
Lily terkesiap mendengar suara Evan. Ia terdiam dengan wajah yang beruraian airmata.
"Begitu caramu memperlakukan Mamamu, Lily?" tanya Evan sambil menatap putrinya itu nyalang.
Lily balik menatap mata Evan dengan tatapan yang begitu menyayat hati. Dia tidak tahu jika saat ini batin papanya sedang menjerit karena melihatnya memasang ekspresi sedih seperti itu.
"Aku tidak mau pergi ke luar negeri, Pa," ujar Lily dengan nada memohon.
"Katakan alasannya!" pinta Evan dengan tegas.
Lily terdiam dan tak bisa langsung menjawab. Jika ditanya alasan kenapa dia tidak bersedia melanjutkan pendidikan ke luar negeri, jawabannya tentu hanya satu, ia tak mau berjauhan dengan Albern.
"Selain karena kamu tidak mau meninggalkan Albern, katakan alasan kamu tidak mau belajar ke luar negeri," ujar Evan lagi.
"Karena aku masih bisa kuliah di sini. Aku masih bisa meraih cita-citaku dan impianku di sini ..."
"Dengan bayang-bayang Albern?" tanya Evan tajam.
"Apa kamu sanggup hidup selamanya dengan cemoohan semua orang? Apa kamu sanggup berdiri di samping Albern dengan tatapan merendahkan dari orang lain, seakan kamu hanyalah sosok tak berharga yang menumpang hidup padanya? Apa kamu sanggup jika nanti semangatmu mengerdil setiap harinya hingga kemudian kamu hanya akan menjadi boneka pajangan di sisi Albern? Apa kamu sanggup menjalani kehidupan yang seperti itu, Lily? Jika kamu sanggup, pergi dan kejarlah Albern sekarang juga!"
Lily kembali terdiam. Ia ingin membantah, tapi dalam hati dia merasa kata-kata Evan ada benarnya, dan dia merasa agak takut.
"Jika memang menurutmu Mama dan Papa tidak memikirkan kebahagiaanmu, sekarang carilah kebahagiaanmu sendiri. Anggap saja kedua orang tuamu sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Papa!" Tangis Lily kembali pecah. Ia tergugu dengan sangat memilukan. Tubuhnya luruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
"Lily, jangan seperti ini, Sayang. Mama mohon." Carissa bersimpuh di hadapan Lily dan meraih tubuh putrinya itu.
"Yang Papa dan Mamamu inginkan hanyalah sesuatu yang terbaik untukmu, Lily, tapi jika kamu menyalah artikan tujuan kami, Papa bisa apa. Papa tidak akan memaksamu. Hanya saja, jangan pernah mengeluh sedikitpun di masa depan dengan pilihan yang sudah kamu buat."
Lily tak sanggup mengatakan apapun lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis menumpahkan semua perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya saat ini. Di satu sisi, Lily tak ingin kehilangan Albern dan ingin terus bersama lelaki itu, tapi di sisi lain Lily juga tak menampik jika dirinya mungkin tidak akan kuat menghadapi tekanan yang ada jika dia tetap tampil sebagai pasangan Albern dengan keadaannya yang tak memiliki apa-apa seperti sekarang ini.
"Sudah, Lily, sudah, jangan menangis seperti ini," bujuk Carissa sambil memeluk Lily lembut.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Ma? Hiks ... hiks ..." Lily tersedu di pelukan Mamanya.
"Lakukan seperti apa yang Papamu katakan. Kamu tidak akan kehilangan Albern. Jika memang berjodoh, kalian pasti akan dipertemukan dan bersatu kembali," ujar Carissa lembut, berusaha untuk membujuk Lily.
Lily menggelengkan kepalanya. Rasa takut kehilangan yang teramat sangat membuatnya tak bisa berpikir jernih. Dia tidak ingin pergi jauh dari Albern. Dia takut perasaan Albern padanya akan memudar jika mereka berjauhan dalam waktu yang lama. Apalagi Albern banyak dikelilingi oleh para perempuan cantik, Briana contohnya. Saat ada Lily di dekatnya, Albern mungkin tidak akan berpaling. Tapi bagaimana jika Lily pergi jauh dan Albern merasa kesepian? Bukan tidak mungkin Albern akan tergoda pada salah satu perempuan yang gencar mendekatinya, dan Lily akan kehilangan lelaki itu selamanya.
Tidak! Lily tidak mau hal itu sampai terjadi. Dia tak bisa membayangkan jika harus menyaksikan Albern bersama perempuan lain. Lebih baik bertahan dengan semua cemoohan orang-orang daripada harus melepaskan Albern. Ya, lebih baik seperti itu.
"Aku tidak mau pergi ke luar negeri. Pokoknya aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkan Kak Al, Ma. Aku akan kehilangan dia kalau aku pergi. Ada banyak perempuan yang menginginkannya. Aku ingin tetap melanjutkan pendidikanku di sini saja. Tidak masalah jika orang-orang akan merendahkanku. Aku akan menahan apapun asalkan bisa tetap bersama Kak Al ...."
