
"Kenapa Zivanna tiba-tiba mengajak belajar weekend begini? Bukankah biasanya dia tidak mau diganggu saat hari libur?" Evan menoleh kearah Lily sekilas sembari mengemudikan mobilnya. Ada sedikit rasa curiga saat putrinya ini meminta diantar ke suatu tempat dengan alasan akan belajar dan mengerjakan tugas kuliah.
"Kak Zi sedang tidak kemana-mana, Pa. Jadi aku minta dia untuk membantuku mengerjakan tugas." Kilah Lily sambil tersenyum manis. Dia berusaha untuk terlihat meyakinkan di hadapan Papanya itu, seolah dia memang akan pergi belajar.
"Kenapa tidak mengerjakan tugas di rumah kita saja, malah mau mengerjakan di perpustakaan kota." Ujar Evan lagi.
"Kak Zi bilang di sana banyak koleksi buku tentang ilmu bisnis, jadi dia menyarankan supaya kami kesana saja. Lagipula, setelah itu Kak Zi mau mengajakku menonton. Film yang kami tunggu sejak lama sudah rilis."
Evan terdiam sesaat, seolah sedang menilai dan menimbang-nimbang perkataan Lily barusan.
"Apa ada anak lelaki juga?" Tanya Evan kemudian.
"Menurut Papa Darrel anak lelaki bukan?" Lily balik bertanya.
Evan sudah mengenal baik Darrel, anak dari Kara, sahabat Zaya. Pemuda itu memang selalu ada diantara Lily dan Zivanna. Mereka bertiga memang terlihat selalu bersama hampir dalam setiap kesempatan. Bahkan Darrel juga sudah beberapa kali ikut Zivanna berkunjung ke rumah Evan untuk menemui Lily. Dan sejauh yang Evan amati, kedekatan mereka memang hanya hubungan pertemanan saja, sehingga Evan tak merasa keberatan dengan keberadaan Darrel di dekat Lily.
Bisa dibilang Darrel adalah satu-satunya pemuda yang Evan biarkan dekat dengan Lily.
"Apa sungguh tidak ada orang lain lagi?" Tanya Evan lagi dengan agak curiga.
Berganti Lily yang menoleh kearah Papanya itu.
"Memangnya harus ada orang lain lagi?" Lily kembali menjawab dengan balik bertanya pada Evan.
Evan menghela nafasnya sejenak. Mungkin dia saja yang berpikir berlebihan, menganggap Lily sedang berpura-pura belajar untuk bertemu dengan seseorang. Tampaknya dia sudah khawatir terlalu banyak.
"Sudahlah lupakan. Belajar yang benar, dan jangan pulang terlambat." Ujar Evan kemudian.
Lily pun mengangguk sembari tersenyum manis. Hanya Tuhan saja yang tahu jika ada sesuatu yang sangat berbahaya dari senyumnya itu.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Evan sampai di depan perpustakaan kota. Sebuah perpustakaan besar yang punya koleksi buku terlengkap di kota itu.
Evan menghentikan laju mobilnya. Dari dalam mobil, dapat dia lihat di pelataran perpustakaanma tersebut Zivanna dan Darrel yang tampak sudah menunggu kedatangan Lily. Agaknya Lily memang akan belajar. Evan sedikit merasa bersalah karena sudah mencurigai putrinya ini.
"Pa, aku pergi belajar dulu, ya. Nanti aku hubungi Papa kalau sudah mau pulang." Ujar Lily sambil membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Dah, Papa. Mmuach..." Tak lupa Lily mencium pipi Papanya itu, persis seperti anak TK yang akan pergi ke sekolah. Tapi hal itu justru sangat disukai Evan. Hilang sudah kecurigaannya pada Lily tadi.
"Hati-hati." Ujar lelaki paruh baya itu saat Lily turun dari mobil.
Lily mengangguk mengiyakan, lalu melambaikan tangannya ketika mobil Evan mulai menjauh dari tempat itu.
Melihat mobil Papanya yang menghilang diujung jalan, senyum Lily pun terbit.
"Yes!" Ujarnya sambil berjingkrak senang. Kemudian buru-buru dia mendekati Zivanna dan Darrel yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Dasar anak durhaka. Menipu Papa sendiri kok senang." Gerutu Zivanna sambil melipat kedua tangannya diatas dada.
Lily tertawa.
