Albern & Lily

Albern & Lily
Tak Bisa Lagi Memendam


__ADS_3

Mata Albern membulat sempurna dengan wajah yang tampak mengeras. Jika saja akal sehatnya tidak ia pakai saat ini, sudah bisa dipastikan jika pemuda yang saat ini tengah berlutut dihadapan Lily itu sudah diseretnya tanpa ampun.


Albern sangat ingin menghajar pemuda itu hingga kedua tangannya mengepal tanpa sadar. Tapi jika dia melakukannya, Lily mungkin akan terkejut dan ketakutan. Albern tidak ingin hal itu terjadi hingga yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah mematung sambil menunggu bagaimana tanggapan Lily terhadap pernyataan cinta dari pemuda tersebut.


Lily masih terdiam. Bola matanya tampak bergerak kesana- kemari sambil sesekali berkedip. Tampaknya dia sedang bingung harus menanggapi pemuda itu seperti apa.


Jantung Albern berdegup semakin kencang saat Lily tersenyum pada pemuda itu, kemudian mengambil bunga yang di sodorkan padanya. Albern semakin mengeratkan kepalan tangannya dengan nafas yang mulai tersengal. Dadanya tampak naik turun, menahan hasrat ingin membunuh yang saat ini muncul dari dalam dirinya. Jika sampai Lily berani menerima pemuda itu menjadi pacarnya, Albern bersumpah akan melempar pemuda itu ke tengah lautan dengan kedua tangannya sendiri.


"Terima kasih bunganya, ini cantik sekali." Ujar Lily sambil menghirup aroma bunga yang diberikan oleh pemuda itu.


Sontak wajah pemuda tersebut berbinar. Dengan tersenyum lebar, dia bangkit dari posisi berlututnya.


"Lily, apa itu artinya kamu bersedia jadi pacarku?" Tanya pemuda itu penuh harap.


Lily kembali tersenyum.


"Maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu. Aku tidak boleh berpacaran. Papaku akan mengamuk kalau tahu aku punya pacar." Jawab Lily. Alibi yang selalu dia gunakan saat ada yang menyatakan cinta padanya.


Tentu saja setiap pemuda yang mendengar alasan itu merasa jika Lily hanya sedang mengarang, meski kenyataannya Lily memang mengatakan yang sebenarnya. Tapi tentu saja itu hanyalah alasan pendukung, dan alasan utama ia tak menerima setiap pemuda yang menyatakan perasaan padanya adalah karena di dalam hatinya telah di penuhi oleh satu nama. Nama dari seseorang yang kini tengah memandang kearah Lily dengan perasaan yang tak menentu.


Pemuda tadi tampak menatap Lily dengan tatapan yang agak memelas.


"Lily, aku akan menghadapi Papamu dan meyakinkan beliau jika aku serius mencintaimu." Ujar pemuda itu lagi.


Lily tampak menghela nafasnya.


"Tolong jangan bersikeras seperti ini. Kamu tidak tahu Papaku seperti apa. Aku tidak ingin kamu sampai kehilangan nyawamu." Kali ini Lily mulai melebih-lebihkan. Entah bagaimana reaksi Dokter Evan saat tahu putrinya sendiri menggambarkan seolah dirinya pembunuh berdarah dingin.


"Aku tidak keberatan jika harus kehilangan nyawa untukmu, Lily. Asalkan kamu mau menerimaku, aku rela mengorbankan segalanya. Bahkan nyawaku sekalipun." Ujar pemuda itu lagi dengan penuh keyakinan.


Lily agak terperangah dibuatnya. Bagaimana bisa pemuda di hadapannya ini berbicara soal mengorbankan nyawa dengan mudahnya.


"Lily, aku mohon padamu. Setidaknya berikan kesempatan padaku untuk membuktikan jika aku memang bersungguh-sungguh. Aku benar- benar mencintaimu, Lily."

__ADS_1


Lily tertegun tanpa bisa berkata-kata. Melihat raut wajah pemuda itu yang begitu memelas, Lily jadi merasa tidak tega. Jelas terlihat jika apa dikatakan pemuda tersebut memang berasal dari hatinya.


"Aku..." Lily baru akan kembali mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba ada yang menariknya.


Lily terkejut bukan kepalang saat menyadari Albernlah yang saat ini sedang melakukan itu. Lelaki itu juga melihat ke arah pemuda yang menyatakan perasaannya tadi. Seketika Lily terkesiap begitu melihat raut marah Albern.


"Apa kau tidak dengar jika dia tidak mau menjadi pacarmu?" tanya Albern pada pemuda tersebut.


"Anda siapa?" Pemuda itu malah bertanya.


