
Albern melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Senyumnya mengembang bersamaan dengan perasaannya yang juga ikut berbunga.
Lily menoleh ke arah Albern. Gadis itu juga ikut tersenyum. Mereka saling memandang sejenak sebelum kemudian sama-sama menatap lurus ke depan. Meski tanpa kata dan sentuhan, tapi rasa syahdu itu begitu terasa.
"Apa Kak Al berniat menghabiskan bensin saja tanpa tahu mau kemana?" Tanya Lily kemudian, saat Albern tak juga menepikan mobilnya ke suatu tempat.
Albern tertawa kecil.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Tidak lama lagi kita sampai." Jawabnya kemudian sambil menoleh sekilas pada Lily.
"Tempat apa?" Tanya Lily lagi.
"Nanti kamu akan tahu saat kita sampai." Jawab Albern.
Lily diam dan tidak bertanya lagi. Sekali lagi dia yang menoleh ke arah Albern. Diperhatikannya Albern yang tengah fokus menyetir dengan perasaan bahagia tak terlukiskan. Rasanya masih belum bisa dipercaya jika lelaki ini sekarang adalah calon suami masa depannya, dan saat ini mereka sedang jalan bersama dalam rangka menata masa depan. Entah masa depan yang seperti apa, masih belum bisa dipastikan juga.
"Kenapa?" Pertanyaan Albern membuyarkan isi kepala Lily tentang lelaki itu.
Lily tampak sedikit tergagap.
"Kenapa kamu terus melihatku seperti itu?" Tanya Albern lagi.
"Memangnya aku melihat Kak Al seperti apa?" Lily balik bertanya.
"Seperti mau menelanku bulat-bulat." Albern sedikit berseloroh untuk sedikit mengurangi debaran di dadanya saat ini.
"Masa?" Lily terlihat agak terkejut dan sedikit membeliakkan matanya. Buru-buru dia membuang pandangannya kearah lain.
"Dasar mata nakal tidak tahu diri, bisa-bisanya melihat orang dengan tidak sopan begitu." Lily menepuk-nepuk matanya yang terpejam sambil sedikit mengerutkan keningnya.
Terang saja Albern agak terkejut dengan apa yang Lily lakukan.
"Hei, hei, apa yang kamu lakukan? Matamu bisa sakit." Albern mengisyaratkan agar Lily menghentikan tindakannya.
Lily pun berhenti menepuk-nepuk matanya.
"Aku tadi cuma bercanda." Tambah Albern lagi.
Lily tertegun sejenak, sedangkan Albern tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kemari." Albern meminta Lily untuk mendekat, lalu memperhatikan wajah Lily.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu memukuli matamu sendiri seperti itu?" tanya Albern dengan wajah sedikit panik.
Memukuli?
Lily sedikit tertegun mendengar kata-kata Albern yang tampak sedikit berlebihan itu. Dan dadanya seketika berdesir hebat saat Albern meniup satu persatu matanya. Sebenarnya tindakan Albern biasa saja, tapi Lily sudah terlanjur panas dingin.
Suasana hening sejenak setelahnya, tapi kemudian.
"Kruukkk ... kruukk ...." Terdengar suara perut seseorang menjerit karena belum diisi.
Mata Lily membeliak sempurna bersamaan dengan Albern yang juga langsung beringsut menjauh dari Lily. Dengan tersenyum agak meringis, Lily memegangi perutnya yang tadi protes meminta makan.
"Kamu lapar?" tanya Albern sambil sedikit menautkan kedua alisnya.
"Maaf, Kak Al, tadi karena terlalu bersemangat, aku sampai tidak sempat sarapan. Aku bilang pada Mama dan Papaku kalau sarapannya nanti sama Kak Zi dan Darrel saja." Lily menjawab dengan sedikit menundukkan kepalanya. Seumur hidup Lily, baru kali ini dia merasa malu di hadapan Albern.
"Kenapa tidak bilang? Kalau tahu begitu, tadi kita langsung cari sarapan dulu," ujar Albern lagi.
Lily tak menjawab karena terlanjur malu. Dalam hati dia merutuki perutnya sendiri. Bisa-bisanya perutnya itu berbunyi nyaring saat suasana sedang seperti tadi. Hilang sudah memon syahdu yang sudah dia impikan sejak lama. Dan yang terpenting, jatuh sudah harga dirinya sebagai seorang gadis.