"Aku melakukan ini 'kan demi kebaikan Papa juga. Bagaimana aku bisa memberikan cucu untuknya nanti kalau menjadi jomblo abadi." Kilah Lily ditengah kekehannya.
Terang saja Zivanna dan Darrel hanya terdiam dengan ekspresi takjub mendengar penuturan gadis dihadapan mereka itu.
"Lagipula ini demi kelestarian keluarga Brylee juga." Tambah Lily lagi.
"Kak Zi tidak lupa bawa pakaian yang aku siapkan kemarin, kan?" Tanya Lily kemudian.
Zivanna langsung memberi isyarat pada seorang lelaki paruh baya yang berdiri tak jauh dari sana untuk mengambil sesuatu dari mobil. Lelaki yang merupakan sopir pribadi Zivanna itu kemudian mengambil dua buah paper bag, dan memberikannya pada Lily.
"Thank you, Kak Zi yang cantik." Lily menerimanya dengan senang.
Ketiganya pun akhirnya masuk kedalam bangunan perpustakaan itu. Jika Zivanna dan Darrel langsung mencari beberapa buku dan duduk di salah satu bangku untuk membaca, Lily sendiri langsung pergi ke toilet untuk berganti pakaian dengan gaun casual selutut yang ada dalam paper bag pemberian Zivanna tadi. Tak lupa dia juga memoles wajah polosnya dengan make up tipis dengan menggunakan alat make up dari paper bag yang satunya. Lalu terakhir, Lily memasukkan kembali pakaian yang dia kenakan sebelumnya ke dalam paper bag yang sudah kosong, lalu keluar dari toilet perpustakaan dengan penampilan jauh berbeda dari penampilan sebelumnya.
Lily menghampiri Darrel dan Zivanna yang sedang sama-sama sedang asyik membaca.
"Darrel, Kak Zi, aku titip ini dulu, ya. Terima kasih bantuannya." Ujar Lily dengan wajah semringah sambil meletakkan kembali dua paper bag tadi di hadapan Zivanna dan Darrel.
"Lain kali jangan libatkan kami lagi kalau mau menipu Papamu, ya." Ujar Zivanna dengan sedikit kesal. Hilang sudah waktu bermanja-manjanya dengan Sang Mama diakhir pekan karena Lily.
Lily tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Zivanna.
__ADS_1
"Bukankah sekarang aku juga sedang membantu Kak Zi?" Bisik Lily dengan nada menggoda.
Seketika Zivanna membeliakkan matanya.
"Kak Zi hari ini punya waktu seharian untuk berduaan dengan Darrel. Kita sama-sama untung, kan?" Lily kembali berbisik.
Lily menarik kembali wajahnya, lalu kembali tersenyum. Sangat kontras dengan ekspresi wajah Zivanna yang terlihat seperti orang yang sedang ketahuan mencuri.
"Simbiosis mutualisme." Tambah Lily lagi sambil mengedipkan satu matanya.
Zivanna tertegun. Sedangkan Darrel tampak memandangi Lily dan Zivanna secara bergantian dengan raut wajah penuh tanda tanya. Tapi seperti biasa, pemuda itu memilih untuk tidak banyak tanya dan kembali asyik pada buku bacaannya.
"Dah, Kak Zi. Dah, Darrel. Aku pergi dulu." Lily berlalu meninggalkan Zivanna dan Darrel, lalu keluar dari bangunan perpustakaan.
Lily melangkah melewati pelataran perpustakaan kota, lalu berjalan menyusuri trotoar sejauh beberapa puluh meter. Dan tak berapa lama kemudian, sampailah dia pada sebuah mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan.
Lily mengetuk kaca pintu mobil, dan tak lama kemudian kaca mobil itu turun, memungkinkan Lily untuk melihat kearah dalam mobil.
"Sudah menunggu lama?" Tanya Lily pada seseorang yang berada di belakang kemudi.
Orang itu tersenyum sambil melihat kearah Lily.
"Lumayan." Jawabnya singkat.
Lily juga balas tersenyum, lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil tersebut.
"Jadi, kita mau kemana?" Tanya seseorang yang berada di samping Lily itu sambil menyalakan mesin mobilnya.
Lily kembali melihat ke arah orang tersebut sambil kembali tersenyum.
"Terserah Kak Al, yang penting hari ini kita bisa quality time berdua sambil membicarakan rencana masa depan," sahut Lily sok dewasa.
Bersambung...
Jgn lupa like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️