Albern & Lily

Albern & Lily
Gaun Pengantin Bersejarah


__ADS_3

"Apa?" Albern dan Lily memperlihatkan ekspresi terkejut secara bersamaan. Mata keduanya tampak agak melebar dengan raut wajah tak percaya.


"Tiga hari lagi dari sekarang, kalian menikah. Apa masih kurang jelas?" ulang Aaron.


Untuk ke sekian kalinya, kedua sejoli itu saling menatap satu sama lain, sebelum kemudian kembali melihat ke arah Aaron.


"Ma, Pa, ini sungguhan?" tanya Lily kemudian pada kedua orang tuanya.


"Memang siapa yang sedang bermain-main?" Evan malah balik bertanya pada putrinya itu.


Lily mengatup mulutnya dan kembali melihat ke arah Albern. Lelaki itu tertegun sejenak dengan raut wajah serius, tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Apa Grandma yang minta kami menikah secepat itu?" tanya Albern kemudian.


"Tidak, Grandmamu hanya meminta kami tidak mempersulit hubungan kalian dan mendukung jika kalian berencana untuk menikah. Tapi Grandmamu jelas sangat berharap bisa menyaksikan kalian menikah. Sedangkan menurut dokter, kondisi Grandma sangat tidak bisa diprediksi. Kita diminta untuk menyiapkan diri karena Grnadmamu itu bisa kolaps kapan saja," sahut Aaron.


Albern kembali terdiam. Dia memang ingin menikah dengan Lily secepatnya, tapi tentu dia juga ingin membuat sebuah pesta pernikahan yang istimewa untuk calon pengantinnya itu. Dan hal tersebut tidak akan bisa diwujudkan hanya dalam kurun waktu tiga hari saja.


"Aku bukannya tidak memikirkan Grandma, tapi pendapat Lily juga harus didengarkan. Apa dia tidak keberatan menikah secepat itu?" ujar Albern akhirnya.


Carissa dan Zaya sangat mengerti apa yang Albern maksud. Sebagai sesama perempuan, mereka sangat tahu jika rata-rata seorang gadis pasti memiliki pernikahan impian yang ingin diwujudkan di hari pernikahannya. Apalagi niat menikah sudah pasti hanya untuk sekali seumur hidup. Momen tersebut tak akan bisa diulang dan pengantin perempuan biasanya ingin hari itu menjadi hari paling istimewa dalam hidupnya.


"Pernikahan kalian ini sudah pasti akan diadakan dengan sangat sederhana, bahkan rencananya akan dilaksanakan di rumah ini saja, di taman halaman samping rumah. Jika diadakan di luar, dikhawatirkan Grandma kesulitan untuk ikut hadir," ujar Aaron lagi.


"Tapi kamu benar, pendapat Lily juga mesti didengarkan." Aaron kembali menambahkan.


Perhatian semua orang kini beralih pada Lily.


"Bagaimana, Lily? Apa kamu bersedia tiga hari lagi menikah dengan Albern?" Zaya yang bertanya pada Lily. "Tapi seperti yang Papa Albern bilang tadi, pernikahannya akan dilaksanakan dengan sangat sederhana."


Lily tak langsung menjawab. Terus terang dia bingung. Seperti halnya Albern yang ingin mereka berdua segera menikah, Lily pun ingin juga. Tapi tiga hari benar-benar waktu yang sangat cepat untuk menyiapkan sebuah penikahan. Lily tak menginginkan sebuah pesta mewah, tapi minimal dia ingin mengenakan sebuah gaun pernikahan yang istimewa untuk hari bersejarahnya itu. Dan tidak mungkin mewujudkan gaun keinginannya itu dalam waktu tiga hari.

__ADS_1


Namun, jika dia menolak menikah secepatnya hanya karena alasan gaun, bukankah itu terdengar sangat kekanak-kanakan?


"Aku ...." Lily ingin mengemukakan pendapatnya, tapi dia takut salah bicara. "Bagaimana menurut Mama dan Papaku saja," ujar Lily akhirnya. Menyerahkan keputusan ini pada kedua orang tuanya mungkin solusi terbaik di saat yang genting seperti ini.


"Mama dan Papa hanya bisa mengikuti keinginanmu, Lily. Sekarang kamu sudah dewasa dan tahu apa yang terbaik untukmu." Evan menanggapi.


Lily terlihat menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Sungguh saat ini dia sedang merasa dilema. Andai waktunya diundur seminggu, tentu akan berbeda ceritanya. Semua masih bisa diusahakan.


"Mama tahu, kamu pasti punya sebuah konsep pernikahan impian di dalam kepalamu, Lily. Sah-sah saja. Itu hakmu malah. Tapi ada satu yang mesti kamu ingat, menikah itu bukan masalah bagaimana cara kita melaksanakan pernikahannya atau bagaimana kita menggelar pestanya, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan setelah pernikahan. Dan jaman sekarang, banyak sekali orang yang salah memprioritaskan," ujar Carissa pada putri semata wayangnya itu.


