampilan Darrel saat ini.


"Hahaha...." Lily tak bisa menahan tawanya saat menyadari jika kostum ninja Darrel sedikit kekecilan. Bagian lengan dan celananya tampak sudah agak cingkrang.


"Apa yang kamu tertawakan? Aku seperti ini juga kan karena mengikuti permintaan konyolmu." Darrel bertanya sambil membuka penutup wajahnya. Terlihat dia sedikit tak terima karena Lily menertawakannya.


"Astaga, Darrel. Pakaian siapa yang kamu pakai? Kenapa kekecilan seperti itu?" Ledek Lily sambil masih tertawa renyah.


Secara impulsif Darrel melihat penampilannya sendiri.


"Aku memakai ini terakhir kali empat tahun yang lalu, tentu saja sudah kekecilan sekarang. Memangnya kamu, dari SD masih saja ukurannya segitu." Darrel tak mau kalah meledek.


"Hei, apa maksudnya itu?" Berganti Lily yang tak terima.


"Sudahlah, sekarang katakan padaku apa yang akan kita lakukan." Darrel menyudahi pertikaian mereka.


Lily memonyongkan bibirnya sekilas.


"Bantu aku menyelinap ke kediaman keluarga Brylee." Ujar Lily kemudian.


Sontak Darrel melebarkan matanya.


"Atau lebih tepatnya menyelinap ke kamar Kak Al." Tambah Lily lagi.


"Apa?" Kali ini Darrel bergumam kaget. Dipandangnya Lily dengan tatapan tak percaya.


"Kamu sudah gila, ya?" Tanya Darrel kemudian.


"Enak saja!" Sergah Lily.


"Kalau misalkan aku gila juga itu gara-gara kamu dan Kak Zi."


Darrel sedikit menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Jangan bilang karena pembicaraan tentang Briana siang tadi?" Tebak Darrel.


Lily tak menjawab, namun menghela nafas panjang.


"Astaga, Lily. Bagaimana kamu bisa berniat melakukan hal nekat seperti ini hanya karena pembicaraan tidak penting seperti itu?" Gerutu Darrel sambil membalik badannya kearah lain.


"Jangan pergi, Darrel. Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku gelisah seperti ini. Sampai sekarang aku masih belum bisa menghubungi Kak Al. Kalau aku tidak juga bicara dengannya sampai dia pergi ke New York, aku pasti benar-benar akan gila."


"Lily." Darrel membalik badannya lagi dan terlihat tidak senang mendengar kata-kata Lily barusan.


"Ya, sudah. Kalau kamu tidak mau membantuku, pulanglah. Aku akan pergi sendiri." Ujar Lily lagi sambil beranjak. Gadis itu menyusun beberapa bantal di tempat tidurnya lalu menutupinya dengan selimut, dibuat seolah seperti dirinya yang sedang tertidur.


Lily memadamkan lampu kamarnya, lalu keluar melalui jendela kamar. Mau tidak mau Darrel mengikuti gadis itu. Untung saja rumah keluarga Dokter Evan hanya memiliki satu lantai sehingga tidak perlu ada adegan terjun bebas dari balkon kamar.


Lily menyelinap melalui bagian gelap dari pekarangan rumahnya, sebelum akhirnya melompati pagar. Darrel tampak masih mengikutinya dari belakang. Pemuda itu sangat paham dengan tipikal Lily. Gadis keras kepala yang akan melakukan apa saja yang ingin dia lakukan, tanpa peduli pada larangan orang lain.


Setelah berhasil melewati pos penjagaan komplek perumahan, Lily dan Darrel pun berjalan lebih santai tanpa harus mengendap-endap.


"Stop dulu, Lily." Darrel meminta Lily menghentikan langkahnya sejenak, tapi gadis itu tak menggubris.


Lily menghentikan langkahnya, lalu menoleh sambil tersenyum senang.


Darrel yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Entah kenapa rasanya dia seperti sedang ditipu. Ah, sudahlah. Harusnya Darrel sudah paham jika tadi Lily hanya pura-pura merajuk agar keinginannya dituruti.


"Ngomong-ngomong kita kesana mengendarai apa?" Tanya Darrel kemudian.


