Albern & Lily

Albern & Lily
Jalan Yang Tak Mudah


__ADS_3

Evan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Nyonya Ginna yang sedari tadi hanya duduk di sebuah sofa, kini telah berdiri dengan bantuan tongkat penyangga di salah satu tangannya.


"Aku yang sangat ingin bertemu dengan Lily, jadi tolong biarkan dia di sini sedikit lebih lama, Dokter Evan," ujar Nyonya Ginna pada Evan. Suaranya terdengar agak lemah dan bergetar, seperti lansia pada umumnya. Tapi ada sebuah penekan yang tak disadari hingga membuat kalimatnya terdengar tak terbantahkan.


"Saya tidak yakin apa setelah ini masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan putri Anda, mengingat kita tidak tahu apakah besok perempuan renta seperti saya ini masih bernafas seperti hari ini,"


"Anda tergolong sehat untuk ukuran orang tua seusia Anda, Nyonya Ginna," Evan menanggapi.


Nyonya Ginna tertawa kecil. Tentu saja semua anggota keluarga Brylee terkejut melihatnya, pasalnya Nyonya besar keluarga Brylee itu terkenal sangat jarang tertawa.


"Terima kasih atas pujian Anda, Dokter Evan. Jadi, apa itu artinya Anda mengabulkan keinginan tak tahu diri dari orang tua ini?"


Evan terdiam sesaat. Sebenarnya dia bisa saja menolak mentah-mentah keinginan Ginna. Tapi demi sopan santun pada orang yang jauh lebih tua, Evan pun memilih untuk mengalah. Sepertinya dia harus sedikit menahan diri kali ini.


"Baiklah, Nyonya Ginna," Evan melepaskan genggaman tangannya pada lengan Lily.


"Saya akan memberikan waktu dua jam untuk Lily menyelesaikan makan siangnya di sini, tapi setelah itu dia harus sudah ada di rumah." ujar Evan akhirnya.


Nyonya Ginna mengulas sebuah senyuman.


"Dan saya harap ini yang pertama kali sekaligus yang terakhir kalinya Lily ikut acara keluarga kalian," tambah Evan lagi sebelum kemudian beralih pada Lily.


"Lily, setelah ini langsung pulang ke rumah. Ada banyak hal yang harus kamu bicarakan bersama Papa."


"Baik, Pa," Lily menjawab sambil mengangguk lemah. Sangat jelas terlihat jika gadis itu terlihat agak takut.


"Saya permisi, Nyonya Ginna. Jangan lupa untuk mengantarkan Lily pulang tepat waktu." Evan kembali berujar pada Ginna, ditanggapi dengan anggukan dari perempuan tua itu.


Evan kembali melangkah dan berlalu dari hadapan keluarga Brylee, diiringi oleh Carissa. Pasangan suami istri itu akhirnya kembali tanpa membawa Lily bersama mereka.


Sementara itu, sepeninggalan kedua orang tuanya, Lily tampak tercenung dengan pandangan kosong. Tampaknya kedatangan mama dan papanya tadi membuat gadis itu merasa sedikit syok.


"Lily, ayo kita ke meja makan. Makan siang sudah disiapkan," Zaya merangkul Lily dan mengajak gadis itu mendekati meja makan.


"Eh, i-iya, Ma," Lily menjawab dengan sedikit terbata. Mau tak mau Lily mengikuti Zaya yang mengarahkannya untuk duduk di salah satu kursi meja makan keluarga Brylee. Lily duduk masih dengan pikiran yang tidak fokus.


"Jangan khawatir. Semuanya pasti akan baik-baik saja," Terdengar suara Albern berusaha menghibur.


Lily menoleh. Ternyata lelaki itu telah duduk di kursi yang terletak persis di sebelahnya.


"Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk meyakinkan Papamu. Kita pasti akan mendapatkan restu dari beliau," hibur Albern lagi.