Lily terdiam sejenak, mencerna apa yang dikatakan oleh Mamanya itu. Pikirannya menjadi agak terbuka, meskipun belum sepenuhnya. Tapi setidaknya kali ini dia tak sebimbang sebelumnya.


"Baiklah ... aku mau," ujar Lily akhirnya. "Aku bersedia menikah dengan Kak Al tiga hari lagi."


Semua orang tampak menghela nafas lega mendengar itu, terutama Aaron dan Zaya. Mereka kira Lily akan protes dan menolak menikah dengan cara mendadak seperti ini.


Akhirnya diputuskan Albern dan Lily benar-benar akan menikah tiga hari lagi dari sekarang. Beberapa orang kepercayaan Aaron dan Albern dikerahkan untuk mempersiapkan semuanya. Seperti yang telah disampaikan oleh Aaron sebelumnya, acara pernikahan tidak dilakukan di hotel atau di tempat mewah lainnya, melainkan di halaman samping kediaman utama keluarga Brylee yang cukup luas. Undangan yang akan hadir pun nantinya hanya keluarga dan kerabat dekat saja. Dan sudah diinformasikan mengenai pernikahan Albern dan Lily mulai dari sekarang.


"Lily," panggil Zaya saat melihat Lily duduk sendirian di kursi taman, padahal hari telah cukup larut.


Lily menolah dan langsung mengulas senyumnya.


"Kenapa belum tidur? tanya Zaya.


"Aku tidak bisa tidur," sahut Lily.


Zaya balas tersenyum dan duduk di samping Lily.


"Kenapa? Apa karena rencana pernikahan yang terlalu mendadak?" tanya Zaya lagi.


Mau tak mau Lily menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf, ya, karena keadaannnya begini, kamu dan Albern jadi tidak bisa menikah dengan layak," ujar Zaya kemudian dengan nada menyesal.


"Tidak, kok, Ma. Bukan seperti itu. Aku hanya belum bisa mempercayai kalau aku benar-benar akan menikah dengan Kak Al," sanggah Lily. Belakangan dia memang kembali memanggil Zaya dengan sebutan itu, seperti tujuh tahun yang lalu.


"Tapi sebenarnya aku juga merasa agak khawatir, apa aku bisa menemukan gaun pengantin yang pas dalam waktu kurang dari tiga hari ...." Lily akhirnya mengakui kegalauan hatinya.


Di luar dugaan, Zaya tersenyum melihat itu.


"Mari ikut Mama," ujarnya kemudian sambil bangkit dari duduknya.


Lily menatap ke arah Zaya sejenak, sebelum kemudian dia ikut bangkit pula dan mengikuti Zaya dari belakang dengan hati yang bertanya-tanya.


Lily mengerutkan kedua alisnya saat melihat Zaya masuk ke dalam sebuah kamar yang Lily tahu itu adalah kamar Ginna sebelum Grandma Albern itu dirawat di ruangan intensif. Dia bertanya-tanya, kenapa calon mama mertuanya itu mengajaknya masuk ke sana, meskipun pada akhirnya Lily ikut masuk juga.


Di dalam kamar, Zaya tampak membuka lemari pakaian Ginna dan mengeluarkan sebuah kotak yang tampaknya memang telah dipersiapkan. Kemudian Zaya pun memberikannya pada Lily.


"Bukalah," pinta Zaya pada Lily.


Lily menuruti apa yang Zaya katakan meski dengan agak ragu. Dia membuka tutup kotak yang diberikan Zaya dan agak membeliakkan matanya saat melihat isi di dalamnya. Ternyata isi kotak tersebut adalah sebuah gaun pengantin berwarna putih yang cantik, bertabur kristal swarovski dan dilengkapi dengan hiasan batu permata berwarna senada. Lily mengeluarkan gaun tersebut dan agak terperangah melihat keindahannya.


"Itu adalah gaun pengantin yang dikenakan Grandma saat dulu Grandma menikah dengan Grandpa. Mertua Grandma yang juga pendiri Brylee Group yang memesannya pada seorang designer ternama di Inggris. Grandma sangat menjaga gaun ini dengan sepenuh hati dan pernah berkata pada Mama, beliau ingin sekali melihat pengantin Albern mengenakan gaun ini. Tapi Grandma tidak pernah mengatakan hal itu pada Albern karena beliau berpikir, mana ada pengantin yang mau mengenakan gaun pengantin pernah digunakan oleh orang lain. Itu sama saja dengan gaun bekas," ujar Zaya.


Lily tertegun masih sambil memandangi gaun pengantin yang ada di tangannya saat ini.


"Kalau kamu mau, kamu bisa mengenakan gaun pengantin ini. Tapi kalau kamu merasa tidak cocok, besok kita cari yang sesuai dengan keinginanmu."


"Aku akan memakai gaun pengantin Grandma," ujar Lily cepat.


"Bagiku ini bukan gaun pengantin bekas, tapi gaun pengantin bersejarah ...."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2