Albern & Lily

Albern & Lily
Kebahagiaan yang Terus Datang


__ADS_3

Pada akhirnya, diputuskan kalau pernikahan Zivanna dan Darrel akan dilaksanakan setelah semua persiapan Darrel rampung. Sebagai ganti karena belum bisa langsung menikah, mereka akan bertunangan terlebih terlebih dahulu. Aaron memutuskan hal itu demi menghargai upaya Darrel selama ini. Dia tak ingin kerja keras bakal calon menantunya itu tersia-siakan saja.


Pertunangan Darrel dan Zivanna pun dilakukan dua minggu setelahnya. Karena kondisi masih tak terlalu kondusif, acara pertunangan berlangsung sederhana seperti halnya pernikahan Albern dan Lily sebelumnya. Bahkan, Ginna yang sedang menjalani perawatan di Singapura saja tidak hadir karena kondisinya yang tak memungkinkan untuk pulang.


Setelah acara pertunangan usai, semua anggota keluarga Brylee kembali pada rutinitas masing-masing. Albern dan Lily sibuk dengan proyeknya, sedangkan Zivanna dan Darrel juga kembali sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor masing-masing. Sementara itu, Aaron dan Zaya langsung bertolak ke Singapura untuk mendampingi Ginna menjalani pengobatannya, setelah beberapa waktu terakhir nyonya besar tersebut hanya didampingi oleh orang-orang kepercayaannya saja.


Atas permintaan Ginna, saat ini Albern dan Lily tinggal di rumah besar miliknya. Rumah yang merupakan hunian utama keluarga Brylee, namun kini terasa sangat sepi karena hanya Ginna sendirian saja yang tinggal di sana, sedangkan Aaron sekeluarga tinggal di rumahnya sendiri. Untuk itulah, setelah Albern dan Lily menikah, Ginna meminta pasangan pengantin baru tersebut untuk tinggal di rumah itu saja. Apalagi sekarang Ginna juga sedang menjalani pengobatan di Singapura. Akan sangat disayangkan jika kediaman utama keluarga Brylee yang megah itu dibiarkan kosong.


Hari itu, Lily tiba di rumah lebih dulu daripada Albern. Padahal, sebenarnya masih ada acara makan malam yang mesti dia hadiri sebagai perwakilan dari perusahaan farmasi miliknya. Namun, karena tubuhnya terasa sangat lelah, dia pun hanya mengutus sekretarisnya saja untuk datang.


"Apa Nyonya sudah makan malam?" tanya seorang pelayan yang menyambut kepulangan Lily.


"Belum," jawab Lily.


"Akan segera saya siapkan makan malam untuk Nyonya. Mau makan malam di kamar atau di meja makan, Nyonya?" tanya itu lagi.


"Di kamar saja." Lily kembali menjawab sambil terus melangkah ke arah kamarnya, tak memberikan pelayan tersebut kesempatan untuk mengatakan apapun lagi. Biasanya dia akan bersikap sangat ramah pada para pelayan yang ada di rumah tersebut. Namun, kali ini tubuhnya benar-benar terasa tidak enak, sehingga dia ingin cepat-cepat beristirahat.


Setibanya di kamar, Lily langsung membersihkan diri dan berganti dengan pakaian santai. Setelah itu, dia pun naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas. Tapi baru saja dia hendak memejamkan mata, terdengar suara ketukan di pintu kamar. Seorang pelayan masuk dengan membawakan makan malam untuk Lily.


"Taruh di sana saja," ujar Lily sambil menunjuk ke atas nakas.


"Baik, Nyonya." Pelayan tersebut melakukan seperti yang Lily minta, lalu langsung pamit undur diri.


Lily sebenarnya sangat tak berselera makan, tapi tentu dia mesti memaksakan diri jika tak ingin jatuh sakit. Karena itu, dia pun beringsut dari atas tempat tidur dan meraih nampan yang diletakkan di atas nakas tadi.

__ADS_1


Sepiring nasi dengan lauk daging tumis paprika serta oseng sayuran, juga ada puding dan salad buah sebagai makanan penutup. Sebenarnya Lily menyukai semua menu tersebut, tapi entah kenapa kali ini dia amat sangat tak berselera untuk makan. Dimasukkannya satu suapan ke dalam mulutnya sembari menghela nafas panjang.


Baru tiga suap, Lily tak sanggup lagi. Dia meneguk hingga tandas segelas air putih yang juga tersedia di nampan makan malamnya, lalu meletakkan kembali nampan tersebut di atas nakas. Kepalanya mendadak menjadi pusing karena perutnya diisi makanan. Lily pun bangkit karena teringat akan sesuatu.