Lily mengulas senyuman, lalu mengangguk meski samar. Dia percaya pada kata-kata Albern dan berusaha untuk meredam kegelisahan dalam hatinya.


"Sudahlah, kita makan siang saja dulu." Aaron menginterupsi. Anggota keluarga Brylee yang semuanya kini telah berada di meja makan pun mengiyakan kata-kata Aaron. Mereka memulai makan siang meski dengan suasana yang sudah sedikit berubah.

__ADS_1


Selesai menyantap hidangan makan siang, Ginna meminta semuanya untuk kembali berkumpul di ruang keluarga. Tampaknya ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Nyonya Besar itu.


"Albern, Lily ...." Ginna membuka pembicaraan dengan memanggil kedua orang yang kini duduk di hadapannya seperti orang yang didakwa melakukan kejahatan.


"Ya, Grandma," Albern dan Lily menjawab hampir secara bersamaan.


"Apa kalian sungguh-sungguh saling mencintai?" tanya Ginna kemudian.


"Tentu saja kami sungguh-sungguh saling mencintai," Albern menjawab dengan tegas.


Ginna melirik ke arah Lily yang terdiam.


"Benar begitu, Lily?" tanya Nyonya Besar itu pada Lily.


"Saya sangat mencintai Kak Al, Grandma. Tapi Papaku ... sepertinya Papa sangat tidak menyetujui hubungan kami," jawab Lily sembari sedikit menundukkan wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu sekarang. Yang jelas wajahnya terlihat gelisah.


Ginna terdiam sesaat, kemudian menghela nafasnya.


"Albern, apa kamu tidak bisa menikah saja dengan gadis selain Lily?" tanya Ginna lagi. Kali ini dengan nada yang lebih serius.


"Grandma?" Albern menatap nenek kesayangannya itu dengan penuh tanda tanya. Lily juga terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaan Ginna barusan.


"Ada banyak orang tua yang menginginkan putrinya menikah denganmu, kenapa kamu malah ingin menginginkan gadis yang orang tuanya tak merestuimu?" Ginna balik menatap ke arah Albern. Meski usianya telah senja, ketajaman kata-kata Nyonya Ginna tetap tak berkurang sedikit pun.


"Tapi orang tua Lily tak merestui hubungan kalian,"


"Hanya Paman Evan yang belum, Tante Carissa telah memberikan restunya."


"Jalan kalian tak akan mudah. Apa kalian yakin bisa menghadapinya?"


"Kami akan menghadapinya meski sulit."


"Itu katamu, bagaimana dengan Lily? Apa dia sanggup berhadapan dengan Papanya sendiri?"


Albern terdiam. Dipandanginya Lily yang masih setia menundukkan kepalanya. Mungkinkah gadis ini sekarang merasa ragu?


"Lily ..." Albern menoleh ke arah Lily.


"Saya akan menghadapinya, Grandma." ujar Lily akhirnya sambil mengangkat wajahnya.


"Saya akan bersama dengan Kak Al sampai akhir. Kami akan berusaha untuk meluluhkan hati Papa. Jika gagal, kami akan berusaha lagi, terus-menerus hingga Papa mengalah dan memberikan restunya pada kami. Saya tahu ini tidak akan mudah, tapi kami tidak akan menyerah." tambah Lily lagi dengan penuh keyakinan.


Ginna sedikit tertegun mendengar kata-kata Lily barusan, begitu pula dengan Albern dan semua yang ada di sana.


"Apa kamu yakin?" tanya Ginna tak percaya.

__ADS_1


"Saya yakin, Grandma. Sangat yakin," jawab Lily mantap.


Albern tersenyum, dibalas senyuman oleh gadis itu. Kedua anak manusia yang saling jatuh cinta itu tampak saling memandang dengan segenap perasaan yang ada. Mereka tampak seperti sedang saling memberi kekuatan hanya dengan saling memandang.


