Albern & Lily

Albern & Lily
Cemburunya Gadis Labil


__ADS_3

Mata Lily masih menatap Albern tajam, lalu dihempaskannya kedua tangan Albern yang mencekal lengannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu naik ke balkon dengan memanjat?" Albern yang masih terkejut bertanya dengan agak cemas.


"Iya, memanjat, soalnya aku tidak punya sayap buat terbang." Jawab Lily santai, namun agak terdengar sarkas.


Raut wajah Albern terlihat semakin terkejut mendengar jawaban Lily.


"Astaga, Lily. Kenapa kamu melakukan hal berbahaya seperti ini? Kamu itu seorang gadis, bagaimana bisa kamu keluyuran malam-malam dan menyelinap masuk ke rumah orang? Kamu kan bisa datang baik-baik lewat pintu utama."


Lily terlihat kesal mendengar ocehan Albern.


"Datang baik-baik itu kalau pergi dari rumah baik- baik. Aku kesini kabur dari kamar tanpa sepengetahuan Mama Papaku. Itu semua karena aku hampir gila dibuat Kak Al."


"Karena aku?" Albern terlihat tak mengerti.


Lily mendengus kesal. Dia baru menyadari jika lelaki ini ternyata menyebalkan juga.


"Kak Al akan pergi ke New York selama seminggu tapi tidak memberitahu ku. Katanya tadi mau menghubungi ku balik, tapi masih tidak menghubungi juga. Kak Al benar-benar jahat!" Lily berujar dengan agak histeris karena kesal.


"Sssttt..." Buru-buru Albern membekap mulut Lily yang berisik.


"Jangan bicara keras-keras, kalau ada yang dengar suaramu, kamu bisa ketahuan." Ujar Albern dengan nada rendah sambil sedikit merapatkan tubuhnya kearah Lily. Lily yang sudah terpojok di dinding menjadi semakin terpojok.


'Eh, apa-apaan ini?'


Mata Lily membeliak dan mencoba memahami posisinya sekarang. Tadinya dia berniat mendatangi Albern untuk protes dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan, tapi kenapa sekarang dia malah menjadi tak berdaya seperti ini?


Segera Lily mendorong tubuh Albern hingga lelaki itu mundur beberapa langkah


'Aduh, kenapa isi kepalaku jadi buyar?' Lily menggerutu dalam hati.


"Maaf, aku tidak sempat menghubungimu. Ada beberapa hal yang harus diurus, jadi aku sibuk dan lupa menelponmu." Ujar Albern mencairkan suasana.


Lily terdiam sejenak. Untuk sesaat dia terhanyut oleh kata-kata Albern dan hampir melupakan tujuan awalnya datang menemui lelaki itu. Tapi sejurus kemudian, dia teringat pada prihal yang paling membuatnya kesal sekaligus cemburu, Briana.

__ADS_1


"Kenapa Kak Al tidak memberitahu ku jika Kakak akan pergi ke New York? Apa karena Kakak akan pergi bersama Briana?" Tanya Lily lagi dengan agak ketus.


"Briana?" Albern mengulang nama itu dengan agak menautkan kedua alisnya.


"Darimana kamu tahu tentang Briana? Apa Zi yang memberitahumu?" Albern balik bertanya.


"Tidak penting aku tahu dari mana. Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tanya kenapa Kak Al tidak memberitahu ku jika Kak Al akan pergi?"


Albern terlihat menghela nafasnya sejenak.


"Kenapa kamu marah seperti ini? Bukankah kamu juga tahu jika aku sudah biasa melakukan perjalanan bisnis. Kalau aku pergi liburan tidak memberitahu mu, itu baru salah." Jawab lelaki itu kemudian.


"Kalau pergi liburan Kak bukan hanya harus memberitahu ku, tapi juga harus mengajakku. Tapi itu nanti kalau kita sudah punya ikatan resmi. Sebenarnya hubungan kita ini berarti tidak, sih, buat Kak Al? Kenapa aku merasa jika Kakak tidak terlalu menganggap keberadaan ku." Lily mulai terdengar melow. Dilihat dari penampilannya saat ini, mungkin dia adalah satu-satunya ninja yang punya jiwa melankolis.


Sekali lagi Albern menautkan kedua alisnya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Albern tak mengerti.


"Karena Kak Al bersikap seolah aku tidak istimewa di hati Kakak. Aku tidak bisa tidur karena memikirkan Kakak akan pergi bersama Briana, tapi Kakak sama sekali tidak menganggap jika hal itu sebuah masalah." Lily membuang wajahnya kearah lain dan berusaha mendorong tubuh Albern menjauh dari tubuhnya.


