Albern & Lily

Albern & Lily
Sebuah Tuduhan


__ADS_3

Albern tersenyum senang saat membaca pesan balasan dari Lily. Pesan yang teramat sangat singkat karena hanya terdiri dari satu kata saja. Hanya bertuliskan kata 'Sudah' tapi terasa begitu manis saat dibaca. padahal kata yang terdiri dari lima huruf itu sendiri bukan kata khusus yang menggambarkan tentang perasaan cinta ataupun hal romantis lainnya. Namun dua emoticon yang terdapat di belakang kata tersebut membuat Albern merasa seperti seorang remaja yang baru merasakan indahnya jatuh cinta.


Ah, bagaimana hanya dengan seperti ini saja Lily sudah membuatnya merasa sangat bahagia.


Albern baru saja akan men-dial nomor kontak Lily sebelum lebih dulu sebuah panggilan masuk.


"Ada apa?" Tanya Albern sesaat setelah dia menerima panggilan tersebut.


"Pertemuan Anda dengan klien kita di Amerika sudah dijadwalkan, Tuan Muda. Jika tidak ada perubahan, Anda akan berangkat ke New York dalam Minggu-minggu ini." Terdengar suara Dhani di seberang sana menjawab pertanyaan Albern.


Albern terdiam selama beberapa saat dan tampak berpikir.


"Baiklah, siapkan semua yang dibutuhkan untuk keberangkatan ku kesana." Ujar Albern akhirnya.


"Baik, Tuan Muda." Jawab Dhani.


Albern memutuskan sambungan telpon dan terlihat tertegun sejenak. Mau tidak mau kali ini dia memang harus pergi sendiri untuk menemui kliennya itu. Selain kerjasama yang dijalin memang bernilai fantastis, fakta jika kliennya kali ini pernah membantu menyelamatkan Brylee Group di masa lalu juga menjadi pertimbangan Albern.


Ya, perusahaan yang kali ini menjadi mitra bisnisnya adalah perusahaan properti yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Pemiliknya adalah Adrian Graham, teman kuliah Papanya dulu. Mengingat hubungan itu, Albern berusaha untuk memberikan kesan terbaik selama kerja sama berlangsung.


Albern pun akhirnya mengurungkan niatnya menghubungi Lily. Dia kemudian memeriksa beberapa dokumen yang bersangkutan dengan kerjasamanya kali ini.


Tapi tak lama kemudian, sebuah ketukan pintu mengganggu konsentrasi Albern.


"Masuk." Albern berujar tanpa beralih dari dokumen-dokumennya.


"Tuan Muda, Nyonya dan Tuan sudah menunggu Anda di bawah. Nona Zi juga sudah bergabung." Seorang pelayan mengutarakan maksud kedatangannya setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Albern.


Albern menautkan kedua alisnya, kemudian memeriksa arloji yang ia kenakan.


"Ini belum waktunya makan malam." Ujar Albern menanggapi.


"Maksud saya, Tuan dan Nyonya sudah menunggu Tuan Muda di ruang keluarga, bukan di meja makan." Ralat pelayan itu.

__ADS_1


Albern semakin menautkan kedua alisnya. Ada apakah gerangan kedua orang tuanya menunggu di ruang keluarga. Biasanya jika mereka sudah dititahkan untuk berkumpul di sana, ada hal cukup penting yang akan dibahas.


"Baiklah, aku akan segera kesana." Ujar Albern akhirnya.


Pelayan itu pun kembali membungkukkan badannya dan undur diri dari hadapan Albern.


Dengan sedikit menghela nafasnya, Albern membenahi berkas-berkas yang sebelumnya sedang ia periksa. Setelah meletakkan ke tempatnya semula, Albern pun beranjak dan meninggalkan ruang kerjanya. Albern melangkah gontai menuruni tangga menuju ke ruang keluarga. Di sana tampak kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu.


"Ada apa, Ma, Pa?" Tanya Albern sambil memperhatikan mimik wajah mereka semua yang tampak aneh di matanya.


"Duduk." Suara berat Aaron terdengar memerintahkan Albern untuk duduk.


Albern menuruti perintah Papanya itu dengan raut bingung. Diperhatikannya sekali lagi wajah orang-orang terdekatnya ini. Bahkan Zivanna pun memperlihatkan ekspresi yang tak pernah Albern lihat sebelumnya.


