Albern & Lily

Albern & Lily
Balada Cinta Sang Nona Muda


__ADS_3

Pernikahan Albern dan Lily menjadi sebuah berita besar yang cukup menggemparkan. Dua pemimpin perusahaan yang sedang bekerjasama itu tiba-tiba saja menikah, padahal sebelumnya tak terdengar kabar jika keduanya akan memperkuat kerjasama tersebut dengan sebuah penikahan bisnis. Lagipula, keluarga Brylee terkenal menentang keras hubungan pernikahan yang dilakukan atas dasar aliansi bisnis.


Namun, kemudian terkuak fakta jika rekan bisnis yang dinikahi pewaris Brylee Group tersebut ternyata adalah kekasih lamanya yang dulu pernah diperkenalkan pada khalayak ramai, namun mendapatkan hujatan dari banyak pihak. Gadis tersebut menghilang sekian lama dan kini muncul lagi setelah berhasil menjadi pemimpin sebuah perusahaan fasmasi yang kini sedang naik daun dan menjadi incaran investor.


Akhirnya, hujatan yang dulu didapatkan Lily pun berbalik menjadi pujian. Orang-orang yang sebelumnya mencaci maki Lily tanpa ampun, kini menganggapnya sebagai perempuan hebat karena mampu membuktikan jika dirinya adalah sosok yang pantas untuk menjadi pendamping seorang Albern Brylee. Imbas dari pernikahan tersebut juga membuat harga saham naik dratis. Reaksi orang-orang jauh lebih bagus daripada yang dibayangkan.


Tiga hari setelah pernikahan, Albern dan Lily kembali sibuk dengan proyek yang sedang mereka kerjakan. Tak ada bulan madu karena mereka tidak bisa mengambil cuti lebih dari itu. Tapi yang melegakan, kondisi Nyonya Ginna cenderung stabil. Dia juga sudah setuju dirawat di rumah sakit karena bertekad untuk bisa hidup lebih lama lagi. Atas saran yang Dokter Evan berikan, nyonya besar tersebut akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit yang ada di Singapura, tepatnya di rumah sakit milik Dokter Evan itu sendiri.


Semua berjalan lancar. Keluarga Brylee pun kini perlahan mulai bergairah kembali. Aaron dan Zaya sudah bisa bernafas lega karena putra mereka akhirnya menikah juga dengan gadis impiannya. Semuanya sedang merasa bahagia, tapi rupanya hal itu tidak berlaku untuk Zivanna. Dia memang ikut merasa senang dengan pernikahan Albern dan Lily. Tapi di sisi lain, gadis itu sedang meratapi nasibnya sendiri.


Hubungan Zivanna dengan Darrel yang berjalan hampir delapan tahun tak ada kemajuan yang berarti. Darrel tetap bersikap datar pada Zivanna. Meski di awal hubungan dulu komitmen mereka adalah pernikahan, tapi sekarang pemuda itu tak pernah membicarakan rencana masa depan dengan Zivanna, yang artinya tak pernah ada ucapan yang berkaitan dengan rencana pernikahan keluar dari mulut Darrel. Entah mau dibawa kemana hubungan mereka berdua yang dijalin selama hampir delapan tahun ini, Zivanna tidak tahu. Itulah yang membuatnya agak bersedih di saat orang lain sedang sangat bahagia dengan pernikahan kakaknya.


Bahkan, sampai ada rumor buruk yang tersebar di perusahaan berkaitan dengan hubungan Zivanna dan Darrel. Darrel yang saat ini membantu papanya mengurus salah satu anak perusahaan Brylee Group digosipkan menjalin hubungan dengan Zivanna karena ancaman. Katanya, Darrel terpaksa menjalin hubungan dengan Zivanna demi posisinya di perusahaan, padahal sebenarnya dia tidak menyukai gadis itu.


Rumor tersebut sudah lama terdengar sampai ke telinga Zivanna, namun tak pernah Zivanna hiraukan. Selama ini, Zivanna hanya menganggapnya angin lalu dan tak terpanguh sedikit pun. Tapi belakangan, dia jadi lebih perasa dan mulai memikirkannya secara mendalam. Dia pun mulai berpikir jika Darrel sebenarnya memang tak memiliki perasaan terhadapnya dan terpaksa menjalani hubungan mereka selama ini agar tak mendapatkan masalah dengan keluarga Brylee.


Malam itu, Zivanna dan Darrel makan malam berdua setelah hari-hari sebelumnya Darrel selalu tak bisa bertemu dengan Zivanna dengan alasan sibuk. Mereka makan di sebuah restoran yang sering mereka kunjungi. Suasana hening selama mereka berdua makan. Darrel tampak menyantap makanannya dengan begitu khidmat, sedangkan Zivanna terus memperhatikan Darrrel dengan tatapan yang agak sendu.


