Albern & Lily

Albern & Lily
Bayangan Mengerikan yang Membuat Salah Paham


__ADS_3

Setelah dari kantin, Zivanna dan Lily memutuskan untuk menyusul Darrel ke perpustakaan. Mereka ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Darrel hingga sikapnya berubah aneh. Tapi lagi-lagi pemuda itu acuh saat di tanya. Dia bahkan terlihat fokus pada buku yang di bacanya. Tak terlalu menanggapi pertanyaan Zivanna maupun Lily.


Karena Darrel tak juga menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Zivanna dan Lily pun merasa sedikit kesal pada Darrel. Ini kali pertama Darrel bersikap agak keras kepala. Kedua gadis itu sampai bingung mau menanggapi sikap tak biasa Darrel ini seperti apa.


Lily akhirnya memilih pergi dari perpustakaan karena ada kelas yang harus diikutinya. Ia meninggalkan Darrel dan Zivanna berdua, berharap pemuda itu mau menceritakan apa yang sebenarnya mengganjal di hatinya pada Zivanna saat dia tak ada.


Dan sepeninggalan Lily, Zivanna dan Darrel pun hening selama beberapa saat.


"Darrel." Zivanna memecah keheningan setelah sekian lama mereka sama-sama tak bersuara.


"Hmm..." Darrel menanggapi tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada buku yang dibacanya.


"Darrel." Ulang Zivanna lagi dengan nada yang lebih tinggi. Dia kesal karena Darrel mulai mengabaikannya juga."


"Ssstt..." Darrel menoleh cepat sambil mengisyaratkan Zivanna untuk diam.


"Jangan berisik, ini perpustakaan." Ujar Darrel dengan nada rendah.


"Ish..." Zivanna mencebik sambil melihat kearah Darrel dengan tidak senang.


"Kamu ini sebenarnya kenapa, sih?" Tanya Zivanna kemudian dengan nada suara yang dibuat serendah mungkin, bahkan nyaris berbisik.


Darrel sedikit bergidik saat merasakan Zivanna berbicara persis di telinganya, membuat tubuhnya meremang tanpa sadar.


Sontak Darrel mengusap-usap telinganya yang terasa geli karena mendapat bisikan Zivanna tadi.


"Ck." Pemuda itu berdecak sambil menutup buku yang dibacanya. Lalu bangkit dan berjalan menuju rak buku tempatnya mengambil buku tadi.


Mengira Darrel akan kabur darinya begitu saja, Zivanna pun tak tinggal diam. Dia juga bangkit dari duduknya dan mengikuti pemuda itu.


"Darrel." Zivanna meraih tangan Darrel tepat di saat Darrel menaruh kembali buku yang di bacanya tadi ke tempatnya semula.


Darrel pun menoleh, lalu melihat lengannya yang digenggam Zivanna.


Menyadari hal itu, buru-buru Zivanna melepaskan tangan Darrel.


"Ada apa?" Tanya Darrel akhirnya. Respon paling normal yang Darrel berikan setelah sikap aneh yang ia tunjukkan belakangan ini.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa? Kamu tidak mau berteman denganku dan Lily lagi, ya?" Tanya Zivanna kemudian dengan nada rendah, berusaha agar suaranya tak mengganggu orang-orang yang sedang membaca di sana.


Darrel terdiam sejenak.


"Bukan seperti itu..." Ujarnya kemudian dengan agak ragu.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Sesuatu yang berhubungan dengan Lily? Aku merasa ada yang terjadi diantara kalian." Zivanna menatap Darrel dengan penuh selidik.


Darrel terlihat masih mempertimbangkan harus bercerita pada Zivanna atau tidak.


"Darrel, kita bertiga berteman bukan baru setahun atau dua tahun. Kita sudah berteman sejak kecil. Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikap aneh mu terhadap Lily belakangan ini. Aku bahkan bertanya pada Lily, apa dia melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Tapi dia bilang tidak melakukan apa-apa. Jadi sekarang aku bertanya padamu, apa sebenarnya yang membuatmu marah pada Lily?" Zivanna berujar dengan serius sambil masih menjaga suaranya agar tetap rendah.


