Albern & Lily

Albern & Lily
Tolong Jangan Lupakan Papa ....


__ADS_3

Lily duduk menghadap ke arah cermin dan menatap pantulan diirinya sendiri selama beberapa saat. Saat ini, seorang penata rias telah selesai menyulapnya menjadi pengantin yang menakjubkan. Wajahnya cantiknya tampak semakin memukau dengan riasan flawless. sebuah tiara cantik nan berkilau tampak menghiasi kepalanya. Tubuhnya juga tampak terlihat begitu elegan dengan balutan gaun pengantin yang merupakan gaun pengantin milik nyonya besar Brylee, Ginna.


Awalnya Lily mengira gaun tersebut akan butuh sedikit penyesuaian di tubuhnya, tapi ternyata saat dikenakan gaun tersebut sangat pas, seakan memang dijahit khusus untuk dirinya. Keindahan gaun pengantin itu juga langsung terpancar saat menyatu dengan tubuh Lily, membuat kecantikan Lily terlihat semakin sempurna. Lily tampak menjelma menjadi pengantin perempuan yang begitu sempurna.


"Cantik sekali," gumam Zaya dengan mata yang berkaca-kaca. Perempuan paruh baya itu tampak begitu terharu melihat penampilan Lily saat ini.


"Mama?" Lily menoleh ke arah Zaya yang masuk ke dalam ruangan di mana dia dirias. Zivanna juga terlihat menemani sang mama.


"Tadinya Mama pikir gaunnya perlu sedikit modifikasi, tapi ternyata sangat cocok tanpa sentuhan apapun," ujar Zaya dengan nada terharu.


Lily tersenyum dan sekilas melihat kembali penampilannya di cermin. Benar apa yang dikatakan oleh Zaya. Gaun pengantin milik Ginna memang sangat cocok untuknya.


Zaya mendekati Lily, lalu memeluk pengantin yang akan segera menjadi menantunya itu. Ada banyak emosi yang kini bercampur aduk di dalam hatinya. Antara merasa bahagia, tapi juga merasa sedih karena pernikahan Lily dan Albern yang akan segera dilaksanakan sekarang ini hanya dilakukan dengan sangat sederhana.


Mau tak mau, Zaya jadi teringat saat dulu pertama kali dia menikah dengan Aaron. Mereka hanya menikah dengan dihadiri oleh orang-orang kepercayaan Aaron saja. Bahkan, saat itu kedua orang tua Aaron juga tidak hadir. Acara pernikahan yang seperti itu sungguh sangat tak mengenakkan untuk dikenang. Zaya tak ingin Lily juga mengenang pernikahannya sebagai sesuatu yang tak mengenakkan, meski sudah pasti pernikahan Lily dan Albern diatur dengan jauh lebih baik ketimbang pernikahan Zaya dan Aaron dulu.


Meski bukan sebuah pesta yang megah, tapi setidaknya semua keluarga dan kerabat terdekat Evan dan Carissa datang untuk memberikan doa serta restu mereka untuk Lily. Namun tetap saja, Zaya merasa Lily pasti memiliki sebuah pesta pernikahan impian yang sangat ingin dia wujudkan.


"Lily, Mama benar-benar minta maaf karena kamu harus menikah dengan sangat sederhana. Nanti saat kondisi Grandma sudah jauh lebih baik, kita adakan resepsi dengan pesta yang jauh lebih meriah, ya," ujar Zaya sambil mengurai pelukannya.


Sekali lagi Lily tersenyum.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Mama tidak perlu merasa khawatir. Bagiku yang terpenting adalah aku dan Kak Al akhirnya bisa menikah," sahut Lily.


Zaya menatap Lily dengan penuh rasa haru. Dia sangat tahu jika Lily mewarisi hati yang baik dari kedua orang tuanya.


"Tapi tetap saja Mama berhutang padamu. Momen pernikahan tidak akan terulang ke dua kalinya. Setidaknya, semua orang berharap seperti itu di hari pernikahan mereka. Jadi, kita nanti benar-benar mesti mengadakan resepsi untuk menebus pernikahan sederhana hari ini," ujar Zaya bersikeras.


"Sebenarnya aku benar-benar tidak masalah. Tapi kalau Mama memaksa, apa boleh buat. Mengadakan resepsi setelah kondisi Grandma membaik sepertinya bukan ide yang buruk," ujar Lily akhirmya.


Tatapan Zaya langsung menghangat mendengar jawaban Lily. Rasa bersalahnya juga jadi berkurang banyak. Dia tersenyum sambil menyentuh wajah Lily lembut.


"Terima kasih, Lily. Mama bersyukur sekali kamu yang menjadi pendamping Albern. Mama lega karena Albern akan menghabiskan hidup dengan perempuan yang dia cintai dan mencintainya juga. Mama doakan kalian bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan baik dan menua bersama ...."

__ADS_1


Mata Lily tampak berkaca-kaca mendengarkan doa tulus yang Zaya ucapkan.


"Aku yang harusnya berterima kasih pada Mama karena sudah membolehkan putra Mama yang sempurna itu menikahiku," sahut Lily.


