
Albern masih menatap Lily dengan penuh tanda tanya. Dia memutuskan membiarkan gadis itu menangis hingga puas, tanpa mempedulikan para tamu restoran lain yang mulai memperhatikan kearahnya.
Setelah dirasa Lily agak tenang, Albern mulai menyeka air mata yang membasahi pipi gadis itu dengan tisu yang tersedia.
Albern menghela nafasnya sembari menatap Lily dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa lega di hati Albern setelah dia mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama ini. Tapi disisi lain, dia juga tak tahu harus bagaimana terhadap Lily karena reaksi Lily yang terlalu ambigu dan tidak bisa Albern tebak.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, Lily?" gumam Albern lirih seolah bermonolog pada dirinya sendiri.
Lily mengangkat wajahnya dan balik menatap Albern. Dipandanginya wajah Albern sembari menelan salivanya dengan agak kesulitan.
Ya Tuhan, Lily benar-benar tak menyangka jika lelaki pujaannya ini juga memiliki perasaannya yang sama seperti dirinya. Dia baru saja akan memulai perjuangan untuk mendapatkan hati Albern, tapi Albern sendiri malah menyatakan cinta secara tak terduga padanya. Antara senang, terharu tapi juga terkejut, Lily akhirnya bereaksi dengan agak tak biasa. Dia menangis sejadi-jadinya seolah ada yang membuatnya merasa begitu terpukul.
"Aku juga mencintai Kak Al ...," ujar Lily akhirnya dengan suara yang agak memarau.
Seketika mata Albern melebar mendengar kata-kata Lily itu.
"Setiap hari aku bermimpi untuk menjadi satu-satunya perempuan yang mendampingi Kak Al. Aku selalu memikirkan cara bagaimana agar bisa membuat Kak Al melihat kearahku. Aku sungguh tak menyangka jika Kak Al juga memiliki perasaan yang sama. Aku benar-benar merasa terkejut sampai tidak tahu bagaimana. Hatiku...hatiku rasanya seperti mau meledak karena senang." Lily menyentuh dadanya sendiri.
Albern tertegun dengan mata yang semakin melebar.
"Setiap kali membayangkan suatu hari nanti Kak Al akan menikah dengan orang lain, aku selalu merasa kacau seperti akan gila. Aku harus menahan perasaan itu setiap hari, dan berharap suatu saat Kak Al akan melihatku sebagai seorang perempuan." Lily menghapus air matanya yang kembali jatuh tanpa sadar.
"Aku sungguh tidak menyangka jika Kak Al juga memiliki perasaan yang sama padaku." Ujar Lily lagi sambil menahan isakannya.
Albern tertegun. Sama halnya dengan Lily, lelaki itu juga tidak menyangka jika Lily juga mencintainya. Setelah sebelumnya ia merasa bingung dengan reaksi Lily terhadap pernyataan cintanya, kali ini mendadak hatinya terasa seperti dipenuhi ribuan kelopak bunga. Senyum tipis akhirnya terbit di wajah Albern. Sesuatu yang tak pernah sekalipun terjadi sebelumnya, seorang Albern Brylee tersenyum dengan sangat manis pada seorang gadis.
"Jadi kamu juga punya perasaan yang sama padaku?" Tanya Albern kemudian.
Lily menjawab dengan anggukan. Dan kali ini Albern yang bereaksi tak terduga. Lelaki itu tertawa kecil seperti ada sesuatu yang lucu.
"Kalau aku tahu begitu, aku tidak akan memendam perasaanku terlalu lama. Selama ini aku takut kamu akan merasa tidak nyaman dan menjauh saat aku menyatakan cinta padamu. Ternyata aku mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu." Ujar Albern disela tawanya.
Lily ikut tertawa, sebelum akhirnya tawa mereka mereda. Kedua kemudian saling memandang dengan tatapan yang sama-sama dalam.
"Jadi, mulai sekarang apa aku boleh aku berharap pada Kak Al?" Tanya Lily.
