
Lily masuk ke dalam mobil mewah yang membawa Albern tadi. Di dalamnya ada Asisten Dhani yang sekarang merangkap menjadi seorang sopir. Setelah menutup pintu mobil untuk Lily, Albern juga ikut masuk dan duduk di samping Lily.
"Jalan," perintah Albern.
"Baik, Tuan Muda." Asisten Dhani menyalakan mesin mobil, lalu mengemudikannya keluar dari pelataran kafe. Tak lama kemudian, mobil mewah itu pun melaju membelah jalanan kota.
Suasana hening sejenak. Baik Lily maupun Albern, keduanya tampak larut dalam pikiran masing-masing.
"Pestanya mulai jam berapa?" tanya Lily kemudian memecah keheningan.
"Sekitar pukul tujuh," sahut Albern.
"Wah, tidak sempat makan malam dulu, dong." Lily sedikit menegakkan badannya.
"Di sana nanti 'kan banyak makanan," jawab Albern santai.
"Tidak bisa begitu. Kalau sudah berada di pesta nanti, aku mana boleh makan."
"Kenapa tidak boleh? Mau makan, ya, makan saja. Makanan disediakan memang untuk dimakan, bukan untuk dijadikan pajangan."
__ADS_1
"Ah, Kak Al tidak mengerti. Aku kan pasangan Kak Al, mana boleh aku mengunyah makanan sembarang di depan orang-orang." Lily menggerutu sambil kembali merebahkan kepalanya di sandaran kursi.
Albern tersenyum. Sebenarnya dia tahu kekhawatiran Lily. Gadis ini tak ingin terlihat buruk di mata para undangan pesta, karena ia akan tampil sebagai pasangan Albern.
Albern sedikit melirik untuk melihat wajah Lily yang sekarang sedikit mencebik.
"Aku sudah pernah bilang, jangan pernah cemberut di hadapanku. Kalau melihatmu cemberut, aku jadi ingin menjetik keningmu." Albern bergumam santai
"Ish, Kak Al apa-apaan, sih? Masa sedikit-sedikit keningku jadi korban," sahut Lily dengan sedikit menggerutu.
Albern terkekeh saat melihat Lily sudah menutupi keningnya.
Lily mengangguk mengiyakan. Sebenarnya dia tak terlalu peduli pada makanan. Hanya saja, jika datang ke pesta dalam keadaan perut kosong, takutnya nanti dia malah tanpa sadar mengalami hal konyol. Perutnya berbunyi keroncongan di tengah-tengah tamu pesta misalnya. Akan sangat memalukan kalau hal itu sampai terjadi.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di salon kecantikan mewah yang telah di reservasi Albern sebelumnya.
Albern dan Lily turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam salon tersebut.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh pemilik salon kecantikan itu. Seorang perempuan yanb memiliki tubuh luwes nan gemulai. Perempuan yang baru saja mendapatkan penghargaan karena kepiawaiannya memoles wajah seseorang menggunakan make up.
__ADS_1
"Oke, Dear. kita mulai saja make up-nya." Perempuan itu membimbing Lily duduk disebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah cermin besar.
"Kalau wajah sudah cantik begini, aku tidak perlu kerja terlalu keras. Hanya perlu sedikit polesan saja," ujarnya lagi sambil mulai mengaplikasikan sesuatu di wajah Lily.
Lily tersenyum tipis. Ia tak tahu harus menanggapi celotahan perempuan itu seperti apa.
Albern pun permisi untuk mulai bersiap juga. Lelaki itu mesti mencoba beberapa tuksedo yang telah dipersiapkan, lalu memilih salah satunya.
Seperti yang dikatakan, memang tak butuh waktu lama untuk merias wajah Lily. Hanya perlu sedikit sentuhan make up untuk mempertegas garis wajahnya saja. Dan kini, wajah itu terlihat benar-benar mempesona.
Selesai wajah, giliran rambut Lily yang juga di tata. Kali ini orang yang menata juga berbeda. Rambut Lily di tata sedemikian rupa hingga wajah Lily terlihat semakin mengagumkan.
Terakhir, Lily berganti pakaian. Ia dibantu oleh seorang gadis yang bekerja di salon kecantikan itu, berganti pakaian dengan gaun yang telah dipersiapkan Albern sebelumnya. Tak lupa Lily juga mengenakan sepatu dan satu set perhiasan yang juga telah dipersiapkan.
Dan akhirnya, Lily Bramasta kini menjelma menjadi seorang Tuan Putri yang begitu cantik. Bersamaan dengan itu, Albern juga muncul dengan tuksedo yang begitu pas melekat di tubuhnya. Tampan dan gagah seperti layaknya seorang pangeran dari negeri dongeng.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️