
Albern dan Lily tampak duduk di ruang tunggu sebuah acara. Tak lama lagi, pasangan tersebut akan tampil sebagai bintang tamunya. Lebih dari setahun keduanya menantikan acara ini, terutama Lily. Tentu saja, karena acara yang baru saja dimulai beberapa menit yang lalu tersebut adalah peluncuran sebuah buku karya dari seorang penulis fenomenal. Sebuah buku yang isinya mengisahkan tentang perjalanan Albern dan Lily dari awal perjuangan mereka, hingga saat ini menjadi pasangan yang menginspirasi.
Waktu itu, setelah kelahiran Austin, seorang penulis kenamaan datang menemui Albern dan Lily, lalu mengutarakan niatnya untuk mengabadikan kisah mereka berdua menjadi sebuah buku. Awalnya Albern menolak. Namun, saat teringat betapa indah dan berlikunya perjalanan cintanya bersama Lily sebelum menjadi pasangan suami istri, lelaki tersebut mulai tertarik dan akhirnya setuju dengan tawaran dari penulis tersebut.
Prosesnya ternyata cukup panjang. Setelah selama berbulan-bulan menjadi narasumber, cerita hidup mereka pun akhirnya rampung ditulis. Tapi semua tak cukup sampai di situ. Masih banyak proses lainnya sampai naskah tersebut berhasil diterbitkan. Dan akhirnya, hari ini adalah peluncurannya.
"Tuan Albern dan Nyonya Lily, apakah sudah siap?" tanya seorang anggota panitia acara tersebut.
Pasangan itu menoleh dan mengangguk bersamaan.
"Baik, sebentar lagi pembawa acaranya akan mempersilakan Tuan dan Nyonya masuk," ujar anggota panitia itu lagi.
Tak berselang lama, pembawa acara pun menyebut nama Albern dan Lily, yang langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para undangan yang hadir. Bersamaan dengan itu, Albern dan Lily pun diarahkan untuk memasuki panggung acara.
Tepuk tangan semakin riuh begitu pasangan fenomenal tersebut bergabung bersama pembawa acara. Butuh waktu beberapa saat bagi pembawa acara untuk membuat suasana kembali kondusif. Setelah itu, barulah sesi tanya jawab dimulai.
Setelah berbasa-basi sejenak, pembawa acara tersebut pun mulai melemparkan sebuah pertanyaan pada Albern.
"Tuan Albern, saya merasa tergelitik dengan salah satu kutipan kalimat di buku ini yang mengatakan jika Anda sudah jatuh cinta pada Nyonya Lily sejak Nyonya Lily lahir. Apa itu semacam kalimat kiasan?" tanya pembawa acara itu.
"Bukan," sahut Albern.
"Bukan? Jadi, benar kalau Anda jatuh cinta pada istri Anda sejak sejak istri Anda lahir?" ulang pembawa acara itu lagi.
"Iya, benar." Sekali lagi Albern menyahut.
"Wah, agak anti mainstream, ya?" Pembawa acara itu sedikit berseloroh.
Albern tersenyum, lalu terdiam sejenak sebelum kembali membuka mulutnya.
"Ya, mungkin terdengar agak tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya," ujar Albern akhirnya.
"Luar biasa. Baru kali ini saya mendengar ada orang jatuh cinta pada pasangannya bahkan sejak pasangannya lahir." Pembawa acara menanggapi dengan lebih serius.
__ADS_1
"Sejujurnya, saya juga baru tahu kalau saya sudah sangat mempesona sejak lahir." Kali ini Lily yang menanggapi dengan agak berseloroh, sehingga suasana kembali menjadi segar.
"Cerita lengkapnya ada di buku ini, kan? Jadi semua orang mesti membaca buku ini kalau mau tahu seperti apa ceritanya," ujar pembawa acara lagi menimpali.
Albern tertawa kecil menanggapi.
"Tidak apa-apa, Aku tidak keberatan menceritakannya sekali lagi," ujar lelaki itu kemudian.
"Tentunya kami akan sangat senang mendengarnya secara langsung dari Anda." Pembawa acara tersebut menimpali.
Semua orang yang sebelumnya ikut tertawa. kini tampak terdiam dan terlihat menantikan Albern bercerita.
Albern memandang ke arah Lily sejenak dan meraih tangan istrinya itu untuk dia genggam. Barulah kemudian lelaki itu kembali melihat ke arah undangan yang hadir.
"Saat itu, umurku baru sembilan tahun, saat Mama mengajakku pergi mengunjungi kakak angkatnya yang baru saja dikaruniai seorang putri." Albern akhirnya membuka ceritanya.
"Aku awalnya tidak terlalu ingin ikut, tapi Mama memaksa. Kupikir, tak ada istimewanya melihat bayi perempuan yang baru lahir karena aku juga sudah punya seorang adik perempuan. Tapi saat aku datang dan melihat bayi perempuan itu, aku seperti terhipnotis. Dia seperti jelmaan malaikat yang begitu mempesona. Entah bagaimana otakku menjadi kosong. Aku mendekat dan tahu-tahu mencium pipinya tanpa kusadari," ujar Albern lagi.
"Anda sungguh mencium pipinya?" ulang pembawa acara.
"Tolong jangan ada yang meniru karena itu bukan perbuatan yang terpuji." Lily menimpali sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Suasana pun sekali lagi menjadi segar.
"Benar, apa yang kulakukan mungkin bukan sesuatu yang terpuji. Punya ketertarikan pada bayi yang baru lahir, lalu tetap tak bisa menghilangkan perasaan itu sampai bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis kecil. Aku berusaha untuk menjauh dan menutupi perasaanku, tapi anak itu malah sering menggodaku. Sebenarnya, di sini aku juga korban." Albern juga membalas dengan agak berseloroh.
