Albern & Lily

Albern & Lily
Selamat Jalan, Lily. Sampai Bertemu Kembali ....


__ADS_3

"Tuan Muda, boleh saya masuk? Nona Lily dan Nona Zivanna sudah pergi." Asisten Dhani mengetuk pintu ruang kerja Albern.


Tak ada jawaban dari Albern, tapi pintu ruangan tersebut tidak lagi terkunci seperti sebelumnya, yang mengisyaratkan jika Asisten Dhani sudah boleh masuk. Bawahan Albern itu pun memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam. Dilihatnya sang atasan sedang duduk di meja kerjanya dengan tatapan yang terlihat kosong. Raut wajah Albern tak kalah suram dibandingkan dengan wajah Lily tadi. Sorot matanya juga terlihat sangat sedih, bahkan jauh lebih sedih ketimbang sorot mata Lily.


Perlahan Asisten Dhani mendekat ke arah Albern dan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan hormat. Dia kemudian meletakkan botol multivitamin yang dititipkan oleh Lily tadi di atas meja kerja Albern.


"Nona Lily pamit dan menitipkan ini pada saya. Dia bilang, Tuan muda jangan lupa untuk menjaga kesehatan," ujar Asisten Dhani dengan hati-hati. Dia sangat tahu jika saat ini Albern sedang sangat emosional, makanya berusaha untuk menyampaikan pesan Lily tadi dengan cara sebaik mungkin, jangan sampai salah bicara.


"Dia bilang begitu?" Albern bertanya sambil meraih botol multivitamin yang diletakkan Asisten Dhani tadi.


"Benar, Tuan Muda," sahut Asisten Dhani.


Albern menatap botol multivitamin yang dititipkan Lily untuknya. Merknya sama dengan yang dulu pernah Lily berikan padanya. Mau tak mau Albern pun jadi teringat pada kencan pertama mereka yang dilakukan secara diam-diam. Tanpa sadar senyumnya merekah bersamaan dengan matanya yang menjadi berkaca-kaca.


"Apa dia tadi menangis?" tanya Albern lagi.


"Tidak, Tuan. Nona Lily memang terlihat mau menangis, tapi dia tetap berusaha tersenyum sampail kemudian mengajak Nona Zivanna pergi."


Albern tak mengatakan apapun lagi. Dia menghela nafasnya panjang sambil mengeratkan genggamannya pada botol multivitamin pemberian Lily. Sungguh tadi dia sangat ingin menemui gadis itu dan mengucapkan selamat jalan sebelum mereka berpisah. Tapi Albern takut jika dia melakukan itu, maka dia tak bisa menahan diri. Dia takut menjadi goyah.


"Belum terlambat jika sekarang Tuan ingin menemui Nona Lily sebelum dia berangkat ke Amerika," ujar Asisten Dhani.


Albern mengangkat wajahnya dan menatap Asisten Dhani sejenak, sebelum kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Jika hari ini aku menemuinya, maka dia tidak akan pernah sampai ke Amerika. Aku pasti tidak akan bisa menahan diri dan membuatnya menjadi milikku secara paksa. Dan itu akan mengacaukan semuanya." Albern bergumam sambil sekali lagi menghela nafas panjang.

__ADS_1


Asisten Dhani tertegun membayangkan betapa rumitnya kisah cinta atasannya ini. Padahal ada banyak perempuan yang menginginkan Albern, tapi lelaki itu malah menginginkan Lily yang usianya jauh lebih muda. Lalu menurut Asisten Dhani, kedua orang tua Lily juga tak kalah aneh. Di saat banyak yang menginginkan Albern sebagai menantu, kedua orang tua Lily malah tak merestui hubungan Albern dengan anaknya, sampai membuat Lily melanjutkan kuliah di luar negeri.


Terlepas dari apapun alasannya, Asisten Dhani tak bisa memahami jalan pikiran para orang kaya ini. Sepertinya pemikiran mereka terlalu rumit sehingga sangat sulit untuk dimengerti.


"Dhani, jika aku dan Lily berpisah dalam waktu yang lama dan kami sama sekali tak bisa saling menghubungi, apa menurutmu Lily masih akan setia padaku?" tanya Albern kemudian. Suaranya terdengar agak putus asa.


"Tentu saja, Tuan. Bukannya Nona Lily sudah berjanji?"


Albern tersenyum penuh ironi.


"Dia muda, cantik dan cerdas. Sangat mudah bagi para lelaki untuk jatuh cinta padanya. Jika nanti banyak yang mendekatinya dan mereka semua adalah para lelaki yang mempesona, entah apa dia masih mengingatku?"


