Albern & Lily

Albern & Lily
Calon Menantu Masa Depan


__ADS_3

Carissa tak bisa berkata-kata. Meski tak lagi memiliki perasaan apapun terhadap Aaron, lelaki itu tetap saja sukses membuatnya tak berkutik. Dengan menghela nafas panjang, Carissa akhirnya mengangguk setuju.


"Baiklah, tapi aku tidak menjamin jika Evan akan menerima semua ini dengan mudah. Aku akan berusaha untuk membujuknya agar merestui hubungan Albern dan Lily, tapi tentunya aku berharap kalian benar-benar serius. Jika kalian sudah pada tahap memperkenalkan Lily pada semua orang, artinya kalian sudah tidak bisa mundur lagi. Aku tidak ingin jika putriku sampai dipermainkan." Ujar Carissa akhirnya dengan nada serius. Dalam hati dia terus bergumam agar Evan bersedia memaafkannya.


"Tentu saja kami tidak berniat untuk mempermainkan putrimu. Bahkan jika Dokter Evan tidak keberatan, kami justru ingin menikahkan mereka sesegera mungkin." Balas Aaron masih dengan nada santainya.


Hampir saja Lily tersedak liurnya sendiri mendengar perkataan calon papa mertuanya itu. Eh, tunggu dulu, calon papa mertua?


Lily menghembuskan nafas kasar sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia merutuki pemikiran yang kini muncul di kepalanya. Saat ini dia hanya diminta untuk menjadi pendamping Albern di pesta perusahaan nanti, bukan sedang dilamar. Lagipula papanya pasti akan mengamuk jika dia bilang akan segera menikah.


"Maksudku bukan segera menikahkan mereka juga. Tapi yang jelas, aku tidak akan terima jika Albern sampai menjalin hubungan dengan perempuan lain." Carissa kembali menanggapi perkataan Aaron.


"Tante tidak perlu khawatir. Saya tidak pernah tertarik pada perempuan manapun selain Lily." Kali ini Albern sendiri yang menimpali.


Carissa melirik putra kesayangan Aaron itu sekilas. Harus dia akui, lelaki dari keluarga Brylee memang dikenal setia pada pasangan mereka. Meski terlahir di keluarga yang bergelimang harta, mereka tak pernah sekalipun terdengar suka main perempuan ataupun memiliki simpanan, sebagaimana pria kaya pada umumnya.


Untuk kesekian kalinya, Carissa hanya bisa menghela nafas panjang. Ia kembali dibuat tak berdaya. Meski dalam hatinya terselip kekhawatiran akan reaksi Evan nanti, mau tak mau Carissa tetap menyetujui permintaan Aaron dan Zaya. Dia harus merelakan anak gadisnya dibawa oleh putra keluarga Brylee sebagai pasangan pada pesta perusahaan nanti. Dan Carissa harus bersiap dengan apa yang akan terjadi setelah itu. Kerena begitu Albern mengumumkan jika Lily adalah kekasihnya, maka kehidupan Lily tak akan sama lagi dengan sebelumnya.


Carissa hanya berharap tak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada putrinya itu.


"Jika kau sudah setuju, berarti tugasku sudah selesai." Aaron bangkit dari duduknya.


"Honey?" Zaya mendelik pada suaminya itu.


Aaron yang telah bersiap untuk undur diri, akhirnya kembali duduk saat melihat bola mata istrinya yang hampir keluar. Menyaksikan hal itu, Carissa hanya menahan tawanya. Sungguh sulit dipercaya jika Chairman Brylee Group yang sangat berwibawa itu termasuk ke dalam jajaran suami-suami takut istri.


"Ada apa lagi, Sayang? Bukankah aku sudah menyelesaikan masalah putra kesayanganmu?" Tanya Aaron pada Zaya dengan nada yang agak berbeda. Lelaki paruh baya itu akan berbicara dengan nada yang begitu lembut jika sudah berhadapan dengan istrinya.


"Lily sudah menghidangkan minuman dan makanan kecil. Kamu tidak sopan sekali jika pergi tanpa mencicipinya." Ujar Zaya sambil menyodorkan cangkir teh yang dihidangkan Lily tadi.