"Bisa kamu jelaskan ini pada Mama, Al?" Zaya akhirnya membuka suara sambil menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya. Foto yang memperlihatkan Albern dan Lily sedang berbelanja di sebuah supermarket.


Seketika Albern membeliakkan matanya. Itu adalah foto dirinya dan Lily saat sedang berbelanja siang tadi. Bagaimana Mamanya bisa mendapatkan foto itu?


"Carissa sendiri yang mengirimkan foto ini pada Mama siang tadi." Zaya berujar seakan dia bisa mengetahui pertanyaan di dalam benak Albern.


Albern terdiam sejenak, berusaha memahami situasinya saat ini.


"Benar. Hari ini aku memang membawa Lily ke laboratoriumku." Jawab Albern akhirnya dengan jujur.


Telihat wajah Zaya yang agak sedikit mengeras, sedangkan Zivanna tampak sangat terkejut sampai-sampai membekap mulutnya sendiri. Hanya Aaron saja yang terlihat tak terlalu terpengaruh dengan jawaban jujur Albern tadi.


"Memangnya apa yang salah? Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan jika kami menjalin hubungan. Jadi wajar saja kami menghabiskan waktu berdua." Albern menanggapi dengan santai.


"Wajar?" Zaya tampak semakin marah.


Albern menoleh kearah Mamanya itu dengan semakin bingung.


"Kami tadi sedang menghabiskan waktu bersama. Bukankah wajar jika orang yang menjalin hubungan melakukan itu?"

__ADS_1


"Albern! Wajar itu kalau kamu mengajak Lily pergi jalan-jalan ke tempat rekreasi, menonton di bioskop, atau melakukan hal lain yang lumrah dilakukan. Tapi kamu justru membawanya ke vila yang menjadi laboratoriummu. Tempat yang kamu keramat kan sampai-sampai tak ada yang bisa masuk ke sana kecuali para pelayan kepercayaanmu dan guru privatmu saja. Memangnya apa tujuanmu membawanya ke sana? Mau kamu apakan anak gadis orang?" Zaya bertanya lagi dengan berang.


Albern membeku.


"Mau aku apakan?" Ia malah balik bertanya.


"Astaga, aku tidak berpikir sejauh itu.... Pantas saja tadi pagi Lily mengatakan tentang kelestarian keluarga Brylee. Aku kira itu hanya candaan yang asal keluar dari mulutnya saja. Aku tidak menyangka kalau dia dan Kak Al benar-benar..." Zivanna yang mendengar penuturan Zaya langsung bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Sang Mama. Terang saja semua yang ada di sana menjadi semakin terkejut.


"Maafkan aku, Ma. Aku sungguh tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti tidak akan mau membantu Lily untuk menemui Kak Al..." Zivanna meminta maaf pada Zaya seolah dia sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.


Albern masih membeku dengan raut wajah yang tak dapat dilukiskan saat melihat adegan dramatis yang dimainkan adik kesayangannya itu.


"Apa yang mesti dikhawatirkan? Toh mereka berdua saling suka. Jika terjadi sesuatu, tinggal katakan pada Evan dan Carissa jika putra kita pasti akan bertanggung jawab." Aaron menanggapi dengan santai.


"Honey! Apa yang kamu katakan? Masalahnya tidak sesederhana itu. Kak Evan dan Carissa pasti tidak terima jika Albern melakukan hal yang tidak pantas pada putri mereka. Bukannya memberi restu, yang ada mereka malah membenci Albern." Sergah Zaya cepat. Dia terlihat tak terima mendengar kata-kata Aaron barusan.


Albern menghela nafasnya. Sebenarnya dia merasa senang jika Carissa memang mengetahui hubungannya dengan Lily. Tapi jika ada kesalahpahaman seperti ini, dia jadi sedikit khawatir situasinya akan menjadi agak rumit.


Belum sempat Albern mengatakan apapun untuk meluruskan kesalahpahaman itu, tiba-tiba ponsel Zaya berdering.


"Ya, Carissa." Zaya menerima panggilan yang ternyata dari Carissa.


"Apa besok kamu ada waktu? Sepertinya kita harus berbicara secara langsung." Carissa bertanya dari seberang sana.


Zaya melirik sekilas kearah Albern.


"Kalau boleh aku tahu, apa yang ingin kamu bicarakan?" Zaya balik bertanya pada Carissa.


Terdengar Carissa menghela nafasnya.


"Ini tentang anak-anak kita."


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2