
"Masih ada waktu satu jam sebelum Kak Al menjemput Lily untuk pergi ke salon." Zivanna melihat penunjuk waktu di layar ponselnya.
"Kita cari tempat buat bersantai dulu. Lagipula Kak Zi dan Darrel 'kan ada yang mau diceritakan padaku." Ujar Lily menanggapi.
Sekilas dapat Lily lihat mata Zivanna yang agak mendelik kearahnya. Tapi Lily tak peduli. Zivanna bisa kesal dan marah pada Lily sepuasnya, asalkan Lily bisa mendengarkan kronologi bersatunya dua sahabat sejak kecil di hadapannya ini. Dan Lily ingin mendengar cerita versi lengkapnya.
"Pak, di depan ada kafe. Kita mampir kesana dulu." Sesuai dengan dugaan Lily, Zivanna akhirnya kalah dan menuruti keinginan Lily.
"Baik, Nona." Sopir pribadi Zivanna mengiyakan.
Mobil yang di kendarai mereka pun berhenti tepat di depan sebuah kafe yang dimaksud Zivanna tadi.
Zivanna, Lily dan Darrel masuk ke dalam kafe tersebut. Sedangkan sopir pribadi Zivanna kali ini memilih untuk menunggu di mobil saja. Ketiganya kemudian memesan minuman kesukaan masing-masing.
"Ayo, sekarang mengaku saja. Kalian sedang berpacaran, kan?" Lily langsung bertanya secara gamblang mengenai hubungan Darrel dan Zivanna.
"Tidak!" Zivanna dan Darrel menjawab bersamaan.
"Lalu yang tadi itu apa?" tanya Lily sembari menautkan kedua alisnya.
Zivanna maupun Darrel tampak diam, bingung mesti menjawab apa.
"Hei, kenapa diam?"
"Lily, aku agak sulit menceritakannya." Akhirnya Zivanna membuka suaranya. Jika biasanya gadis itu berbicara dengan penuh rasa percaya diri, kali ini dia terlihat agak ragu-ragu.
"Memangnya kenapa?" tanya Lily.
"Aku malu, Lily!" Zivanna berujar dengan nada putus asa.
Hah? Seketika Lily terkasima. Kenapa Zivanna malu? Apa gadis itu yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu pada Darrel? Zivanna yang selalu bisa menutupi perasaannya selama ini adalah orang yang berinisiatif memulai hubungan mereka. Benarkah? Tapi melihat Darrel yang selalu datar seperti lapangan futsal, hal itu bisa saja terjadi. Meskipun ada rasa suka, Darrel pasti sulit menyadari dan mengekspresikan perasaannya sendiri, sehingga memaksa Zivanna untuk lebih berinisiatif.
Lily tersenyum dengan sedikit meringis. Ia ikut merasa senang dan sedih sekaligus untuk Zivanna. Darrel juga terlihat salah tingkah dan mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pertanyaan pun muncul di benak Lily. Apa jangan-jangan Darrel terpaksa?
Aih, karena tak mendapatkan penjelasan yang memadai, Lily jadi berimajinasi sendiri.
"Kak Zi ... tidak melakukan pemaksaan, kan?" Tanya Lily dengan sangat hati-hati.
Zivanna terdiam dengan bola mata yang terlihat bergerak kesana-kemari. Jika ditanya dia memaksa Darrel atau tidak, entah kenapa, rasanya sulit untuk mengatakan tidak, meski dia sendiri tidak yakin jika dia telah melakukan sebuah pemaksaan.
Flashback on
__ADS_1
Merasa jengah karena melihat Lily dan Albern di pelataran kampus tadi, Zivanna pun mengajak Darrel menjauh dari sana. Dia bahkan tak lagi menghiraukan panggilan dari Lily.
"Dasar norak! Memangnya dunia ini cuma milik mereka berdua apa?" gerutu Zivanna sambil duduk di sebuah bangku. Darrel pun ikut duduk di samping Zivanna.
"Padahal 'kan mereka baru berencana menikah, belum tahu kapan menikahnya. Apalagi kalau sudah menikah nanti, pasti akan terlihat lebih norak. Iya, kan, Darrel?" Zivanna kembali menggerutu sambil menoleh kearah Darrel. Gadis itu kemudian terkesiap saat menyadari Darrel tengah menatapnya lekat.
