Albern & Lily

Albern & Lily
Kegelisahan Zivanna


__ADS_3

Zivanna duduk termenung di bangku taman kampus. Ia terus memikirkan permintaan yang Albern sampaikan saat dalam perjalanan mengantarnya tadi. Ada perasaan yang berkecamuk di hati gadis itu. Di satu sisi, dia merasa jika keputusan Albern merelakan Lily melanjutkan pendidikannya di luar negeri sudah benar. Tapi di sisi lain, Zivanna sedih memikirkan besarnya penderitaan yang akan dirasakan kakak semata wayangnya itu jika Lily benar-benar pergi ke luar negeri. Dan dia yakin Lily juga akan merasakan hal yang sama, meskipun Zivanna tidak terlalu tahu sedalam apa perasaan Lily terhadap Albern.


Selama ini, Zivanna tak pernah melihat Albern tertarik pada perempuan manapun. Lily adalah satu-satunya gadis yang bisa leluasa berinteraksi dengan Albern di luar urusan bisnis. Awalnya Zivanna mengira hal itu dikarenakan Lily adalah putri dari sahabat Mama dan Papanya, sekaligus karena dia teman dekat Zivanna sejak kecil. Ia tak menyangka jika Albern bersikap istimewa terhadap Lily dikarenakan menyimpan sebuah perasaan.


Setahu Zivanna, Albern adalah sosok yang gigih. Jika sudah memiliki suatu tujuan, maka lelaki itu akan mengupayakannya dengan segala cara. Dia bahkan tak ragu jika harus berkorban. Dan tampaknya kali ini, dia pun melakukan hal yang sama demi untuk mengupayakan hubungannya dengan Lily agar mendapatkan restu. Albern memilih mengorbankan perasaannya dengan memutuskan mendukung sepenuhnya keinginan kedua orang tua Lily, meski ia sangat sadar, melepaskan Lily dalam waktu yang cukup lama berpontensi membuat hati dan perasaan gadis muda itu terhadap Albern berubah.


Zivanna tak bisa membayangkan jika suatu hari Lily tak lagi mencintai Albern karena bertemu seseorang yang kembali membuatnya jatuh hati, kemudian berpaling dari Albern. Entah akan seperti apa hancurnya hati kakaknya itu. Lelaki yang sulit jatuh cinta seperti Albern, sekalinya cinta terhadap seseorang, maka perasaannya itu pasti akan sangat dalam. Jika Lily sampai mendua, Zivanna takut seumur hidupnya Albern tidak akan jatuh hati lagi terhadap perempuan. Dan itu adalah sesuatu yang begitu mengerikan, bahkan jika hanya terjadi dalam khayalan saja.


"Hei." Sebuah sapaan membuyarkan lamunan Lily.


Ia menoleh. Tampak Darrel sudah berdiri di sampingnya sambil menatapnya dengan agak heran.


"Sedang memikirkan apa, sampai dari tadi aku panggil, kamu tidak menyahut?" tanya Darrel.


"Ah, itu ...." Zivanna terlihat agak salah tingkah.


Darrel tampak menatap dan menunggu jawabannya.


"Tidak apa-apa," jawab Zivanna akhirnya, berusaha menutupi apa yang menyita pikirannya tadi.


Darrel masih menatap Zivanna selama beberapa saat, sebelum akhirnya duduk di samping gadis itu.


"Tidak mau cerita?" tanya Darrel lagi.


"Hah? Cerita apa?" Zivanna terlihat semakin gugup.


"Sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan denganku? Bukankah dulu waktu ada pemuda kaya dan tampan yang mendekatimu saja, kamu langsung cerita?"


Spontan Zivanna membeliakkan matanya. Ingatannya langsung tertuju pada saat salah satu anak rekan kerja Papanya ada yang jatuh cinta padanya. Zivanna sengaja bercerita pada Darrel saat pemuda itu mendekatinya, dengan tujuan agar Darrel merasa cemburu. Tapi yang ada justru Darrel merespon datar terkesan mendukung Zivanna berhubungan dengan pemuda itu.


Hish, Zivanna selalu saja merasa kesal setiap kali mengingatnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Lily?" Darrel kembali bertanya.


Sekali lagi mata Zivanna melebar. Kali ini ia menoleh ke arah Darrel sembari menatap penuh tanda tanya. Bagaimana bisa pemuda itu bisa menebak dengan benar?


"Tahu dari mana?" Zivanna balik bertanya.


"Sebelum melihatmu, aku juga lebih dulu melihat Lily menekuk muka seperti yang kamu lakukan sekarang ini. Biasanya begitu selesai mengikuti kelasnya, dia akan sibuk mencarimu. Tapi sekarang dia malah duduk sendirian di sudut perpustakaan."


"Lily sendirian di perpustakaan?" ulang Zivanna.

__ADS_1


Darrel mengangguk mengiyakan.


"Dia bahkan tidak dengar seperti kamu tadi saat aku panggil. Awalnya aku mau mendekatinya, tapi sepertinya dia sedang ingin sendiri."