__ADS_1
Albern mengangguk. Senyumnya kembali mengembang seakan dia punya banyak stok senyum hari ini.
"Tentu saja boleh." Jawab Albern kemudian sambil bangkit dan kembali mendekat pada Lily.
"Kak Al ...." Hanya itu kata yang mampu Lily ucapkan. Dia masih tak percaya jika saat ini dirinya mendengar ungkapan hari dari Albern, lelaki yang sangat ia dambakan sejak lama.
"Apa aku juga boleh merasa cemburu pada Kak Al?" tanya Lily lagi.
"Lakukan sebanyak yang kamu mau. Aku malah suka kalau kamu cemburu," jawab Albern.
Lily tersenyum senang dan menatap Albern dengan semeringah.
"Lily, maukah kamu berjanji padaku?" Tanya Albern kemudian.
"Janji apa?' Lily balik bertanya.
"Janji jika kamu tidak akan pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain, dan hanya mencintaiku saja seumur hidupmu," sahut Albern.
Lily menatap ke arah Albern.
Albern kembali tersenyum. Entah sudah berapa kali sejak tadi dia tersenyum.
"Ya, aku janji." Jawab Albern.
Lily tertegun dan tak tahu mesti berkata apa lagi. Semuanya menjadi begitu indah dalam sekejap.
"Kak Al, apa setelah ini kita akan selalu bersama?" Tanya Lily lagi.
Albern mengangguk.
"Ya, kita akan selalu bersama, tak peduli dalam keadaan apapun." ujarnya.
"Kak Al tidak akan pernah menikah dengan perempuan lain, kan?" Sekali lagi Lily bertanya
Albern menggeleng.
__ADS_1
"Aku hanya akan menikah denganmu." Ujarnya.
Lily kembali tersenyum dengan cerah. Dipandanginya wajah Albern dengan perasaan yang hampir membuncah.
Ah, Lily tak menyangka impiannya untuk berdampingan dengan Albern akan menjadi kenyataan seperti ini. Semuanya masih terasa bagai mimpi.
"Kak Al, aku tidak sedang bermimpi, kan?" Untuk kesekian kalinya Lily bertanya.
"Menurutmu?" Albern balik bertanya.
Tangan Lily kembali terulur menyentuh wajahnya. Dicubitnya pipinya sendiri dan seketika dia langsung meringis karena merasa sakit. Semuanya nyata, bukan mimpi. Lily tidak sedang tertidur. Dan hal indah ini adalah sebuah kenyataan. Pernyataan cinta Albern adalah kenyataan. Kenyataan yang benar-benar membahagiakan.
"Terima kasih, Kak Al." Gumam Lily akhirnya dengan lirih. Tak ada lagi kata yang menggambarkan perasaan Lily saat ini selain bahagia.
Setelah puas mencurahkan perasaan masing-masing, Albern akhirnya kembali mengantarkan Lily ke kampus karena masih ada kelas yang masih harus ia ikuti. Sepanjang perjalanan, senyum mereka akan bergantian mengembang. Kedua orang yang sedang kasmaran itu tampak tak bisa menyembunyikan perasaan masing-masing. Hingga akhirnya, mereka pun sampai ke pelataran kampus Lily.
"Kak Al, setelah ini kita akan lebih sering bertemu, kan?" Tanya Lily sesaat sebelum keluar dari mobil.
Albern mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu, Kak."Lily hendak turun dari mobil, tapi kemudian dia merasakan tangan Albern mengusap pucuk kepalanya lembut.
Lily tertegun sejenak sembari sedikit membeliakkan matanya dengan dada yang mendadak terasa berdebar.
"Jangan terlalu banyak bermain-main, belajarlah dengan bersungguh-sungguh," ujar Albern.
Lily mengangguk pelan sembari menyentuh pucuk kepalanya.
'Mama, Kak Al usap-usap kepalaku. Memangnya aku kucing?"
Bersambung...
Jgn lupa like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1