"Kamu bisa menggendongku lalu berlari dengan menggunakan ninjutsu-mu, seperti yang dilakukan ninja dalam film-film. Iya, kan?" Lily memberi saran dengan sedikit berseloroh.


"Dasar konyol!" Darrel mendengus kesal, hingga Lily pun tak bisa menahan diri untuk tak tertawa.


"Memangnya kamu kesini tadi pakai apa kalau tidak lari?" Tanya Lily.


"Pakai taksi online."


"Hahahaha....." Sekali lagi Lily tertawa. Kali ini tawanya bahkan lebih keras daripada sebelumnya.


"Baru kali ini ada ninja yang akan beraksi, datang dengan mengendarai taksi online. Kamu benar-benar telah menodai reputasi para ninja." Ujar Lily disela tawanya.

__ADS_1


Sekali lagi Darrel hanya menghela nafas sambil mengeluarkan ponselnya, lalu kembali memesan taksi melalui sebuah aplikasi. Tak lama kemudian, sebuah mobil taksi pun menepi di dekat mereka.


Tapi saat sang sopir turun untuk mengkonfirmasi pesanan, dia sangat terkejut melihat calon penumpangnya ternyata adalah dua orang yang berpakaian serba hitam dengan penutup di wajahnya. Hanya mata mereka saja yang terlihat.


"Kalian begal, ya?" Tanyanya panik sambil hendak masuk lagi ke dalam mobil taksinya, tapi dengan sigap Darrel menahan sopir taksi online itu.


"Tenang, Pak. Kami bukan begal seperti yang Bapak kira." Darrel membuka penutup wajahnya.


Lagi-lagi Lily tak bisa menahan tawanya, hingga sopir taksi online tadi pun sedikit terkejut karena mendengar suara perempuan dari balik penutup wajah calon penumpang yang satunya.


Lily akhirnya ikut membuka penutup wajahnya.


"Memang ada begal yang secantik saya, Pak?" Tanya Lily sambil mengulas senyum manisnya.


Sopir taksi online itu sedikit terperangah melihat paras cantik yang kini tengah tersenyum kearahnya. Seketika rasa takut dan paniknya tadi menguap tak bersisa, berganti dengan ekspresi canggung seperti seorang lelaki yang berhadapan dengan gadis pujaannya.


Darrel memutar bola matanya jengah. Ekspresi sopir taksi online itu saat pertama melihat wajah Lily, hampir sama dengan ekspresi para pemuda yang selama ini mengejar-ngejar gadis itu.


Karena tidak lagi menganggap Lily dan Darrel sebagai begal, sopir taksi online itu akhirnya bersedia mengantarkan keduanya ke alamat yang dituju.


Sementara itu, di kediaman keluarga Brylee, tampak Albern sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerja yang terhubung dengan kamar tidurnya. Lelaki itu sedang berkutat pada beberapa dokumen yang terkait dengan proyek kerjasamanya dengan sebuah perusahaan. Agaknya dia sedang memeriksa ulang bahan untuk meeting dengan pemilik perusahaan yang akan menjadi mitra bisnisnya kali ini. Raut wajahnya tampak serius, tapi kemudian perhatiannya teralih saat mendengar sebuah ketukan. Bukan dari pintu masuk ruang kerjanya, tapi suara ketukan itu datang dari jendela yang terletak diarahkan balkon.


Dengan sigap Albern bangkit, lalu memeriksa kearah jendela tersebut. Sekali lagi ketukan itu terdengar, dan kali lebih jelas daripada sebelumnya.


Perlahan Albern membuka jendela, dan lelaki itu sontak terkejut saat seseorang dengan pakaian serba hitam langsung masuk tanpa permisi. Orang yang mengenakan penutup wajah itu langsung menyerangnya dan memojokkannya kearah dinding, tapi dengan sigap Albern menahan kedua lengan orang yang menyerangnya itu, lalu balik memojokkannya ke dinding.


Orang itu sedikit berontak, matanya juga nyalang menatap Albern. Seketika Albern terkesiap, tatapan itu adalah tatapan dari mata seseorang yang sangat dikenalnya. Segera Albern melepaskan kain hitam yang menutupi wajah orang tersebut.


"Lily?"


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yg menjalankan. Jangan lupa baca Alquran.


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2