Albern & Lily

Albern & Lily
Bala Bantuan


__ADS_3

Tak terasa, hari berlalu dengan cepat. Lima hari sudah Evan berada di Singapura, yang artinya pesta perusahaan yang diadakan oleh Brylee Group akan segera digelar. Atau lebih tepatnya akan digelar besok malam.


Lily masih belum berbicara dengan papanya tentang hubungannya dengan Albern. Dia takut hanya akan menambah beban pikiran sang papa. Lagipula, Albern memang tidak menceritakan pada Lily tentang Aaron yang saat ini sedang memberikan bantuan pada Dokter Evan, tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan. Albern memang berniat menceritakan semuanya jika permasalahannya sudah benar-benar selesai.


Dan tentu saja, jika semuanya berjalan lancar, rencana Albern untuk memperkenalkan Lily sebagai calon istrinya benar-benar akan segera terealisasikan.


Hari itu, Zivanna mengajak Lily untuk berbelanja sepulang dari kampus, tapi Lily menolaknya. Lily tahu jika Zivanna akan berbelanja untuk keperluan penampilannya di pesta perusahaan nanti. Ia tak ingin tiba-tiba merasa sedih karena teringat akan semua yang telah dipersiapkan Albern untuknya. Dengan alasan akan menemani mamanya pergi ke suatu tempat, Lily akhirnya terbebas dari permintaan Zivanna yang ingin ditemani berbelanja.


Lily memilih untuk pulang lebih dulu dan membiarkan Zivanna berbelanja keperluannya ke pesta nanti dengan ditemani oleh Darrel.


Sesampainya di rumah, Lily langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Setelah itu, ia datang menghampiri mamanya yang terlihat sedang menelpon sang papa.


"Baguslah kalau semuanya sudah bisa diatasi." Terdengar suara Carissa berujar lega.


"Kami di sini baik-baik saja. Tidak perlu merasa khawatir. Jadi kapan kamu pulang?" Tanya Carissa pada Evan di seberang sana.


"Ah, baiklah. Kami menunggumu. Salam untuk Mama dan Papa di sana." Carissa mengakhiri panggilan telponnya, lalu menoleh kearah Lily.


"Bagaimana kabar Papa, Ma?" Tanya Lily sambil duduk di samping sang mama.


"Papamu baik. Permasalahannya sudah bisa diatasi. Tinggal mengurus beberapa hal, semuanya beres." Jawab Carissa.


Lily tertegun sembari sedikit menautkan kedua alisnya.


"Bukankah tempo hari Papa bilang keluarga pasien tidak mau diajak berdamai? Tanya Lily.


Carissa sedikit menghela nafasnya.


"Tempo hari mereka memang bersikeras ingin menggugat rumah sakit secara hukum dan meminta kompensasi yang tidak masuk akal. Tapi tadi Papamu bilang mereka tiba-tiba mencabut gugatan dan memilih menyelesaikan permasalahan ini dengan jalur kekeluargaan." Ujarnya kemudian.


Lily kembali tertegun.

__ADS_1


"Apa mungkin ada yang membantu Papa secara diam-diam?" Tanya Lily dengan setengah bergumam.


"Papamu juga berpikir seperti itu. Tapi untuk saat ini, yang terpenting permasalahannya bisa selesai tanpa harus berseteru di pengadilan. Jika permasalahannya sampai berlarut-larut, itu pasti akan berimbas pada nama baik rumah sakit yang sudah dibangun selama puluhan tahun."


Lily mengangguk pelan.


"Benar juga. Rumah sakit itu dibangun oleh mendiang Kakeknya Papa. Jika sampai hancur karena insiden ini, Papa pasti akan merasa sangat bersalah." Lily membenarkan penuturan Carissa.


"Jadi kapan Papa pulang?" Tanya Lily kemudian.


"Papamu masih belum memastikan, karena meskipun permasalahannya sudah selesai, ada beberapa sistem di rumah sakit yang mesti di tinjau lagi. Apa yang mesti dibenahi harus segera dibenahi agar insiden seperti ini tidak akan terulang lagi." Jawab Carissa.


Lily mengangguk pelan. Tampaknya meski permasalahan papanya sudah bisa diatasi, dia tetap tak bisa hadir di pesta perusahaan yang diadakan Brylee Group nanti.


Ya, sudahlah. Jika memang seperti itu, Lily bisa apa. Dengan hati yang agak mencelos, Lily berusaha untuk tersenyum.


Tapi kemudian, asisten rumah tangga mereka buru-buru ke depan untuk membukakan pintu karena terdengar suara bel berbunyi. Tampaknya ada yang datang bertamu.


"Itu, Nyonya. Ada Tuan dan Nyonya besar Brylee, dengan putra mereka juga." Jawab si bibi.


"Hah?" Carissa sedikit terkejut dibuatnya. Begitu juga dengan Lily. Apakah gerangan yang membawa keluarga Brylee yang terhormat itu sampai mendatangi kediaman mereka


"Mama akan menemui mereka lebih dulu. Kamu ke dapur, minta Bibi siapkan minuman dan makanan ringan, lalu bawakan ke depan." Ujar Carissa pada Lily.


Lily pun mengangguk dan langsung ke belakang untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh mamanya tadi. Sedangkan Carissa langsung menuju ke ruang tamu untuk menemui tamunya.


Tak berapa lama, Lily pun menyusul ke sana sambil membawa minuman dan makanan ringan yang diminta Carissa tadi. Gadis itu langsung menghidangkannya di hadapan Aaron, Zaya dan juga Albern.


"Jadi apa yang membawa kalian datang kemari?" Tanya Carissa membuka percakapan. Dilihatnya secara bergantian ketiga orang dihadapannya ini dengan penuh tanda tanya.


"Jadi begini, besok malam perusahaan kami mengadakan sebuah pesta. Kami datang untuk mengundang secara langsung." Aaron menjawab pertanyaan Carissa.

__ADS_1


Carissa menautkan kedua alisnya. Ia agak heran dengan kata-kata yang diucapkan Aaron barusan. Benarkah hanya karena ingin mengundang ke sebuah pesta, keluarga Brylee harus datang langsung seperti ini? Bukankah Aaron dan Albern adalah orang-orang sibuk? Bagaimana mungkin mereka punya waktu untuk mengundang Carissa secara langsung?


Sementara itu, Lily yang telah duduk di samping Carissa tampak melihat kearah Albern dengan tatapan yang seakan ingin meminta penjelasan.


"Begini, Carissa. Kami sebenarnya datang selain untukmu, tapi juga untuk Lily." Kali ini Zaya yang membuka suaranya.


"Kamu sudah tahu jika Albern dan Lily sudah menjalin hubungan sejak beberapa waktu yang lalu. Jadi sekarang, Albern ingin mengajak Lily menghadiri pesta nanti sebagai pasangannya. Albern ingin mengumumkan secara resmi jika Lily adalah calon istrinya." Tambah Zaya lagi.


"A-apa?" Carissa terlihat agak terkejut, begitu juga dengan Lily. Gadis itu tak menyangka jika kedua orang tua Albern langsung yang akan meminta izin pada mamanya.


"Kami ingin meminta izin untuk membawa calon menantu kami untuk hadir ke pesta mendampingi Albern." Ujar Zaya lagi sambil mengulas senyumannya.


Calon menantu? Astaga, wajah Lily langsung memanas seketika saat mendengarnya. Dadanya juga menjadi berdebar tak menentu. Entah kenapa rasanya saat ini dia seperti sedang dilamar.


"Bagaimana, ya? Saat ini Papanya Lily sedang ada di Singapura. Aku tidak tahu mesti menjawab apa." Ujar Carissa dengan agak tidak enak.


"Tidak perlu khawatir. Permasalahan yang dihadapi rumah sakit Dokter Evan sekarang sudah selesai. Dia pasti akan segera kembali." Aaron menanggapi dengan santai.


"Bagaimana bisa kamu tahu hal itu? Apa jangan-jangan kamu yang diam-diam membantu suamiku?" Carissa tampak terkejut.


"Benar. Aku yang membantu suamimu agar reputasi rumah sakit miliknya terselamatkan. Sekarang kau juga yang harus membantuku untuk membiarkan putrimu pergi ke pesta perusahaan sebagai pasangan Albern. Nama baik Albern sedang dipertaruhkan di pesta itu nanti. Jika Lily tidak bisa hadir, reputasinya akan menjadi buruk dalam semalam." Aaron berujar lagi. Kali ini ada semacam ancaman terselubung di dalamnya.


Zaya hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Aaron. Sejak dulu, kemampuan bernegosiasi suaminya ini memang tak diragukan lagi.


"Carissa, izinkan Lily pergi bersama Albern ke pesta perusahaan besok malam. Saat suamimu pulang. Kita akan hadapi dan beri dia pengertian bersama-sama."


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2