Zaya menatap Lily dengan perasaan yang sulit dijabarkan.


Ah, Lily ... Dia benar-benar terlihat manis dan begitu murni. Zaya bahkan jadi teringat bagaimana wajah bayi Lily saat pertama kali dia melihatnya dulu. Wajah yang rupawan. Bahkan Albern pun langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.


Setelah merasa tak ada lagi yang perlu di sampaikan, Zaya agak sedikit menyingkir. Dia memberikan ruang pada Zivanna yang sejak tadi juga kelihatannya ingin mengatakan sesuatu pada Lily.


"Hai, Kak Zi," sapa Lily pada Zivanna.


Zivanna masih sedikit menunjukkan wajah kesalnya.


"Kamu mau terus memanggilku Kak Zi?" tanya Zivanna.


"Iya, tentu saja. Kak Zi juga bukannya tidak akan sudi memanggilku dengan sebutan kakak ipar, kan?" Lily balik bertanya.


"Sedari kita kecil dulu, aku sadar betul kalau kamu itu sangat menyebalkan. Tapi kenapa aku bisa sangat menyayangimu," gerutu Zivanna sambil memeluk Lily erat.


Lily tertawa dengan mata yang mengembun. Dia juga membalas pelukan Zivanna dengan sama eratnya.


"Aku tahu kalau Kak Zi sangat menyayangiku, makanya Kak Zi tidak bisa marah padaku terlalu lama, Iya, kan?" ejek Lily.


"Dasar," sahut Zivanna.


Lily kembali terkekeh. "Aku juga menyayangi Kak Zi karena aku tahu kalau suatu hari Kak Zi akan menjadi adik iparku."


"Heh?" Zivanna melepaskan pelukannya dan membeliak pada Lily.


Kali ini bukan hanya Lily yang tertawa renyah, tapi Zaya juga. Sampai kemudian, salah seorang bawahan Aaron memberitahukan jika acara pernikahan akan segera dimulai. Bersamaan dengan itu, Evan dan Carissa juga masuk ke dalam ruangan tersebut.


Zaya dan Zivanna pamit keluar lebih dulu, memberikan ruang bagi kedua orang tua Lily tersebut menyampaikan apa saja yang ingin disampaikan pada putri mereka sebelum sang putri benar-benar melangsungkan acara pernikahannya.

__ADS_1


"Ma, Pa," sapa Lily pada mama dan papanya.


Evan dan Carissa tampak menatap ke arah Lily yang tampak begitu cantik, sebelum akhirnya mendekat. Keduanya lalu bergantian memeluk putri mereka itu dengan penuh rasa haru. Rasanya baru kemarin mereka bersuka cita menyambut kelahiran Lily, tapi hari ini mereka harus melepas putri semata wayang mereka itu untuk menjadi milik orang lain.


Carissa bahkan tak kuasa menahan air matanya, meski cepat-cepat dia seka. Dia lalu merangkum wajah Lily dengan kedua tangannya sembari menatap putri semata wayangnya itu dengan segenap perasaan yang ada.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri, Lily. Baik-baiklah. Setelah hari ini, tempatmu pulang bukan rumah Mama dan Papa lagi, tapi rumah suamimu," ujar Carissa dengan suara yang agak bergetar.


"Tidak peduli jika nanti kamu menjadi jauh lebih hebat daripada Albern, kamu harus tetap memperlakukan dia dengan hormat. Tidak ada orang yang harus lebih kamu hargai selain suamimu," tambah Carissa lagi.


Lily mengangguk dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Dihelanya nafas beberapa kali agar airmatanya tak ikut jatuh.


Carissa pun kemudian mundur dan membiarkan Evan untuk menyampaikan sesuatu juga pada Lily.


"Apa sekarang kamu bahagia?" tanya Evan.


Lily mengangguk menjawab pertanyaan papanya itu.


"Baguslah," gumam Evan sambil menipiskan bibirnya. "Papa tidak akan memberikan pesan apapun, karena Papa tahu, sekarang putri Papa ini sudah dewasa dan bisa menilai sendiri apa yang terbaik untuk dirinya. Papa hanya ingin meminta satu hal padamu, Lily. Boleh, kan?"


"Tentu saja boleh. Memangnya Papa mau meminta apa?" tanya Lily sambil ikut tersenyum juga.


Evan tak langsung menjawab. Lelaki itu tampak menghela nafas sejenak sebelum kembali membuka mulutnya.


"Papa hanya ingin meminta agar kamu tidak melupakan Papa. Meskipun nanti Albern membuat hidupmu bahagia lebih dari yang Papa lakukan, tolong jangan lupakan Papa ...."


Bersambung ....


Emak izin dulu ya, gaesss ... mau kejar target dulu di sebelah. Tetiba tadi disuruh kirim naskah sebanyak 60 ribu kata dan deadlinenya rada mepet🄲


Berhubung Emak mengais rejeki di sana, jadi mesti dikerjain dulu. Doakan cepet beres, jadi bisa lanjut menyelesaikan cerita Albern & Lily.


Sehat-sehat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2