
"Kak Al, sungguh, aku tidak seperti itu. Aku tidak seperti yang dikatakan orang-orang itu," airmata Lily kembali menggenang di sudut matanya dan menetes tak tertahankan.
"Aku tidak pernah berharap mendapatkan kemewahan dari menjalin hubungan dengan Kakak. Aku bahkan tidak berkeberatan jika harus menandatangani surat perjanjian untuk tidak menggunakan harta kekayaan keluarga Brylee jika suatu saat kita menikah nanti," ujar Lily lagi.
Albern menghela nafasnya, lalu mengusap pelan pucuk kepala Lily sekilas. Tentu saja Albern tahu jika Lily tak seperti yang dituliskan di pemberitaan online. Tak sedikitpun Albern meragukannya dan Lily juga tidak harus menjelaskan semua itu pada Albern. Hanya saja, Albern sangat memahami jika saat ini Lily pasti sangat sedih dan tertekan setelah membaca semua pemberitaan buruk tentangnya.
"Iya, tentu saja aku percaya. Tanpa kamu bilang pun, aku tahu kalau kamu mencintaiku dengan tulus. Tidak perlu memikirkan apa yang sudah kamu baca tadi. Tidak lama lagi semua artikel itu akan hilang dari pemberitaan," ujar Albern menenangkan.
Lily tak menyahut. Dia justru terisak.
"Maaf, Asisten Dhani terlambat memberitahukanku tentang pemberitaan itu, jadi kamu sampai membacanya sebelum semua artikel itu sempat dibereskan. Salahku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku janji, kedepannya tidak akan ada yang seperti itu lagi. Aku tidak akan membiarkan lagi orang-orang berbicara buruk tentangmu," ujar Albern.
"Kak Al ..." Lily mendongak memandang ke arah Albern.
"Jika nanti ada rumor tentangku yang lebih buruk daripada ini, bahkan jika itu terlihat sangat meyakinkan sekalipun, apakah Kak Al akan tetap percaya padaku?" tanya Lily.
"Apakah aku harus menjawabnya? Bukankah kamu sudah tahu jawabannya seperti apa?"
"Bisa saja nanti Kak Al tidak percaya padaku lagi ..." gumam Lily lirih.
"Lily," Albern menghela sejenak dan menoleh ke arah Lily.
"Aku sudah mengenalmu bahkan sejak kamu baru lahir. Aku menyaksikan kamu tumbuh, sejak kamu kecil hingga kamu menjadi dewasa. Tentu saja aku sangat tahu bagaimana sifat dan karaktermu. Tidak usah takut aku akan terpengaruh oleh pendapat orang lain yang salah mendeskripsikan dirimu. Aku lebih tahu seperti apa kamu daripada mereka semua. Aku bahkan tahu apa saja yang kamu lakukan saat dulu kamu masih menggunakan popok," ujar Albern bersungguh-sungguh, namun diakhiri dengan candaan di akhir kalimatnya.
"Kak Al!" Lily melengos dengan wajah yang bersemu merah.
Albern tertawa renyah. Tampaknya candaannya barusan berhasil membuat kesedihan Lily sedikit teralihkan.
__ADS_1
"Jika ada lelaki yang paling tahu seperti apa dirimu, itu adalah aku. Bahkan Papamu saja banyak tidak tahu hal nakal apa yang sudah kamu lakukan," ujar Albern lagi sambil menjentik pelan kening Lily.
"Kak Al bicara apa, sih? Siapa yang Kakak bilang nakal itu?" kilah Lily sambil memegangi keningnya.
Albern tersenyum.
"Tentu saja kamu, memangnya siapa lagi. Selain suka mengajak Zi untuk mencuri mangga, kamu juga punya hal-hal nakal lain yang tidak diketahui oleh Mama dan Papamu. Apa mau aku sebutkan satu persatu?"
"Kak Al, cukup!" Lily sontak membeliak.
Albern kembali terkekeh.
"Aku tahu semuanya, Lily. Aku tahu apa saja yang suka kamu lakukan sejak dulu. Kamu adalah gadis yang nakal dan keras kepala. Tapi aku juga tahu, kamu memiliki hati yang baik dan juga tulus," ujar Albern.
"Jika aku melepasmu, mungkin seumur hidupku aku tak akan bisa menemukan seseorang yang mau menerimaku apa adanya seperti kamu,"
"Jangan pernah merasa sedih lagi karena hal seperti ini, oke?" pinta Albern.
Lily mengangguk.
"Sekarang sudah tidak sedih lagi?" tanya Albern.
Sekali lagi Lily mengangguk. Ia juga kembali tersenyum untuk meyakinkan Albern jika dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu, aku harus segera mengantarmu pulang. Papamu akan semakin marah kalau sampai lewat dari batas yang sudah ditentukannya tadi," ujar Albern sambil kembali memegang kemudi.
Albern kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikan kendaraannya itu menuju kediaman keluarga Dokter Evan. Sepanjang perjalanan, mereka sama-sama tak bersuara. Tapi salah satu tangan Albern terus menggenggam jemari Lily, seakan ingin menyalurkan kekuatan dan meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa mungkin kemarahan Papa tadi ada kaitannya dengan artikel yang kubaca di berita online?" tanya Lily tiba-tiba.
Albern menoleh sejenak.
"Sepertinya memang begitu. Papamu mungkin sudah membaca artikel itu sejak berada di Singapura, jadi buru-buru kembali," jawabnya.
Lily tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mendesah. Dia akhirnya mengerti kenapa Papanya tadi terlihat sangat bersahabat. Artikel yang dibacanya tadi pasti telah membuat hati sang papa hancur. Dia hanya berharap, masih ada celah untuknya agar bisa memperjuangkan hubungannya dengan Albern. Tampaknya dia harus melakukan usaha lebih untuk mendapatkan restu.
Tak terasa, mobil Albern telah memasuki pelataran rumah keluarga Dokter Evan. Albern segera memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Kemudian ia membuka pintu mobil untuk Lily.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh mamanya Lily.
"Terima kasih sudah mengantarkan Lily pulang, Albern," ujar Carissa berbasa-basi. Perempuan paruh baya itu tersenyum dan mempersilahkan Albern untuk duduk.
"Kak Al, aku masuk ke dalam dulu, ya," pamit Lily.
Albern mengangguk mengiyakan. Lily pun berlalu menuju kamarnya. Sedangkan Albern duduk di ruang tamu bersama Carissa. Tampaknya ada yang ingin dia sampaikan.
"Tante, saya sungguh minta maaf untuk semua yang terjadi. Saya berjanji semua itu tidak akan terulang lagi. Saya tidak akan pernah membiarkan orang-orang berkata buruk lagi tentang Lily," ujar Albern dengan nada menyesal.
Carissa terdiam sejenak. Meski Albern tak menjelaskan secara gamblang, dia tahu kemana arah perkataan Albern saat ini. Carissa berpikir, pasti Albern sudah mengetahui prihal pemberitaan di media online itu.
"Albern, sebelum dirimu, kami sebagai orang tua Lily adalah orang pertama yang akan melindunginya. Kami tidak akan membiarkan Lily tersakiti meski hanya seujung kuku," Carissa menghela nafasnya sejenak.
"Sebenarnya Papa Lily tidak mengizinkan Tante untuk memberitahukan ini padamu, tapi Tante pikir kamu harus tahu. Kami tidak ingin pemberitaan tentang Lily semakin buruk, jadi kami sudah sepakat untuk menjauhkan dari segala pemberitaan. Lily akan melanjutkan pendidikannya Lily ke luar negeri,"
Bersambung ....
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️ ❤️