Albern & Lily

Albern & Lily
Lamaran Tiba-Tiba


__ADS_3

Masih dengan situasi yang agak canggung, Albern membawa Lily ke ruangan yang mirip ruang keluarga. Di sana terdapat satu set sofa yang bisa digunakan untuk bersantai serta sebuah televisi. Albern duduk di sofa tersebut sambil mengisyaratkan Lily untuk duduk di sampingnya juga.


"Kenapa?" Tanya Albern saat melihat Lily duduk diam di hadapannya.


"Aku hanya merasa canggung karena kita cuma berdua saja," sahut Lily. "Kakak tahu, kan. Lelaki dan perempuan kalau berduaan saja, nanti ada setan yang datang menggoda."


"Ah, iya. Benar juga." Albern terkekeh. "Tapi kamu jangan khawatir. Di sini ada beberapa pelayan."


"Oh ... baguslah," gumam Lily sambil tersenyum dengan agak meringis. Bukan apa-apa, meski sedikit bandel, dia masih takut melakukan hal yang di luar batas dan berpotensi mempermalukan kedua orang tuanya. Lily sangat sadar akan statusnya sebagai anak gadis keluarga baik-baik.


"Lily, bagaimana kalau kita langsung menikah saja?" Tiba-tiba Albern bertanya.


"Heh? Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku belum bisa menikah?" Lily sedikit menautkan kedua alisnya.


"Iya, aku tahu. Tapi siapa tahu saja sekarang kamu berubah pikiran," sahut Albern asal.


Berubah pikiran hanya dalam hitungan menit? Lily hanya menggeleng-geleng saja karena tak habis pikir. Bisa-bisanya sekarang seorang Albern Brylee berpikir tidak rasional.


"Jadi ceritanya Kak Al melamarku?" tanya Lily memancing.


"Aku mengajakmu menikah," ralat Albern.


"Itu namanya melamar."


Albern terdiam sejenak.


"Baiklah, kalau begitu aku melamarmu. Kita langsung menikah saja, ya. Setelah itu, sepertinya aku baru bisa tenang," pinta Albern kemudian.


Terang saja Lily kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kak Al salah minum obat sepertinya, jadi seperti orang mabuk," ujar Lily asal.


"Iya, benar. Mungkin tadi aku salah minum obat. Tapi serius, kamu tidak berubah pikiran? Kamu tidak mau menikah denganku?" Albern kembali bertanya.

__ADS_1


Lily sedikit tertegun sembari bergumam dalam hati.


'Aku bersedia, Kak Al. Sangat bersedia. Tapi semuanya tidak sesederhana itu ...'


"Berhentilah bercanda seperti itu, Kak Al. Tidak lucu. Kak Al tidak berbakat menjadi seorang pelawak." Lily berusaha berseloroh, menutupi perasaannya.


Bagaimana mungkin dia tidak bersedia menikah dengan Albern. Menjadi istri lelaki itu adalah impian terbesar dalam hidup Lily. Tapi tentu semuanya tidak akan semudah itu. Orang tuanya kemungkinan besar tak akan mengizinkannya menikah muda. Mereka bahkan belum tahu jika saat ini Lily menjalin hubungan dengan Albern. Lily saja masih bingung bagaimana harus memberitahukan hubungannya dengan Albern pada kedua orang tuanya, terutama pada Sang Papa yang tak suka jika Lily menjalin hubungan dengan pemuda manapun.


Jangankan meminta restu untuk menikah, meminta restu untuk hubungan penjajakan saja rasanya akan sangat sulit.


Lily menghela nafasnya tanpa sadar.


"Aku tidak sedang bercanda, Lily. Aku benar-benar ingin kita segera menikah. Aku akan menemui Paman Evan dan melamarmu langsung padanya." Albern kembali bergumam. Kali ini terdengar lebih serius.


"Jangan!" Lily berseru tanpa sadar.


Albern tampak menautkan kedua alisnya.


"Kalau Kak Al datang pada Papa sekarang, yang ada aku malah akan dipisahkan dari Kak Al, ujar Lily lirih.


Albern terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas dalam.


"Baiklah," gumam Albern kemudian.


"Lalu apa yang harus kita lakukan agar mendapat restu dari kedua orang tuamu?" tanya Albern lagi.


"Saat ini aku juga belum tahu, tapi aku memikirkan bagaimana caranya untuk mengambil hati Mama dan Papa," jawab Lily.


"Aku rasa kita tidak boleh menyembunyikan hubungan kita lebih lama lagi, Lily. Kita harus memberitahu kedua orang tuamu. Apapun reaksi mereka, itu jauh lebih baik daripada mereka mengetahuinya dari orang lain."


Lily terdiam sebelum akhirnya mengangguk.


"Ya, aku tahu." Lirihnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, perempuan paruh baya yang sebelumnya menyambut kedatangan Lily dan Albern, tampak kembali mendekat dan menunduk hormat pada keduanya.


Lily tersenyum. Dia merasa lega karena akhirnya ada orang lain juga yang datang. Berduaan dengan Albern ternyata tidak seindah yang dia bayangkan. Malah lebih banyak waspadanya.


"Tuan Muda, apa Anda dan Nona akan makan siang disini? Jika iya, saya akan meminta pelayan untuk memasak makanan segera." Ujar Perempuan paruh baya itu lagi. Dia adalah orang yang dipercaya Albern untuk mengurus vila dan laboratorium. Albern biasa memanggilnya Bu Hana.


"Iya." Jawab Albern.


"Boleh saya tahu, Tuan Muda dan Nona ingin makan apa siang ini?" Bu Hana kembali bertanya dengan hormat.


"Siapkan masakan yang berbahan dasar seafood, tapi jika memakai ikan, harus ikan yang sudah difillet sebelumnya." Ujar Albern lagi.


Lily tertegun. Masakan berbahan dasar seafood adalah masakan kesukaannya. Mulai dari cumi, udang, kepiting, kerang dan ikan, entah dimasak dengan cara apapun, Lily menyukai semuanya. Dan untuk ikan fillet, itu pasti berhubungan dengan kejadian dimana Lily pernah tersedak tulang ikan. Kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu, tapi masih terus diingat oleh Albern.


Tanpa sadar bibir Lily menipis membentuk sebuah senyuman. Albern yang selalu datar dan tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun sebelumnya, Lily tak menyangka jika dia bisa bersikap semanis ini.


"Saya harap Anda dan Nona tidak keberatan untuk menunggu terlebih dahulu, Tuan Muda. Karena bahan makanan kita yang tersedia di sini tidak memiliki stok seafood, saya akan meminta salah seorang pelayan untuk membelinya dulu." Sekali lagi suara Bu Hana terdengar.


"Biar kami yang membelinya." Lily bangkit dari duduknya.


Bu Hana terlihat agak terkejut.


"Kak Al, kita saja yang keluar untuk membeli bahan makanan, oke?" Pinta Lily dengan agak bersemangat. Padahal sebenarnya dia ingin menyelamatkan diri dari situasi yang membuat dadanya bergemuruh.


Albern pun langsung bangkit juga dari duduknya.


"Oke." Ujarnya.


Albern langsung mengajak Lily dan berlalu dari hadapan Bu Hana yang masih tampak mematung di tempatnya.


Bersambung...


Kayaknya ketahuan sama Evan seru nih😎

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2