
Hari keberangkatan Lily ke luar negeri pun akhirnya tiba. Gadis itu telah berkemas sejak semalam dan saat ini telah siap pergi menuju ke Bandara. Kedua sahabat Lily tentu saja sudah berada di rumahnya untuk ikut mengantar gadis itu ke bandara. Namun tetap terasa ada yang kurang bagi Lily. Apalagi kalau bukan Albern yang tak turut serta hadir seperti halnya Zivanna dan Darrel.
"Kak Al tahu kamu akan berangkat hari ini, kan?" tanya Zivanna.
Lily hanya mengangguk tanpa menjawab. Beberapa hari yang lalu dia sudah memberi tahu Albern, namun saat itu tanggapan Albern hanya biasa saja. Setelahnya, Albern juga jadi sulit untuk dihubungi karena sibuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
"Benar kamu sudah memberi tahu Kak Al? Apa jangan-jangan kamu lupa?" tanya Zivanna tak percaya.
Lily tetap tak menjawab. Dia hanya menunduk dengan ekspresi sedih yang tak bisa ditutupi. Tentu saja dia tidak akan lupa memberitahukan hari keberangkatannya pada kekasihnya itu. Mungkin saja Albern yang lupa jika hari ini Lily akan pergi, meskipun rasanya itu juga tidak mungkin.
"Zi." Darrel menyenggol sedikit lengan Zivanna saat melihat sikap Lily yang tak seperti biasanya.
Zivanna pun langsung menyadari jika dia telah salah bicara. Bisa-bisanya dia mengatakan jika Lily lupa memberitahu Albern tentang hari keberangkatannya. Jelas sekali Albernlah yang saat ini bersikap tidak peduli.
"Berapa jam lagi jadwal keberangkatanmu?" tanya Zivanna kemudian.
Lily memeriksa layar ponselnya sejenak untuk melihat penunjuk waktu.
"Sekitar tiga jam lagi," sahutnya kemudian.
Zivanna menghela nafasnya sejenak. Dia sangat tahu jika saat ini Lily setengah mati sedih dan juga galau.
"Masih ada waktu. Kamu mau menemui Kak Al?" tanya Zivanna lagi.
Lily mengangkat wajahnya dan menatap Zivanna lekat. Jelas sekali terlihat jika dirinya sangat ingin bertemu dengan Albern sebelum pergi, tapi dia ragu.
"Aku akan meminta izin pada Mama dan Papamu. Kita akan kembali tepat waktu," ujar Zivanna lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba mata Lily terlihat mengembun. Dia mengangguk sambil sebisa mungkin menahan diri untuk tak meneteskan airmata.
"Aku mau, Kak Zi. Aku ingin bertemu dengan Kak Al. Tapi aku tidak yakin Mama dan Papaku akan memberikanku izin," sahut Lily kemudian.
Zivanna menatap Lily dengan tak kalah sedih. Sosok yang dikenalnya selalu ceria dalam keadaan apapun, saat ini terlihat begitu putus asa dan tak berdaya. Zivanna pun akhirnya membawa Lily ke dalam pelukannya.
"Serahkan padaku. Aku yang akan meminta izin pada kedua orang tuamu." Zivanna menghibur Lily sambil mengusap lembut punggung gadis itu.
Selang beberapa saat kemudian, Zivanna melepaskan pelukannya, lalu mengajak Darrel menemui kedua orang tua Lily. Entah apa yang dikatakan Zivanna pada Carissa dan juga Evan. Yang jelas, dia berhasil membuat Lily mendapatkan izin keluar sebentar untuk menemui Albern yang saat ini sedang berada di kantornya.
"Kak Al sudah pulang dari perjalanan dinas dua hari yang lalu. Aku pikir dia langsung menemuimu, tapi rupanya kamu bahkan tidak tahu kalau dia sudah kembali," ujar Zivanna saat mereka dalam perjalanan.
Lagi-lagi Lily menjadi gadis pendiam. Awalnya dia juga merasa bingung dengan sikap Albern belakangan ini. Namun, sekarang dia menyadari satu hal, Albern sedang berusaha untuk menghindarinya.
"Kak Al hanya memberitahuku saat akan pergi. Setelah itu, dia tidak pernah menghubungiku lagi," gumam Lily dengan nada rendah. Gadis yang penuh semangat seperti Lily sebelumnya mana pernah berbicara seperti orang tanpa daya seperti itu.