Zivanna tampak tertegun. Seorang Lily yang ceria dan berenergi, mana pernah duduk sendirian di perpustakaan. Jikalaupun dia berada di perpustakaan, itu juga pasti bersama dengannya dan juga Darrel, tak pernah sendirian. Tampaknya keinginan kedua orang tuanya juga berat untuk Lily, bahkan sampai-sampai merubahnya menjadi sosok penyendiri seperti itu.


"Ada apa antara kamu dan Lily? Kalian tidak sedang bertengkar, kan?" Suara Darrel kembali membuyarkan lamunan Zivanna.


Buru-buru Zivanna menggeleng.


"Tentu saja tidak," sanggah Zivanna cepat.


"Lalu?"


Zivanna terdiam sesaat.


"Orang tua Lily ingin Lily melanjutkan pendidikannya di luar negeri," jawab Zivanna akhirnya.


Darrel tampak menaikkan satu alisnya.


"Lalu?" tanyanya lagi.


Berganti Zivanna yang menautkan kedua alisnya.


"Orang tua Lily ingin Lily melanjutkan pendidikannya di luar negeri, lalu apa masalahnya?" tanya Darrel dengan wajah tanpa dosa.


Terang saja Zivanna melotot dibuatnya.


Plak! Buku yang sedari tadi Zivanna pegang, mendarat sempurna di kepala pemuda kaku itu, hingga dia juga ikut melotot.


"Apa-apaan?" tanya Darrel tak terima sambil memegangi kepalanya


"Kamu yang apa-apaan? Dasar manusia tidak peka! Tentu saja kalau Lily pergi ke luar negeri akan jadi masalah yang besar, terutama buat Kak Al," sahut Zivanna tak kalah marah.


Darrel masih terlihat tak mengerti.


"Memang apa masalahnya? Melanjutkan pendidikan di luar negeri juga tidak selamanya, kan? Lagipula Lily dan Tuan Muda masih bisa menjalin hubungan jarak jauh. Masih bisa chating dan video call. Kita kan bukan hidup di jaman purba," ujar Darrel enteng.


Zivanna tertegun sejenak mencerna kata-kata Darrel.


"Benar juga, sih ...," gumamnya lirih. Dia pikir apa yang dikatakan oleh Darrel ada benarnya juga. Tapi sejurus kemudian Zivanna kembali memasang wajah tak setuju.

__ADS_1


"Tidak sesederhana itu juga, Darrel. Berpisah dalam waktu yang lama pasti sangat sulit untuk Kak Al dan Lily," sanggah Zivanna lagi.


"Kalau sulit jangan dilakukan, kenapa mesti mempersulit diri sendiri." Lagi-lagi Darrel menanggapi dengan tanpa beban.


Zivanna menghela nafasnya dengan kasar.


"Tidak semudah itu. Kak Al tidak rela berpisah dengan Lily, tapi dia harus merelakan Lily pergi supaya bisa mendapatkan restu dari kedua orang tua Lily. Di sisi lain, Lily juga harus mengikuti apa dikatakan orang tuanya demi untuk masa depannya sendiri juga."


Berganti Darrel yang menghela nafasnya.


"Rumit," gumam pemuda itu.


Zivanna mengangguk pelan, mengiyakan komentar Darrel barusan.


"Darrel, kalau seandainya orang tuamu memintamu untuk melanjutkan kuliah di luar negeri juga, apa kamu akan melakukannya?" tanya Zivanna kemudian dengan suara yang terdengar agak sendu.


"Kalau itu demi untuk masa depanku, kenapa tidak?"


Zivanna sontak menoleh ke arah Darrel.


"Jadi kamu tidak masalah berjauhan denganku?"


Darrel juga menoleh ke arah Zivanna. Keduanya bersitatap selama beberapa saat.


"Sekarang jarak tidak menjadi masalah, Zi. Kita masih bisa saling berbicara seperti ini meskipun berada di negara yang berbeda," sahut Darrel kemudian.


"Lalu, apakah kamu akan menyukai dan menjalin hubungan dengan gadis lain?"


Darrel diam dan menatap Zivanna yang saat ini tengah menanti jawabannya.


"Tidak tahu," jawabnya kemudian sambil mengangkat bahu.


"Darrel!" Zivanna kembali melotot sembari memukul lengan Darrel gemas.


"Dasar menyebalkan!!" Zivanna bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan pemuda itu sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.


Bersambung ...


Hai gaes, emak mohon maaf karena Albern dan Lily lama ga up.


Hampir sebulanan ini emak sibuk ngurusin naskah yang mau diterbitin. Mulai dari mereview ulang sampe merevisi di beberapa bagian. Ga cuma Albern yg terbengkalai, cerita di platform lain juga terbengkalai. Haduh, ternyata cukup menyita waktu dan energi😅

__ADS_1


Tapi Alhamdulillah sekarang udah selesai dan udah open PO bukunya. Insyaa Allah untuk seminggu ke depan emak bakal stay sama Albern Lily😊


Sehat-sehat semuanya❤️❤️❤️


__ADS_2