Dada Zivanna seketika bergemuruh dengan hebat tatkala menatap balik manik Darrel yang berwarna hitam kecoklatan.
"Memangnya bagian mana yang mengganggumu?" tanya Darrel kemudian.
"Ya?"
"Yang dilakukan Lily dan Tuan Muda tadi, bagian mana yang begitu mengganggumu? Bukannya mereka hanya berinteraksi biasa saja tadi," ulang Darrel. Tanpa disadarinya, pemuda itu masih menatap mata Zivanna.
Zivanna menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi tak ayal tak terdengar kalimat apapun dari mulutnya.
"Apa kamu kesal karena Lily sudah menemukan calon suami lebih dulu darimu?" tanya Darrel lagi.
"A-apa maksudnya?" Mata Zivanna membeliak sempurna. Tak menyangka akan mendengar Darrel bertanya seperti itu padanya.
"Mamaku bilang, jika seseorang merasa kesal melihat orang lain, itu karena orang lain itu bisa melakukan yang dia tidak bisa lakukan." Darrel menjawab dengan polosnya.
"Hah?"
"Kamu iri juga tidak masalah. Manusiawi, kok. Kamu tinggal cari calon suami juga. Simple, kan?" Darrel memberikan solusi.
"Apa?" Zivanna terperangah dibuatnya.
"Cari calon suami juga. Apa susahnya?"
Mata Zivanna kembali membeliak sembari menelan ludah. Namun, sesaat kemudian sebuah ide ajaib tiba-tiba muncul di benaknya.
"Darrel, apa kamu menyukaiku?" tanya Zivanna kemudian.
"Tentu saja aku menyukaimu." Darrel menjawab tanpa beban.
"Kalau aku tidak menyukaimu, bagaimana aku bisa berteman denganmu dan menghabiskan banyak waktu denganmu." Tambahnya lagi.
"Kalau begitu, Darrel ...." Zivanna menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kamu harus jadi calon suamiku." Sebuah kalimat ajaib akhirnya keluar dari mulut Zivanna. Kalimat yang membuat Darrel tiba-tiba membeku layaknya patung.
__ADS_1
"Aku ... jadi calon suamimu?" ulang Darrel.
Zivanna mengangguk.
"Maksudnya seperti hubungan Lily dan Tuan Muda? Berkomitmen untuk menikah suatu hari nanti?"
Zivanna kembali mengangguk.
"Harus?"
Zivanna sedikit mendelik dengan menghembuskan nafas kasar.
"Harus. Kalau tidak, Mama dan Papamu di pecat."
Ups, buru-buru Zivanna menutup mulutnya karena kelepasan bicara. Bagaimana mungkin kata-kata yang keluar dari mulutnya sejak tadi bisa begitu ajaib seperti yang biasa diucapkan Lily.
Papa Darrel memang dipercaya mengelola salah satu anak perusahaan Brylee Group, sedangkan Mama Darrel adalah orang yang dipercaya Mama Zivanna untuk mengelola bisnisnya. Tidak etis rasanya jika Zivanna mengatakan mereka berdua akan dipecat karena hal sepele.
"Baiklah, aku jadi calon suamimu," sahut Darrel kemudian.
Zivanna tampak terkejut.
"Semudah itu kamu memutuskan?" tanyanya tak percaya.
"Daripada Papa dan Mamaku kena pecat."
What? Alasan macam apa itu?
"Maksudku bukan begitu ...." Zivanna tampak putus asa.
"Sudahlah. Lagipula yang dilakukan Lily dan Tuan Muda juga tampaknya tidak buruk. Kita memang harus menikah suatu hari nanti, kan? Daripada menikah dengan orang yang random dan tidak begitu dikenal, bukankah lebih baik menikah dengan orang yang sudah dikenal sejak lama."
Ya ampun, alasan apalagi itu? Zivanna tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.
Flashback off
"Hahahaha ...." Lily tertawa sambil memegangi perutnya. Ia tak menyangka jika dibalik bersatunya hati dua sahabatnya ini ada cerita yang tak terduga.
"Aku tidak menyangka, ternyata Kak Zi bisa melakukan hal itu. Hebat, Kak Zi, Hebat." Lily mengacungkan dua jempolnya. Sejurus kemudian ia kembali tertawa terbahak-bahak, tak peduli pada beberapa pasang mata yang kini tengah melihatnya dengan sedikit aneh.
Bersambung ....
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️