
Lily sedikit menggoyang-goyangkan kakinya sembari melihat kearah lurus ke depan, tempat dimana seorang dosen sekarang sedang memberikan materi kuliah. Sesekali Lily mencatat poin-poin penting dari pembahasan tersebut di sebuah buku, lalu memperhatikan lagi kearah dosen yang menjelaskan.
Dengan sangat tidak sabar, Lily memeriksa penunjuk waktu di ponselnya. Entah kenapa, rasanya detik demi detik merangkak dengan lambat, hingga membuat Lily sedikit kesal karenanya.
"Kamu." Tiba-tiba suara dosen tadi mengejutkan Lily. Sebenarnya bukan suaranya yang membuat terkejut, tapi ujung telunjuknya yang saat ini mengarah pada wajah Lily.
"Saya, Pak?" Tanya Lily.
'Ya, kamu. Coba jelaskan pendapatmu tentang uraian saya tadi." Pinta Dosen itu.
"Eh?" Tiba-tiba otak Lily terasa kosong. Segera ia melihat kearah buku catatannya. Tapi ternyata tulisannya sama sekali tidak membantunya untuk memberikan pendapat terhadap materi yang dijelaskan dosennya tadi.
Sekian detik berlalu, tapi Lily belum juga mengeluarkan suaranya. Padahal biasanya dialah mahasiswi yang paling aktif berinteraksi dengan dosen saat berada di dalam kelas. Ia selalu punya jawaban luar biasa saat diajukan sebuah pertanyaan, serta akan sangat kritis bertanya jika dinilainya ada yang kurang jelas.
Kali ini Lily terlihat pasif dan asyik dengan pikirannya sendiri.
"Sepertinya hanya badanmu saja yang ada disini, tapi jiwamu tertinggal di sebuah tempat." Dosen lelaki itu akhirnya kembali mengeluarkan suaranya dan sedikit berseloroh.
Seluruh isi kelas tertawa hingga membuat mata Lily sedikit membeliak.
Ish! Lily menggerutu dalam hati.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia jadi bahan tertawaan seisi kelas. Hancur sudah reputasinya sebagai salah satu dari Three Musketeers yang legendaris itu.
Setelah suasana reda, kelas pun dilanjutkan. Lily sudah tidak bersemangat lagi dan hanyalah mencoret-coret asal buku catatannya tadi. Untung saja ini adalah kelas terakhir yang harus dihadirinya hari ini. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk pulang dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Semua ini gara-gara dia!
Lily mendesah sambil merutuki apa yang terjadi tadi dalam hati. Konsentrasi belajarnya menjadi buyar karena sebenarnya beberapa saat tadi dia mendapat kabar dari Albern. Lelaki itu mengatakan jika ia tidak jadi pulang hari ini. Ada beberapa hal yang harus diurusnya hingga membuatnya mesti menunda kepulangannya ke tanah air.
Lily yang sudah terlanjur bersemangat menjadi kesal sendiri dibuatnya, hingga materi kuliah pun tak masuk ke dalam otaknya.
Setelah beberapa saat yang membosankan dan melelahkan itu, kelasnya kali ini selesai juga. Lily segera membereskan buku-bukunya, lalu melenggang pergi sesaat setelah dosen tadi mengakhiri jam pelajaran.
"Lily." Terdengar suara Zivanna memanggil saat Lily melintasi pelataran kampus.
Lily menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara. Terlihat Zivanna dan Darrel berjalan mendekat. Tampaknya dua orang itu sudah tidak bersikap canggung lagi seperti tempo hari, dan kembali lengket seperti semula.
"Kamu mau kemana?" Tanya Zivanna.
__ADS_1
"Pulang."
Zivanna menautkan kedua alisnya.
"Kamu sudah tidak ada kelas lagi? Bukannya kamu bilang mau menemaniku ke toko buku?" Tanya Zivanna lagi.
Lily menghela nafasnya sejenak. Dia ingat sudah membuat janji dengan Zivanna, tapi hari ini moodnya benar-benar hancur. Ia tidak ingin pergi kemana-mana. Yang ingin dilakukannya adalah pulang dan berbaring di tempat tidur.
"Kak Zi, maaf. Lain kali saja kita pergi ke toko bukunya. Aku mau langsung pulang." Jawab Lily akhirnya.
