
"Kamu kelihatan senang sekali?" tanya Albern saat melihat wajah Lily yang semringah. Lelaki itu baru saja menghubungi Lily melalui panggilan video call.
"Kak Al akhirnya video call juga. Sudah tiga hari aku tidak lihat wajah Kak Al," jawab Lily.
Albern tersenyum. Melihat muka bantal Lily, tampaknya gadis itu sudah tertidur saat dia melakukan panggilan video call-nya, padahal di sana Albern baru saja selesai makan siang dengan kliennya. Maklum saja, perbedaan waktu antara New York dan Jakarta memang berkisar sekitar 12 jam, jadi saat Albern menghubungi, jam di kamar Lily sudah menunjukkan waktu tengah malam.
"Ya, sudah. Tidur lagi sana. Nanti aku hubungi lagi kalau di sana sudah siang." Ujar Albern akhirnya saat melihat Lily menguap dengan agak tertahan.
"Jangan, jangan!" Mata Lily langsung terbuka sempurna saat Albern menyuruhnya untuk kembali tidur.
"Kak Al tunggu sebentar, ya. Jangan diputus panggilan video call-nya. Aku mau cuci muka dulu." Lily berlari ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Albern terlebih dahulu.
Albern yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Gadis itu selalu memperlihatkan tingkat ajaibnya tanpa sungkan. Seringkali terlihat konyol, tapi justru itulah pesona Lily yang membuat Albern tak mampu berpaling.
Tak lama kemudian, gadis itupun kembali dengan wajah yang lebih segar.
"Kak Al." Panggilnya sambil kembali duduk di depan layar ponselnya.
"Sudah selesai cuci mukanya?" Tanya Albern.
Lily mengangguk mengiyakan. Kemudian berganti ia yang tersenyum manis.
"Kak Al kapan pulang?" Tanya Lily kemudian.
"Kalau tidak ada masalah, lusa sudah pulang."
"Jangan sampai ada masalah, dong. Memangnya Kak Al suka di sana lama-lama."
Albern kembali tersenyum melihat bibir Lily yang sedikit mencebik.
"Tentu saja aku berharap tidak ada masalah lagi. Tapi sedikit lebih lama di sini juga tidak terlalu buruk." Ujar Albern menggoda.
Terang saja Lily terlihat agak marah.
"Kak Al tidak rindu denganku, ya?" tanyanya dengan suara yang mulai dipenuhi dengan getaran emosi.
Albern terkekeh melihat ekspresi Lily. Gadis itu terlihat seperti seorang anak kecil yang meminta permen pada Ibunya, tapi tidak diberi.
"Kak Al benar-benar jahat. Bisa-bisanya Kakak menertawakan aku seperti itu." Rajuk Lily lagi.
"Jangan merajuk begitu, kalau kamu cemberut, aku jadi ingin mencubit pipimu." ujar Albern.
"Ish, Kak Al!" Lily kembali mencebik, membuat Albern sekali lagi terkekeh.
"Cepatlah kembali, Kak Al," gumam Lily dengan nada lirih.
"Kamu memintaku untuk cepat-cepat kembali, memangnya kamu mau langsung menikah denganku kalau aku sudah kembali nanti?"
Mata Lily sedikit melebar.
__ADS_1
"Ngaco!" seru Lily.
"Kak Al sudah pergi untuk waktu yang cukup lama. Kakak harus memberiku kompensasi."
"Baru Lima hari."
"Tapi buatku itu lama!"
"Baiklah..." Albern kembali tak kuasa menahan senyumnya. Entah kenapa, berdebat dengan Lily dan memghadapi sikapnya yang seringkali kekanakan, itu saja sudah membuat hati Albern terasa sangat senang. Bahagia Albern terasa sangat sederhana jika ada Lily bersamanya.
"Kamu mau oleh-oleh apa?" Tanya Albern kemudian.
"Aku boleh minta apa saja?" Lily balik bertanya.
"Selama itu tidak membuat Brylee Group bangkrut."
Lily tertawa renyah.
"Oke, sebentar. Aku pikir dulu." Gadis itu tampak memasang ekspresi jika dia sedang berpikir keras.
"Ah, aku tahu. Tapi Kak Al sungguh akan membawakannya untukku, kan?"
"Tentu saja."
"Yang benar?"
"Apa aku pernah berbohong?"
"Kalau begitu, Kak Al bawakan aku pria bule yang punya rambut coklat dan kulit eksotis." Pinta Lily kemudian dengan tanpa beban sedikitpun.
"Apa?" Albern terlihat sangat terkejut mendengar permintaan gadis itu.
Sontak Lily tertawa dengan sangat terbahak-bahak. Wajah gadis itu sampai memerah karena tertawa, bahkan terlihat dia juga sampai memegangi perutnya.
"Wajah Kak Al lucu sekali ... hahahaha ...."
Albern hanya bisa menghela nafasnya saja. Untuk kesekian kalinya Lily berhasil mengerjainya. Awas saja, saat dia pulang nanti, dia pasti akan menghukum gadis nakal ini.
"Sudah selesai tertawanya? Kamu tidak khawatir Mama atau Papamu mendengar suaramu?" tanya Albern saat tawa Lily mulai mereda.
"Ups!" Lily buru-buru membekap mulutnya.
"Aku lupa ini tengah malam."
Berganti Albern yang tertawa.
"Dasar anak nakal. Aku benar-benar harus menghukummu saat pulang nanti," ujar Albern kemudian.
"Ish, takut ...." Lily pura-pura takut.
__ADS_1
Albern tersenyum sambil menatap wajah Lily di layar ponselnya. Gadis nakal dan jahil ini, dia benar-benar merindukannya.
"Lily." Panggil Albern.
"Ya?"
"Saat aku pulang nanti, kita temui Papamu, ya?"
Lily terkesiap. Tak menyangka jika Albern akan kembali membahas hal ini. Dia kita tadi Albern hanya bercanda soal pernikahan.
"Aku ingin meminta restu Papamu, dan menjalani hubungan kita dengan tenang. Meskipun kita masih belum bisa menikah, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.
Lily masih terdiam dan tak tahu harus menjawab apa.
"Sebenarnya aku masih takut, Kak. Bagaimana kalau Papaku murka, lalu berusaha untuk memisahkan kita?" Gumam Lily kemudian setelah terdiam agak lama.
"Cepat atau lambat kita akan tetap menghadapi apapun reaksi Papamu. Tapi akan lebih baik jika kita sendiri yang memberitahukan hubungan kita, daripada beliau tahu dari orang lain. Itu akan membuat Papamu jauh lebih marah."
Lily kembali terdiam dan menelan salivanya dengan agak kesusahan.
"Kak Al yakin untuk memberitahu Papa apapun resikonya nanti?" Tanya Lily lagi.
"Tentu saja."
"Meskipun nanti kita akan diminta berpisah oleh Papa?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Lily. Aku akan melakukan apapun agar Papamu memberikan restunya." Albern meyakinkan.
Lily kembali terdiam. Ia ingin mempercayai kata-kata Albern, tapi dia juga sangat mengenal karakteristik Papanya. Dokter Evan adalah lelaki paling lembut, tapi juga paling keras sedunia. Jika lelaki paruh baya itu sudah tidak suka akan sesuatu, akan sangat sulit untuk membuatnya menerima hal itu.
"Apa Kak Al bisa berjanji kita akan tetap berjuang meskipun Papa nanti tidak setuju dengan hubungan kita?"
"Tentu saja. Bukankah sudah aku bilang jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu? Jika nanti Papamu tidak setuju dengan hubungan kita, yang harus aku lakukan adalah berusaha sekeras mungkin agar Papamu menjadi setuju."
Lily tertegun sejenak.
"Lily, kamu percaya padaku, kan?"
Lily mengangkat wajahnya dan melihat ke arah layar ponselnya. Ditatapnya Albern yang saat saat ini juga sedang menatapnya.
"Iya, aku percaya." Jawab Lily akhirnya.
Albern tersenyum dan kembali menyentuh layar ponselnya, seakan dia sedang membelai wajah Lily lagi.
Senyum Lily pun ikut mengembang.
"Cepat pulang, Kak Al ...."
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️