
Setibanya di rumah, Lily langsung mandi dan hendak beristirahat sejenak. Tapi kemudian ia segera mencari sang mama karena ada yang ingin ia tanyakan, dan ternyata mamanya itu sedang membereskan sesuatu di kamarnya.
Lily agak bingung saat mendapati mamanya sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam sebuah koper.
"Mama sedang apa?" Tanya Lily.
"Mama sedang menyiapkan pakaian yang akan Papa bawa. Sore ini juga Papamu akan berangkat ke Singapura." Jawab Carissa sambil memasukkan pula beberapa barang lain yang diperlukan Evan ke dalam koper.
"Papa mau ke Singapura?" Lily tampak terkejut.
"Iya."
"Kenapa, Ma? Ada sesuatu yang terjadi pada Oma dan Opa?" Tanya Lily lagi. Gadis itu terlihat sedikit panik.
"Tidak, Oma dan Opa baik-baik saja. Ada masalah yang terjadi di rumah sakit milik Papa." Jawab Carissa.
"Hah?"
"Terjadi malpraktek yang cukup serius, pasien mengajukan gugatan, jadi Papa harus segera ke sana." Carissa memberi penjelasan.
Lily tampak syok hingga mulutnya sedikit ternganga. Tidak pernah selama ini rumah sakit papanya di Singapura mengalami hal buruk seperti itu.
"Ayo, bantu Mama. Nanti Papa datang untuk mengambil kopernya dan langsung berangkat ke bandara."
Lily mengiyakan, lalu membantu Carissa menyiapkan keperluan Dokter Evan selama berada di Singapura nanti.
Tak berselang lama, Evan pun datang dengan agak terburu-buru.
"Sayang." Panggilnya pada Carissa.
Carissa cepat-cepat menemui suaminya itu sambil membawa sebuah koper yang sudah dipersiapkannya tadi. Lily terlihat mengekor pada Mamanya.
"Semua keperluan mu sudah aku siapkan di dalam sini." Ujar Carissa sambil mendorong koper itu ke hadapan Evan.
"Terima kasih, aku harus pergi sekarang." Evan mengambil alih koper tersebut, lalu mencium kilas kening Carissa.
__ADS_1
"Papa pergi dulu, Lily. Jangan nakal selama Papa tidak ada." Evan beralih kearah Lily. Kata-katanya terdengar seperti sedang berbicara pada seorang anak kecil.
"Oke." Jawab Lily sambil mengangkat satu ibu jarinya.
"Jangan terlalu khawatir, Pa. Semuanya akan baik-baik saja." Ujarnya lagi memberi semangat pada sang papa.
Evan mengangguk.
"Benar. Semuanya akan baik-baik saja. Papa berangkat." Evan menarik kopernya, lalu cepat-cepat masuk ke dalam mobil yang sedari tadi sudah menunggunya.
Carissa dan Lily mengantarkan keberangkatan Evan sampai ke halaman rumah mereka. Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Evan bergerak meninggalkan pelataran rumah, lalu menghilang di ujung jalan.
"Berapa lama Papa berada di sana, Ma?" Tanya Lily saat Mobil yang ditumpangi Papanya sepenuhnya menghilang dari pandangan.
"Tidak bisa dipastikan. Tapi perkiraan sekitar seminggu lebih. Atau bisa juga sampai dua minggu." Jawab Carissa.
Lily tertegun. Jika Papanya pergi selama itu, berarti tidak ada kesempatan baginya menemui Papanya dan memberitahukan jika saat ini dia sudah menjalin hubungan dengan Albern. Padahal Albern sudah sangat ingin bertemu dengan Evan. Dan pesta perusahaan yang akan diadakan oleh Brylee Group, akankah Lily tetap menghadirinya meski belum mendapatkan persetujuan dari papanya?
"Ayo, masuk." Suara Carissa membuyarkan lamunan Lily. Perempuan paruh baya itu berlalu masuk ke dalam rumah
Lily mengikuti Carissa dari belakang sembari berpikir apa yang mesti ia lakukan. Jika memberitahu papanya dalam keadaan yang tidak kondusif seperti ini, takutnya justru membuat semuanya menjadi berantakan. Apa mungkin Lily memerlukan saran dari mamanya?
