Albern & Lily

Albern & Lily
Meminta Bantuan


__ADS_3

Albern mengunyah sarapannya dengan agak tak bersemangat. Kejadian semalam dimana Lily menangis tersedu dengan sangat putus asa terbayang lagi di kepalanya, membuat nafsu makan Albern hilang entah kemana. Menu sarapan pagi ini, roti panggang yang disajikan lengkap dengan telur mata sapi serta irisan daging asap, tampak tak mampu membuat Albern berselera.


"Ada apa, Al?" Zaya yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Albern, tak bisa menahan diri untuk bertanya.


Sontak lamunan Albern terbuyar.


"Mama lihat, dari tadi makananmu cuma kamu acak-acak saja. Ada apa?" tanya Zaya lagi.


Segera Albern menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada," jawab Albern sambil kembali menyantap makanannya.


"Apa ada masalah di kantor?" Kali ini Aaron yang bertanya.


Albern kembali menggeleng.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pa. Semuanya baik-baik saja." Albern berusaha untuk menetralkan raut wajahnya. Namun sia-sia, baik kedua orang tuanya maupun adiknya, mereka semua sudah terlanjur melihat raut wajah resah Albern, yang artinya ada sesuatu yang cukup serius tengah Albern hadapi saat ini.


"Kak Al bertengkar dengan Lily, ya?" tanya Zivanna setengah menebak.


Sontak Albern tertegun mendengar pertanyaan Zivanna, begitu juga dengan Aaron dan Zaya.


"Benar, Al?" Zaya memastikan.


"Tentu saja tidak. Kenapa juga kami mesti bertengkar?" Albern justru balik bertanya.


"Ya barangkali saja, soalnya Kak Al kelihatan galau tingkat dewa begitu," celetuk Zivanna.


"Habiskan saja makananmu, tidak usah mengomentari orang lain," sahut Albern.


Zivanna mencebik.


"Sepertinya Lily memang sedang membuat Kak Al kesal, sampai makan pun jadi tak bersemangat," gumamnya dengan sedikit menggoda.


"Ini meja makan, jangan berdebat." Suara boriton Aaron mengurungkan niat Albern yang ingin menyanggah kata-kata Zivanna barusan. Mereka pun meneruskan makan dengan hening. Semuanya tampak kembali bersikap tenang, meski beberapa kali mata Zaya dan Zivanna melirik kearah Albern.


Setelah sarapan, mereka semua bersiap untuk memulai aktivitas masing-masing. Aaron dan Zaya tampak akan menghadiri sebuah acara yang masih terkait dengan perusahaan. Sedangkan Albern akan berangkat ke kantor seperti biasa. Dan Zivanna, melihat dari penampilannya, kelihatannya hari ini gadis itu ada kelas pagi.


"Zi, ayo naik. Biar sekalian Asisten Dhani

__ADS_1


mengantarmu ke kampus." Albern membuka pintu mobilnya dan menyuruh Zivanna masuk. Terang saja Zivanna mengerutkan keningnya, pasalnya mobil dan sopir pribadinya sendiri sudah siap untuk mengantarnya ke kampus, tidak perlu ikut mobil Albern.


"Kantor Kak Al dan kampusku 'kan beda arah?" protes Zivanna.


"Pokoknya masuk saja, sesekali tidak masalah mengantar adik sendiri ke kampus, meskipun beda arah."


"Oh, ternyata Kak Al masih ingat kalau Kakak masih punya adik. Seingatku, sejak pacaran dengan Lily, Kakak sudah melupakan keberadaanku," sahut Zivanna sambil mencebik.


Albern tersenyum tipis. Harus ia akui, belakangan dia memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Lily jika kebetulan sedang luang.


"Sudah besar masih saja suka merajuk," gerutu Albern.


"Ayo, masuk." Albern sedikit menarik lengan Zivanna dan menuntunnya masuk ke dalam mobilnya


"Kak Al, Pak Mus sudah siap mengantarku," protes Zivanna. Pak Mus yang dimaksudnya adalah sopir pribadi yang biasa mengantarnya kemanapun selama ini.


"Biarkan saja Pak Mus beristirahat. Siapa tahu hari ini istrinya sedang berulang tahun dan butuh diajak jalan-jalan," sahut Albern enteng.


