Albern & Lily

Albern & Lily
Romansa Darrel dan Zivanna


__ADS_3

Darrel masih terkejut dengan pukulan tak terduga dari Zivanna. Tapi belum sempat dia protes, gadis itu sudah bangkit dan meninggalkannya dengan memperlihatkan kekesalan yang sangat ketara.


"Zi." Darrel buru-buru ikut bangkit dan menyusul Zivanna.


"Zi, tunggu!" panggil Darrel lagi saat Zivanna tak menggubris panggilannya.


Zivanna terus melangkah tanpa menghiraukan panggilan Darrel. Dia kesal. Bahkan setelah mereka menjalin hubungan pun Darrel tetap menunjukkan reaksi datar, seakan tak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Terkadang dia merasa tak ada arti apa-apa untuk pemuda itu. Entah keputusannya yang menjadikan Darrel calon suami masa depannya apakah sudah benar atau justru salah.


"Zi, kamu kenapa, sih?" Darrel akhirnya berhasil menyusul dan meraih ujung lengan baju Zivanna.


Sontak Zivanna menoleh dan melotot pada pemuda itu.


"Lepas!" sergahnya galak.


Darrel menautkan kedua alisnya. Ia agak heran pada sikap Zivanna yang menurutnya agak aneh hari ini. Darrel tidak tahu jika ini adalah puncak kekesalan Zivanna setelah banyak hal-hal kecil yang berusaha ditahannya selama ini.


"Kalau kamu mau kuliah di luar negeri, pergi sana! Awas saja kalau masih menunjukkan wajahmu di hadapanku!" seru Zivanna lagi dengan marah.


Darrel semakin bingung dibuatnya.


"Kalau kamu mau menjalin hubungan dengan gadis lain juga silahkan. Pilih sebanyak yang kamu suka! Kamu pikir cuma kamu yang bisa begitu? Aku juga bisa. Lihat saja, aku bakal mendapatkan sepuluh pemuda sekaligus!" Nafas Zivanna agak memburu karena menahan gejolak emosi.


Terang saja Darrel semakin tak mengerti. Pemuda itu bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu bicara apa, sih, dari tadi? Siapa juga yang mau kuliah di luar negeri?" gumamnya heran.


Zivanna melihat ke arah Darrel sekilas, sebelum akhirnya membuang muka sambil mendengkus sebal.


"Tadi kamu yang bilang, kan?" gumam Zivanna akhirnya.


"Kamu tanya tadi seandainya orang tuaku menginginkan ku kuliah di luar negeri. Tapi kan orang tuaku tidak menginginkan hal itu, yang artinya aku akan tetap di sini," kilah Darrel.


Sekali lagi Zivanna membuang nafas kasar.


"Bukan itu masalahnya, Darrel!" serunya lagi.

__ADS_1


"Lalu apa?" Darrel bertanya dengan polosnya.


"Kamu menyanggupi hal itu dengan mudah seakan aku ini tidak berarti apa-apa bagimu," ujar Zivanna dengan nada suara yang lebih rendah dan terdengar sendu.


"Apa hubungannya kuliah di luar negeri dengan arti dirimu buatku?"


"Darrel, kalau aku memang penting, setidaknya kamu merasa sedih karena harus berpisah denganku dalam waktu yang cukup lama," rajuk Zivanna.


"Kan aku sudah bilang, kita masih bisa chatting atau video call," sahut Darrel.


Zivanna hampir kehilangan kata-kata dibuatnya.


"Tapi kamu menjawab tidak tahu saat aku tanya kamu akan menyukai gadis lain atau tidak."


Darrel tampak berpikir, berusaha dengan keras mencari letak kesalahan dari kata-katanya itu.


"Aku memang tidak tahu. Memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Aku 'kan bukan cenayang, peramal atau sejenisnya, makanya aku jawab tidak tahu," ujar Darrel akhirmya, mencoba menjawab dengan jawaban yang selogis mungkin agar Zivanna bisa memahaminya.


Bukannya membaik, ekspresi wajah Zivanna justru semakin memburuk.


Darrel melongo keheranan, sebelum akhirnya dia tersadar jika Zivanna telah pergi jauh dari hadapannya. Cepat-cepat Darrel menyusul meski saat ini Zivanna tak terlihat lagi di pandangan matanya.


