Albern & Lily

Albern & Lily
Harus Apa?


__ADS_3

Lily terdiam di meja belajarnya sembari menatap lurus ke depan. Pikirannya melayang entah kemana, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Bahkan saat makan malam tadi pun Lily benar-benar tak berselera. Padahal hari ini masakan yang tersedia adalah masakan kesukaan Lily semua.


Kemudian Lily teringat akan Albern. Lelaki itu harus segera diberi tahu meskipun kabar itu mungkin akan membuatnya kecewa.


Dengan enggan Lily meraih ponselnya dan men-dial nomor Albern.


"Halo." Terdengar suara Albern menyapa di seberang sana.


"Kak Al sedang ada pekerjaan?" Tanya Lily. tak ingin jika sampai ia mengganggu pekerjaan Albern.


"Baru saja selesai aku kerjakan. Ada apa?"


"Tidak ada, hanya ingin menghubungi Kak Al saja." Lily tak tahu harus bagaimana menyampaikan pada Albern jika dia mungkin tidak bisa ikut menghadiri pesta perusahaan nanti.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah cukup malam." Tanya Albern kemudian.


"Aku belum bisa tidur." Jawab Lily dengan nada yang tak biasa.


Albern terdiam sejenak, ia menyadari jika saat ini ada yang berusaha Lily pendam.


"Ada apa?" Sekali lagi Albern bertanya. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut daripada sebelumnya.


Lily tak langsung menjawab. Terdengar ia menghela nafas panjang, seolah ada yang benar-benar membuat dadanya terasa sesak.


"Lily..." Albern kembali memanggil gadis itu dengan sangat lembut.


"Papaku pergi ke Singapura sore tadi." Ujar Lily akhirnya.


"Terjadi sesuatu pada rumah sakit milik Papa. Kemungkinan Papa akan berada di sana lebih dari seminggu. Kita tidak bisa memberitahukan tentang hubungan kita. Aku juga mungkin tidak bisa mendampingi Kak Al hadir di pesta perusahaan." Tambah Lily lagi. Ia terdengar hampir menangis saat mengatakan hal itu pada Albern.


Keduanya hening selama beberapa saat. Tampaknya Albern juga sedang berpikir dan mencerna kata-kata yang diucapkan Lily barusan.


"Kak Al, mungkinkah hubungan kita ini salah? Kenapa rasanya kita tidak diizinkan untuk meminta restu pada Papa?" Tanya Lily lagi dengan suara yang agak bergetar.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan? Tentu saja tidak seperti itu. Jika rumah sakit Papamu mendapatkan musibah, dan beliau harus pergi bertepatan dengan saat kita ingin menemui beliau, tentu saja itu hanya sebuah kebetulan, bukan karena hubungan kita sebuah kesalahan. Niatku tulus ingin menjadikanmu istriku, Lily." Albern berusaha untuk menghibur Lily.


"Lalu bagaimana dengan pesta perusahaannya. Aku mungkin tidak bisa datang bersama Kak Al, padahal Kak Al sudah mempersiapkan semuanya."


Albern kembali terdiam. Sebenarnya dari sudut hatinya yang paling dalam, dia merasa sedikit kecewa. Seperti yang dikatakan Lily, dia sudah mempersiapkan segalanya untuk memperkenalkan Lily secara resmi sebagai calon istrinya. Tapi tentu Albern tahu jika semua yang terjadi saat ini adalah hal yang di luar jangkauannya. Menunjukkan kekecewaan juga tak akan menyelesaikan apapun, hanya akan menambah kesedihan Lily.


"Bagaimana dengan Mamamu?" Tanya Albern kemudian.


"Mama tidak bisa membantu apapun. Jika Papa belum memberi izin, Mama tidak bisa mengambil keputusan apa-apa. Aku harap tidak akan ada masalah jika aku tidak datang ke pesta itu. Mungkin lain kali saja Kak Al memperkenalkan aku pada orang-orang."


Albern kembali terdiam. Kali ini dia yang terdengar menghela nafasnya.


"Lily, sebenarnya ada yang belum aku ceritakan padamu." Ujar Albern akhirnya.


"Menceritakan apa?" Tanya Lily.