"Apa menurut Kak Al Briana cantik?" Tanya Lily kemudian.


Albern kembali dibuat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu.


"Entahlah, mungkin." Jawab Albern asal.


"Mungkin? Apa maksudnya itu?" Lily terlihat tidak puas dengan jawaban Albern.


"Mana aku tahu dia cantik atau tidak, aku tidak terlalu memperhatikan wajah ataupun penampilannya."


"Bohong! Mana mungkin tidak memperhatikan wajah dan penampilannya jika sudah berbicara saling berhadapan. Katakan dengan jujur, apa dia cantik?" Ulang Lily lagi.


Albern menghela nafasnya sejenak.


"Ya, menurut para bawahanku, dia cantik."

__ADS_1


"Aku tidak minta pendapat bawahan Kak Al, aku tanya menurut Kak Al dia cantik atau tidak?" Lily masih belum puas dengan jawaban Albern.


"Baiklah, dia cantik. Menurutku Briana itu cantik. Apa sudah bisa kita akhiri pembahasan tentang Briana?" Albern akhir menjawab dengan jawaban yang menurutnya ingin Lily dengar. Dia tidak tahu kalau Lily berharap jawaban yang keluar dari mulutnya adalah Briana itu jelek. Tentu saja Albern tidak akan mengatakan itu, karena dia memang tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang orang lain.


Lily terkesiap dengan wajah yang berubah ekspresi.


"Kak Al jahat!" Gadis itu kemudian histeris sambil memukuli Albern sebisa mungkin.


"Aw! Lily, apa-apaan ini?" Albern menghalau pukulan Lily yang cukup kuat dengan kedua tangannya.


"Kak Al jahat! Bisa-bisanya Kak Al mengatakan perempuan lain cantik. Dasar tidak berperasaan. Sebenarnya Kak Al benar-benar cinta padaku atau tidak, sih? Yang mau Kak Al nikahi itu aku atau Briana?" Lily masih berusaha untuk memukul Albern.


Astaga ....


Albern jadi semakin bingung dibuatnya. Apa sebenarnya yang diinginkan gadis dihadapannya ini. Tadi dia sendiri yang memaksanya untuk mengakui jika Briana itu cantik. Lalu setelah Albern mengatakan sesuai dengan keinginannya, kenapa dia justru menjadi marah?


"Briana cantik, tapi tentu saja bagiku kamu yang lebih cantik." Albern berusaha membujuk Lily.


"Bohong! Kak Al bohong bilang aku cantik. Pasti menurut Kak Al Briana yang lebih cantik. Begitu, kan? Dasar jahat!" Lily terlihat sangat sedih hingga Albern tak tega melihatnya. Entah kenapa, apapun yang Lily lakukan, Albern tidak bisa marah ataupun kesal pada gadis ini.


"Aku tidak pernah berpikir ada yang lebih cantik daripada Lily. Dia gadis paling cantik yang pernah aku kenal. Dari dulu sampai sekarang, hanya dia yang bisa membuatku jatuh cinta." Albern berujar lembut, berusaha menenangkan gadis labil dihadapannya ini.


Ya ampun. Baru kali ini Albern mengucapkan kata-kata rayuan terhadap seorang gadis. Sebenarnya dia tidak terlalu nyaman menjadi seorang perayu seperti ini. Tapi demi untuk menyenangkan anak kucing manisnya yang saat ini sedang marah, Albern rela melakukan apa saja, apalagi jika hanya sekedar merayu.


Lily menghentikan pukulannya, lalu melihat kearah Albern dengan wajah yang masih terlihat masam.


"Jangan marah lagi, oke?" Albern membujuk sembari maju mendekat, tapi langsung Lily tahan dengan isyarat tangan.


"Aku masih marah. Aku tidak suka Kak Al menyebut nama Briana dan mengatakan dia cantik. Pokoknya aku tidak suka Kak Al berbicara tentang dia!" Lily masih merajuk.


Albern membeku. Bukankah Lily sendiri yang datang dan tiba-tiba bertanya tentang Briana sehingga mau tak mau Albern menyebut rekan bisnisnya itu. Lalu bagaimana ini juga menjadi salahnya?


Dinding pun seakan berbicara, 'Welcome to the jungle, Albern!' Ah, tidak. Mungkin yang lebih tepat adalah 'Welcome to the Lily's world!'


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2