Albern & Lily

Albern & Lily
Luka


__ADS_3

Lily duduk menyendiri di sebuah kursi yang terletak di paling sudut perpustakaan. Tempat yang agak tersembunyi, sangat kontras dengan imagenya selama ini yang suka membaur dan ceria.


Sorot mata gadis muda itu terlihat begitu sendu, menatap lurus ke arah tulisan demi tulisan yang tertera di sebuah buku yang saat ini tengah dibacanya. Keningnya agak berkerut, menandakan jika dia sedang berpikir keras mencerna isi dari buku tersebut.


Sesaat kemudian, Lily menghela nafasnya dalam. Ia menengadahkan wajahnya sejenak sembari memejamkan mata. Kemudian ditutupnya buku yang ada di tangannya sembari menghela nafas dalam sekali lagi. Nafas Lily terasa sangat berat, seperti ada yang tengah menghimpit dadanya saat ini. Pikirannya sangat kalut. Bahkan buku filsafat yang sedari tadi sengaja dibacanya untuk mengalihkan pikirannya, tak mampu membuat Lily melupakan kegundahan hatinya. Sekeras apapun ia berusaha untuk tak memikirkan keinginan orang tuanya, hal itu justru terus muncul di kepala Lily. Memang, lari dari masalah bukan gaya yang cocok untuk Lily. Gadis itu memang terbiasa menghadapi masalah apapun yang datang padanya. Dan kali ini juga tampaknya dia mesti menghadapi semuanya meski sulit.


"Lily." Suara seseorang membuyarkan lamunan Lily.


Lily menoleh. Tampak Zivanna dan juga Darrel telah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


"Di sini kamu rupanya," ujar Zivanna sambil menghenyakkan bobot tubuhnya ke atas kursi yang berada di sebelah Lily. Darrel juga ikut duduk di kursi kosong yang satunya lagi.


"Ada apa, Kak Zi?" tanya Lily. Gadis itu


berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.


Zivanna tak menjawab, tapi justru mengamati wajah Lily. Ada yang aneh dari wajah gadis itu. Tak ada sorot mata yang biasanya memiliki binar ceria. Tatapan Lily justru terlihat begitu sendu. Bahkan sisa-sisa tangisan masih bisa dilihat dari kelopak matanya yang sedikit sembab.


"Lily, kamu terlihat tidak seperti biasanya. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zivanna dengan nada khawatir.


"Memangnya aku terlihat seperti apa?" Lily sedikit terkekeh, menutupi perasaan yang saat ini terasa begitu menyiksanya.


Zivanna mengerutkan dahinya tak mengerti. Selama ini Lily adalah sosok yang terbuka dan tak segan menceritakan hal apapun pada dirinya maupun Darrel. Zivanna heran kenapa kali ini Lily tidak mau jujur pada mereka berdua.


"Lily ...." Zivanna hendak mengatakan sesuatu, tapi langsung tertahan saat ia melihat buku yang berada di tangan Lily saat ini.


"Ya ampun!" Zivanna agak memekik tanpa sadar begitu membaca judul buku tersebut. Sebuah buku filsafat yang ditulis oleh seorang filsuf terkemuka. Bacaan yang berat untuk seorang Lily yang biasanya berpikiran praktis.


"Zi, ssstttt ...." Darrel membeliakkan matanya sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

__ADS_1


Zivanna buru-buru membekap mulutnya sendiri begitu menyadari beberapa orang yang sedang membaca di sana menoleh ke arahnya.


"Apa-apaan ini? Sejak kapan otakmu menerima bacaan seperti ini?" tanya Zivanna dengan nada suara rendah, nyaris menyerupai sebuah bisikan. Ia menunjuk buku yang sedang dipegang Lily sambil menatap keheranan.


"Sejak tadi," jawab Lily tak acuh.


Sekali lagi Zivanna dibuat heran. Lily tampak menghindari tatapan matanya saat menjawab pertanyaannya tadi.


"Lily, lihat aku saat bicara!" pinta Zivanna kemudian dengan nada serius.


Sekali lagi Lily menghela nafasnya.


