
"Kak Zi, jadi tidak ke toko bukunya?" Tanya Lily dengan setengah berteriak.
Zivanna hanya menanggapi dengan lambaian tangan tanpa menoleh. Gadis itu terus menjauh, diikuti oleh Darrel.
"Hihihi ... kelihatannya dia kesal." Lily terkikik geli. Belakangan Zivanna memang suka kesal jika Lily bercerita tentang dirinya dan Albern, apalagi melihat mereka sedang berdua seperti ini.
"Kenapa kamu suka sekali menjahili Zi?" Tanya Albern.
"Habisnya Kak Zi lucu kalau sedang marah," jawab Lily enteng.
"Dan anehnya, meski sering dijahili, dia masih mau berteman denganmu." Gumam Albern lagi.
Lily tertawa renyah.
"Itu karena Kak Zi tidak punya pilihan selain bertahan denganku."
Albern tersenyum. Benar kata Lily, adiknya itu memang tak punya teman selain Darrel dan Lily. Rata-rata setiap yang mendekati Zivanna adalah orang-orang yang punya kepentingan. Tak ada yang datang karena benar-benar ingin menjalin pertemanan dengan tulus.
"Kamu sudah tidak ada kelas lagi?" Tanya Albern kemudian.
Lily mengiyakan.
"Kalau begitu, kamu bisa ikut aku sekarang?"
"Kemana?" Lily balik bertanya.
"Kalau diberitahu, bukan kejutan lagi namanya."
"Kejutan?"
Lily mengulum senyumnya. Sejak kapan Albern menjadi sangat manis seperti ini? Kalau sudah begini, dia jadi semakin ingin segera dinikahi, kan? Eh!
"Ayo." Ajakan Albern membuyarkan lamunan Lily. Dilihatnya Albern sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Sekali lagi Lily mengulas senyuman yang teramat manis, lalu masuk ke dalam mobil tersebut.
Albern juga masuk kedalam mobil itu, lalu mengemudikannya menuju ke suatu tempat.
Di dalam mobil, keduanya sama-sama hening sambil menatap lurus ke depan. Namun, bibir keduanya tampak sama-sama tersenyum.
Lily menoleh ke arah Albern dan tertegun sejenak melihat lelaki itu tersenyum.
"Kenapa?" Albern bertanya tanpa menoleh.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya sedang menikmati pemandangan indah sebentar." Jawab Lily sambil memalingkan kembali wajahnya.
Albern tertawa. Entahlah, belakangan dia jadi sering sekali tertawa dibuat oleh Lily.
"Berhentilah menggodaku. Sekarang aku sedang menyetir." Ujarnya kemudian.
"Siapa yang menggoda. Aku kan cuma bilang sedang menikmati pemandangan indah." Lily menyahut.
"Dasar keras kepala," ujar Albern sambil sedikit menjentik kening Lily.
"Ish, sakit tahu!" Lily mencebik sambil memegangi keningnya.
Albern hanya terkekeh. Suasana pun hening sejenak.
"Tapi, Kak Al. Rasanya kok ada yang berbeda, ya?" Lily sedikit memicingkan matanya sambil terus mengamati wajah Albern.
Albern hanya melirik sekilas sambil menaikan satu alisnya.
"Apa, ya?" Lily terus mengamati sambil berpikir apakah gerangan yang berbeda dari sosok dihadapannya ini. Sedangkan Albern tersenyum tipis sambil kembali fokus melihat kearah depan.
"Ya ampun!" Seketika Lily histeris saat menyadari sesuatu.
"Rambut Kak Al ... rambut Kak Al berubah jadi coklat hahaha ...!" Gadis itu tertawa dengan sangat renyah.
"Bukankah kamu meminta dibawakan lelaki bule berambut coklat?"
Lily kembali terbahak-bahak mendengar kata-kata Albern barusan.
"Tapi kenapa kulitnya tidak eksotis?" Tanya Lily ditengah tawanya.
"Aku tidak sempat membuat kulitku menjadi coklat juga." Jawab Albern.
"Astaga ... hahaha ...." Lily kesulitan menghentikan tawanya hingga perutnya sedikit kram. Albern hanya menanggapi dengan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saja.
Beberapa saat kemudian, tawa Lily pun mulai mereda.
"Tapi aku maunya bule murni, Kak. Kak Al sudah tidak murni lagi." Ujar Lily kemudian sambil menahan sebisa mungkin agar tak kembali terbahak-bahak seperti sebelumnya.
Albern hanya menoleh sekilas.
"Kamu benar-benar minta dihukum rupanya." Gumam lelaki itu sembari menepikan mobilnya di pelataran sebuah butik milik desainer kenamaan.
Lily sedikit terkesiap saat melihat butik yang terkenal dengan rancangan busana mewahnya itu. Tapi ia lebih terkejut lagi saat menyadari jika tubuhnya sudah terkurung dalam kungkungan tubuh Albern yang jauh lebih besar.
__ADS_1
"Kak Al?" Dengan penuh tanda tanya Lily menatap manik Albern yang kini juga tengah menatapnya. Jarak wajah mereka lebih dekat daripada sebelumnya, sehingga Lily jadi terkesiap.
"Katakan sekali lagi tadi kamu mau apa." Ujar Albern dengan nada rendah tapi penuh peringatan.
"Mau apa? Aku tidak mau apa-apa." Kilah Lily.
"Bukankah tadi kamu mau sesuatu?" Albern memicingkan satu matanya.
Merasakan tatapan Albern yang begitu intens, Lily jadi sedikit gugup.
"Aku ... aku hanya mau itu ..." Lily terbata-bata.
"Benar-benar suka mempermainkan perasaan orang, kamu sungguh harus dihukum sekarang juga." Albern bergumam.
Pletak!
"Aw!" Lily kembali memegang keningnya yang kembali dijentik oleh Albern. Kali ini dengan sedikit bertenaga.
"Masih menginginkan bule murni yang punya kulit eksotis?" tanya Albern.
Lily hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Bibirnya tampak sedikit manyun.
"Bagus." Albern tersenyum. Dibukanya sabuk pengaman Lily dengan ekspresi puas.
Albern turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Lily.
"Ayo turun."
Lily terdiam sejenak, lalu turun dari mobil sambil menatap Albern dengan tatapan yang tak biasa.
"Kenapa? Mau lagi?" Tanya Albern.
Seketika Lily menggeleng.
"Gadis nakal seperti kamu memang harus dihukum sesekali. Mulai sekarang, semakin sering kamu nakal, maka semakin sering kamu mendapatkan hukuman."
Lily menyentuh keningnya yang terasa sedikit perih. Dia tak menyangka akan mendapatkan hukuman seperti ini dari Albern, seperti anak kecil yang ketahuan bandel.
'Ternyata dia seram juga.' Lily membatin.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️