Albern & Lily

Albern & Lily
Godaan Junk Food


__ADS_3

Setelah Lily mengakhiri panggilan teleponnya, Albern tampak merebahkan punggungnya di sandaran kursi sembari menghela nafas panjang. Sebenarnya ia sudah menduga jika Lily pada akhirnya akan memutuskan menuruti keinginan papanya. Itulah yang Albern inginkan. Ia bahkan sampai meminta bantuan Zivanna agar pikiran Lily menjadi terbuka. Tapi entah kenapa, setelah mendengar Lily mengatakan sendiri jika dirinya akan pergi, apalagi sambil menangis seperti tadi, rasanya hati Albern menjadi tidak rela. Ia jadi terbayang wajah putus asa Lily tempo hari saat ia menghibur gadis itu di sebuah penginapan.


Ah, kenapa semuanya jadi serumit ini? Jika saja gadis yang Albern sukai itu bukan Lily, putri dari Dokter Evan, sekarang Albern pasti sudah disibukkan dengan rencana pernikahan, karena mereka semua pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi pendamping seorang Albern Brylee.


Ada begitu banyak perempuan yang terang-terangan ingin menjadi pendamping hidupnya, tapi yang Albern inginkan hanya Lily saja. Satu-satunya gadis yang mampu mencuri hatinya. Gadis yang bahkan telah membuat Albern jatuh cinta sejak ia baru lahir dulu. Benar-benar ajaib.


"Dhani, apa setelah meeting nanti ada jeda waktu sebelum aku menghadiri undangan dari klient kita?" tanya Albern kemudian pada asiatennya.


"Ada, Tuan Muda. Sekitar tiga puluh menit," jawab Asisten Dhani.


Albern menghela nafas sejenak. Hari ini dan beberapa hari ke depan jadwalnya memang sangat padat. Dari pagi hingga malam ia harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan yang sudah diagendakan.


"Aku ada perlu sebentar. Bisakah jeda waktu tiga puluh menit itu kamu atur menjadi satu jam?"


"Ya?" Asisten Dhani terlihat agak tidak yakin dengan apa yang didengarnya tadi karena Albern biasanya tidak pernah mengundur waktu meeting.


"Ada yang perlu aku urus dulu. Aku perlu waktu satu jam," ulang Albern.


"Tapi, Tuan Muda …."


"Ini penting!" Albern kembali menegaskan. Asisten Dhani pun tak ada pilihan selain mengiyakan tuannya itu.


Waktu istirahat Albern pun akhirnya selesai. Segera ia bersiap menghadiri meeting dengan seorang klien yang juga sangat penting. Kali ini meetingnya bertempat di sebuah restoran mewah karena bertepatan dengan waktu makan siang.


Satu jam lebih Albern membicarakan kesepakatan dengan kliennya itu, hingga kemudian tercapailah kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Albern memang sangat pandai melakukan hal tersebut sehingga tidak heran jika Brylee Group saat ini selalu berhasil menggandeng partner bisnis yang hebat.


Setelah meeting selesai, Albern pun memilih untuk segera pergi dari tempat itu.


"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Asisten Dhani sambil cepat-cepat menyusul Albern.


"Bukankah sudah aku bilang, ada yang mesti kuurus!" Albern menjawab dengan setengah berseru, hingga Asisten Dhani tak berani bertanya lagi.


"Kamu langsung kembali ke kantor menggunakan taksi, aku mau membawa mobil sendiri," ujar Albern lagi saat menyadari Asisten Dhani mengikutinya.

__ADS_1


"Tapi, Tuan Muda …."


"Tidak usah mendebatku, Dhani, sekarang urus saja agar aku bisa punya waktu satu jam untuk menyelesaikan urusanku."


Asisten Dhani tak berkata-kata lagi. Ia langsung membungkukkan kepalanya dan mengiyakan kata-kata Albern.


Albern menghela nafasnya sejenak, berusaha menenangkan pikirannya yang sedikit kacau karena mendengar suara tangisan Lily tadi. Setelah dirasanya lebih baik, lelaki itu pun melanjutkan langkahnya menuju ke arah mobilnya yang terparkir, lalu mengendarai kendaraan itu membelah jalanan kota. 


Di perjalanan, Albern segera menghubungi Lily untuk menanyakan di mana gadis itu berada saat ini. Dan seperti dugaan Albern, gadis itu belum pulang ke rumah. Ia masih berada di taman kota yang terletak di dekat kampusnya saat Albern bertanya ia sedang di mana. Masih di posisi yang sama saat ia menelepon Albern beberapa waktu yang lalu.


