
Selang beberapa saat, dokter yang merawat Nyonya Ginna pun keluar dari ruang perawatan bersama dengan beberapa orang perawat yang mendampinginya. Raut wajahnya terlihat tak terlalu buruk, mengisyaratkan jika kondisi Nyonya Besar Brylee itu mungkin saja sudah tak terlalu serius seperti sebelumnya.
"Bagaimana kondisi Mama, Dokter?" tanya Zaya segera.
Dokter itu tampak sedikit mengembuskan nafasnya sebelum akhirnya mengulas senyuman tipis.
"Nyonya Ginna baru saja melewati masa kritisnya. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih stabil," jawab dokter itu.
Berganti Zaya yang menghela nafas lega. "Syukurlah ...," gumamnya.
Raut wajah lega juga diperlihatkan oleh Albern. Setelah menunggu dengan perasaan cemas tak terkira beberapa saat tadi, kini akhirnya kecemasannya itu bisa sedikit berkurang.
"Apa Grandma sudah sadar?" tanya Albern.
"Sekarang Nyonya Ginna sedang tertidur, mungkin beberapa saat lagi baru akan terjaga. Nyonya dan Tuan Muda bisa beristirahat dulu sambil menunggu Nyonya Ginna terjaga," sahut dokter itu lagi sebelum kemudian pamit undur diri dari hadapan Albern dan Zaya.
"Aku akan menemani Grandma di dalam," ujar Albern sambil melangkah mendekati pintu ruangan di mana Ginna dirawat secara intensif. Namun, baru saja Albern hendak meraih handel pintu ruangan tersebut, dirasakannya da yang menahan tangannya. Siapa lagi yang melakukan hal itu kalau bukan Zaya.
"Grandmamu sedang tertidur, biarkan dia beristirahat dengan nyaman. Kamu lebih baik beristirahat juga," ujar Zaya.
Albern melihat sejenak ke arah lengannya yang ditahan oleh Zaya, kemudian beralih memandang ke arah mamanya itu.
"Sudah berapa hari ini kamu kurang istirahat karena menjaga Grandmamu, sekarang istirahatlah dulu, biar Mama yang berjaga di sini. Mama tidak ingin kamu jatuh sakit juga," ujar Zaya lagi.
Mendengar nada khawatir dari ucapan Zaya, Albern pun tak kuasa untuk membantah.
"Baiklah," gumam Albern kemudian sambil menganggukkan kepalanya samar.
Albern akhirnya pergi dari hadapan Zaya untuk beristirahat. Tapi dia tidak masuk ke dalam kamarnya, melainkan hanya merebahkan diri di atas sofa yang ada di ruang keluarga. Dia memilih untuk memejamkan mata di sana saja agar bisa langsung mendengar jika seandainya ada perubahan mendadak dari kondisi grandmanya.
Entah berapa lama Albern terlelap. Matanya mengerjap saat mendengar suara dua orang yang sedang bercakap-cakap. Segera dia bangkit dan mendapati asisten pribadinya sedang berbicara dengan Zaya.
__ADS_1
Kening Albern sedikit berkerut melihat kehadiran Asisten Dhani di rumah Grandmanya. Jika tak ada hal yang sangat penting, tak mungkin orang kepercayaannya itu sampai datang kemari. Entah hal penting apa yang saat ini ingin Dhani sampaikan secara langsung seperti ini.
Sebelum menghampiri Asisten Dhani, Albern pergi ke dapur kediaman Ginna terlebih dahulu. Dia membasuh mukanya di wastafel, lalu mengambil botol air mineral dari dalam lemari pendingin dan menenggak isinya hingga separuh. Setelah dirasakannya tubuhnya telah jauh lebih segar, barulah dia menuju ke ruang tengah kembali dan menemui Asisten Dhani.
"Tuan Muda." Asisten Dhani langsung setengah membungkuk saat menyadari Albern kehadiran Albern. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Ada apa?" tanya Albern to the point.
"Kemarin saya sudah memberitahukan pada Anda kalau siang ini ada jadwal meeting dengan Perusahaan Farmasi yang akan bekerja sama dengan kita tempo hari," sahut Asisten Dhani.
Albern terdiam sejenak. Dia baru ingat jika hari ini ada meeting dengan calon partner bisnisnya. Kondisi Ginna yang menurun secara tiba-tiba membuatnya lupa pada agenda penting yang telah dijadwalkan oleh Asisten Dhani sejak jauh-jauh hari.
"Apa tidak bisa ditunda saja? hari ini kondisi Grandma sedang naik turun. Aku tidak bisa pergi," ujar Albern kemudian.
"Ini sudah jadwal ke tiga yang saya atur setelah dua jadwal sebelumnya sudah saya undur, Tuan Muda," jawab Asisten Dhani.
Albern menghela nafasnya sejenak. Dia ingat jika beberapa waktu lalu memang telah dua kali membatalkan pertemuan itu, penyebabnya masih tak jauh-jauh dari kondisi Ginna yang tiba-tiba memburuk.
"Maaf, Tuan Muda, sebelumnya saya juga berpikir seperti itu, tapi CEO dari calon rekan bisnis kita ingin Anda sendiri yang datang untuk membicarakan kerjasama tersebut." Asisten Dhani kembali menyahut dengan nada menyesal.
