
Lily menengadahkan wajahnya sejenak guna menahan air matanya agar tidak sampai jatuh, sebelum akhirnya dia menatap ke arah Albern lagi. Tak terlukiskan lagi betapa bahagianya dia saat ini. Perasaannya terasa penuh dan hampir membuncah, membuatnya ingin tersenyum sekaligus ingin meneteskan airmata secara bersamaan. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya momen di mana Albern berlutut di hadapannya sembari menyodorkan sebuah cincin pun datang. Dan Lily nyaris tak tahu harus berkata apa.
"Tentu saja aku mau," jawab Lily akhirnya sambil mengerjapkan matanya yang terasa perih karena menahan air mata.
Albern tersenyum, lalu bangkit dan menyematkan cincin yang disodorkannya tadi ke jari manis Lily.
Lily menghela napasnya. Ah, entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Rasanya tidak cukup hanya disebut sebagai perasaan bahagia. Dia dan Albern memang telah berencana menikah dalam waktu dekat, tentu saja dia juga tahu kalau Albern akan melamarnya. Hanya saja, Lily tidak tahu jika rasanya akan seindah ini.
"Terima kasih," gumam Albern sambil mengulas senyum tipis.
"Jadi sekarang Kak Al tunanganku, ya?" gumam Lily sambil memandangi jari manisnya yang tersemat sebuah cincin bertahtakan batu permata barwarna biru.
"Eh, tunggu dulu," ujar Lily tiba-tiba sambil agak menajamkan penglihatannya. Dia tampak mengamati cincin yang dikenakannya dengan lebih seksama.
"Ada apa?" tanya Albern sedikit heran.
Lily menatap ke arah Albern, lalu kembali melihat ke arah cincin di jari manisnya. "Kak Al, apa ini ... blue diamond? Oppenheimer Blue?" tanya Lily dengan wajah terkejut.
Albern terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan pertanyaan Lily.
"Ya ampun ...." Lily agak membekap mulutnya. Batu mulia berwarna biru yang menghiasi cincin di manisnya saat ini, sebelumnya dia hanya tahu permata tersebut dari buku saja, tapi sekarang justru bertahta cantik di jari manisnya. Jangan tanya harganya, karena blue diamond adalah salah satu dari beberapa jenis permata termahal di dunia.
"Kenapa?" tanya Albern saat melihat ekspresi Lily yang tampak agak melongo.
"Kak Al, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Lily.
"Apanya?"
"Cincinnya. Ini harganya mahal sekali, kan? Bisa untuk biaya membuka sebuah rumah sakit."
__ADS_1
Seketika Albern tertawa dengan renyahnya.
"Jadi kenapa kalau harganya mahal?" tanya Albern.
"Sayang sekali kalau uang sebanyak itu hanya untuk membeli sebuah cincin. Kalau diinvestasikan ke hal lain, kan lebih menguntungkan," sahut Lily.
Sekali lagi Albern tertawa. Kali ini sambil mengacak-acak kepala Lily dengan gemas.
"Itu cincin pemberian mendiang Grandpa," ujar Albern kemudian.
"Cincin pemberian mendiang Grandpa?" ulang Lily sembari agak melebarkan matanya.
"Iya. Sebelum meninggal, Grandpa memberikan cincin itu padaku. Beliau mengatakan padaku agar melamar perempuan yang akan menjadi teman hidupku dengan menggunakan cincin ini."
Lily tampak tertegun.
Lily masih memandang ke arah Albern tanpa tahu harus berkata apa. Suasana senja itu semakin terasa syahdu karena mereka jadi sama-sama terkenang pada sosok mendiang Carlson Brylee, grandpa Albern yang hangat dan selalu bersikap menyenangkan dalam setiap kesempatan.
Matahari pun akhirnya benar-benar tenggelam. Setelah lamaran di pinggir danau tadi, Albern tak langsung mengantar Lily ke apartemennya, melainkan mengajak gadis yang telah resmi menjadi tunangannya itu makan malam terlebih dahulu. Atas permintaan Lily, mereka makan di sebuah rumah. makan seafood di pinggir jalan.
