Albern & Lily

Albern & Lily
Kepulangan Evan


__ADS_3

Carissa tak henti memandangi raut wajah bahagia Lily. Sepulang dari pesta semalam hingga pagi ini, anak gadisnya itu terus mengulas senyuman manis. Carissa tahu, hati Lily saat ini sedang diliputi kebahagiaan yang tak terkira. Albern mengumumkannya sebagai pasangan di hadapan semua undangan pesta yang hadir semalam. Aaron dan Zaya juga menyambut kehadiran Lily dengan tangan terbuka sebagai calon menantu masa depan mereka.


Semuanya terasa sempurna jika Carissa tidak mengingat tentang Evan. Saat suaminya itu pulang, maka hampir bisa dipastikan jika akan ada sesuatu yang terjadi. Dan tampaknya sesuatu itu bukanlah hal yang baik.


Tapi Lily terlalu bahagia hingga Carissa tak tega untuk mengacaukan suasana pagi ini dengan mengingatkan putrinya itu tentang papanya. Biarlah Lily menikmati dulu semuanya sebelum sang papa pulang. Di samping itu, Carissa juga sedang memikirkan cara bagaimana supaya Evan tidak terlalu marah dengan keputusan yang sudah Carissa ambil. Carissa berharap pada akhirnya Evan juga akan memberikan restunya pada hubungan Albern serta Lily.


"Ma, hari ini di rumah Kak Al diadakan makan siang keluarga bersama Grandma Ginna. Mama Zaya memintaku untuk datang. Beliau bilang, Grandma Ginna ingin bertemu denganku," ujar Lily kemudian sambil mengunyah sarapannya.


Carissa tertegun sejenak. Ia langsung terbayang pada sosok Nyonya Ginna yang Lily sebut Grandma tadi. Orang tua Aaron yang terkenal dengan sifat tegasnya. Pastilah beliau sudah mendengar jika cucu kesayangannya menjalin hubungan dengan Lily, makanya ingin bertemu.


Carissa dulu begitu dekat dengan Ginna, bahkan Ginna sering meminta Carissa pergi bersamanya saat Carissa punya waktu luang. Tapi sejak menikah, Carissa hanya sesekali bertemu dengan Ginna dan tidak sedekat dulu.


"Aku boleh datang, kan, Ma?" tanya Lily kemudian saat melihat Carissa tak merespon kata-katanya tadi.


Carissa mengangguk mengiyakan sembari melanjutkan menyantap sarapannya.


"Ma, bagaimana pendapat Mama tentang menikah muda?" Lily kembali bertanya. Kali ini nada suaranya terdengar lebih rendah dan hati-hati.


Carissa mendongakkan wajahnya dan menatap putrinya itu sejenak.


"Kuliah dulu yang benar, tidak usah membahas tentang pernikahan," jawab Carissa.


'Meyakinkan Papamu saja belum bisa, mau bicara tentang menikah.' Sambung Carissa lagi dalam hati.


"Aku kan cuma tanya pendapat Mama," sungut Lily.


"Memangnya kenapa kamu bertanya? Kamu berniat untuk menikah muda?" Carissa balik bertanya.


"Tidak juga," kilah Lily.


Carissa kembali melirik putrinya itu. Sangat jelas jika jawaban Lily tadi sangat bertolak belakang dengan kata hatinya.


"Menikah itu butuh kesiapan, Lily. Terutama kesiapan mental. Karena saat menikah, selain mendapatkan kebahagiaan, kamu juga akan mendapatkan cobaan paling berat dalam hidup. Permasalah rumah tangga bisa datang dari mana saja, jadi sangat butuh kedewasaan dalam menghadapinya," ujar Carissa kemudian.

__ADS_1


"Albern sangat dewasa, baik dari segi usia ataupun dari segi pola pikir. Tapi kamu, mencari barang yang tidak kunjung ketemu saja kamu masih suka menangis, bagaimana mau jadi seorang istri, apalagi seorang ibu," tambah Carissa lagi.


Lily langsung cemberut mendengar kata-kata sang mama, meskipun memang banyak benarnya. Sikap Lily masih sering kekanakan, ia sendiri menyadari hal itu.


"Menikah itu sebuah komitmen yang penuh dengan tanggung jawab, Lily. Dan tanggung jawab itu tidak bisa dipenuhi oleh satu orang saja, tapi harus dipenuhi oleh keduanya. Jika dalam sebuah pernikahan ada ketidakseimbangan, maka pernikahan itu akan menjadi sangat tidak sehat. Pantaskanlah dulu dirimu sebelum benar-benar memutuskan untuk menjadi istri Albern."


Lily terdiam dan mencerna kata-kata mamanya itu. Memang benar jika dia masih sangat banyak kekurangan jika dibandingkan dengan Albern. Tapi entah kenapa rasanya dia ingin menyangkal.


