
Albern dan Lily akhirnya makan di sebuah kedai makanan cepat saji yang berada tak jauh dari taman. Tapi kelihatannya Lily benar-benar berada dalam mode galau paripurna, pasalnya burger double beef yang biasanya selalu ia lahap dengan sangat bersemangat, kali ini perlu perjuangan baginya untuk menghabiskan makanan tersebut. Begitu pula dengan kentang goreng dan soft drink yang ada di hadapannya. Lily mesti berusaha menikmatinya agar Albern tak kecewa.
"Sudah selesai?" tanya Albern saat Lily sudah selesai makan.
Lily mengangguk, lalu menghabiskan minuman soda miliknya.
"Serius sudah kenyang?" tanya Albern lagi.
Sekali lagi Lily mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang kamu sudah bisa mengatakan apa yang sebelumnya ingin kamu katakan," ujar Albern lagi.
Lily tak langsung menjawab. Gadis itu terdiam selama beberapa saat sembari sedikit menundukkan kepalanya. Baru setelah itu, ia mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Albern dengan lekat.
"Aku menerima tawaran Papa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri," ujar Lily akhirnya dengan nada lirih.
Albern terlihat tenang mendengar penuturan kekasihnya itu. Dia tak terkejut sedikit pun karena sudah menduganya sejak awal. Bahkan dia juga memiliki andil pada keputusan yang Lily buat itu.
"Baguslah" gumam Albern kemudian menanggapi.
Terang saja Lily langsung menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudnya Kak Al bilang baguslah? Kak Al suka kalau aku pergi ke luar negeri?" tanya Lily tak terima.
"Suka tidak suka, aku harus menerima dan mendukung apa yang menjadi keputusanmu. Apalagi jika itu untuk kebaikanmu di masa depan," sahut Albern.
Lily hendak menjawab kata-kata Albern, tapi hal itu urung ia lakukan mulutnya terkatup dan ia kembali menundukkan wajahnya dengan sedih.
"Ini pasti akan terasa sangat berat. Aku tidak tahu akan sanggup atau tidak pergi jauh dari Kak Al dalam waktu yang lama," gumam Lily dengan nada lirih.
__ADS_1
Albern memandang Lily dengan tatapan yang tak kalah sendu. Bukan hanya Lily yang merasa berat. Dia pun sesungguhnya merasakan hal yang sama, bahkan bisa jadi lebih dari itu. Tapi tentu Albern tak bisa menunjukkannya pada Lily agar gadis itu tak menjadi lemah dan membatalkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
"Kamu harus sanggup. Ini adalah jalan kita satu-satunya untuk mendapatkan restu papamu, jadi kamu harus kuat," sahut Albern.
Segera Lily mengangkat wajahnya mendengar apa yang Albern katakan. Lelaki itu terlihat tidak terkejut dan juga tidak sedih mendengar dirinya akan pergi ke luar negeri.
"Kenapa Kak Al tidak ada sedih-sedihnya sama sekali, sih?" protes Lily.
"Kalau aku menunjukkan kesedihanku, itu pasti akan membuatmu menjadi berat untuk melangkah," jawab Albern tenang.
Lily kembali terdiam. Masuk akal juga jawaban yang Albern berikan. Harusnya Lily menerimanya, tapi entah kenapa Lily jadi merasa jika Albern tak terpengaruh sedikit pun dengan rencana kepergiannya seolah hubungan mereka tidaklah berarti apa-apa.
"Jadi kapan kamu akan berangkat?" tanya Albern.
Lily masih bergeming, berkutat pada pikirannya sendiri. Detik berikutnya, ia kembali menatap Albern dalam. tapi kali ini dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku belum memberi tahu Mama dan Papa jika aku setuju kuliah di luar negeri. Tapi jika aku sudah memberi tahu, sepertinya aku akan langsung dikirim ke sana. Papa kelihatannya sudah mempersiapkan semaunya dan hanya tinggal menunggu kesediaanku saja," sahut Lily.
"Kak Al ...." Lily akhirnya memanggil Albern dengan suara yang agak bergetar.
Albern melihat ke arah kekasihnya itu.