"Permisi, Tuan Muda. Asisten Dhani ada di sini," tiba-tiba seorang pelayan memberitahukan kedatangan Asisten Dhani pada Albern. Orang yang dimaksud tampak datang dengan raut wajah kurang bagus.


"Maaf mengganggu akhir pekan Anda, Tuan Muda. Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Anda secara langsung, dan saat ini juga," ujar Asisten Dhani setelah sebelumnya sempat membungkuk hormat.


Albern tampak menautkan kedua alisnya. Tak pernah sebelumnya asistennya ini sampai datang menemuinya, apalagi di akhir pekan seperti sekarang ini. Pasti ada hal yang benar-benar penting dan bersifat mendesak.


"Kita bicarakan di ruang kerjaku." Albern bangkit dari duduknya.


"Berbincanglah dengan Mama dan Grandma dulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Asisten Dhani," ujar Albern pada Lily.


Lily mengangguk. Ia tersenyum untuk mengisyaratkan pada Albern jika dirinya tidak keberatan. Albern pun berlalu menuju ruang kerjanya, diikuti oleh Asisten Dhani.


"Ada apa?" tanya Albern sesaat setelah mereka berada di ruang kerjanya.


"Anda harus melihat ini, Tuan Muda." Asisten Dhani mengeluarkan smartphone miliknya dan memperlihatkan sesuatu pada Albern.


"Artikel tentang Nona Lily terus memenuhi pemberitaan online, dan rata-rata berisikan tentang hal buruk serta memojokkan Nona. Beritanya muncul sejak semalam. Saya begitu lalai hingga baru mengetahuinya siang ini," Asisten Dhani menjelaskan dengan nada menyesal.


Albern membaca sekilas satu persatu artikel yang dimaksud lewat smartphone milik Asisten Dhani tadi. Raut wajahnya terlihat mengeras.


"Dampaknya tidak sampai membuat kisruh perusahaan ataupun menurunkan harga saham, tapi yang jelas hal ini sangat merugikan Nona Lily. Reputasi Nona Lily menjadi sangat buruk dan banyak masyarakat yang menghujatnya," tambah Asisten Dhani lagi.


Albern menghela nafasnya untuk sedikit menetralkan emosinya yang tiba-tiba bangkit. Jika semua artikel itu sudah ada sejak semalam, berarti besar kemungkinan orang tua Lily sudah membacanya juga. Pantas saja Evan terlihat sangat tidak senang dan mengatakan sesuatu yang ambigu saat datang tadi. Pasti dia sangat marah setelah membaca tentang pemberitaan buruk tentang anaknya.


"Satu jam." gumam Albern kemudian dengan menahan geram.


"Ya, Tuan Muda?"


"Aku beri waktu satu jam. Setelah satu jam, semua pemberitaan tentang Lily harus sudah lenyap semua. Dan yang terpenting, beri pelajaran pada semua media online yang telah menulis artikel tak berdasar itu agar mereka tidak berani mengulangi hal itu lagi!" perintah Albern.


"Baik, Tuan Muda,"


Albern menatap lurus ke depan sambil mengepalkan kedua tangannya. Tampaknya benar apa yang dikatakan oleh Grandma-nya tadi jika jalan yang akan dilaluinya bersama Lily tidak akan mudah.


Bersambung...


Hai, gaesss...maaf baru bisa update. Beberapa hari terakhir ada urusan keluarga yang mesti diselesaikan, terus badan drop sampe harus masuk bengkel😅


Buat yang masih nungguin terus kelanjutan cerita Albern-Lily, harap punya stok kesabaran yg banyak, karena seperti yang udah emak bilang sebelumnya, updatenya bakal slow...walau pun niatnya nggak se-selow sekarang, sih. Tapi bagaimana pun, emak tetap komitmen buat menyelesaikan cerita ini sampe End, jadi sabar dan tungguin aja terus kelanjutannya.


Sehat-sehat semuanya, ya. Happy reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2