
Perempuan muda yang membuat Albern terkesiap itu mengulas senyuman tipis, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan hormat pada Albern, begitu juga dengan lelaki yang bersamanya. Suasana menjadi hening sejenak, sebelum kemudian perempuan muda itu maju mendekati Albern.
"Senang akhirnya bisa bertemu Anda secara langsung, Tuan Brylee," ujar perempuan muda itu. "Saya Lily Bramasta, CEO BrushHealth Company."
Albern semakin membeku tanpa bisa mengatakan apapun. Hanya pandangannya saja yang merespon dengan turun dan menatap ke arah tangan yang terulur mengajaknya untuk berjabat tangan. Tangan milik seorang perempuan muda yang selama ini nyaris membuatnya putus asa karena menahan rindu.
Ya. Perempuan yang ada di hadapan Albern saat ini memang benar Lily, gadis yang bertahun-tahun lalu meninggalkannya demi untuk memantaskan diri. Sekian lama mereka berdua berpisah tanpa saling memberi kabar satu sama lain, lalu kini tiba-tiba saja berdiri saling berhadapan sebagai calon rekan bisnis yang akan membahas sebuah kerjasama besar. Situasi ini benar-benar tak terduga bagi Albern. Butuh waktu beberapa saat baginya untuk mencerna apa yang tengah terjadi.
"Tuan Muda." Suara Asisten Dhani membuyarkan pikiran Albern, membuat lelaki itu tersadar jika saat ini dia tidak sedang berhalusinasi. Dilihatnya Lily masih setia menyodorkan tangan padanya untuk mengajak berjabat tangan.
Dengan agak canggung, Albern pun akhirnya mengulurkan tangannya dan menyambut jabat tangan itu. Keduanya sama-sama tertegun selama beberapa saat. Seperti ada perasaan bergemuruh yang dirasakan pada diri masing-masing. Baik Lily maupun Albern, mereka kemudian saling melepas jabat tangan tersebut dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
Sebenarnya Asisten Dhani juga terkejut melihat kehadiran Lily sebagai pemimpin perusahaan yang akan bekerjasama dengan Brylee Group saat ini, tapi sesegera mungkin dia menguasai diri dan mengendalikan keterkejutannya itu. Sejak awal berhubungan dengan perwakilan Brush Health Company, dia memang merasa ada yang janggal karena perusahaan tersebut terkesan merahasiakan identitas CEO mereka. Tapi karena Albern sendiri yang memintanya untuk terus melobi perusahaan tersebut agak mau bekerjasama dengan mereka, akhirnya Asisten Dhani mengesampingkan perasaan janggalnya itu.
Siapa sangka jika perusahaan tersebut mengambil tindakan sok misterius seperti itu karena hal tak terduga seperti ini. Rupanya pemimpin BrushHealth Company adalah gadis yang selama ini sangat dinantikan oleh bos Asisten Dhani sendiri. Entah ini sebuah kebetulan atau kesengajaan yang telah diatur sebelumnya, tapi yang jelas fakta tersebut menjadi sebuah kejutan yang amat sangat besar dan tak akan pernah bisa dilupakan, terutama oleh Albern.
"Silakan duduk, Tuan Brylee," ujar Lily saat melihat Albern masih betah berdiri. Dia bersikap seolah tak mengenal lelaki itu sama sekali.
Mau tak mau, Albern pun akhirnya duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruangan tersebut, diikuti oleh Asisten Dhani. Setelah itu, Lily dan lelaki yang sepertinya adalah asistennya juga ikut duduk menyusul duduk setelahnya.
"Ternyata cukup sulit untuk bertemu dengan Anda, padahal saya ingin mempresentasikan hasil penelitian terbesar dari ilmuwan kami kepada Anda langsung," ujar Lily membuka percakapan. Cara bicaranya terlihat santai, namun tetap formal. Senyum tipis di bibirnya terus tersungging, membuat Albern hampir saja tak bisa menahan diri karenanya.
__ADS_1
"Maaf atas ketidaknyamanannya. Belakangan ini saya memang lebih sering mewakilkan pertemuan penting dengan pimpinan perusahaan yang lain karena suatu hal," sahut Albern akhirnya setelah sejak tadi hanya bisa diam saja.
Melihat Lily yang bersikap seakan tak mengenalinya, Albern pun merasa amat sangat kesal. Padahal dirinya saja hampir saja tak bisa mengendalikan diri dan sejak tadi tak tahu harus berkata apa. Jika saja dia tak datang dengan membawa nama perusahaan, mungkin saat ini Albern telah menarik Lily dengan paksa dan membawa gadis itu pergi dari tempat itu.
Sayang sekali, saat ini mereka bertemu bukan sebagai Albern dan Lily secara pribadi, tapi sebagai pimpinan dua perusahaan yang akan membahas sebuah proyek kerjasama yang besar. Dan sepertinya hal ini memang telah direncanakan oleh Lily, makanya dia tak terkejut sama sekali saat melihat Albern.