Semua orang kembali tertawa, termasuk Lily dan pembawa acara.
"Jadi, sekuat itu perasaan Anda pada Nyonya Lily, ya?" tanya pembawa acara pada Albern setelah tawa orang-orang kembali mereda.
"Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Aku rasa bukan hanya sekedar kuat, tapi lebih dari itu. Aku lebih bisa menerima jika harus menunggu dia tanpa kejelasan daripada mengakhiri perasaanku. Aku bahkan pernah berpikir, mungkin tak apa-apa aku sendirian saja seumur hidupku jika memang dia dan aku tidak berjodoh. Aku benar-benar tak bisa membayangkan jika harus menghabisan sisa hidupku bersama orang selain dia," sahut Albern lagi.
Kali ini, Lily tak menimpali lagi ucapan suaminya itu dengan candaan. Dia menatap Albern dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Dia tak menyangka jika perasaan Albern bisa sebesar itu terhadapnya.
__ADS_1
"Aku sungguh bersyukur karena Tuhan sepertinya masih berbaik hati padaku dengan membiarkan Lily menjadi istriku, karena jika tidak, sudah pasti aku akan menjadi orang paling kesepian di dunia ini." Albern menutup ceritanya dengan mengecup lembut punggung tangan Lily.
Tepuk tangan kembali terdengar memenuhi seisi ruangan tersebut. Semua yang hadir ikut merasa terharu dengan cerita yang Albern ucapkan. Dan tentu saja, Lily menjadi orang yang paling merasa terharu. Sampai detik ini bahkan seringkali dia masih belum begitu mempercayai jika lelaki yang dicintainya sejak kecil itu ternyata juga memiliki perasaan terhadapnya yang sama hebatnya.
Acara perilisan buku pun dilanjutkan dengan mewawancarai juga sosok yang telah menulis buku tersebut. Tentu saja masih dengan berbincang bersama Albern dan Lily juga. Di akhir acara, para panitia membagikan sovenir pada para undangan yang hadir berupa buku yang baru saja diluncurkan. Sebuah buku berisi kisah sejati dua orang anak manusia yang mesti menempuh jalan berliku demi untuk bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Sebuah buku yang diberi judul oleh penulisnya The Love Story of Albern & Lily.
Acara pun akhirnya selesai. Albern dan Lily kini sedang dalam perjalanan pulang. Sudah hampir seharian mereka meninggalkan Austin dalam pengasuhan Zaya, dan kini saatnya mereka harus menjemput putra mereka yang baru berusia beberapa bulan itu.
"Setelah anak adik Austin lahir, sepertinya kita benar-benar harus memakai jasa baby sitter, Sayang. Kita tidak bisa terus menitipkan anak kita pada Mama seperti sekarang," ujar Albern sembari mengusap lembut perut Lily yang saat ini sudah mulai berisi lagi.
Lily memang tak menunda kehamilan setelah melahirkan Austin. Itulah kenapa sekarang dia sudah kembali hamil, meski Austin belum genap setahun.
"Tidak perlu. Aku sudah memutuskan untuk mengambil cuti dan menyerahkan semua urusan perusahaan pada Robbin setelah melahirkan nanti." Lily menyahut sembari menyandarkan kepalanya di bahu Albern.
"Biarpun kamu cuti, kamu tetap membutuhkan seseorang untuk membantumu. kamu tidak lupa, kan? Adik Austin yang akan lahir nanti ada dua, bukan satu," ujar Albern lagi sembari membawa Lily ke dalam pelukannya. Dia mengingatkan LIly jika saat ini istrinya itu tengah mengandung anak kembar.
"Iya, aku ingat, masa lupa?" Lily bergumam.
"Makanya, sekali ini kamu dengankan aku," pinta Albern.
"Iya, terserah Kak Al saja," sahut Lily lagi sembari memejamkan matanya. Mumpung masih dalam perjalanan, dia hendak tidur sebentar dalam pelukan Albern.
Albern sedikit menghela, namun kemudian dia menatap ke arah Lily sembari tersenyum tipis. Ada kalanya istrinya ini begitu keras kepala dan tak mau mendengarkan perkataannya. Namun, dibandingkan dengan itu semua, ada berjuta kebahagiaan yang telah Lily bawa ke dalam kehidupannya. Seperti apa yang dia ucapkan di acara tadi, dia sungguh bersyukur Tuhan menjadikan perempuan ini sebagai teman hidupnya.
"Kamu kelelahan, Sayang. Tidurlah yang nyenyak. Lain kali biarkan aku lebih banyak membantumu, sebanyak kamu memberikan kebahagiaan padaku," bisik Albern sembari mendaratkan sebuah kecupan di kening Lily.
Setelah itu, Albern mengeratkan pelukannya sembari ikut memejamkan matanya juga. Sekali lagi dia bergumam dalam hati, meminta pada Tuhan agar membiarkan kebahagiaan ini bersama dengannya selamanya.
Tamat
Tamat beneran ini, ya, gaess, ga ada extra part. Alur memang dipercepat, tapi nggak mengubah jalan cerita serta endingnya. Terima kasih buat yang selama ini setia mengikuti kisah Albern dan Lily. Kesabaran kalian patut diacungi jempol, wkwkwkwkw. Setelah ini Mak Othor akan rilis cerita baru.
Sehat-sehat semuanya,
__ADS_1
With Love,
Tiwie Sizo