Zivanna maju beberapa langkah, semakin mendekat pada Lily. Sedang Darrel mengekor pada Nona Muda itu.
"Kamu sakit?" Zivanna terlihat khawatir.
"Tidak. Tapi aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Aku mau tidur."
What? Lily yang lincah dan terkenal dengan energinya yang tak terbatas mau tidur saat matahari masih tinggi begini? Apakah hari ini matahari terbit dari barat?
"Hei, kamu kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini? Kalau ada masalah cerita, dong!" Zivanna tampak semakin khawatir.
"Tidak ada masalah. Aku cuma mau tidur." Jawab Lily.
Lily tak menghiraukan suara Zivanna yang masih terus memanggilnya. Tapi kemudian langkahnya terhenti tatkala sebuah mobil tiba-tiba datang menghalangi jalannya.
Merasa terkejut dengan kehadiran mobil itu yang mendadak, emosi Lily pun tersulut. Sudah sedari tadi dia ingin memaki, dan tampaknya pengendara mobil ini akan jadi pelampiasan kemarahannya.
"Hei, bisa tidak beradab sedikit jadi orang? Ini tempat orang lewat, jangan sembarang memarkir mobil!" Lily protes dengan setengah berteriak.
Tapi mobil itu tak bergerak menjauh dan tetap menghalangi jalan Lily.
Lily marah sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil tersebut. Zivanna dan Darrel yang melihat hal itu dari kejauhan segera mendekat.
"Permisi, Tuan ataupun Nyonya. Tempat parkir ada di sana. Bahkan anak sultan sekalipun mobilnya tidak parkir sembarangan seperti ini. Hidup di bumi ini ada peraturannya. Anda kira ini planet mars?" Lily mengoceh dengan nada tinggi meski tak bisa melihat siapa yang mengendarai mobil itu karena kacanya tidak tembus pandang.
"Ada apa Lily?" Tanya Zivanna.
Belum sempat Lily menjawab, pintu mobil di bagian kemudi akhirnya terbuka. Lily pun mengambil ancang-ancang untuk melabrak pengendara mobil yang tak beradab itu.
Tapi saat orang itu keluar dari mobil, Lily sangat terkejut dibuatnya. Dia mematung dengan mata yang melebar dan nafas yang agak tertahan.
__ADS_1
"Kak Al?" Gumamnya berbarengan dengan Zivanna.
"Kenapa, Nona? Mobil saya mengganggu?" Tanya lelaki itu dengan tersenyum tipis.
Lily masih mematung dengan ekspresi tak percaya. Matanya berputar kesana kemari seolah sedang bingung mencerna apa yang dilihatnya saat ini. Tapi kemudian senyum cerah mengembang di wajahnya.
"Aaa ... Kak Al ...!" Gadis itu langsung berlari ke arah Albern dan berhenti tepat di hadapannya.
"Kak Al bilang tidak jadi pulang." Ujar Lily sambil mendongakkan wajahnya.
"Waktu aku memberimu kabar tadi sebenarnya aku sudah turun dari pesawat." Jawab Albern.
"Wah, jahat! Kak Al mengerjaiku." Lily meninju lengan Albern dengan kesal.
Albern hanya tertawa menanggapi.
"Jadi kamu kesal karena tadi aku bilang tidak jadi pulang? Sampai mobil pun kamu marahi?" Tanya Albern.
"Tidak. Mana ada aku kesal." Lily membuang muka ke arah lain.
Albern tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku menunda kepulanganku. Bahkan jika benar-benar terjadi masalah, biar orang lain saja yang membereskannya, aku akan tetap pulang."
Lily tertegun sejenak.
"Aku merindukan Kak Al," ujar Lily sambil tersenyum dikulum.
"Aku lebih merindukanmu ...." Albern menanggapi.
Kedua sejoli itu saling tersenyum satu sama lain, membuat canggung siapapun yang melihatnya.
"Ayo, pergi, Darrel. Tiba-tiba perutku rasanya mual." Zivanna memgisyaratkan Darrel untuk menjauh dari sana. Sementara Darrel hanya menurut dengan mata yang masih melihat ke arah Albern dan Lily. Dia tampak seperti anak di bawah umur yang diberi tontonan tidak sesuai dengan umurnya.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1