Senyum Zivanna selalu tersungging tipis setiap kali menatap Darrel meski kini hatinya terasa sangat tak menentu. Lelaki berkaca mata itu sekarang terlihat jauh lebih dewasa dan juga semakin menawan. Pantas saja jika banyak bawahannya yang diam-diam menaruh hati. Mereka semua jelas membenci Zivanna yang katanya menjalin hubungan dengan Darrel dengan menggunakan identitasnya sebagai nona muda keluarga Brylee.


"Kenapa tidak dimakan?" Suara Darrel tiba-tiba membuyarkan lamunan Zivanna.


Zivanna mendongak dengan agak terkejut. Darrel ternyata sudah selesai makan, sedangkan makanan miliknya belum disentuh sedikit pun.


"Aku sudah kenyang," ujar Zivanna kemudian sambil mendorong piringnya menjauh. Dia lalu meraih segelas air dan menenggaknya hingga habis.

__ADS_1


Tentu saja Darrel sedikit mengerutkan keningnya. Zivanna bahkan belum memasukkan makanan ke dalam mulutnya satu suap pun, bagaimana dia bisa merasa kenyang?


"Kenapa? Kamu sedang ada masalah?" tanya Darrel masih dengan nada datarnya.


"Kalau aku memang ada masalah, memangnya kamu mau membantuku?" Zivanna malah balik bertanya.


Sekali lagi Darrel menatap ke arah Zivanna dengan penuh tanda tanya.


"Tentu saja aku akan membantu semampuku. Memangnya kamu ada masalah apa?" tanya Darrel lagi setelah terdiam selama beberapa saat.


"Orang tuaku akan menjodohkanku kalau aku tidak juga menikah," ujar Zivanna sambil menatap Darrel sekali lagi. Dia ingin melihat reaksi lelaki itu saat mendengar dirinya akan dijodohkan dengan orang lain.


"Kamu akan dijodohkan?" ulang Darrel masih sambil menautkan kedua alisnya. Lelaki itu terlihat begitu tenang untuk ukuran seorang lelaki yang mendengar gadisnya akan dijodohkan dengan orang lain. Hal itu tentu membuat dada Zivanna terasa agak sesak dibuatnya.


Darrel yang baru saja menyeruput minumannya tampak tersedak sampai terbatuk-batuk. Tentu saja Zivanna langsung bangkit membantu menepuk-nepuk punggung lelaki itu dengan ekspresi terkejut bercampur cemas.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zivanna saat batuk Darrel akhirnya reda.


Darrel mengangguk sambil meminum air putih untuk melegakan dadanya yang agak sakit karena tersedak tadi, sedangkan Zivanna kembali duduk di tempatnya.


Kedua orang tersebut kemudian sama-sama terdiam, tampak tenggelam dalam pikiran masing-masing. Zivanna sendiri terlihat agak menundukkan pandangannya dengan ekspresi yang semakin sendu.


"Apa menikah denganku benar-benar terdengar mengejutkan di telingamu?" tanya Zivanna kemudian dengan suara yang terdengar agak lirih.


Darrel mengangkat wajahnya tanpa bisa mengatakan apapun. Lelaki itu terlihat bingung dan tak tahu mesti merespon pertanyaan Zivanna seperti apa.

__ADS_1


"Jika kamu tidak bersedia menikah denganku, tidak apa-apa, Darrel." Zivanna akhirnya mengangkat wajahnya juga sembari tersenyum tipis.


"Bukan begitu, Zi. Aku rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk kita membicarakan hal itu. Aku belum siap," jawab Darrel akhirnya.


"Belum siap? Memangnya perlu waktu berapa lama lagi supaya kamu siap? Kita sudah menjalin hubungan lebih dari tujuh tahun, Darrel," sahut Zivanna.


"Pernikahan bukan sesuatu yang main-main, Zi." Darrel tak mau kalah.


"Apa aku terlihat main-main? Umurku tahun ini sudah tiga puluh tahun, Darrel. Aku tidak mau membuat orang tuaku khawatir seperti yang dilakukan oleh Kak Al." Zivanna membalas dengan lebih serius.


Darrel tampak menghela nafasnya sejenak.


"Tapi aku sungguh belum siap, Zi. Kumohon, mengertilah ...." Darrel bergumam dengan agak tertahan.


Zivanna kembali menatap Darrel dengan tatapan yang semakin sendu.


"Aku mengerti," sahut Zivanna dengan suara yang berubah menjadi agak serak.


"Mereka benar. Selama ini kamu bertahan menjalin hubungan denganku karena terpaksa, bukan karena kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku." Mata Zivanna tampak berkaca-kaca.


Terang saja Darrel terkejut dengan apa yang Zivanna katakan.


"Mulai sekarang, aku tidak akan lagi mengikatmu dengan ikatan yang tidak kamu inginkan ini, Darrel. Kamu bebas. Tidak ada yang akan menghalangi lagi jika kamu mau menjalin hubungan dengan gadis yang kamu sukai. Maaf kalau aku telah banyak membuang waktumu." Zivanna berusaha mengulas senyuman meski wajahnya terlihat amat sangat sedih.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2