Albern & Lily

Albern & Lily
Papamu Akan Menjadi Papaku Juga


__ADS_3

Albern akhirnya menyuruh Asisten Dhani untuk pulang terlebih dahulu dengan menggunakan taksi. Lily juga meminta asistennya untuk kembali tanpa dirinya. Mereka memutuskan untuk menikmati waktu bersama lebih lama lagi dengan alasan mau menjenguk Nyonya Ginna yang saat ini sedang terbaring sakit.


Selama perjalanan, Albern tampak mengemudi sambil sesekali menoleh ke arah Lily, seakan ingin memastikan jika yang ada di sampingnya saat ini memang benar gadis yang selama ini dia nantikan.


"Kak Al, tidak bisakah Kakak fokus ke jalanan dulu selama mengemudi. Tidak perlu terus melihat ke arahku, aku akan tetap seperti ini, tidak akan berubah wujud tiba-tiba," ujar Lily karena Albern terlalu sering menoleh ke arahnya.


"Aku takut kalau tadi hanya salah lihat saja, lalu tahu-tahu sekarang kamu berubah menjadi orang lain," sahut Albern.


Lily hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja mendengar itu. Tujuh tahun tak bertemu, dia tak menyangka Albern akan berubah menjadi sosok yang agak konyol.


"Lebih baik sekarang Kakak mengemudi saja dengan benar," ujar Lily.


"Sekarang pun aku sedang mengemudi dengan benar. Memangnya mau benar seperti apa lagi?" tanya Albern.


"Ish, sekarang Kak Al juga pandai berkilah, ya?" Lily sedikit mengerutkan keningnya.


Albern agak terkekeh.


"Aku dulu belajar dari seseorang," sahutnya santai.


Lily tampak mencebikkan bibirnya. Dia tahu siapa orang yang Albern maksud. Sudah pasti dirinya.


"Berhentilah memasang wajah seperti itu. Aku jadi gemas," ujar Albern.


"Memangnya kenapa kalau gemas?"


"Aku jadi ingin menjentik keningmu."


Mau tak mau Lily jadi tertawa mendengarnya.


"Astaga ... kebiasaan Anda tidak berubah, Tuan Brylee," ujar Lily sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Albern hanya tersenyum sambil kembali fokus mengemudi.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar mama dan papamu?" tanya Albern kemudian.


"Mereka baik. Papa masih sibuk di rumah sakit, sedangkan Mama sekarang membuka tempat untuk les piano," sahut Lily.


"Apa mereka tahu kalau sekarang kamu ada di sini dan perusahaanmu akan bekerjasama dengan Brylee Group?" tanya Albern lagi.


"Iya, tentu saja. Bahkan jika Kakak tidak menawarkan kerjasama terlebih dahulu, Papaku menyarankan agar kami yang yang mengajukan proposal kerjasama." Lily kembali menyahut dengan santai.


"Papamu?"


"Iya. Papaku salah seorang investor di BrushHealth Company."


Albern tertegun sejenak.


"Jadi beliau juga tahu kalau sekarang kamu pasti sudah bertemu denganku lagi?"


"Maksudku bukan begitu. ..."


"Lalu?"


Albern kembali terdiam dan membuang nafas kasar sejenak.


"Apa sekarang Papamu sudah tak masalah lagi kalau kamu dekat-dekat denganku?" tanya Albern akhirnya. Dia memang ingat jika Evan pernah berjanji akan memberikan restunya kalau Lily telah berhasil menjadi orang sukses. Tapi mengingat betapa lelaki itu tak begitu menyukainya wajar saja kalau masih ada kekhawatiran di hati Albern saat ini.


Lily tersenyum, lalu menatap lurus ke depan.


"Apa Kak Al pikir papaku tidak menyetujui hubungan kita tujuh tahun yang lalu karena beliau membenci Kakak?" Lily balik bertanya.


Albern pun menoleh ke arah Lily sekilas, sebelum kemudian kembali menghela nafasnya.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak terlalu yakin," sahut Albern.


Sekali lagi Lily mengulas senyumannya.


"Papa bukannya membenci Kak Al, tapi di mata Papa, Kak Al itu terlalu sempurna, makanya Papa merasa khawatir dan takut," ujar Lily akhirnya.