"Untuk saat ini nikmati saja hubunganmu yang sekarang. Masih terlalu dini untuk membahas tentang pernikahan. Lagipula, kita juga belum menemukan cara untuk meyakinkan Papamu. Tapi ingat, jangan berani-berani melakukan sesuatu yang dilarang kesusilaan dan Agama." Carissa menyudahi sarapannya, lalu meninggalkan meja makan. Sedangkan Lily masih tertegun mencerna kata-kata mamanya tadi.


Lily akhirnya juga ikut menyudahi sarapannya dan kembali ke kamarnya. Hari itu weekend, jadi Lily hanya bersantai sambil menunggu siang tiba.


Seperti yang disampaikan Lily sebelumnya pada Carissa, menjelang siang dia bersiap pergi ke kediaman keluarga Brylee. Dan tak lama kemudian, Albern sendiri yang datang menjemputnya. Mereka berdua berangkat setelah berpamitan pada Carissa.


Carissa memandangi mobil yang ditumpangi Albern dan Lily dengan perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi dia bahagia melihat putrinya itu bahagia, tapi di sisi lain dia merasa cemas menunggu apa yang akan terjadi nanti saat suaminya kembali.


Carissa menghela nafasnya. Ia tak henti berdoa agar semuanya baik-baik saja.


Setelah mobil yang ditumpangi Albern dan Lily telah menghilang sepenuhnya dari pandangannya, Carissa pun kembali masuk ke dalam rumah. Dia berusaha menghubungi Evan untuk kesekian kalinya, tapi nomor kontak suaminya itu tak bisa dihubungi.


Carissa pun memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan menata kembali bunga-bunga yang ia tanam di taman samping rumahnya.


"Nyonya." Panggilan dari asisten rumah tangga Carissa membuat Carissa menghentikan kesibukannya.


"Ada apa?" tanya Carissa.


"Tuan Evan pulang."


Sontak Carissa langsung bangkit dari posisinya yang agak berjongkok, lalu melepas sarung tangannya.


"Tolong bereskan ini," pintanya pada sang asisten rumah tangga.


Setelah perempuan dihadapannya itu mengiyakan, Carissa bergegas masuk ke dalam rumah. Terlihat Evan masih berdiri di ruang keluarga dengan membawa serta kopernya.

__ADS_1


"Aku baru saja menghubungimu tadi, tapi nomormu tidak aktif. Kenapa tidak bilang kalau hari ini pulang, aku kan bisa jemput ke bandara." Carissa menyambut suaminya itu sambil hendak mengambil alih koper yang dibawanya.


"Di mana Lily?" Bukannya menanggapi kata-kata Carissa, Evan justru langsung bertanya tentang Lily.


"Lily ...." Carissa tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Ia tertegun sembari menelan salivanya dengan agak kesusahan.


"Di mana Lily, Carissa? Jawab!" Evan kembali bertanya dengan nada meninggi.


Carissa agak terkejut mendengar suara Evan yang keras. Wajah perempuan setengah baya itu seketika menjadi pias.


"Lily pergi ke rumah Zivanna," jawab Carissa berusaha untuk tenang.


"Maksudmu Lily sedang berada di rumah keluarga Brylee? Untuk apa? Jangan bilang untuk mengerjakan tugas. Ini akhir pekan. Keluarga Brylee punya acara keluarga saat akhir pekan seperti ini."


Carissa menghela nafasnya. Berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk dikatakan pada suaminya ini.


"Lily diundang untuk makan siang bersama keluarga mereka. Tante Ginna ingin bertemu Lily." Ujar Carissa akhirnya.


Evan memandang Carissa dengan tatapan yang tajam dan wajah yang mengeras.


"Ambilkan aku kunci mobil," perintah Evan.


"Untuk apa? Kamu baru saja kembali, pasti lelah. Istirahatlah dulu ...."


"Ambilkan aku kunci mobil! Sekarang!"


Bersambung...


Ibu-ibu komplek kesayangan emak othor yang penasaran sama kelanjutan cerita Albern-Lily, harap sabar ya, karena seperti yg emak bilang sebelumnya, novel ini sekarang slow update.


Emak ga ngambek kok, kalo ngambek mah bakal stop aja sekalian, ga dilanjutin lagi. Tapi sekarang fokus emak ga di platfon ini lagi, emak lagi kejar up di patfon sebelah, jadi harap maklum ya.


Sebenarnya reader disini tuh baik bgt menurut emak, selalu kasih support dan semangat. Terima kasih buat semuanya. Itulah yang bikin emak ga bisa ninggalin cerita Albern Lily begitu aja meskipun ga ada timbal balik dari pihak platfon. Jadi sekali lagi sabar, ya, Insya Allah cerita ini bakal sampe end, tapi seperti yg emak bilang tadi, updatenya slow.

__ADS_1


Tungguin aja kelanjutannya,


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2