Albern & Lily

Albern & Lily
Darurat Menikah


__ADS_3

Terang saja Lily terkekeh mendengar apa yang diucapkan oleh Albern barusan. Seorang Albern Brylee yang memiliki penampilan sangat maskulin itu sekarang terdengar seperti seorang anak perawan yang sedang menagih keseriusan lelaki pujaannya. Benar-benar sulit dipercaya.


"Jangan tertawa. Aku serius," ujar Albern, tak terima Lily menertawakannya.


"Apa Kak Al akan dinikahkan dengan orang lain jika aku tidak segera menikah dengan Kakak?" tanya Lily dengan sedikit menggoda.


"Iya. Kalau kamu tidak mau menikahiku dalam waktu dekat ini, sepertinya orang tuaku benar-benar akan menikahkanku dengan orang lain," sahut Albern.


Lily sedikit membeliakkan matanya karena merasa agak terkejut. Raut wajah Albern terlalu serius untuk dibilang bercanda. Tawa Lily pun seketika mereda dan raut wajahnya juga ikut berubah menjadi serius pula.


"Sungguh?" Lily masih agak tak percaya.


Albern mengangguk. Lelaki itu tampak menghela nafasnya sejenak sebelum kemudian kembali menatap ke arah Lily.


"Grandma sakit keras dan belakangan kondisinya semakin memburuk. Beliau sudah tidak bisa lagi bangkit dari tempat tidur. Dan setiap hari yang diucapkannya hanyalah meminta aku untuk segera menikah," ujar Albern dengan suara yang terdengar rendah. Kali ini lelaki itu agak menundukkan pandangannya.


"Selama ini aku selalu menolak permintaannya itu, tapi belakangan aku semakin merasa tidak tega. Aku jadi takut kalau aku tak akan bisa memeuhi permintaan beliau yang ingin melihatku menikah sebelum meninggal. Aku berusaha untuk menghibur diri dengan mengatakan pada diri sendiri jika Grandma pasti masih akan terus hidup dalam waktu yang lama. Tapi keadaannya dari hari ke hari membuatku sadar, mungkin waktu Grandma memang sudah tidak akan lama lagi."


Albern kembali mengangkat wajahnya dan menatap Lily sekali lagi.


"Karena itulah, jika kamu menolak menikah denganku, sepertinya orang tuaku akan berusaha mencarikan perempuan lain. Tidak mungkin aku bisa mengelak jika itu adalah permintaan terakhir Grandma," ujar Albern lagi.


Lily balas menatap Albern dengan sorot mata yang terlihat sendu. Dia sadar kalau kepergiannya selama bertahun-tahun yang tanpa kabar sama sekali pasti akan membuat Albern sangat menderita, tapi dia tidak tahu kalau Albern sampai mengalami tekanan sebesar ini. Rasa bersalah pun memenuhi setiap sudut hatinya meskipun kepergiannya selama tujuh tahun ini juga demi untuk masa depan mereka.


"Maaf, aku sudah membuat Kak Al banyak mengalami kesusahan," ujar Lily dengan nada menyesal.


"Aku tidak menerima permohonan maaf. Aku hanya menerima pertanggungjawaban dalam bentuk tindakan," sahut Albern.


Lily tampak menahan tawanya karena kembali teringat Albern yang minta untuk dia nikahi.


"Tapi aku tidak mau menikahi Kak Al," ujar Lily kemudian.

__ADS_1


Albern terlihat sedikit mengerutkan keningnya.


"Tidak mau?"


"Iya, aku tidak mau."


Kali ini raut wajah Albern berubah menjadi serius, sehingga Lily pun akhirnya tak mampu menahan tawanya. Gadis itu tergelak sampai wajahnya memerah, seolah ada hal lucu yang benar-benar menggelitiknya.


"Apa maksudmu tidak mau menikahiku, lalu tertawa seperti ini? Kamu mau mempermainkanku?" tanya Albern dengan ekspresi serius.


Lily menghentikan tawanya dan berubah serius juga.


"Aku tidak mau menikahi Kak Al, karena Kakaklah yang harusnya menikahi aku," ujar Lily kemudian.


