
"Sayang, tolong jangan buat keributan saat di rumah keluarga Brylee nanti ...." Carissa berujar dengan hati-hati sembari melirik sekilas kearah Evan. Suaminya itu mengemudikan mobil dengan raut wajah yang sangat serius hingga Carissa merasa sedikit was-was dibuatnya.
"Aku hanya mau membawa pulang putriku, bukannya mau membuat keributan," jawab Evan tanpa menoleh.
"Memangnya kapan aku pernah membuat keributan?" gumamnya lagi.
Carissa tak menjawab. Benar kata Evan, dia adalah lelaki dengan pengendalian diri tinggi dan tidak mudah marah, terutama saat berhadapan dengan orang lain. Tapi jika itu menyangkut Lily, Carissa yakin Evan sanggup melakukan apa saja. Itulah yang membuat hatinya agak risau.
"Tidak perlu khawatir. Suamimu ini masih sangat waras, Carissa," ujar Evan sekali lagi.
Carissa pun tak mengatakan apapun lagi. Suasana di dalam mobil menjadi hening hingga mereka sampai ke kediaman keluarga Brylee.
Mobil yang dikemudikan Evan berhenti sejenak di gerbang rumah keluarga Brylee yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan. Setelah melihat yang datang adalah Carissa dan Evan, yang masih terhitung kerabat keluarga Brylee, salah satu petugas keamanan itupun membukakan pintu gerbang. Evan kembali mengemudikan mobilnya hingga sampai ke pelataran rumah keluarga Brylee.
Evan segera turun dari mobilnya, disusul oleh Carissa. Carissa kemudian menekan bel hingga tak lama setelahnya pintu utama kediaman keluarga Brylee pun terbuka.
Seorang pelayan terlihat dari balik pintu dan langsung mempersilahkan keduanya masuk.
Evan masuk dengan dengan langkah mantap, sedangkan Carissa mengikuti langkah Evan dengan perasaan tak menentu. Carissa masih sedikit takut dengan apa yang bakal terjadi nanti.
"Kak Evan, Carissa?" Zaya yang lebih dulu menyadari kedatangan Evan dan Carissa tampak sedikit terkejut.
Sontak semua orang yang saat ini ada di ruangan itu menoleh dan memperlihatkan reaksi seperti Zaya. Aaron, Albern, Zivanna dan juga Nyonya besar Brylee, Ginna, semuanya sontak memandang kearah Evan dan Carissa.
"Papa?" Lily yang baru kembali dari toilet juga tak kalah terkejut saat mendapati kedua orang tuanya berada di kediaman keluarga Brylee.
"Maaf, mengganggu acara keluarga kalian," ujarnya Evan sembari kembali melangkahkan kakinya semakin mendekat kearah semua orang.
"Dokter Evan, selamat datang. Maaf kami tidak tahu kalau Anda sudah kembali. Senang sekali melihat Anda berkunjung kemari," Aaron segera bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Evan.
Evan tak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin kearah suami Zaya itu sembari mengulas senyuman tipis. Carissa dan Zaya saling pandang. Kedua perempuan itu tampak agak cemas melihat interaksi kedua suami mereka.
"Maaf mengecewakan, tapi saya kemari tidak untuk mengunjungi keluarga Brylee, melainkan mau menjemput putri saya Lily," jawab Evan kemudian.
Berganti Aaron yang tersenyum.
__ADS_1
"Lily akan makan siang bersama dengan kami, nanti Albern akan mengantarkannya pulang. Tapi karena Anda dan Carissa sudah di sini, sebaiknya kalian ikut bergabung juga," ujar Aaron menanggapi.
"Kenapa Lily harus makan siang bersama keluarga Brylee? Rumah kami tidak kekurangan bahan makanan meski keluarga kami tak sekaya keluarga Brylee,"
Carissa menoleh ke arah Evan dengan hati yang semakin tak menentu. Tampaknya semuanya tidak akan baik-baik saja.
"Paman Evan." Kali ini Albern yang bangkit dan mendekati Evan.
"Saya minta maaf karena sudah mengajak Lily bergabung di acara keluarga kami tanpa seizin Paman. Saya tidak tahu jika Paman akan pulang hari ini,"
Pandangan Evan beralih kearah Albern. Tatapan lelaki paruh baya itu terlihat semakin dingin hingga suasana menjadi agak mencekam.
