Albern & Lily

Albern & Lily
Menahan Gejolak


__ADS_3

"Mmm, sepertinya aku belum bisa menikah dalam waktu dekat, Kak. Kakak tahu sendiri, aku bahkan masih kuliah," sahut Lily dengan sedikit meringis.


"Ya, aku tahu." Albern mengangguk. "Tapi rasanya sekarang agak sulit saja menahan perasaanku jika kita sudah saling tahu begini. Padahal sebelumnya aku sanggup menahannya selama bertahun-tahun."


Lily terdiam dan tak tahu harus bilang apa. Di sisi lain dia senang, tapi juga ada rasa sedih mendengar Albern sepertinya agak menderita karena dirinya.


"Aku mencintaimu, Lily. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Meski kita belum bisa menikah, tapi berjanjilah agar kamu terus berada di sisiku," ujar Albern lagi dengan suara yang begitu lembut.


Lily kembali terkesiap dibuatnya. Tak pernah Lily mendengar Albern berbicara dengan nada selembut ini pada orang lain. Mungkinkah hanya pada Lily saja dia berbicara seperti itu? Seistimewa itulah Lily di hatinya?


"Kak Al ..." Lily menengadahkan wajahnya ke arah Albern.


"Apa Kak Al sungguh ingin aku terus bersama Kakak? Sepenting itukah aku untuk Kakak?" Tanya Lily pada Albern.


Albern tak langsung menjawab. Dibalasnya pandangan Lily dengan tatapan yang tak kalah dalam.


"Apa kamu tidak bisa melihatnya?" Albern balik bertanya.


Lily terdiam selama beberapa saat.

__ADS_1


"Aku hanya masih belum bisa percaya jika Kak Al juga punya perasaan yang sama denganku. Aku takut hubungan kita sejak beberapa hari terakhir hanyalah khayalanku saja."


Pletak!


Lily sedikit terpekik karena sebuah jentikan jari mendarat tepat di keningnya, membuatnya sedikit meringis.


"Apa menurutmu ini cuma khayalan?" tanya Albern.


Lily terperangah dengan ekspresi yang tak dapat dilukiskan. Tangannya tampak memegang keningnya yang kini terlihat sedikit memerah karena ulah Albern.


"Justru aku yang merasa seperti sedang bermimpi. Gadis yang selama ini hanya bisa aku perhatikan diam-diam, sekarang aku bisa memandangnya sedekat ini. Aku berharap saat ini sedang tidak berhalusinasi." Ujar Albern lembut sembari mengulas senyuman manis.


Tak bisa dilukiskan lagi seberapa bahagianya Lily saat ini. Hatinya sudah seperti ditumbuhi ribuan pohon bunga, hingga kelopak bunganya bertebaran sampai ke dalam kepalanya juga. Dicintai pula oleh orang yang ia cintai. Adakah hal yang lebih indah daripada itu?


"Kak Al, aku..." Tiba-tiba suara Lily tercekat, seiring dengan air matanya yang jatuh tak tertahankan. Gadis yang biasanya selalu ceria itu tampak terisak karena tak kuasa menahan haru.


"Eh, kenapa? Apa aku terlalu kuat menjentik keningmu?" tanya Albern panik.


Lily menggeleng.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak bisa melukiskan sebesar apa perasaanku pada Kak Al. Setiap hari aku hanya ingin tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa lebih cepat, agar bisa segera membuat Kak Al melihat ke arahku. Aku bahkan dengan tidak tahu malunya meminta Kak Zi membantuku untuk mengambil hati Kak Al. Aku...aku...aku sungguh tidak menyangka ...." Lily tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Gadis itu menangis tersedu sambil memeluk Albern erat.


"Aku juga mencintai Kak Al ... bahkan mungkin sejak aku lahir ... hiks ... hiks ..." Lily tersedu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Perasaannya membuncah tanpa bisa dikendalikan. Rasa senang dan bahagia itu terlampau besar, hingga hatinya kewalahan menampung itu semua.


Albern tersenyum dengan hati yang menghangat. Gadis pujaan ini juga ternyata memiliki perasaan yang dalam dengannya. Rasanya tak ada lagi lelaki yang lebih beruntung daripada dirinya di dunia ini. Albern merasa hidupnya benar-benar telah sempurna. Yang perlu dipikirkannya saat ini adalah bagaimana caranya membuat Lily benar-benar menjadi pendamping hidupnya, istri sah dari seorang Albern Brylee.


Ah, sangat disayangkan karena sepertinya Albern masih harus menunggu untuk hal itu.


Astaga. Jika terus seperti ini, perasaan Albern semakin tak bisa di kendalikan. Bisa-bisa dia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan.


"Ayo, kita keluar," ajak Albern kemudian saat Lily telah menghentikan isakannya.


Lily mengangguk dan mengikuti Albern keluar dari laboratorium. Dia masih diam karena tak tahu harus mengatakan apa.


Albern sendiri juga sedang berusaha menahan gejolak yang ada di dadanya saat ini. Dia tak ingin lepas kendali dan menghancurkan kesucian perasaannya yang tulus terhadap Lily.


Bersambung...


Tetap like komen dan vote

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2