Lily kembali tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Albern harus menahan nafas saat melihatnya.
"Tidak apa-apa. Toh, pada akhirnya saya tetap bertemu dengan Tuan Brylee secara langsung," ujar Lily kemudian.
Asisten pribadi Lily mengeluarkan beberapa berkas yang kemudian dia serahkan pada Lily.
Albern menatap perempuan muda itu, lalu menganggukkan kepalanya. Matanya terus memadang ke arah Lily tanpa mau mengalihkannya ke tempat lain sedikit pun. Dalam hati, lelaki itu mengagumi penampilan Lily saat ini. Setelan formal berwarna gelap yang Lily gunakan tampak membuat penampilannya terlihat profesional. Wajahnya yang dipoles make up tipis juga terlihat begitu mempesona. Membuat kagum siapapun yang melihatnya.
Lily bangkit bersamaan dengan sebuah proyektor yang mulai menunjukkan gambar yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dia kemudian menjelaskan satu persatu gambar yang tampil di layar proyeksi dengan begitu fasih dan meyakinkan. Gadis muda yang tujuh tahun lalu masih suka menunjukkan raut manja dan tingkah kekanakan, kini berdiri di hadapan Albern dengan penuh percaya diri dan terlihat begitu menakjubkan.
Sejak dulu, Albern tahu jika Lily adalah gadis yang cerdas, tapi kini kecerdasannya itu tampak begitu memancar, sehingga membuat orang yang melihatnya tak akan mampu menampik hanya dengan melihat auranya saja. Sudut bibir Albern sedikit terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis. Perasaan haru tiba-tiba saja memenuhi setiap sudut hatinya sampai membuat matanya agak berkaca-kaca. Tampaknya, selama tujuh tahun ini bukan hanya dirinya saja yang telah bekerja keras tanpa kenal lelah, tapi gadis di hadapannya ini juga.
Lily terus memaparkan setiap gambar yang mucul di layar proyeksi dengan begitu jelas. Bahasanya yang lugas membuat Albern bisa memahami dengan mudah dan dapat langsung menyimpulkan jika proyek yang akan mereka kerjakan bersama ini benar-benar menjanjikan. Setelah presentasi selesai, mereka pun mulai membicarakan rencana kerjasama dan saling bernegosiasi.
Tanpa terasa, hampir dua jam pembicaraan itu berlangsung. Kesepakatan pun akhirnya didapatkan, sehingga tinggal menandatangani kontrak saja untuk meresmikan kerjasama tersebut, yang rencananya akan dilakukan di pertemuan selanjutnya.
__ADS_1
Pertemuan kali ini pun berakhir, yang artinya Albern dan Lily harus kembali berpisah Albern tampak melirik Asisten Dhani yang tengah bersiap untuk pergi dari tempat itu.
"Bisa tinggalkan saya dan Nona Bramasta berdua dulu? Ada yang perlu kami bicarakan secara pribadi," ujar Albern kemudian pada Asisten Dhani dan juga pada asisten pribadi Lily.
Asisten Dhani langsung mengiyakan perkataan bosnya itu dan segera pamit undur diri, sedangkan asisten pribadi Lily terlihat agak ragu.
Lily tersenyum dan mengangguk pelan pada asistennya itu, mengisyaratkan jika dirinya akan baikbaik saja. Akhirnya asisten pribadi Lily juga menyusul Asisten Dhani keluar dari ruangan tersebut, menyisakan Lily dan Albern berdua saja.
Keheningan melanda setelahnya. Kedua orang tersebut sama-sama berdiri dan saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang sulit dilukiskan.
"Apa tidak ada hal lain yang ingin kamu sampaikan padaku ..., Nona Bramasta?" tanya Albern kemudian dengan suara yang terdengar berat.
Lily tak menjawab. Dia hanya menatap ke arah Albern dengan mata yang mulai mengembun. Ekspresi wajahnya telah jauh berubah dari sebelumnya. Tak ada lagi senyuman seperti yang sebelumnya dia perlihatkan, pandangannya justru terlihat sendu. Gadis itu kemudian maju selangkah demi selangkah, memperdengarkan suara hils sepatunya yang beradu dengan ubin lantai ruangan tersebut, hingga sampailah dia di hadapan Albern.
Langkah Lily berhenti tepat saat dirinya berada di hadapan Albern. Dia mendongakkan wajahnya dan menatap Albern dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Detik berikutnya, airmata Lily pun jatuh bersamaan bibirnya yang menyungging senyuman.
"Apa kabar, Kak Al?" tanya Lily kemudian dengan suara yang agak parau.
Bersambung ....
Doakan Emak biar bisa menamatkan cerita ini secepatnyaš¤§
__ADS_1