"Perasaan Kak Al terhadapku yang belakangan Kak Al akui, benarkah semua itu? Benarkah jika Kak Al mencintaku?" tanya Lily kemudian. Terdengar konyol, tapi sangat ingin ia tanyakan.
Terang saja Albern mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan itu.
"Jawab saja, Kak. Benarkah jika perasaan Kakak padaku bukanlah sebuah perasaan yang semu?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kita sudah sejauh ini, bagaimana kamu masih mempertanyakan perasaanku?" tanya Albern tak mengerti.
__ADS_1
"Sejauh apa? Hubungan kita ini baru saja dimulai dan sekarang kita harus berpisah dalam waktu yang tidak sebentar. Aku takut jika apa yang aku rasakan hanyalah halusinasiku saja. Apa Kak Al sungguh akan menungguku? Apa selama aku pergi Kak Al sungguh tak akan berhubungan dengan perempuan lain dan setia padaku? Bagaimana jika nanti saat aku sedang berjuang mewujudkan apa yang Papaku inginkan, Kak Al malah menikah dengan perempuan lain?" Lily mulai kembali pada mode melownya.
Albern menatap gadis itu sembari menghela nafasnya. Ia tak terlalu menunjukkan bagaimana perasaannya saat ini tak lain karena tak ingin membuat langkah Lily menjadi berat. Jika ingin menuruti hatinya, ingin rasanya ia menahan Lily dan tak melepasnya lagi. Tapi tentu ia tak boleh melakukan itu. Tugasnya di sini adalah membuat Lily yakin akan keputusannya, bukannya malah membuatnya menjadi bimbang.
"Lily." Albern menatap lembut wajah Lily. Dipandangnya gadis itu dengan segenap perasaan yang ada.
"Apa kamu pernah dengar aku berbohong?" tanya Albern.
Lily menggeleng. Albern adalah tipe lelaki yang tak suka membual. Tentu saja apa yang ia katakan selalu bisa dipercaya. Hanya saja, Lily terlalu galau untuk memikirkan itu semua.
"Bukankah aku pernah berjanji padamu jika aku tidak akan menikahi perempuan lain?" tanya Albern lagi.
Kali ini Lily tak menganggapi apa-apa. Ia hanya menundukkan wajahnya.
"Itu bukanlah sekedar bualan, Lily. Itu adalah sebuah janji yang pasti akan aku tepati," ujar Albern lagi.
Lily masih diam dan menunduk semakin dalam. Matanya mulai terasa memanas. Entah apa yang ia rasakan, tapi yang jelas airmatanya terasa benar-benar akan jatuh.
"Dengar, Lily. Jika aku mau menikah dengan perempuan lain, itu sudah lama kulakukan sejak dulu, sejak saat aku belum tahu jika kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Sekarang yang harus kulakukan untuk membawamu menjadi pendamping hidupmu adalah dengan memenangkan hati papamu. Setelah itu, selangkah lagi impianku akan menjadi kenyataan. Apa kamu tahu, aku sudah begitu menyukaimu sejak kamu belum mengerti apa-apa. Tidak mungkin aku menyia-nyiakan penantianku selama ini dengan menikahi perempuan lain." Albern berujar dengan bersungguh-sungguh.
Lily memberanikan diri mengangkat wajahnya. Ditatapnya Albern yang saat ini juga tengah menatapnya dalam.
"Lily, pergilah dengan penuh keyakinan. Belajarlah dengan giat dan berjuanglah untuk meraih apa yang menjadi impianmu. Kembalilah saat kamu sudah berhasil mewujudkan semua itu. Aku akan menunggumu, tak peduli jika itu akan menghabiskan waktu seumur hidupku. Aku akan menunggumu, Lily, meskipun mungkin saja pada akhirnya aku bukan tempatmu kembali, tapi aku akan tetap menunggumu."
Airmata Lily akhirnya jatuh. Gadis itu menunduk sembari terisak lirih.
"Kak Al harus janji!" ujarnya dengan setengah terisak.
"Tentu saja." Albern menjawab dengan mata yang ikut berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung ....