
Albern tiba di alamat yang di kirimkan Asisten Dhani tadi padanya. Sebuah restoran Jepang yang cukup mewah dan menyediakan ruang privat bagi pengunjung yang datang.
Asisten Dhani yang sedari tadi menunggu Albern di tempat itu langsung bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Albern.
"Tuan Muda." Asisten Dhani membungkuk hormat.
"Klien kita sudah datang sekitar lima menit yang lalu, dan sekarang sedang menunggu di dalam." Asisten Dhani menunjuk kesebuah ruangan privat yang telah mereka reservasi sebelumnya.
"Baiklah." Gumam Albern sambil melangkah menuju ruangan tersebut. Seorang pelayan restoran membukakan pintu ruangan privat itu dan mempersilahkan Albern untuk masuk.
Albern menghentikan langkahnya sejenak dan tertegun selama beberapa saat, sebelum akhirnya masuk untuk bertemu dengan klien yang sudah menunggunya.
Dan begitu berada di dalam, senyuman manis seorang perempuan muda langsung menyambutnya. Albern tampak berpikir sembari duduk di hadapan perempuan muda itu.
"Tuan Albern, perkenalkan saya Briana, putri dari Adrian, teman lama Tuan Aaron. Kebetulan saya yang mewakili perusahaan untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Anda." Perempuan muda itu mengulurkan tangannya pada Albern.
'Kebetulan?'
Albern menyambut uluran tangan perempuan bernama Briana itu sambil tersenyum tipis. Hal formal yang selalu dia lakukan saat akan memulai bisnis.
"Senang mengenal Anda, Nona Briana." Ujar Albern.
Perempuan muda itu seketika terkasima melihat senyuman Albern, meski kemudian dia kembali bisa menetralkan raut wajahnya.
"Saya merasa sangat terhormat karena Anda bersedia menemui saya sebelum meeting diadakan." Ujar Briana lagi.
Albern tampak mencerna kata-kata perempuannya muda itu. Agaknya ada maksud lain dari pertemuan yang diatur oleh Papanya ini.
"Tidak perlu sungkan, Nona Briana. Sudah semestinya saya memberikan penyambutan pada kedatangan Anda, mengingat dimasa lalu perusahaan orang tua Anda sudah sangat berjasa pada Brylee Group. Dan lagi, sekarang kita juga akan kembali menjalin kerjasama." Albern berujar ramah sambil menekankan kata perusahaan. Dia ingin gadis bernama Briana itu tahu jika pertemuan mereka ini tak lebih dari sopan santun Albern untuk memulai bisnis.
Tanpa diduga, gadis itu justru tertawa kecil.
"Sekarang bukan meeting kita untuk urusan bisnis, Tuan Albern. Pertemuan kita ini diluar urusan bisnis, jadi Anda tidak perlu terlalu formal." Ujar Briana.
Albern terdiam sesaat dengan kening yang agak berkerut.
'Di luar urusan bisnis?'
__ADS_1
Melihat raut wajah Albern yang sedikit berubah, Briana tampak tersenyum.
"Anggap saja sebelum benar-benar memulai kerjasama, saya ingin lebih mengenal Anda secara pribadi." Gadis itu menuang minuman dari teko yang tersedia dihadapan mereka kedalam gelas, lalu menyesapnya dengan elegan.
Albern sedikit menghela nafasnya, sambil mengangguk-anggukan kepalanya samar. Dia pun mengerti, gadis dihadapannya ini sama dengan para gadis yang lain. Datang untuk berusaha mendekatinya. Tapi kali ini Albern tak bisa menahan diri untuk tidak merasa kesal, pasalnya, Papanya yang katanya tak akan pernah menjodohkannya untuk urusan bisnis itu tampaknya punya keterlibatan.
'Dasar orang tua tidak konsisten.' Albern menggerutu dalam hati.
Belum sempat Albern kembali menanggapi kata-kata Briana, tiba-tiba ponselnya bergetar. Tampak nama 'Anak kucing manis' tertera di layar ponsel miliknya.
Tanpa sadar Albern tersenyum. Hanya dengan membaca nama kontak Lily yang tertera di layar ponselnya saja sudah membuat hati Albern senang bukan kepalang.
"Maaf, Nona Briana, ini panggilan penting." Albern meminta izin mengangkat panggilan telpon di ponselnya pada Briana, sebagai salah satu bentuk dari sopan santunnya.
"Ah, tidak masalah. Silahkan." Briana mempersilahkan sambil tersenyum manis.
