
Zivanna pun akhirnya bergegas pulang setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari sang mama. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Kenapa Darrel malah mengajak kedua orang tuanya untuk datang ke rumah? Mau melamar pula katanya. Apakah lelaki itu sudah gila? Jika memang pada akhirnya setuju untuk menikah, lalu kenapa kemarin malam dia bilang belum siap?
Bukannya merasa senang, Zivanna malah kesal bukan main. Darrel seperti sedang mempermainkan perasaannya. Padahal selama hampir delapan tahun ini, momen kedatangan lelaki itu menemui kedua orang tuanya adalah hal yang sangat Zivanna tunggu. Tapi saat ini Zivanna benar-benar merasa tak senang. Kenapa mesti bilang tidak siap dan menghancurkan perasaannya kalau pada akhirnya tetap datang melamar.
Dengan dada yang bergemuruh, Zivanna terus mengemudikan kendaraannya menuju arah pulang. Sampai kemudian, dia pun akhirnya tiba di pekarangan rumahnya. Segera Zivanna turun dari mobilnya dan menutup pintu kendaraannya tersebut dengan agak kasar saking terburu-burunya. Dia lalu masuk ke dalam rumah dengan masih perasaan yang tak menentu.
Zivanna mendapati Darrel beserta kedua orang tuanya di dalam. Bukan di ruang tamu, melainkan di ruang keluarga. Orang tuanya dan orang tua Darrel tampak berbincang dengan sangat akrab sampai tak menyadari kedatangannya.
"Zi." Sosok yang saat ini paling membuat Zivanna kesal yang justru menyapanya. Zivanna mau membuang muka, tapi tiba-tiba dia melihat sebuah fenomena yang jarang sekali terlihat, apalagi kalau senyuman di bibir Darrel.
Astaga, Zivanna sampai terbengong sesaat. Dia tidak sedang salah lihat, kan? Apa mungkin sekarang matahari sudah terbit dari barat?
"Lho, Zi. Kamu sudah sampai? Ayo, sini. Kenapa malah bengong di situ?" Suara Zaya membuyarkan lamunan Zivanna.
Mau tak mau, Zivanna pun harus memasang wajah ramah ke arah kedua orang tua Darrel yang juga ikut menoleh ke arahnya, lalu melangkah mendekat. Gadis itu kemudian duduk di samping Zaya.
Pembicaraan serius pun lalu dimulai sesaat setelah kehadiran Zivanna. Benar yang dikatakan oleh mamanya di telepon tadi, Darrel serta orang tuanya memang datang untuk membicarakan masalah pernikahan. Seketika Zivanna mengangkat pandangannya dan menatap ke arah Darrel tajam. Untuk ke sekian kalinya di hari yang sama, dia merasa kesal dengan lelaki di hadapannya ini.
"Maaf menyela. Tapi apa boleh saya bicara dengan Darrel dulu sebentar?" tanya Zivanna kemudian dengan sopan.
Tentu saja orang tua Zivanna dan kedua orang tua Darrel saling pandang. Mereka agak heran kenapa Zivanna masih harus berbicara dulu dengan Darrel. Meski begitu, mereka pun tetap memberikan izin untuk Zivanna berbicara dengan Darrel berdua saja.
Zivanna bangkit dan berlalu menuju taman yang ada di samping rumahnya, diikuti oleh Darrel dari belakang. Sesampainya di sana, dia berbalik dan menatap lelaki itu dengan tatapan marah.
"Kamu ingin mempermainkan aku, hah?" tanya Zivanna nyalang.
__ADS_1
Darrel tak bereaksi. Lelaki itu memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya. Jika biasanya Zivanna tak masalah dengan raut datar itu, kali ini dia terihat jengah.
"Kemarin malam kamu bilang belum siap melamarku dan bilang kalau pernikahan itu bukan hal yang main-main. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu pikir dengan membawa kedua orang tuamu, sekarang aku setuju menikah denganmu? Tidak, Darrel. Perasaanku susah terlanjur kamu hancurkan. Kembali ke dalam dan katakan pada orang tua kita kalau tidak akan ada pernikahan di antara kita. Katakan juga kalau hubungan kita sudah berakhir," ujar Zivanna dengan sangat emosional.
"Kamu yang mau seperti itu, aku tidak," sahut Darrel akhirnya.
"Apa?" Zivanna mengerutkan keningnya.
"Apa hubungan kita berjalan sesuai dengan moodmu saja? Menjalin hubungan saat kamu sedang ingin, lalu berakhir saat kamu ingin mengakhirinya?" tanya Darrel dengan lagi-lagi memperlihatkan ekspresi datarnya.