Segera Albern mengarahkan mobil yang dikendarainya menuju tempat itu. Tak butuh waktu terlalu lama, akhirnya Albern pun sampai dan menepikan mobilnya. Ia turun dari mobil sembari menyapu pandangan sekelilingnya, mencari sosok Lily. Tak sulit menemukan gadis itu. Sosoknya yang kontras dengan tampilan orang lain karena wajah cantiknya yang mencolok, membuat Lily bisa ditemukan dengan mudah.


Sambil memghembuskan nafas kasar, Albern segera mendekati gadis itu. Untung saja tak ada yang berniat jahat pada Lily. Jika tidak, gadis itu pasti sudah menjadi sasaran empuk para penjahat karena melamun sendirian di bangku taman, terlihat sangat lalai dan menggiurkan. 


"Lily." Albern memanggil gadis itu saat berada tepat di hadapannya. 


Tentu saja lamunan Lily langsung buyar. Ia mengangkat wajahnya dan seketika tersenyum senang saat menyadari lelaki yang sangat ia rindukan itu kini berada di hadapannya.


"Kak Al." Lily bangkit sembari berusaha untuk tersenyum ke arah Albern.


Lily tak menjawab. Tentu saja dia habis menangis. Bukankah Albern sendiri juga mendengar suara tangisan Lily saat bocah itu meneleponnya?


"Ayo, aku antar pulang," ajak Albern kemudian.


"Tidak mau." Cepat Lily menjawab.


Albern sedikit menghela nafasnya. Ia tahu jika saat ini Lily sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu mau terus berada di sini?" tanya Albern. "Kamu tidak sadar kalau kamu bisa saja jadi korban kejahatan karena duduk sendirian di sini."


Lily sedikit celingukan. Dia baru menyadari jika suasana taman cukup sepi sehingga mungkin saja ada orang yang berniat tsn baik padanya. Karena terlalu galau, dia tak berpikir sampai ke sana.


"Kamu sudah makan?" tanya Albern kemudian.

__ADS_1


Lily menggeleng. "Aku tidak lapar," jawabnya lirih sambil membuang muka ke arah lain.


"Astaga, Lily. Ini sudah sore, kenapa kamu belum makan? Kemana memangnya Zivanna dan Darrel? Kenapa mereka tidak ada bersamamu?" Albern terlihat khawatir 


"Mereka pergi ke toko buku. Aku yang tidak mau ikut mereka karena ingin sendirian," jawab Lily.


"Kalau begitu, sekarang kita cari makanan," ajak Albern.


"Tidak mau. Aku tidak lapar. Kak Al pikir aku bisa menelan makanan dalam keadaan seperti ini?"


Albern kembali mendesah.


"Tentu saja kamu harus makan dalam keadaan apa pun, Lily. Kalau tidak, nanti kamu bisa sakit."


"Tapi aku tidak lapar. Bagaimana mau makan kalau aku tidak bisa merasakan lapar." Lily bersikeras.


Albern terdiam sesaat. Ia sangat tahu jika Lily adalah gadis yang keras kepala dan hanya akan melakukan sesuatu jika memang dia ingin lakukan saja. 


"Aku baru ingat. Tidak jauh dari sini sepertinya ada restoran seafood," gumam Albern seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Lily terlihat tak tertarik biarpun seafood adalah makanan kesukaannya.


"Ah, iya, di dekat sini juga ada kedai burger. Sepertinya enak kalau sore-sore begini makan burger spesial dengan double beef dan ekstra keju. Apalagi kalau pesan minuman jumbo dan es krim vanila," ujar Albern lagi.


Seketika Lily menoleh dan menatap Albern dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. 


Kruukk krruuukkk krrruuukkk ...  


Albern dan Lily saling pandang saat mendengar suara jeritan panjang dari perut seseorang. Wajah Lily kembali memerah dengan mata yang sedikit melebar. Tampaknya kesedihan gadis tak berpengaruh sedikit pun di hadapan burger dengan double beef. Lily mungkin tak berselera dengan seafood, tapi ia tak kuasa menahan godaan junk food.


Bersambung ....


Buat yg kemaren nungguin emak double update, mohon maaf, emaknya ketiduran🤧 dahlah, sekarang ga mau janji mau up kapan, takut ga kesampean lagi. Pokoknya cerita ini bakal lanjut sampe end, Insya Allah, walau pun upnya ga menentu.

__ADS_1


Btw, selamat tahun baru, semuanya. Kayaknya namatin Albern Lily bakal jadi salah satu resolusi tahun ini. Semoga terealisasikan.


__ADS_2