"Tuan Muda adalah lelaki paling istimewa bagi Nona Lily, jadi sangat tidak mungkin jika Nona Lily sampai melupakan Tuan. Jika saja bukan demi untuk pantas bersanding dengan Tuan Muda, dia tidak akan mau pergi jauh seperti sekarang, kan?" Asisten Dhani malah balik bertanya.


Untuk ke sekian kalinya Albern menghela nafasnya panjang. Karena merasa sangat putus asa mesti berpisah dari Lily, dia sampai kehilangan kepercayaan diri seperti ini. Padahal sebelumnya dia tidak pernah meragukan Lily dan sangat yakin Lily hanya akan melihat ke arahnya saja.


"Saya sudah mengosongkan semua jadwal Tuan muda hari ini karena saya tahu Tuan Muda sedang dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja, jadi lebih baik hari ini Tuan Muda beristirahat saja." Asisten Dhani memberikan saran.


Albern mengangguk. Untuk pertama kalinya dia menerima saran dari asistennya itu tanpa banyak protes. Tampaknya Albern benar-benar sedang merasa lelah dan butuh beristirahat. Bukan hanya tubuhnya, hati dan perasaannya pun tengah lelah karena mesti menahan perasaan yang begitu besar terhadap seseorang yang kini telah pergi jauh meninggalkannya dan tak tahu kapan akan kembali.


"Saya permisi dulu, Tuan Muda," ujar Asisten Dhani sambil membungkukkan badannya hormat, yang ditanggapi dengan anggukan dari Albern. Lelaki itu pun kemudian keluar dari ruang kerja Albern dan memerintahkan pada para sekretaris bawahannya untuk tidak membiarkan siapa saja masuk ke dalam ruangan tersebut karena Albern sedang tidak ingin diganggu.


Sementara itu, di dalam ruang kerjanya, Albern tampak sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari memejamkan mata. Dia berusaha mengistirahatkan tubuh dan pikirannya seperti yang sebelumnya disarankan oleh Asisten Dhani, meskipun sejauh ini masih belum berhasil. Tapi kemudian mata Albern kembali terbuka saat mendengar dentingan di ponselnya yang menandakan ada sebuah pesan masuk.


Saat diperiksa, ternyata pesan itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Lily. Dengan dada yang mulai kembali bergemuruh, Albern pun membaca pesan itu.

__ADS_1


'Kak Al, aku pamit, ya. Jaga diri Kakak baik-baik. Jangan lupa istirahat yang cukup dan minum vitamin. Setelah aku mengirim pesan ini, aku akan naik pesawat dan nomor kontak ini tidak akan aktif lagi. Aku akan fokus belajar, tidak bisa menghubungi Kak Al walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Aku juga tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi. Tapi Kak Al harus percaya kalau Kakak akan selalu menempati posisi paling istimewa di dalam hatiku. Tunggu aku, Kak. Aku pasti akan kembali dan mencari Kak Al. Dan aku berjanji, setelah itu tidak akan pernah pergi lagi.'


Air mata Albern jatuh tak tertahankan saat membaca kata demi kata yang Lily tulis untuknya. Setelah berusaha setengah mati untuk menahan perasaannya, akhirnya pertahanannya runtuh juga. Begitu sakit rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintai, meskipun orang tersebut berjanji untuk kembali.


"Selamat jalan, Lily. Sampai bertemu kembali ...." Albern bergumam lirih dengan suara yang dipenuhi berbagai emosi.


***


7 tahun kemudian ....


Seorang perempuan cantik dengan kacamata hitam tampak melangkah keluar dari bandara sambil menyeret kopernya. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah terlihat berhenti tepat di depan perempuan tersebut. Dan seorang lelaki dengan jas hitam langsung keluar dari sana.


"Maaf, Nona, saya terlambat datang. Jalanan macet parah," ujar lelaki itu sambil membungkukkan tubuhnya.


Perempuan itu tak mengatakan apa-apa, hanya memberikan isyarat jika hal itu tak masalah untuknya. Segera lelaki tadi membukakan pintu mobil dan mempersilakan perempuan itu masuk, kemudian dia juga masuk dan duduk di belakang kemudi setelah mengurus koper yang dibawa oleh perempuan yang dipanggilnya nona itu.


Tak lama kemudian, mobil itu pun melaju meninggalkan Bandara menuju ke pusat kota.


"Apa pertemuanku dengan Direktur Brylee Grup sudah diatur?" tanya perempuan itu pada si lelaki yang kini sedang mengemudi.


"Sudah, Nona. Sudah dikonfirmasi jika besok lusa adalah jadwal pertemuannya."


Perempuan itu tampak tertegun selama beberapa saat, lalu tersenyum tipis.


"Baguslah, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya" gumamnya kemudian dengan nada bicara yang agak berbeda.

__ADS_1


Bersambung ....


Emak lagi khilaf, gaesss🤣🤣🤣


__ADS_2