Carissa menoleh.
"Ada yang ingin aku tanyakan."
Kali ini Carissa benar-benar membalik badannya dan menghadap kearah Lily.
"Maksudku, aku ingin meminta pendapat Mama." Lily meralat kata-katanya.
"Meminta pendapat tentang apa?" Tanya Carissa. Perempuan paruh baya itupun menghenyakkan dirinya diatas sofa untuk mendengarkan Lily bicara.
Lily ikut duduk di sebelah mamanya itu.
"Brylee Group mau mengadakan sebuah pesta, dan Kak Al mau membawaku ke pesta itu..." Ujar gadis itu membuka percakapan. Terdengar dia berbicara dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Carissa. Dia tahu jika yang diucapkan Lily tadi bukanlah inti permasalahannya.
"Tadinya sebelum pesta, kami ingin memberi tahu Papa tentang hubungan kami, karena Kak Al berniat memperkenalkan aku secara resmi sebagai calon istrinya pada para koleganya di pesta nanti."
Seketika Carissa membeku. Albern ingin memperkenalkan putrinya sebagai calon istri di pesta perusahaan yang akan diadakan oleh Brylee Group? Bukankah acara seperti itu biasanya akan dihadiri oleh orang-orang penting? Benarkah Albern ingin melakukan hal itu?
Carissa tak tahu mesti menanggapi hal itu seperti apa. Tampaknya perasaan Albern terhadap Lily jauh lebih serius daripada yang Carissa bayangkan.
"Mengingat kondisi rumah sakit Papa sekarang, pasti banyak yang harus Papa pikirkan. Rasanya tidak mungkin aku memberitahu Papa tentang hubungan kami. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Lily kemudian.
Carissa memandang wajah putrinya itu. Lily tampak sedang merasa dilema.
"Kak Al bahkan sudah mempersiapkan sebuah gaun yang dipesannya secara khusus, dia sangat berharap aku menjadi pasangannya di pesta itu. Apa aku harus membatalkannya dan membiarkan dia kecewa?" Tanya Lily lagi.
Carissa masih terdiam. Dia tampak berpikir untuk memberikan pendapat seperti apa terhadap Lily. Jujur saja, Carissa sedikit bingung. Ini adalah pengalaman pertamanya mendengarkan curhatan putrinya tentang masalah percintaan, belum lagi Lily juga sedang meminta masukan darinya. Dia sungguh tidak tahu apa yang harus dia katakan?
"Kapan pestanya diadakan?" Tanya Carissa kemudian.
"Sekitar seminggu lagi." Jawab Lily.
Carissa kembali terdiam. Jika pesta diadakan seminggu lagi, kemungkinan besar Evan masih berada di Singapura.
"Papamu pasti masih sibuk menangani permasalahan rumah sakit. Berdoa saja permasalahannya tidak terlalu rumit. Jika Papamu sudah berhasil menanganinya, mungkin nanti kita bisa membicarakan hal ini lagi." Ujarnya kemudian.
Lily menghela nafasnya. Sepertinya ini akan lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Dia tidak tahu akan seperti apa nanti jadinya.
"Aku harus memberitahukan ini pada Kak Al dulu. Mungkin tidak masalah jika aku batal menjadi pasangannya di pesta itu." Lily bangkit dari duduknya. Kemudian berlalu menuju kamarnya sendiri. Sepertinya mamanya tidak bisa membantu apa-apa. Ia hanya berharap Albern tidak terlalu kecewa dengan hal ini.
Sedangkan Carissa tampak menatap punggung Lily dengan sedikit merasa bersalah. Tentu saja dia tidak bisa memutuskan hal itu secara sepihak. Menjadi pasangan resmi dari seorang pewaris perusahaan besar seperti Albern tentu bukan hal yang sepele, meskipun baru sebatas calon istri. Jika semua orang tahu Lily adalah gadis yang akan menjadi istri Albern kelak, semua orang, terutama para kolega Albern itu sendiri pasti akan banyak membicarakan Lily, terlepas itu hal baik ataupun hal buruk.
Carissa tidak boleh gegabah menyetujui hal itu begitu saja, sebelum Evan memberikan persetujuannya.
Bersambung...
Dan perjuangan mereka pun dimulai dari sini...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤️❤️❤️