Mobil mewah Albern terpakir di depan rumah sederhana itu, menarik perhatian orang-orang. Saat dia dan Lily turun dari mobil, tentu saja mereka langusng menjadi pusat perhatian. Demi Lily, Albern pun. menikmati saja semua itu, padahal biasanya dia sangat tidak suka saat orang-orang memandanginya. secara intens. Makanya, saat pergi ke tempat apapun, biasanya dia memilih yang eksklusif agar privasinya tak terganggu.
"Dulu aku pernah makan di sini bersama Darrel dan Kak Zi. Aku kangen dengan rasa masakannya," ujar Lily sambil memesan berbagai aneka menu olahan seafood yang tersedia.
Albern hanya mengangguk sambil melihat daftar menu. Dia bingung dan tak tahu harus memesan apa, pasalnya dia tak terlalu suka seafood.
"Kak Al mesti coba mie goreng seafoodnya. Rasanya sangat enak," ujar Lily memberikan rekomendasi.
"Benarkah?" tanya Albern tak yakin.
__ADS_1
Lily mengangguk. Karena tak ada yang benar-bebar ingin Albern makan, dia pun akhirnya memesan menu yang disebutkan Lily tadi. Tak menunggu lama, semua hidangan yang mereka pesan pun datang. Lily menyantap makanan kesukaannya itu dengan sangat lahap, hingga Albern pun jadi ikut berselera. Albern yang biasanya makan dengan table manner yang benar layaknya orang yang berasal dari kelas atas, kali ini tampak mengupas udang dengan menggunakan kedua tangannya langsung, sebelum menyantapnya.
Tak menunggu lama, semua hidangan yang tersaji pun habis mereka santap. Setelah membayar semua makanan tersebut, mereka kembali ke dalam mobil dengan perut yang kekenyangan.
"Jangan sering-sering makan di sana," ujar Albern sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa?" Lily tampak agak mengerutkan keningnya.
"Tidak baik untuk berat badan," sahut Albern.
Lily pun tertawa mendengar itu. Selama ini dia memang tak memusingkan masalah berat badan setiap kali makan sesuatu. Tampaknya hal itu harus lebih dia perhatikan mulai dari sekarang.
"Oh, iya. Nanti kalau orang tuaku sudah kembali dari luar kota, kita temui orang tuamu, ya?" ujar Albern mengganti topik pembicaraan.
Lily terdiam sejenak, lalu mengangguk. Mereka memang perlu menemui kedua orang tuanya untuk membicarakan tentang pernikahan secara langsung. Tapi karena belakangan keduanya sibuk, hal itu memang belum direncanakan sama sekali.
"Untuk pertemuan pertama, mungkin cukup aku dan kamu saja dulu. Nanti kalau tak ada masalah dari kedua orang tuamu, di pertemuan selanjutnya, aku akan membawa orang tuaku," sambung Albern lagi.
Lagi-lagi Lily hanya bisa mengangguk. Hatinya berdesir hebat. Dia masih tak percaya kalau dirinya dan Albern benar-benar akan menikah. Sepanjang perjalanan, dia hanya terus mengangguk menanggapi kata-kata Albern, hingga kemudian, sampailah mereka di kediaman Ginna. Lily memang mengatakan mau menjenguk Ginna terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemennya.
Albern dan Lily turun dari mobil dengan sedikit heran karena melihat ada mobil lain yang terparkir di sana. Tampaknya Zaya dan Aaron telah kembali dari luar kota dan langsung datang kemari.
"Ayo," ajak Albern sambil menggandeng tangan Lily masuk ke dalam rumah.
Ada sesuatu yang berbeda dirasakan oleh Albern dan Lily saat mereka melewati ruang tamu, tapi tak tahu apa. Sampai kemudian keduanya tiba di ruang keluarga.
"Mama? Papa?" Lily membeliak kaget saat mendapati kedua orang tuanya duduk di sofa ruang yang ada di ruangan tersebut bersama dengan kedua orang tua Albern.
Bersambung ....
__ADS_1