Benar-benar menyebalkan.
Lily melirik lelaki itu sekilas.
"Terserah Kak Al saja, kebetulan aku pemakan segala," jawab Lily.
Albern menahan tawanya. Sebenarnya dia tidak terlalu terkejut dengan berbagai kalimat ajaib yang diucapkan Lily, karena Albern sudah terbiasa mendengar itu sejak Lily kecil. Tapi yang agak membuat sedikit berbeda, sekarang adalah kencan mereka. Mungkinkah hari ini juga akan berakhir dengan perut kram menahan tawa, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya saat Albern berada di dekat Lily?
"Kalau tidak salah di depan ada toko burger. Kamu mau?" tanya Albern sambil kembali melajukan mobilnya.
Lily hanya mengangguk. Meski masih agak kesal pada perutnya sendiri, dalam hati dia bersorak senang karena Albern menawarinya makan burger. Entah sudah berapa abad dia tidak menikmati makanan itu.
Albern tersenyum. Dia tahu jika Lily sangat menyukai burger sejak kecil. Tapi berhubung Papa Lily sering melarangnya memakan makanan cepat saji untuk alasan kesehatan, Lily jadi perlahan tak pernah menyentuhnya lagi.
Tak lama kemudian, Albern menepikan kembali mobilnya di depan sebuah kedai burger berlogo mahkota raja.
"Ikut ke dalam atau tunggu di sini?" tanya Albern sambil membuka sabuk pengamannya.
"Tunggu di sini saja." Jawab Lily.
"Baiklah, kamu mau burger apa?" Tanya Albern lagi.
__ADS_1
"Apa saja."
Albern agak tertegun sejenak, sedikit bingung dengan definisi apa saja yang dikatakan Lily barusan.
"Tapi cheese burger dengan double beef sepertinya enak." Ujar Lily tiba-tiba saat Albern membuka pintu mobil.
"Oke." Gumam Albern setelah terdiam beberapa saat. Lelaki itu hendak turun dari mobilnya saat Lily kembali berbicara.
"Apalagi kalau ditambah dengan eksra kentang goreng, dan minuman soda ukuran jumbo."
Albern kembali tertegun sebelum akhirnya mengiyakan yang diinginkan Lily tadi.
"Tapi ..." Lily kembali bersuara hingga Albern mengurungkan langkahnya dan kembali menoleh kearah gadis itu.
"Es krim cone vanilla-nya bakal protes kalau tidak di pesan juga, Kak Al. Kasihan..."
Albern sedikit terpaku sambil memandang kearah gadis dihadapannya itu. Sedangkan Lily tampak mengulas senyum manisnya tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Jadi, cheese burger dengan double beef, ekstra kentang goreng, minuman soda ukuran jumbo dan es krim cone vanilla. Ada lagi?" Albern bertanya dengan sabar seolah dia sedang berhadapan dengan seorang gadis kecil.
"Kalau Kak Al tidak keberatan, itu saja."
Albern memandang kearah Lily, sebelum akhirnya berbalik badan dan berlalu dari hadapan gadis itu. Tak lama kemudian, lelaki itu kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa semua yang Lily pesan tadi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Albern Brylee, direktur utama dari sebuah perusahaan besar, membelikan seorang gadis makanan di pinggir jalan dengan kedua tangannya sendiri.
"Wooaaahhh...." Lily begitu takjub saat menerima burger beserta teman-temannya dari tangan Albern, seolah baru saja mendapatkan harta karun.
Langsung saja Lily membuka pembungkus burger itu, lalu menggigitnya dengan nikmat.
"Sayang ... akhirnya kami datang juga setelah sekian lama." Gumam Lily pada burger dengan ukuran cukup besar itu.
Sekali lagi Albern tertegun. Kali ini sambil menatap Lily nyaris tak berkedip. Tiba-tiba suasana kebersamaan mereka menjadi agak sedikit berbeda. Entah kenapa, sekarang Albern merasa seperti seorang paman yang sedang mengajak jalan-jalan keponakannya.
Kebersamaan yang sudah tak sabar Albern nantikan sejak semalam, ternyata tak seindah ekspektasi.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1