Albern tak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis ini benar-benar telah mempermainkannya. Tapi gawatnya, Albern tak bisa marah sedikit pun meskipun tahu sudah digoda sampai seperti ini. Yang ada dia malah duduk kembali di sebuah kursi yang ada di hadapan Lily, seakan mengisyaratkan jika tak berdaya di hadapan gadis itu.


Mata Albern terpejam. Setelah tujuh tahun lamanya, untuk pertama kalinya dia merasa hatinya begitu damai serta merasa semuanya akan baik-baik saja, meskipun masih belum dipastikan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Lily setelah ini.


"Jangan risau lagi, Kak. Tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab pada Kak Al. Aku akan menikahi Kakak dan membahagiakan Kakak seumur hidupku," ujar Lily akhirnya. gadis itu ikut duduk di sebelah Albern dan menepuk bahu Albern pelan, layaknya sedang menghibur anak kecil yang sedang merajuk.


"Benar, kamu memang harus bertanggung jawab seumur hidupmu. Kali ini aku sungguh tidak akan pernah melepaskanmu lagi sedikit pun," gumam Albern akhirnya sambil menoleh ke arah Lily sekilas.


Lily tersenyum.


"Kalau Kak Al masih lelah, mulai sekarang Kakak boleh bersandar di pundakku," ujar Lily sembari menepuk pundaknya sendiri. "Sekarang aku juga sudah kuat seperti Kakak. Kalau dulu Kakak yang harus selalu melindungiku, sekarang aku juga bisa melindungi Kakak."


Mau tak mau Albern pun tertawa mendengarnya.


"Iya, sekarang kamu sudah dewasa, sudah kuat dan sudah menjadi orang hebat," gumam Albern kemudian.


"Keluarga Kakak masih menerimaku seperti dulu, kan? Atau sekarang aku juga yang harus berjuang mendapatkan restu?" tanya Lily dengan agak berseloroh.

__ADS_1


Kali ini Albern kembali mengangkat kepalanya dan langsung memasang wajah serius lagi.


"Tentu saja tidak. Kalau sekarang kamu juga yang harus berjuang mendapatkan restu, lalu kapan kita menikahnya?" Albern malah balik bertanya.


Terang saja Lily kembali terkekeh dibuatnya. Sepertinya Albern benar-benar dalam keadaan darurat menikah, sampai-sampai yang dibahasnya hanya tentang menikah saja sejak tadi.


"Ya sudahlah, kalau begitu dari sini kita langsung ke KUA saja, langsung mendaftarkan pernikahan," canda Lily.


"Jangan bercanda. Nanti aku benar-benar membawamu ke sana," sahut Albern.


Lily kembali terkekeh, sebelum akhirnya dia menghentikan tawanya kerena teringat akan sesuatu.


"Kak Al, apa boleh aku menjenguk Grandma?' tanya Lily kemudian.


"Kenapa mesti bertanya boleh atau tidak? Sudah pasti kamu harus menjenguk Grandma," sahut Albern.


"Grandma tidak akan marah padaku, kan?" tanya Lily lagi.


"Memangnya kenapa Grandma marah padamu?"


"Mungkin saja Grandma marah karena aku membuat cucunya tidak mau menikah."


"Grandma tidak akan marah asalkan kamu bertanggung jawab."


"Astaga, tanggung jawab lagi. Tidak bisakah Kak Al mengatakan hal lain juga?


"Tidak, karena yang paling kubutuhkan saat ini adalah tanggung jawabmu setelah menunggu lama."


"Ish." Lily memutar bola matanya jengah. "Iya, aku akan bertanggung jawab. Bukankah sudah kukatakan tadi? Kak Al tidak percaya pada perkataanku?"


"Aku percaya, tapi aku akan lebih percaya jika kita benar-benar sudah menikah."

__ADS_1


Lily menghela nafasnya, lalu agak memijit kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing. Sepertinya ke depannya dia harus terbiasa dengan sikap absurd seseorang yang menuntut tanggung jawab darinya karena sudah terlalu lama ditinggal pergi.


Bersambung ....


__ADS_2