"Sepertinya bukan karena sibuk, tapi karena Kak Al memang sedang tak ingin bertemu dan berbicara denganku," sahut Lily.
Darrel tak bisa berkata-kata lagi karena yang dikatakan Lily memang benar adanya. Pemuda itu juga bukan orang yang bisa membual, sehingga dia tak bisa menghibur Lily dengan kata-kata manis.
"Sudahlah, tidak apa-apa jika Kak Al tidak mau menemuimu. Kita yang akan temui dia bersama-sama." Zivanna menyentuh punggung tangan Lily dan menggenggamnya hangat, seakan ingin memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
Lily pun mengangguk sambil tersenyum, atau lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum. Seperti halnya Zivanna dan Darrel yang berusaha untuk menghiburnya, dia juga berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Lily bertekad dalam hati untuk kuat dan tegar meskipun hari ini sudah pasti akan menjadi hari yang menyedihkan untuknya.
Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai di pelataran sebuah gedung yang merupakan tempat Albern berkantor setiap harinya. Darrel memilih menunggu di dalam mobil bersama sopir pribadi Zivanna, sedangkan Zivanna menemani Lily masuk ke dalam gedung megah tersebut.
Karena semua orang sudah tahu siapa Zivanna, tidak sulit bagi gadis itu untuk membawa Lily menuju lantai di mana ruang kerja Albern berada. Zivanna bahkan menggunakan lift khusus direktur yang biasanya hanya digunakan oleh Albern saja.
__ADS_1
Tiba di depan ruang kerja Albern. Para tim sekretaris Albern yang mejanya ada di depan pintu masuk tampak terkejut melihat kehadiran Lily dan Zivanna. Sebelumnya resepsionos juga tak menghubungi mereka karena Zivanna yang meminta. Zivanna sengaja melakukan itu karena takut kakaknya akan kembali menghindar jika tahu Lily akan kemari.
"Nona?" Dhani juga tampak terkejut seperti para sekretaris bawahannya. Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya dan langsung mendekat ke arah Zivanna dan Lily. Sebelumnya dia juga memberikan isyarat pada salah satu sekretaris bawahannya itu untuk memberitahukan kedatangan Zivanna dan Lily pada bos mereka.
"Kak Al ada, Asisten Dhani?" tanya Zivanna.
"Ah, Tuan sedang menghadiri rapat dengan dewan direksi," jawab Dhani.
Zivanna memicingkan matanya ke arah asisten pribadi kakaknya itu, kemudian beralih melihat ke arah para sekretaris Albern. Anggota mereka semua lengkap, tak ada yang tak hadir satu pun, yang artinya Albern juga pasti sedang berada di dalam ruangannya. Jika Albern benar-benar sedang rapat, tentu saja akan ada yang mendampinginya. Dan orang pertama yang pasti ada di samping kakak Zivanna itu tidak lain adalah Asisten Dhani sendiri.
"Sejak kapan Kak Al rapat tanpa ditemani oleh Asisten Dhani?" tanya Zivanna dengan tatapan mengintimidasi.
Asisten Dhani terlihat sedikit tergagap agak terkejut mendengar pertanyaan yang disertai dengan tatapan tajam dari adik bosnya itu, namun dengan cepat dia menetralkan raut wajahnya kembali.
"Saya berada di sini sebenarnya sedang mengambil berkas penting yang tertinggal di meja Setelah ini, saya mesti menyusul Tuan lagi," ujarnya kemudian beralasan.
Zivanna terlihat tak terima dengan jawaban yang sangat dibuat-buat itu.
"Asisten Dhani, sejak kapan kamu jadi pembohong seperti ini?" tanya Zivanna dengan tajam.
Tentu saja wajah Asisten Dhani langsung kecut mendengar pertanyaan itu.
Sebelum Asisten Dhani sempat menjawab, Lily lebih dulu mendekat ke arahnya.
"Apa Kak Al sendiri yang meminta Anda mengatakan itu jika saya datang?" tanya Lily kemudian pada Asisten Dhani. Wajah gadis itu terlihat sendu hingga Asiten Dhani hanya bisa terdiam tanpa tahu harus menjawab apa.
Bersambung ....
__ADS_1