"Dasar bodoh!" Evan tampak geram mendengar penuturan Lily. Dia hanya punya satu putri, dan kini putrinya itu memilih menyerah terhadap mimpi serta cita-citanya hanya karena seorang lelaki.
"Lily, dengarkan Mama, Sayang. Jika Albern memang benar mencintaimu, dia tidak akan pernah tertarik pada godaan perempuan cantik manapun meskipun kamu sedang tidak berada di dekatnya. Apalagi kepergianmu adalah jalan untuk memantaskan diri agar setara berada di sisinya. Mama yakin Albern pasti akan mendukung hal itu." ujar Carissa lagi.
Lily masih tetap menggeleng. Apapun yang dikatakan Mamanya itu, ia tetap tak bisa menggunakan logika karena terlalu tenggelam dalam perasaannya sendiri.
"Aku tidak mau pergi. Aku ingin tetap di sini," ujarnya keras kepala.
"Jangan paksa aku pergi, Pa. Apapun yang terjadi, aku tidak tidak akan pergi. Aku tidak mau meninggalkan Kak Al dengan alasan apapun," ujar Lily lagi dengan lebih tegas.
"Baiklah ..." Gumam Evan. Dia kembali menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Papa lupa kalau sekarang kamu sudah dewasa. Lakukan apapun yang menurutmu benar. Pergilah temui Albern dan jalanilah hidupmu seperti yang kamu inginkan. Tapi ingat, Lily, jangan harap kamu bisa mendapatkan restu dari Mama ataupun Papa." Evan meninggalkan Lily yang termangu di pelukan Carissa.
Carissa hanya bisa menghela nafasnya. Evan tidak pernah semarah ini sebelumnya. Jika Lily masih terus keras kepala, entah apa yang akan terjadi nanti.
Carissa akhirnya membimbing Lily bangkit dan mengantarkan gadis itu menuju kamarnya. Dia meninggalkan Lily merenung sendiri di kamar, memberi waktu untuk putrinya itu agar bisa berpikir dengan jernih.
Selang beberapa jam, Lily masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia berganti pakaian dan berdiri melihat ke arah luar jendela kamarnya. Terlihat suasana luar yang sudah gelap karena malam telah merayap. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
Tak lama kemudian, Lily terlihat menghubungi seseorang dan berbicara selama beberapa saat. Kemudian, ia membuka jendela kamar dan keluar dari kamarnya melalui jendela itu. Ditutupnya kembali jendela kamarnya, lalu ia menyelinap pergi dari rumahnya hingga melewati pos keamanan. Dan akhirnya ia pun berhasil sampai ke pinggir jalan raya.
Lily segera menghentikan sebuah taksi dan pergi ke sebuah tempat.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang dituju, Lily langsung turun dari taksi dan menghampiri orang yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kak Al ..." Lily menyapa orang yang tadi dihubunginya dan dimintanya untuk datang ke tempat mereka bertemu sekarang. Dan orang itu tak lain adalah Albern.
"Lily?" Albern terlihat agak terkejut melihat sosok Lily yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Dia sudah bertanya-tanya kenapa Lily meminta bertemu malam-malam begini. Dan sekarang, gadis yang biasanya sangat ceria itu kini terlihat begitu menyedihkan.
"Kak Al ...." Lily langsung tersedu begitu melihat Albern, hingga Albern semakin terkejut dibuatnya.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Albern cemas.
"Papa ingin aku pergi, Papa tidak mau merestui kita ... hiks ... hiks ..." ujar Lily serak di sela isakannya.
Albern tak tampak terkejut karena memang dia sudah tahu.
"Jangan menangis begini, Lily, pasti akan ada jalan keluarnya," hibur Albern.
Lily menggeleng.
"Bawa aku, Kak. Bawa aku ke suatu tempat dan miliki aku seutuhnya." pinta Lily.
Albern terlihat tak mengerti dengan apa yang Lily ucapkan.
"Kak Al, kita kawin lari saja, lalu buat aku hamil anakmu. Dengan begitu, Papa pasti akan merestui kita."
"Apa?"
bersambung ....
Astoge, Lily ... Hancur sudah dunia persilatan. Untung kamu bukan anak gadisku, kalo iya, tak ikat kamu di pohon rambutan yang banyak semut rangrang-nya😅
Btw, emak baru bikin akun Ig, nih, nama akunnya tiwie_sizo08, bantu follow yak. Rencananya disana emak akan sharing seputar karya2 emak, baik karya yg di NT maupun karya yg di platform lain, entah itu promo, jadwal update, cuplikan part yg di up ataupun jika mungkin ada trouble seperti yg pernah emak alami di NT tempo hari. di sana kita bisa berinteraksi lebih dekat satu sama lain. Bebas mau nanya apa aja, Insya Allah akan emak jawab. Terus sekali2 gantian emak juga yg curcol😅
Ya udah, pokoknya emak tunggu follownya. Yang mau emak follback, tinggal DM emak aja, okehhh?
__ADS_1