"Ini tentang pertemuan ku dengan pemilik perusahaan properti di New York tempo hari."


Lily tertegun dengan perasaan yang mulai tak menentu.


"Ya. Namanya Tuan Adrian Graham. Beliau adalah teman kuliah Papa. Saat kami bertemu, Tuan dan Nyonya Graham secara terus terang mengatakan padaku jika mereka berharap aku menikah dengan putrinya. Tentu saja aku menolak dan mengatakan jika aku sudah punya calon istri pilihanku sendiri. Tapi mereka tidak percaya begitu saja. Itulah sebabnya aku ingin membawamu ke pesta perusahaan nanti dan mengenalkan mu pada para kolegaku. Aku ingin Tuan dan Nyonya Graham percaya jika saat itu aku serius. Aku memang sudah punya calon istri."


Lily tercekat. Ternyata itu alasan Albern ingin memperkenalkan dirinya secara resmi. Itu karena Albern ingin mengukuhkan posisi Lily di sisinya. Albern bahkan menolak dengan tegas seseorang yang penting seperti Tuan Adrian Graham. Partner bisnisnya saat ini sekaligus sahabat dari Papanya, Aaron Brylee. Dan jangan lupakan jasa Adrian yang pernah menyelamatkan Brylee Group dari kebangkrutan di masa lalu.


Albern melakukan hal itu sejauh ini demi Lily.


"Aku beruntung Mama dan Papa memberikan kebebasan padaku untuk memilih pasanganku sendiri. Tapi jika aku menolak keinginan dari sahabat Papa tanpa alasan yang jelas, tentu itu bukanlah hal yang bagus. Aku benar-benar membutuhkan kehadiranmu di pesta perusahaan nanti, karena ini menyangkut masa depan hubungan kita."


Lily tak bisa menahan diri lebih lama lagi. Air matanya jatuh tak tertahankan di kedua belah pipinya.


"Kak Al ... aku harus apa?" Lirihnya dengan suara tergetar.


"Jangan khawatir, masih ada waktu. Pasti ada cara agar kamu bisa datang ke pesta perusahaan nanti sebagai pasanganku." Albern kembali berusaha menghibur meski sebenarnya dia sendiri merasa gamang. Mendengar nada bicara Lily barusan, dia tahu jika gadis itu telah menangis.

__ADS_1


Benar-benar cengeng. Namun itu justru membuat Albern semakin bertekad untuk memeluk dan memberikan perlindungan sekuat tenaganya.


"Lily, boleh aku bertanya satu hal?" Kalimat itu sukses membuat Lily menahan tangisannya.


"Bertanya apa?"


Albern terdiam selama beberapa saat.


"Kamu sungguh mencintaiku, kan?" Tanya Albern kemudian.


"Apa maksud Kak Al?"


"Katakan saja, Lily. Aku sangat ingin mendengarnya. Aku ingin mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulutmu. Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?"


"Tentu saja. Aku sangat mencintai Kak Al, bahkan aku sendiri tidak tahu sejak kapan. Yang jelas sudah sejak lama aku menyimpan perasaan itu pada Kak Al."


Lily tak tahu jika saat ini Albern tengah mengulas senyumannya di seberang sana.


"Lily, meskipun jalan kita nanti akan penuh dengan rintangan, akankah kamu tetap bertahan pada niat kita untuk menikah di masa depan?"


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, selama Kak Al terus memegang komitmen itu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan terus bertahan meski harus terluka sekalipun." Lily berujar dengan mantap dan penuh keyakinan.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu sampai terluka, Lily. Yang harus kamu lakukan hanyalah terus bertahan di sisiku. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi mu. Jika di hatimu sudah ada keyakinan seperti itu, maka tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. Aku akan melakukan apapun agar kita bisa tetap bersama dan menjadi pasangan sah pada saatnya nanti." Ujar Albern juga dengan bersungguh-sungguh.


"Sekarang jangan khawatir lagi. Cobalah untuk tidur. Jangan pikirkan apa-apa lagi, oke?"


"Oke..."


Sambungan telpon pun terputus. Lily dan Albern sama-sama menghela nafasnya di tempat yang berbeda. Kedua anak manusia yang saling memegang komitmen itu tampak gamang dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤️❤️❤️


__ADS_2