Albern & Lily

Albern & Lily
Interogasi


__ADS_3

Hari berikutnya, Darrel sudah terlihat baik-baik saja saat bertemu Lily. Pemuda itu juga sudah berbicara dengan santai seperti biasanya. Lily pun lega karena menganggap sudah tidak ada masalah lagi di antara mereka bertiga.


Tapi kemudian, Lily merasakan ada yang janggal dengan Darrel dan Zivanna. Kedua temannya itu tampak seperti ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi tak dapat diungkapkan.


Atmosfer berbeda juga dirasakan saat mereka berasa di kantin kampus. Baik Zivanna maupun Darrel, keduanya terlihat sama-sama sedang menahan sesuatu.


"Kalian kenapa? Lagi sembelit?" tanya Lily sambil melihat kearah Zivanna dan Darrel secara bergantian.


"Tidak." Keduanya menjawab secara bersamaan.


Lily sedikit menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan kedua sahabatnya itu dengan tatapan aneh.


"Astaga..." Gumam Lily kemudian sambil terkekeh. Seperti biasa, dia berusaha mencairkan suasana.


"Dosa apa yang sudah kalian lakukan sampai bertingkah aneh seperti ini?" tanya Lily lagi sambil tertawa kecil.


Zivanna mendelik sambil melempar sebungkus snack kearah Lily. Tak ayal yang dilemparkan justru semakin terkekeh. Melihat hal itu, wajah Zivanna menjadi semakin memerah.


"Memangnya kamu yang suka berbuat dosa," sungut gadis itu dengan wajah mencebik.


"Ya ampun, Nona Muda kita sensi sekali hari ini," goda Lily lagi.


"Darrel, kamu apakan Kak Zi, sampai dia jadi galau begitu?"


"Bukan aku, tapi kamu," sahut Darrel.


"Aku?" Lily menautkan kedua alisnya tak mengerti.


Zivanna berdehem, membuat Darrel langsung mengatup mulutnya lagi.


Terang saja hal itu membuat Lily semakin keheranan dibuatnya.


"Ada apa, sih? Kalian kok kelihatannya sedang menyembunyikan sesuatu seperti itu?" tanya Lily penasaran.


"Sudah kubilang, bukan aku ataupun Zivanna, tapi kamu," sahut Darrel lagi.

__ADS_1


"Lho, kok aku? Memangnya aku kenapa?" Lily kembali bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.


Lagi-lagi Darrel mengatup mulutnya karena tak ingin kelepasan bicara. Tentu saja hal itu membuat suasana menjadi agak ambigu untuk Lily.


"Lily, begini ... sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." Zivanna akhirnya mengeluarkan suara dengan nada yang lebih rendah daripada sebelumnya.


Pandangan Lily kini beralih ke arah Zivanna. Fix, dia merasa ada yang tidak beres di sini.


"Kak Zi mau bertanya apa? Kok serius sekali seperti itu?"


"Ehm, itu ...." Zivanna kembali berdehem, seolah ada sesuatu yang saat ini sedang menyangkut di tenggorokannya.


"Ini pertanyaan yang agak pribadi, tapi mesti aku tanyakan demi kebaikan kita bersama," ujar Zivanna lagi.


Darrel buru-buru membuang mukanya ke arah lain sembari menghela napas panjang. Dia pasrah jika sekarang Zivanna benar-benar menanyakan perihal apa yang dilihatnya dari balik gorden tempo hari.


"Kenapa suasananya jadi agak seram, ya?" Lily menanggapi dengan agak berseloroh.


"Lily, aku serius," tegas Zivanna.


Raut wajah Lily langsung berubah serius juga.


"Jawab dengan jujur, Lily. Setelah Kak Aku mengungkapkan perasaannya padamu, apakah kalian pernah melakukan skinship? Maksudku hal yang tidak seharusnya kalian lakukan?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Zivanna.


Lily yang mendengar pertanyaan itu tampak sedikit melongo.


"Maksudnya?" tanya Lily kemudian tak mengerti.


"Kamu dan Kak Al pernah saling bersentuhan. Maksudku ... ya begitulah. Masa kamu tidak paham," sahut Zivanna dengan agak kesal.


"Bersentuhan yang seperti apa maksudnya? Melakukan hal tak senonoh?" Lily memperjelas.


"Ya, kira-kira seperti itu ...."


"Ya tidaklah! Memangnya Kak Zi pikir aku gadis gampangan? Ish!" Lily langsung menanggapi dengan berapi-api.

__ADS_1


Terang saja Darrel dan Zivanna sedikit terkejut mendengar volume suara Lily.


"Pelan-pelan saja bicaranya. Telingaku dan Zivanna masih normal," celetuk Darrel.


"Habisnya Kak Zi pertanyaannya aneh," gerutu Lily.


"Tempo hari kan kamu dan Kak Al sampai pergi ke laboratorium Kak Al berdua saja. Makanya, aku kepikiran terus," sahut Zivanna beralibi. Dapat dilihat Darrel melirik ke arahnya sekilas.


"Pergi berdua dengan Kak Al bukan berarti kami berdua melakukan hal yang macam-macam. Aku juga tahu batasan, Kak. Memegang tangan Kak Al saja aku tidak pernah," sahut Lily tak mau kalah.


"Masa?" Darrel dan Zivanna bertanya bersamaan.


"Pernah tidak, ya? Ah, lupa. Tapi pokoknya aku dan Kak Al tidak pernah melakukan hal yang macam-macam, sumpah. Kak Al cuma pernah mengusap kepalaku saja." Lily menjelaskan dengan jujur.


"Kamu yakin?" Zivanna memicingkan matanya.


"Yakinlah, masa tidak. Aku kan belum amnesia," sungut Lily.


Zivanna dan Darrel saling pandang sejenak. Lily memang bandel dan agak nakal sejak kecil. Dia juga tak jarang akan berkata bohong, sesuatu yang tak bisa dibenarkan. Tapi jika dia sudah berani berkata sumpah, sudah pasti dia sedang berkata jujur.


"Darrel, sepertinya tempo hari kamu salah lihat," gumam Zivanna setengah berbisik.


Darrel menghela napasnya sembari mengangguk samar. Meski masih yakin dengan apa yang dilihatnya, tapi di sisi lain dia juga percaya pada perkataan Lily.


"Sepertinya begitu," sahut Darrel kemudian dengan setengah berbisik pula.


Lily yang melihat bisik-bisik itu kembali menautkan kedua alisnya.


"Kalian ini sebenarnya sedang membicarakan apa, sih?" tanya Lily.


"Tidak ada," sahut Darrel dan Zivanna serentak, membuat Lily semakin terbengong.


Lily menyadari sesuatu. Sepertinya ada semacam kesalahpahaman atas dirinya. Tapi sepertinya dia sedang malas untuk mencari tahu.


Bersambung...

__ADS_1


Tetap like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2