Saat dalam perjalanan pulang tadi, Lily menyempatkan diri mampir ke apotik dan membeli alat tes kehamilan. Karena kesibukan yang menyita waktunya setelah menikah, dia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya mendapatan menstruasi. Antara sebulan atau dua bulan yang lalu. Dia curiga kalau dirinya hamil, apalagi saat merasakan kondisi tubuhnya belakangan ini yang suka tak menentu.


Lily mengambil alat tes kehamilan yang dibelinya, lalu membawanya ke dalam toilet. Dengan harap-harap cemas, Dia mulai melakukan tes dengan menggunakan cairan urinnya. Beberapa detik menunggu alat tersebut bekerja, dia tampak menahan nafas karena tegang. Hingga akhirnya, dua buah garis pun perlahan muncul dan lama-lama terlihat jelas.


Tanpa sadar Lily membekap mulutnya sendiri yang nyaris terpekik karena senang. Dia memang sudah curiga kalau dirinya hamil, tapi saat telah memastikannya sendiri seperti ini, perasaan bahagia itu tetap saja meledak tak tertahankan. Matanya sampai berkaca-kaca karena merasa terharu. Diusapnya pelan perutnya yang saat ini masih terasa rata. Tak percaya rasanya jika di dalam sana kini telah tumbuh benih dari lelaki yang amat dicintainya.


"Kak Al," gumam Lily setelah berhasil meredakan uforia di dadanya. Dia langsung teringat pada sang suami dan berniat segera memberitahu suaminya itu prihal kehamilannya.


Lily meletakkan begitu saja alat tes kehamilannya di atas wastafel kamar mandi, lalu keluar dari tempat itu. Dia segera mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Albern. Namun sayang, suaminya itu tampaknya sedang sangat sibuk sehingga tak menjawab panggilannya.


"Ya sudahlah, tunggu Kak Al pulang saja," gumam Lily pada dirinya sendiri. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu naik kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Waktu menunjukkan hampir tengah malam saat Albern pulang. Lelaki itu masuk ke dalam kamar dan langsung mendekati tempat tidur di mana Lily kini sedang terlelap. Dilihatnya sekilas ponsel Lily yang tergeletak di atas nakas. Dia sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat panggilan tak terjawab darinya di ponsel istrinya itu.


"Kamu bikin khawatir saja. Menelepon, tapi ditelepon balik malah tidak menjawab," gumam Albern sambil mengusap lembut pucuk kepala Lily. Ditatapnya sejenak wajah damai Lily yang tengah terlelap, lalu tersenyum tipis.


Setelah itu, Albern lalu menyelimuti Lily dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening istrinya itu, sebelum akhirnya dia bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Albern baru saja menanggalkan pakaian bagian atasnya saat matanya melihat sesuatu di atas wastafel kamar mandi. Lelaki itu pun mendekati wastafel dan meraih benda yang mencuri perhatiannya tersebut. Kening Albern terlihat agak mengerut. Dia tahu jika benda itu adalah alat tes kehamilan. Dia juga tahu jika dua garis yang ada pada alat tersebut menandakan jika pemiliknya positif hamil. Mata Albern seketika membeliak begitu menyadari sesuatu.


Segera Albern keluar dari kamar mandi dan bergegas ke arah tempat.

__ADS_1


"Lily, Sayang, bangun, Lily!" Albern mengoyang-goyang tubuh Lily agar terjaga.


Lily hanya menggumam sesaat.


"Lily, bangun dulu. Jelaskan padaku, ini apa?" tanya Albern sambil menggoyang-goyang lagi tubuh Lily.


Lily akhirnya membuka matanya. Dia agak terkejut mendapati Albern kini telah berada di hadapannya sembari menatapnya dengan tatapan yang entah ... tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


"Kak Al ...." Lily beringsut duduk sembari mengucek matanya.


"Ini." Albern menunjukkan alat tes kehamilan yang didapatnya dari kamar mandi tadi. "Ini punyamu?"


Lily menatap benda itu sejenak, sebelum kemudian mengangguk pelan.


"Ini sungguhan punyamu, Sayang? Kamu hamil?" tanya Albern lagi.


"Iya, alat tesnya, sih, bilang begitu," sahut Lily.


Raut wajah Albern langsung berubah semakin tak menentu. Antara senang, terkejut, bahkan juga seperti orang yang mau menangis. Detik berikutnya, Lily merasakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan lelaki itu.


"Terima kasih, Lily. Terima kasih," gumam Albern sembari mengecupi pucuk kepala Lily berulang-kali.


"Terima kasih ...," ujar Albern lagi dengan suara yang agak bergetar.


Albern tak tahu seperti apa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Setelah perjuangannya yang begitu panjang untuk bersatu dengan Lily, kini setiap hari yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan saja, sampai-sampai dia merasa jika dirinya saat ini sedang berada di alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2