"Atas dasar apa kamu mengajak Lily bergabung di acara keluarga Brylee?" tanya Evan tajam.
Albern terdiam sesaat. Sudah sejak awal dia ingin mengakui hubungannya bersama Lily dihadapan Evan, tapi tidak dalam suasana seperti ini juga.
"Lily tidak punya kapasitas apapun untuk ambil bagian dalam acara keluarga kalian, jadi sekarang aku akan membawanya pulang." Evan mendekati Lily, lalu menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
"Pa ...." Lily tampak ingin mengatakan sesuatu pada Evan, tapi terlalu takut hingga mengurungkan niatnya itu.
"Paman Evan," suara Albern menghentikan langkah Evan.
"Tolong izinkan Lily tetap di sini sampai selesai makan siang. Nanti saya akan mengantarnya pulang," pinta Albern hati-hati.
"Sudah kukatakan. Lily tidak punya kapasitas apapun untuk ambil bagian dalam acara keluarga kalian,"
"Tidak, Paman, Lily punya. Lily ... Lily sekarang adalah calon istri saya," ujar Albern tanpa ragu.
Evan kembali menatap kearah Albern dengan tatapan dingin. Dia tidak terlihat terkejut mendengar pengakuan Albern. Tentu saja, karena Evan sudah mengetahui hal itu sejak dia masih berada di Singapura. Tapi meski tak menunjukkan ekspresi keterkejutannya, tetap saja Evan membuat orang yang melihat menjadi harap-harap cemas.
"Oh, ya?" Evan justru pura-pura memasang ekspresi tak percaya.
"Benar, Paman. Kamu sudah menjalani hubungan sejak beberapa waktu yang lalu,"
"Lalu, kenapa aku tidak tahu apapun?" tanya Evan lagi dengan agak sarkas. Pandangannya beralih pada Lily yang kini terlihat mulai ketakutan.
__ADS_1
"Ma-maaf, Pa. Aku yang meminta Kak Al untuk tidak memberitahu Papa dulu," ujar Lily sembari menundukkan kepalanya.
"Saya yang salah, Paman. Saya harusnya bersikap gentle dan memberitahu Paman sejak awal. Tolong jangan salahkan Lily. Saya akan melakukan apapun agar Paman mau memaafkan saya dan memberikan restu Paman pada kami,"
Evan kembali tersenyum, tapi kali ini senyumnya terlihat sangat mengerikan.
"Berhentilah mengatakan omong kosong," ujar Evan kemudian.
"Lily, ayo pulang!" Evan kembali menarik tangan Lily dan melanjutkan langkahnya. Carissa pun mau tak mau mengikuti langkah suaminya itu.
"Zaya, Tante Ginna. Maaf, kami langsung pulang." ujar Carissa dengan wajah tak enak.
Zaya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tak menyangka jika sampai detik ini Evan masih tak menyukai putranya.
'Dokter Evan, kenapa harus seperti ini. Putrimu dan putraku saling mencintai dan menginginkan satu sama lain. Kenapa Anda merasa keberatan dengan hubungan mereka? Tidak ada salahnya mereka menjalin hubungan," suara Aaron kembali terdengar setelah sebelumnya dia memberikan kesempatan pada Albern untuk berbicara.
"Tentu saja bagi Anda tidak ada yang salah. Karena bagaimanapun, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, pihak yang dirugikan adalah Lily, bukan Albern. Tapi aku tidak akan membiarkan terjadi hal buruk sedikitpun pada putriku."
"Apa maksudnya Anda, Dokter Evan?" Tanya Aaron dengan sedikit bingung.
"Bukan hal penting untuk Anda. Hal seburuk apapun selagi itu tak mempengaruhi harga saham Brylee Group, tentu saja tidak akan penting."
Aaron menautkan kedua alisnya. Begitu pula dengan orang lain yang berada di sana.
"Apa yang sedang Anda bicarakan?" tanya Aaron tak mengerti.
"Sudah saya bilang, itu tidak penting. Kami permisi." Ujar Evan lagi sembari kembali melangkah.
"Dokter Evan." Terdengar orang lain kembali memanggil Evan. Kali ini Nyonya Ginna lah yang melakukannya.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1