Albern hanya menjawab dengan tatapan matanya yang tajam. Sementara wajah pemuda itu tampak berubah karena terlihat menyadari sesuatu.


"Anda Papanya Lily?" Tanya pemuda itu kemudian.


Sontak mata Lily dan Albern membeliak secara bersamaan. Wajar jika pemuda itu tidak mengenali sosok Albern Brylee yang kini tengah berada di hadapannya karena memang dia belum pernah bertemu Albern sebelumnya. Tapi bagaimana bisa dia menganggap Albern sebagai Papanya Lily. Memangnya dia terlihat setua itu apa?


"Paman, perkenalkan, saya Rama. Saya sudah menyukai putri Anda sejak lama. Tolong izinkan saya menjalin hubungan dengan putri Anda. Saya berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati saya." Pemuda bernama Rama itu berbicara seolah Albern adalah Papa Lily.


"Dasar bocah gila..." Albern menggeram sambil menatap tajam ke arah Rama.


"Pergilah, sebelum aku semakin marah dan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri." Ujar Albern lagi dengan bersungguh-sungguh.


Lily kembali terkesiap. Jika dilihat dari cara bicaranya, jelas terlihat lelaki itu benar-benar sedang marah. Mungkin karena Rama yang salah mengira Albern adalah Papanya.


"Tapi, Paman..."


"Pergi kataku! Atau kau benar-benar ingin aku lenyapkan dari muka bumi ini, hah?" Albern menarik lengan baju Lily dan mengajaknya menjauh dari situ.


"Paman..." Rama terlihat mengikuti Albern.


Albern menghentikan langkahnya, lalu berbalik kearah Rama. Dilepasnya Lily sejenak, lalu dicengkramnya kerah baju Rama sambil mengangkat sedikit tubuh pemuda itu.


"Pa-paman...turunkan saya..." Rama berbicara dengan suara tercekik.

__ADS_1


"Jangan pernah berani mendekati Lily lagi jika kau masih ingin bernafas. Dan berhentilah memanggilku Paman. Aku bukan pamanmu." Albern menghempaskan tubuh Rama hingga pemuda malang itu jatuh tersungkur.


Lily agak terkejut melihat apa yang Albern lakukan pada Rama. Selama ini dia tidak pernah Lily melihat Albern bertindak kasar meski sedang marah. Meski tak jarang terlihat dingin, tapi Albern adalah lelaki paling santun dan paling elegan yang pernah Lily kenal.


Melihat Rama yang meringis kesakitan, Lily segera mendekati pemuda itu dan berniat membantunya. Tapi kemudian Lily merasakan ada yang menahannya.


"Tidak perlu membantunya. Dia bisa bangkit sendiri. Jika seperti itu saja sudah tidak bisa berjalan lagi, lebih baik setelah ini dia mengganti kelaminnya menjadi perempuan." Albern menarik Lily menjauh dari Rama.


"Hei, perempuan juga tidak selemah itu." Ralat Lily tak terima.


Lily mengikuti langkah Albern dengan setengah berlari. Kemudian dia menoleh kearah Rama dan menatap pemuda itu dengan raut wajah menyesal.


Albern berhenti didekat mobil miliknya, lalu membuka pintu mobil.


"Masuk." Ujar Albern.


Lily menuruti kata-kata Albern meski dengan raut wajah yang sedikit bingung.


Albern juga masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi. Tak lama kemudian, dia melajukan mobilnya menjauh dari area kampus.


Diperjalanan Albern menghubungi asistennya yang tadi dia tinggalkan. Dia memerintahkan bawahannya itu untuk kembali ke kantor dengan menggunakan taksi. Setelah itu, suasana pun kembali hening. Albern kembali fokus menyetir tanpa mengatakan apapun.


Lily memberanikan diri untuk menoleh dan melihat kearah Albern. Jelas terlihat jika Albern berada dalam mood yang kurang baik, dan Lily tidak tahu pasti apa yang membuat lelaki ini benar-benar marah.


"Kak Al..." Lily akhirnya memanggil Albern.


Albern menoleh sekilas. Wajah Lily terlihat bertanya-tanya. Mungkin gadis itu merasa bingung mau dibawa kemana oleh Albern. Dan sebenarnya Albern sendiri tidak tahu mau membawa Lily pergi kemana. Dia hanya ingin menjauhkan Lily dari pemuda tadi karena tak rela jika Lily sampai menerima pernyataan cintanya. Dan tampaknya Albern juga harus segera menjadikan Lily sebagai miliknya agar tidak didahului oleh orang lain.


Bersambung...


Kmren niatnya mau up satu lagi, tapi mata udah nggak kuat, maaf yak.


Happy reading❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2