__ADS_1


"Oh, baiklah." Aaron mengambil cangkir itu dan menyesap isinya. Ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Enak, rasa teh." Gumamnya.


Ya memang teh. Sekali lagi Carissa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mendengar celotehan Aaron. Bahkan manusia sekaku itu juga bisa melucu saat berada di dekat wanitanya.


Carissa hanya berharap, Albern juga akan mencintai Lily, seperti halnya Aaron yang mencintai Zaya. Dengan begitu, nantinya dia tidak perlu menyesali hari ini, hari dimana dia telah memutuskan untuk merestui hubungan Lily dan Albern meski suaminya belum mengetahui tentang hubungan itu sendiri.


"Albern, kamu juga coba tehnya." Carissa berujar pada Albern yang sedang mencuri pandang pada Lily.


"Iya, Tante." Albern buru-buru mengalihkan pandangannya, lalu meraih cangkir teh di hadapannya. Dengan gaya elegan khas keluarga Brylee, Albern menyesap teh tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Carissa.


"Enak, seperti teh."


Hampir saja Lily tak bisa menahan tawanya. Benar-benar putra dari seorang Aaron Brylee. Bahkan Carissa dan Zaya saja terlihat menahan tawa mendengar jawaban Albern yang sama dengan komentar papanya tadi. Albern yang melihatnya pun menjadi sedikit bingung.


"Besok sore aku akan mengirimkan beberapa gaun dan seorang penata rias." Ujar Zaya setelah ikut menyesap teh dihadapannya.


"Tidak perlu mengirimkan gaun, Ma. Aku sudah memesan sebuah gaun secara khusus untuk Lily." Albern menginterupsi.


Zaya menoleh kearah putranya itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengirim penata rias saja."


"Aku akan membawa Lily ke sebuah salon kecantikan eksklusif. Dia harus dirias oleh penata rias profesional." Albern kembali menyela kata-kata mamanya.


"Ah, baiklah, baiklah. Terserah kamu saja." Zaya menyerah. Putranya ini memang bersifat perfeksionis seperti sang papa.

__ADS_1


"Sekarang Lily sudah bisa mendampingi mu di pesta perusahaan nanti, permasalahan mu sudah terselesaikan, jadi Mama dan Papa akan pulang dulu." Zaya bangkit dari duduknya, diikuti oleh Aaron.


Carissa dan Lily pun ikut bangkit, begitu pula dengan Albern.


"Carissa, terima kasih sudah menerima kedatangan kami. Kami menunggu kehadiran mu di pesta perusahaan nanti. Kami pamit dulu." Zaya berpamitan pada Carissa.


Carissa mengangguk dan mengantarkan Aaron dan Zaya hingga ke pekarangan rumahnya. Pasangan paruh baya itu masuk ke dalam mobil, lalu meluncur meninggalkan kediaman Carissa dan Dokter Evan. Sedangkan Albern yang ternyata datang dengan mengendarai mobil yang berbeda tampak masih berada di dekat Lily.


Carissa sedikit menautkan alisnya saat melihat Lily dan Albern yang terlihat agak canggung karena kehadirannya.


"Nanti aku telpon." Ujar Albern pada Lily.


Lily mengangguk dengan sedikit malu. Ekor matanya dapat melihat jika saat ini sang mama sedang memperhatikan mereka berdua.


"Jangan tidur terlalu malam, kurang tidur bisa membuat kulitmu kusam." Ujar Albern lagi. Kali ini Albern terdengar seperti dokter kecantikan yang memberi panduan pada pasiennya.


"I-iya, Kak." Lily menjawab dengan sedikit terbata. Bukan Albern yang membuatnya gugup, tapi tatapan Carissa yang saat ini sedang mengarah padanya.


"Aku pergi dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan." Albern berpamitan sembari mendekat pada Lily.


"Jangan sedih lagi." Ujar Albern sembari mengulurkan tangannya hendak mengusap kepala Lily.


Lily dengan sigap menggeleng.


"Kak Al, ada Mama," bisiknya.


Spontan Albern langsung menarik kembali tangannya dan tersenyum canggung ke arah Carissa sembari menyembunyikan tangannya itu.


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2