Terang saja Zivanna semakin kesal mendengar apa yang Darrel katakan.
"Jangan berbicara seolah aku yang jahat di sini," sahut Zivanna cepat.
"Oke, aku memang salah. Aku yang sudah memaksamu menjalin hubungan denganku. Tapi kamu juga jahat padaku, Darrel. Kamu sudah membuatku terbuai dalam harapan palsu. Bukan sebentar, tapi hampir delapan tahun .... " Zivanna kembali menambahkan dengan nada yang lebih rendah.
Darrel menghela nafasnya, lalu menatap Zivanna dengan tatapan yang lagi-lagi sulit untuk ditebak.
"Sudah selesai?" tanya Darrel kemudian.
"Apa?"
"Apa kamu sudah selesai membuat keluhannya? Sekarang dengarkan aku. Aku mau menjelaskan padamu, kenapa selama ini aku belum berani membicarakan masalah pernikahan dan mengatakan belum siap saat kamu memintaku melamarmu kemarin malam," sahut Darrel.
Zivanna semakin menautkan kedua alisnya tak mengerti. Terlebih saat Darrel mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan saldo yang ada di rekeningnya.
__ADS_1
"A-apa ini?" tanya Zivanna. Nominal yang ada di rekening itu cukup besar, meski tentu tak jauh lebih banyak ketimbang uang yang dimiliki oleh orang tuanya.
"Aku sedang mengumpulkan mahar yang akan aku berikan padamu," sahut Darrel.
"Apa?" Lagi-lagi Zivanna menatap Darrel dengan penuh tanda tanya.
"Jauh sebelum kamu memintaku untuk melamarmu, aku sudah membicarakan hal ini dengan papamu." tambah Darrel lagi.
Zivanna hanya termangu tanpa bisa mengatakan apapun.
"Lima tahun yang lalu, aku menemui papamu dan mengatakan pada beliau kalau aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu. Beliau tidak menolakku meskipun tentu beliau tahu kalau kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari segalanya daripada aku. Tapi, beliau mengingatkan dengan tegas agar aku tidak membuatmu hidup dalam kesusahan. Aku harus punya kemampuan dulu jika mau melamarmu. Untuk itulah, Zi, beberapa tahun ini aku bekerja keras .... " Darrel menjeda kata-katanya dengan menghela nafas panjang.
"Aku mengatakan belum siap melamarmu karena tabunganku baru akan cukup sekitar tiga bulan lagi. Rumah yang sedang aku persiapkan juga mungkin baru benar-benar rampung saat proyek yang sedang aku kerjakan sekarang selesai," sambung Darrel
"Rumah?" Zivanna sedikit membeliakkan matanya.
Darrel mengangguk. Lalu kembali menperlihatkan sesuatu kepada Zivanna melalui layar ponselnya. Gambar serta beberapa video para pekerja yang sedang mengerjakan konstruksi bangunan.
"Pembangunannya baru tujuh puluh persen. Masih butuh banyak dana untuk bisa sampai tahap finishing. Tapi jika semuanya lancar, akan bisa selesai tahun ini," sahut Darrel.
Zivanna terlihat menatap Darrel dengan ekspresi yang sulit dijabarkan.
"Kedua orang tuamu sudah memberikan kesempatan padaku untuk membuktikan jika aku layak bersanding denganmu. Meski mereka tidak menuntut apapun kecuali tanggung jawabku, tapi setidaknya aku harus menyiapkan mahar yang sesuai dan tempat tinggal yang layak untuk putri mereka yang berharga. Dan aku harus menyiapkan itu dari hasil kerja kerasku sendiri agar punya sedikit keberanian menegakkan wajah di hadapan mereka." Darrel kembali menjelaskan dengan nada yang jauh lebih rendah.
"Semuanya hampir rampung, tapi kemudian kamu tiba-tiba minta aku datang melamarmu dan minta hubungan kita diakhiri sebelum mendengarkan penjelasanku. Aku tidak punya pilihan selain datang lebih awal untuk melamarmu meskipun persiapanku belum cukup. Aku hampir gila saat mendengar kamu bilang akan membuka diri pada lelaki yang menyukaimu."
__ADS_1
Zivanna kembali mengangkat wajahnya dan sekali lagi menatap Darrel. Kali ini dia melihat ekspresi di wajah lelaki itu, ekspresi dari orang yang nyaris putus asa.
Bersambung ....