Albern membalas senyum perempuan muda itu, lalu menerima panggilan dari Lily. Dapat Albern lihat raut wajah Briana yang sedikit terkejut saat melihat Albern menerima panggilan di hadapannya, bukannya menyingkir terlebih dahulu.
"Kak Al, aku mau bertanya sesuatu." Suara Lily langsung terdengar dari seberang sana sesaat setelah Albern mengangkat panggilannya.
"Bertanya apa?" Tanya Albern kemudian.
"Kita... sekarang kita ini berpacaran, kan?" Lily bertanya dengan ragu-ragu.
Albern tertegun dengan wajah yang tak dapat dilukiskan. Jika saja saat ini dia tidak sedang berada di hadapan kliennya, pasti dia sudah tertawa dengan lepas. Setelah pernyataan cinta tadi, bagaimana bisa Lily masih bingung dengan hubungan mereka. Tapi sebenarnya tidak salah juga Lily bertanya. Toh, Albern juga tak menegaskannya tadi.
"Sepertinya aku tidak tertarik dengan istilah berpacaran. Itu hanya dilakukan orang yang tidak punya komitmen dan mau bermain-main saja." Albern menyahut setelah berhasil menetralkan raut wajah menahan tawanya.
"Kalau kita tidak berpacaran, terus apa?" tanya Lily.
"Kita itu sedang dalam penjajakan sebelum pernikahan," sahut Albern lagi dengan mantap.
"Apa??!!!" Kali ini Lily terpekik, hingga Albern harus menutup wajahnya dengan satu tangannya agar tidak tertawa. Sudah tidak bisa dilukiskan lagi sudah seberapa memerah wajahnya saat ini karena menahan tawa.
Dapat Albern lihat dari sudut matanya Briana yang tampak memperhatikan Albern dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
"Me-menikah? Apa itu tidak terlalu cepat dan terburu-buru?" Lily terdengar agak resah.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak mau menikah denganku cepat-cepat?" Albern memancing.
"Iya, aku yakin. Sangat yakin."
Albern tersenyum.
"Bagaimana kamu hanya ingin menjadi pacarku saja? Jika nanti aku malah menikah dengan orang lain, kamu yakin tidak masalah?"
"Kak Al!!! Kakak tadi kan sudah berjanji padaku tidak akan menikah dengan perempuan lain. Belum juga sehari, masa Kakak mau mengingkarinya?" Lily terdengar kembali histeris.
Kali ini Albern benar-benar tak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa dengan wajah yang memerah.
"Oke, oke, aku hanya bercanda. Jangan marah, oke?"
"Jadi bagaimana?" Lily masih terdengar bingung.
"Aku tetap tidak mau berpacaran, Lily. Mau kita menikah besok atau beberapa tahun lagi, bagiku kamu itu calon istriku, bukan pacar. Pacar itu terlalu remeh didengar." Kali ini Albern berujar dengan nada serius.
Briana terkesiap. Dia tak percaya sosok yang ada di hadapannya ini adalah seorang Albern Brylee yang kaku dan tak tertarik pada perempuan itu.
Dirinya saja harus punya alasan yang benar-benar tepat untuk duduk berhadapan dengan Albern sekarang. Bahkan dulu, salah satu temannya juga pernah melakukan banyak cara untuk menarik perhatian Albern, namun tak pernah berhasil. Lalu siapakah perempuan beruntung yang mampu menarik perhatian Albern sekarang? Pasti dia adalah perempuan yang sangat-sangat berpengalaman dalam menaklukkan seorang lelaki. Briana jadi penasaran dengan orang itu.
"Maaf, pembicaraan kita tadi jadi terpotong." Suara Albern yang kembali berbicara padanya membuat lamunan Briana buyar. Tampaknya lelaki itu sudah selesai menjawab panggilan telponnya.
"Sama sekali tidak masalah." Briana mengulas senyumannya.
"Sepertinya dia orang yang sangat penting," ujar Briana lagi. Rasa penasarannya yang besar membuat perempuan muda ini bergumam tanpa sadar. Seketika dia menyesali kalimat yang diucapkannya barusan karena terdengar sedikit agak lancang.
Albern terdiam sesaat. Dan diluar dugaan Briana, lelaki itu tidak marah dan justru tersenyum.
"Dia anak kucing manis. Calon istriku ...."
Bersambung...
Pada masanya, emak juga pernah jadi manis dan menggemaskan kyk anak kucing. Tapi sekarang itu cuma masa lalu, soalnya emak udah bertransformasi menjadi induk singa 😂
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1