Albern kembali dibuat tertegun mendengar itu, meski kali ini dia tak menoleh lagi ke arah Lily.


"Papa sadar kalau saat itu aku sangat banyak kekurangan. Mentalku juga belum kuat. Padahal untuk menjadi pendamping Kak Al, tentu aku harus menjadi sosok yang hebat pula agar bisa mengimbangi Kakak. Jika tidak, maka aku hanya akan hidup di bawah bayangan Kakak dan menjadi semakin mengerdil setiap harinya. Papa terlalu sayang padaku, jadi dia tidak ingin aku berakhir seperti itu." Lily bertutur dengan nada rendah sembari masih menatap lurus ke depan.


"Awalnya aku juga sempat merasa kalau Papa terlalu kejam padaku, pada kita. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar jika yang Papa lakukan bukan untuk memisahkan kita, tapi ingin membuat pondasi hubungan kita semakin kuat. Selama tujuh tahun ini, Papa sebenarnya tidak pernah melarangku untuk menghubungi Kakak, tapi aku sendiri yang bertekad untuk tidak melanjutkan hubungan kita kembali sebelum aku benar-benar pantas menjadi pendamping Kakak," tambah Lily lagi.


Mau tak mau, Albern pun kembali menoleh ke arah Lily.


"Aku tujuh tahun yang lalu adalah seorang gadis naif yang berpikir hidupku akan bahagia hanya karena cinta. Aku tidak menyadari, hampir semua pasangan yang bercerai itu pada awalnya juga menikah karena cinta. Ada yang jauh lebih penting dalam sebuah hubungan ketimbang cinta, yaitu rasa saling memahami. Waktu itu, jangankan memahami Kak Al, aku bahkan belum mampu memahani diriku sendiri. Aku juga tidak bisa memahami begitu luar biasanya status nyonya muda keluarga Brylee, sehingga menganggap enteng hal itu. Aku tidak sadar jika tanpa persiapan yang yang matang, status terhormat itu justru akan menelanku dan membuatku hancur."


Lily agak menengadahkan wajahnya, sedangkan Albern kini telah menepikan mobilnya untuk mendengarkan penuturan Lily lebih banyak lagi.


"Papa pernah berkata padaku jika beliau akan memberikan restu kalau aku telah pantas mendapatkan restu. Waktu itu, aku menganggap Papa hanya mencari-cari alasan untuk memisahkan kita. Tapi sekarang aku malu dengan pemikiran itu. Sekarang aku bisa melihat betapa Papa percaya sepenuhnya atas setiap keputusan yang aku buat karena aku telah menunjukkan diriku sebagai orang yang mampu untuk mempertanggungjawabkan semua itu. Pada akhirnya, aku juga sadar jika dulu hubungan kita tidak mendapatkan restu dari Papa bukan karena Papa tidak menyukai Kak Al, tapi Papa tahu saat itu aku tidak akan sanggup menanggung konsekuensi dari menjadi pendamping lelaki sehebat Kak Al ...."


Lily menghela nafasnya sejenak.


"Ya, benar ... aku tujuh tahun yang lalu hanya seorang gadis manja yang tidak paham apa-apa dan tidak punya kemampuan apa-apa. Papa sangat tahu itu karena aku adalah putri beliau satu-satunya. Papa ... sedang berusaha membuat diri kita menjadi pantas satu sama lain, meskipun dengan cara yang mungkin terlihat kejam. Aku harap Kak Al tidak membenci Papaku ataupun menaruh dendam pada beliau," ujar Lily lagi sembari menatap ke arah Albern dengan penuh permohonan.


Albern tersenyum.


"Aku tahu tujuan papamu sejak awal, makanya aku setuju saat papamu ingin kamu melanjutkan kuliah di luar negeri. Tidak perlu khawatir. Tentu saja aku tidak akan membenci beliau, apalagi sampai menyimpan dendam," sahut Albern sembari menatap Lily dengan segenap perasaan yang ada.


"Lagipula, papamu akan menjadi papaku juga," tambah Albern lagi. Kali ini kalimatnya itu sukses membuat Lily tertawa kecil, sehingga suasana syahdu pun menjadi buyar.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2