Zivanna hanya bisa melongo mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Albern. Kelihatannya berhubungan dengan Lily membuat kakaknya itu ikut menjadi absurd. Zivanna pun akhirnya pasrah, terlebih saat Albern ikut masuk dan mengisyaratkan pada Asisten Dhani untuk melajukan mobil.


"Mencurigakan," gumam Zivanna.


Suasana hening sejenak. Baik Zivanna maupun Albern, keduanya tampak larut dalam pikiran masing-masing.


"Katakan apa yang ingin Kak Al sampaikan," ujar Zivanna kemudian memecah keheningan.


Albern menoleh kearah adiknya itu sekilas.


"Tahu dari mana kalau aku ingin menyampaikan sesuatu padamu?" tanya Albern.


"Kalau tidak ada yang ingin Kak Al katakan, tidak mungkin Kak Al sampai menyanderaku seperti ini," sahut Zivanna.


Kali ini Albern tertawa kecil.


"Baiklah," gumamnya demikian.


"Kak Al ada masalah dengan Lily, ya?" tanya Zivanna.


"Tidak." Albern menggeleng.

__ADS_1


"Aku ingin minta tolong padamu, Zi," ujarnya.


Zivanna menoleh kearah Albern sambil kembali menautkan kedua alisnya. Tak pernah sebelumnya Zivanna mendengar kakaknya itu berujar dengan penuh permohonan seperti yang didengarnya barusan.


"Tolong bantu yakinkan Lily agar dia mau menuruti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri."


"Apa?" Zivanna tampak terkejut mendengar permintaan Albern barusan.


Albern menghela nafasnya dalam.


"Orang tua Lily ingin Lily melanjutkan kuliahnya di luar negeri, tapi Lily menolak. Biasanya dia selalu mendengarkan kata-katamu, tolong bantu aku untuk membujuknya."


"Orang tua Lily ingin Lily melanjutkan kuliahnya di luar negeri? Kenapa dia tidak cerita?" Zivanna bergumam pada dirinya sendiri.


"Dia juga baru tahu, nanti dia pasti akan cerita padamu. Kalau dia bercerita, yakinkan dia untuk menuruti keinginan kedua orang tuanya itu."


Zivanna menatap kearah Albern tatapan tak mengerti.


"Kak Al ingin aku membujuknya agar dia mau kuliah di luar negeri? Bukankah itu artinya dia akan meninggalkan kakak? Kalau aku jadi Lily, akupun pasti akan menolak. Tapi kenapa Kak Al justru ingin dia menuruti keinginan orang tuanya?" tanya Zivanna bingung.


Sekali lagi Albern menghela nafas panjang sambil membuang pandangan kearah lain.


"Jika aku boleh egois, tentu saja aku tidak ingin Lily pergi, apalagi untuk waktu yang lama. Jika aku hanya memikirkan keinginanku saja, aku akan mengajaknya menikah meski tanpa restu dari orang tuanya. Aku akan menahannya berada di sisiku bagaimana pun caranya agar aku tak perlu menderita. Tapi aku tidak boleh melakukan itu, kan? Aku tidak boleh hanya memikirkan diriku sendiri tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi Lily di masa depan."


Zivanna tertegun tanpa bisa mengatakan apapun.


"Aku memutuskan untuk memberikan ruang bagi Lily agar dia bisa meraih impiannya meskipun berat untukku, karena aku tahu, itu adalah yang terbaik untuknya," tambah Albern lagi.


"Lagipula, sepertinya ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan restu kedua orang Lily. Aku harus bisa membuat Lily menuruti keinginan kedua orang tuanya. Untuk itu, tolong bantu aku, Zi."


Zivanna masih tak mampu berkata-kata. Dia hanya bisa memandangi Albern dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Zivanna sungguh tak menyangka jika perasaan kakaknya terhadap Lily sedalam itu.


"Kak Al ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Zivanna meski ada banyak yang ingin dia ucapkan.


"Aku tahu, besar kemungkinan perasaan Lily padaku akan berubah jika dia pergi dalam waktu yang lama. Tapi tetap saja, aku harus merelakan dia pergi demi untuk kebaikannya."


Bersambung ....


Apa kabar ibu-ibu komplek kesayangan emak semua? Sehat-sehat, ya.

__ADS_1


__ADS_2