Darrel tak langsung menjawab. Dia tetap terlihat ragu.


"Katakanlah, Darrel. Jika ada permasalahan, yang harus kita lakukan adalah menyelesaikannya, bukan malah memendam dan menyembunyikannya seperti ini. Kamu mau masalah yang kamu pendam itu menjadi penyakit?" Zivanna bertanya lagi dengan sedikit mengancam, layaknya mengancam anak kecil.


Dapat Zivanna lihat Darrel masih ragu, tapi sejurus kemudian dia mengangkat wajahnya.


"Baiklah, akan aku ceritakan." Ujar pemuda itu akhirnya. Zivanna pun tersenyum senang mendengar itu.


"Tapi jangan disini, banyak orang." Darrel menarik lengan Zivanna dan berjalan keluar dari perpustakaan kampus.


Mereka mendatangi sebuah taman kota yang saat ini cukup sepi karena sekarang jam kerja sedang berlangsung, hingga tak banyak orang yang bersantai di sana. Darrel mengajak Zivanna duduk di bangku taman yang terletak dibawah sebuah pohon rindang.


Keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama.


"Jadi?" Zivanna memecah keheningan setelah bosan menunggu Darrel tak juga memulai ceritanya.


Sekali lagi Darrel menghela nafas panjang.


"Aku bukannya marah pada Lily, aku hanya merasa tidak nyaman." Ujar Darrel akhirnya.


Zivanna sedikit menautkan kedua alisnya, masih belum ada penjelasan dari kata-kata yang diucapkan Darrel barusan.


"Zi, kamu sungguh mau mendengarkannya? Ini juga ada hubungannya dengan Tuan Muda." Ujar Darrel lagi.


"Kak Al?"

__ADS_1


Darrel mengangguk mengiyakan.


"Kalau ada hubungannya juga dengan Kak Al, berarti kamu benar-benar harus menceritakannya padaku, Darrel." Zivanna berubah semakin serius karena mendengar kakaknya juga terlibat.


"Baiklah." Darrel menyerah dan bersiap memulai ceritanya.


"Sebenarnya, aku pernah melihat Tuan Muda dan Lily saat mereka sedang berdua saja. Tidak secara langsung, mereka ada di dalam ruangan, sedangkan aku berada di luar ruangan. Aku hanya bisa melihat bayangan mereka, tapi bisa mendengar suara mereka secara jelas."


Zivanna menyimak dengan seksama.


"Awalnya obrolan mereka masih wajar, tapi lalu mereka berdua melakukan sesuatu yang membuatku teringat kembali dengan trauma masa kecilku dulu. Aku bahkan sampai kesulitan tidur karena hal itu. Dan saat bertemu dengan Lily, aku jadi teringat dengan apa yang dia lakukan bersama Tuan Muda. Dan itu secara tidak langsung mengingatkanku pada traumaku itu. Benar-benar terasa tidak nyaman."


Zivanna tampak semakin menautkan kedua alisnya.


"Memangnya apa yang mereka berdua lakukan?" Tanya Zivanna tak mengerti.


"Mereka melakukan sesuatu yang menciptakan bayangan mengerikan."


"Hah?" Zivanna semakin tak mengerti dibuatnya.


"Bayangan mengerikan apa?"


"Bayangan mengerikan seperti yang aku lihat di film saat aku kecil dulu. Dua tubuh yang menjadi satu..."


Zivanna sedikit ternganga karena merasa kata-kata Darrel mulai terdengar ngawur dan tidak masuk akal. Bayangan mengerikan, tubuh yang menjadi satu, apa itu?


Melihat ekspresi Zivanna, Darrel menghela nafasnya. Tampaknya Zivanna tak terlalu memahami apa yang dia katakan.


"Baiklah, kalau kamu tidak mengerti, aku akan menunjukkannya padamu." Ujar Darrel akhirnya.


Pemuda itu melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan jika saat ini tak ada orang disekitar mereka. Zivanna sedikit melebarkan matanya saat kemudian tangan Darrel memperagakan dua orang yang sedang melakukan hal tak senonoh.


"Apa? Kak Al dan Lily seperti itu?" tanya Zivanna tak percaya.


Bersambung ...


Tetep like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2