"Apa, Kak Zi? Kenapa Kakak cerewet sekali, sih? Kakak jalan sama Darrel saja sana. Aku 'kan sudah memberi kalian ruang untuk berduaan, kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik?" tanya Lily, berusaha mengalihkan pembicaraan.


Lily hendak bangkit, tapi langsung ditahan oleh Zivanna.


Lily terdiam. Mau tak mau ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Zivanna.


"Lily, apa kamu habis menangis semalaman?" tanya Zivanna lagi dengan sedikit membeliakkan matanya. Ia agak terkejut saat berhadapan dengan wajah kusut gadis itu. Seumur hidup Zivanna, baru kali ini ia melihat wajah Lily yang begitu berantakan.


"Tidak, tidak, apapun yang terjadi, bukankah setidaknya kamu memakaikan cushion di wajahmu, atau minimal bedak?" Zivanna menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Lily kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. Tentu saja ia tak peduli tentang hal itu karena hatinya sekarang sedang kacau balau.


"Lily, apa jangan-jangan kamu juga pergi ke kampus tanpa mandi dan menggosok gigi?" Sekali lagi Zivanna bertanya.


Sontak Lily melotot sambil kembali mengangkat wajahnya.


"Tentu saja aku mandi dan menggosok gigi," sahutnya dengan agak tak terima. Dia memang tak punya mood untuk berdandan, tapi tentu tak akan lupa mandi ataupun menggosok gigi.

__ADS_1


"Ya siapa tahu saja," ujar Zivanna dengan raut tanpa dosa.


Lily pun tersenyum, meski tipis. Zivanna memang selalu bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.


Melihat senyum tipis di bibir Lily, Zivanna pun ikut tersenyum.


"Apa kamu sungguh tidak mau cerita?" tanya Zivanna kemudian.


Senyum Lily kembali memudar. Gadis itu tertegun sejenak sebelum akhirnya menundukkan wajahnya. Dan Zivanna kembali dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Lily terisak pelan.


"Lily?" Wajah Zivanna jadi terlihat agak panik dibuatnya.


"Aku harus apa, Kak Zi? Orang tuaku tidak mau merestui hubunganku dengan Kak Al. Mereka justru memintaku melanjutkan kuliah di luar negeri," ujar Lily lirih di sela isakannya.


Zivanna terdiam. Ia tak bisa mengatakan apapun selain menatap nanar ke arah gadis itu.


"Aku sungguh tidak ingin pergi jauh dari Kak Al, tapi aku juga tidak bisa menentang keinginan kedua orang tuaku. Aku harus apa? Hiks ... hiks ...." Lily tersedu dengan suara tertahan sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gadis yang biasanya sangat ceria itu kini menangis lirih dengan sangat memilukan.


Zivanna dan Darrel tertegun dan tak bisa mengatakan apapun. Sepanjang mereka menjalin persahabatan, baru kali ini Lily terlihat sangat sedih dan putus asa. Entah hal apa yang dilakukan untuk menghibur gadis itu.


"Lily, tenanglah ... ini tidaklah seburuk yang kamu kira. Semuanya akan baik-baik saja." Zivanna akhirnya mengucapkan kalimat yang sekiranya bisa membuat Lily merasa jauh lebih baik.


"Apa ada hal yang bisa lebih buruk dari ini? Aku sudah menunggu selama bertahun-tahun agar bisa bersama dengan Kak Al. Lalu saat kami ternyata memiliki perasaan yang sama, aku justru harus pergi meninggalkannya. Adakah yang lebih buruk dari ini, Kak Zi?" tanya Lily serak dengan beruraian airmata.


Zivanna menatap Lily dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan. Mata gadis itu juga mulai mengembun, siap melelehkan cairan panas yang saat ini mulai terasa berdesakan memenuhi pelupuk matanya. Detik berikutnya, Zivanna meraih tubuh Lily dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Airmata Zivanna tanpa sadar ikut jatuh membasahi pipinya. Ia seakan ikut merasakan rasa sakit yang saat ini Lily rasakan.


"Aku harus apa, Kak Zi ...?" Tangis Lily pun semakin menjadi di pelukan Zivanna. Gadis itu tersedu, menumpahkan semua perasaan yang menyesakkan dadanya, berharap setelah ini apa yang Zivanna katakan tadi benar adanya. Semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2