Albern tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sebelum kemudian kembali menghela nafas panjang.
"Kerjasama ini kita yang menawarkan, Tuan, bukan mereka. Dan sekarang CEO-nya datang jauh-jauh dari New York hanya untuk membahas rencana kerjasama yang kita tawarkan. Kalau Anda tidak datang juga, takutnya nama besar Brylee Group jadi tercoreng," ujar Asiten Dhani, berusaha untuk mengingatkan Albern.
Albern mengerti. Tanpa asistennya bicara seperti itu pun dia sangat paham. Beberapa bulan yang lalu dia mendengar pemberitaan tentang sebuah Perusahaan Farmasi yang berbasis di Amerika. Perusahaan tersebut membuat gebrakan dengan menciptakan dan memproduksi obat-obatan yang berbahan dasar tanaman herbal, namun memiliki khasiat yang bahkan lebih ampuh daripada obat-obatan berbahan dasar zat kimia. Hal itu memungkinkan pasien mengkonsumsi obat tanpa mendapatkan efek samping dari obat-obatan seperti yang biasanya didapatkan dari memgkonsumsi obat berbahan dasar kimia.
Hal itulah yang membuat Albern tertarik untuk bekerja sama dengan Perusahaan Farmasi tersebut. Jika tercapai kesepakatan, rencananya mereka akan memproduksi obat-obatan dengan skala besar dan didistribusikan ke seluruh Asia. Tentu saja itu adalah proyek yang besar dan bernilai fantastis. Itu sebabnya semua harus dibicarakan dengan hati-hati.
"Pergilah, Al. Mama tahu kamu mengkhawatirkan Grandmamu, tapi kamu juga tidak boleh lalai pada tanggung jawabmu terhadap perusahaan. Biar Mama yang menjaga Gramdma. Sebentar lagi Zivanna dan Papa juga akan kembali," ujar Zaya akhirnya menengahi.
Albern menoleh ke arah Mamanya itu dengan agak tidak yakin, tapi sekali lagi Zaya meyakinkan agar Albern tak perlu merasa khawatir.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, akhirnya Zaya berhasil meyakinkan Albern. Putranya itu akhirnya bersiap-siap untuk pergi menemui calon rekan bisnisnya bersama Dhani.
"Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku, Ma," pesan Albern pada sang mama sebelum pergi.
Zaya mengiyakan sembari meminta Albern untuk fokus pada urusannya, sehingga meski masih dengan berat hati, Albern akhirnya benar-benar pergi.
"Saya baru mendapat kabar kalau CEO calon rekan bisnis kita itu sudah tiba di tempat meeting, Tuan." Asisten Dhani memberi tahu saat mereka berada di perjalanan.
Albern mengangguk tanpa mengatakan apapun.
"Oh iya, sebagai informasi tambahan agar Anda tidak terlalu terkejut, CEO-nya itu seorang perempuan." Asisten Dhani kembali memberi tahu.
"Muda," tambah Asisten Dhani lagi.
Kali ini Albern menoleh ke arah asistennya itu, meski masih tetap tak mengatakan apapun. Selama ini, dia sangat malas berurusan dengan perwakilan sebuah perusahaan jika jenis kelaminnya perempuan. Bukan apa-apa, biasanya akan ada drama lain yang tak seharusnya terjadi di luar urusan bisnis. Apalagi kalau bukan drama si perempuan itu memiliki modus lain terhadap Albern saat mengetahui kalau Albern masih lajang.
Membuat pusing dan melelahkan. Sekali lagi Abern menghela nafasnya. Mana dia tahu kalau CEO dari perusahaan kali ini juga perempuan. Semoga saja yang ini tak seperti yang sebelum-sebelumnya.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Albern dan Asisten Dhani pun tiba di tempat yang telah ditentukan. Mood Albern sebenarnya sudah agak kacau karena mengetahui yang akan ditemuinya saat ini adalah seorang perempuan, muda pula. Tapi tentu dia harus tetap profesional. Mau tak mau dia tetap harus memberikan sambutan terbaiknya pada calon rekan bisnisnya itu.
"Silakan masuk, Tuan." Seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilakan Albern dan Asisten Dhani masuk ke sebuah ruangan privat yang telah direservasi sebelumnya. Ruangan di mana calon rekan bisnisnya telah menunggu sejak beberapa saat yang lalu.
Albern masuk ke dalam ruangan tersebut, diikuti oleh Asisten Dhani. Bersamaan dengan itu, dua orang yang ada di ruangan tersebut bangkit untuk menyambut kedatangan Albern.
Mata Albern langsung tertuju pada seorang perempuan muda dengan paras menawan yang saat ini tengah berdiri sambil melihat ke arahnya. Seketika jantung Albern seperti berhenti berdetak. Matanya membeliak tanpa sadar karena tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Lily ...?" Albern berbisik tanpa sadar.
Bersambung ....
Yang nungguin kelanjutan cerita Keenan dan Zetta, Insyaa Allah malem nanti up. Baru dikasih outlinenya tadi sama NT🥲
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya❤️❤️❤️