Sembari celingukan mencari keberadaan Zivanna, Darrel tak henti-hentinya berpikir tentang apakah kiranya yang membuat gadis itu marah padanya seperti ini. Mungkinkah Zivanna marah karena jawaban tidak tahu yang keluar dari mulut Darrel saat ia bertanya prihal tentang akankah Darrel menyukai gadis lain? Memang jawaban macam apa yang Zivanna harapkan? Bukankah Darrel memang tidak tahu, dan itu adalah jawaban paling jujur dari dasar hatinya yang terdalam?


Lagipula siapa di dunia ini yang bisa menjamin hal apa yang bisa terjadi di masa depan. Darrel sendiri masih tidak menyangka jika saat ini dia menjalin hubungan dengan Zivanna, temannya sejak kecil yang dipercayakan untuk ia jaga. Bukankah kenyataan itu luput dari perkiraan Darrel, yang artinya dia memang tidak tahu apa-apa tentang yang akan terjadi di masa depan?


Huft ... Darrel menghela nafasnya. Dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa untuk membujuk Zivanna. Sebelumnya Darrel mengenal Zivanna sebagai sosok gadis anggun namun memiliki pembawaan yang sederhana. Meski terlahir dari keluarga kaya raya, gadis itu tidak memilih gaya hidup glamour untuk kesehariannya. Dia berpenampilan rapi namun seadanya. Ia juga sebenarnya tak memilih-milih dalam berteman. Hanya saja, statusnya sebagai nona muda keluarga Brylee membuat banyak orang mendekatinya hanya untuk kepentingan tertentu semata, hingga akhirnya dia menarik diri dari lingkar pertemanan yang tak sehat itu, dan hanya memiliki Lily serta Darrel sebagai sahabat.


Zivanna tidak terlalu ceria seperti Lily, tapi dia juga menyenangkan. Dan yang pasti, Darrel merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Sosoknya yang anggun membuat Darrel kagum sekaligus terpesona. Meski tentu awalnya Darrel tak pernah berpikir untuk membawa hubungan mereka pada tahap seperti sekarang.


Dan kini, kemarahan Zivanna yang tak pernah Darrel hadapi sebelumnya benar-benar membuat pemuda ini kelimpungan. Dia bingung harus membujuk Zivanna dengan cara seperti apa.


"Zi?" Darrel bergumam tanpa sadar saat mendapati Zivanna tengah duduk di bawah sebatang pohon sembari menatap lurus ke depan.


Zivanna tak merespon. Sedangkan Darrel semakin terkejut saat melihat dengan seksama, Zivanna duduk di atas rerumputan tanpa dialasi dengan apapun.

__ADS_1


"Zi, kenapa duduk di sini?" tanya Darrel khawatir. Zivanna adalah sosok yang suka dengan kebersihan. Tak pernah sebelumnya gadis itu duduk sembarangan seperti ini.


"Darrel, sebenarnya bagimu aku ini apa?" tiba-tiba Zivanna bertanya juga.


Darrel tertegun sesaat, sebelum akhirnya ia ikut duduk juga di samping Zivanna.


"Jawab Darrel, supaya aku tidak salah memahami arti diriku di matamu," pinta Zivanna dengan nada mendesak.


Darrel menghela nafasnya sejenak.


"Tentu saja kamu orang yang penting, Zi. Kamu sahabatku, dan sekarang kamu juga orang yang suatu hari nanti akan aku nikahi. Bukankah itu sudah jelas?"


Zivanna terlihat tidak terlalu puas mendengar jawaban dari Darrel.


"Kamu menjalin hubungan denganku hanya karena tidak mau kedua orang tuamu dipecat saja, kan? Kamu sebenarnya terpaksa melakukan itu ...." Zivanna mulai terlihat emosional lagi.


"Berhentilah berpikiran yang aneh-aneh, Zi." Darrel menyahuti dengan agak tak terima.


Zivanna menoleh ke arah Darrel, lalu menghela nafasnya.


"Pergilah, Darrel. Aku sedang ingin sendiri," gumamnya lirih.


Darrel tak menuruti kata-kata Zivanna.


"Aku bilang pergi!" sergah Zivanna lagi dengan marah.


Bukannya pergi, Darrel malah mengacak-acak rambut Zivanna.


"Darrel! Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Zivanna semakin marah.


Darrel hanya bisa tersenyum meringis sembari menarik kembali tangannya.


"Maaf, Zi. Aku hanya ingin membuatmu tidak marah lagi. Ini biasanya yang dilakukan oleh Papaku saat Mamaku marah."


?????

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2