
Setelah tertegun agak lama, akhirnya Albren sedikit menghela nafasnya sambil mengulas senyum tipis. Gadis dihadapannya ini masih sangat muda dan labil, sehingga emosinya akan sangat mudah tersulut, dan moodnya juga akan berubah-ubah dengan sangat cepat.
Ditatapnya Lily dengan tatapan yang lembut sembari diusapnya lembut pucuk kepala gadis itu.
"Baiklah, aku tidak akan menyebut nama perempuan manapun dan tidak akan lagi mengatakan ada yang cantik selain calon istri masa depanku ini, kecuali itu Mamaku dan Zivanna." Ujar Albern akhirnya. Mencoba mengalah agar sosok dihadapannya ini tidak merajuk lagi padanya.
Lily terdiam sesaat, seakan sedang mempertimbangkan keseriusan kata-kata Albern tadi.
"Janji?" Tanyanya kemudian.
Albern mengangguk.
"Bilang janji dulu..." Rengek Lily dengan suara manja.
'Haisss..., dasar anak kecil.' Darrel yang menunggu di balkon menggerutu dalam hati sambil mencebikkan bibirnya. Pemuda itu mau tak mau mendengarkan percakapan Lily dan Albern sambil sesekali memutar bola matanya jengah. Tak habis pikir dia, bagaimana Lily bisa membuat Tuan Muda keluarga Brylee sampai bertekuk lutut seperti itu.
Sesekali Darrel mengusap-usap lengannya sendiri karena kedinginan. Tampaknya bertemu dengan pujaan hati membuat Lily melupakan keberadaannya di balkon kamar. Darrel mulai kesal karena bosan, tapi sangat tidak mungkin ia pergi lebih dulu dan meninggalkan Lily sendirian di sini.
Yang bisa Darrel lakukan hanyalah menunggu dengan pasrah, dan berharap drama yang dibuat Lily di dalam sana tidak akan memakan waktu terlalu lama.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Albern, Lily masih terlihat tak senang karena Albern belum juga bersedia mengucapkan janji seperti yang diinginkannya tadi.
"Entahlah, ketimbang janji yang seperti tadi, aku masih memilih untuk janji menikahimu secepatnya saja," ujar Albern akhirnya dengan sedikit menggoda.
"Kak Al ...." Lily membuang wajahnya dengan pipi memanas. Dapat Lily dengar suara kekehan Albern yang puas karena telah berhasil menggodanya.
Albern menghentikan tawanya, lalu membelai wajah Lily lembut.
"Mulai sekarang, tidak perlu khawatir lagi aku akan berpaling pada gadis lain. Bagiku, tidak ada gadis yang lebih menarik dibandingkan denganmu. Tidak perlu merasa cemburu lagi, oke?" Sekali lagi Albern melancarkan rayuan mautnya hingga tanpa sadar bibir manyun Lily mulai menipis, membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Albern sendiri sebenarnya merasa heran, entah dari mana dia mendapatkan kosakata ajaib itu hingga kalimat-kalimat rayuan meluncur begitu saja dari mulutnya. Sepertinya pertahanan dirinya sebagai seorang lelaki bekerja lebih baik daripada yang ia bayangkan.
Kini Albern mengerti kenapa papanya yang kaku itu bisa bersikap begitu manis pada Mamanya. Ternyata perasaan cinta bisa membuat seorang lelaki melakukan sesuatu yang melampaui kesanggupannya. Dan gadis di hadapannya ini adalah satu-satunya perempuan yang membuat Albern seringkali melampaui batasannya sendiri.
Lily akhirnya tersenyum dengan sangat manis setelah sebelumnya sempat memukul-mukul Albern tanpa ampun. Gadis itu tersipu. Lalu tak lama kemudian, dia mengangkat wajahnya dengan ceria.
"Baiklah, aku tidak marah lagi. Tapi lain kali Kak Al harus menghubungi ku, ya," ujar Lily sambil menengadahkan wajahnya.
Berganti Albern yang tersenyum sambil mengiyakan permintaan Lily.
"Di New York nanti, walaupun Kak Al sibuk, Kak Al juga harus tetap menghubungi ku. Awas saja kalau Kak Al tidak ada kabar, aku akan langsung menyusul, lalu tiba-tiba muncul dihadapan Kakak seperti sekarang." Ujar Lily lagi dengan sedikit mengancam.
Albern terdiam sejenak. Jika ancaman itu keluar dari mulut gadis lain, Albern pasti tidak akan terlalu menggubrisnya. Tapi sekarang kata-kata itu keluar dari mulut Lily Bramasta, gadis ajaib yang mampu melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. Tentu saja tidak lucu jika Lily mendadak muncul di New York dan menyergapnya seperti tadi. Bisa-bisa bisnisnya akan berpindah haluan.
"Oke, aku akan menghubungi mu setiap hari selama aku di sana. Tapi kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh selama aku tidak ada." Ujar Albern dengan nada yang lebih serius.
"Memangnya kapan aku melakukan hal aneh?" Lily justru bertanya dengan wajah tanpa dosa. Didongakkan wajahnya melihat ke arah Albern.
"Ehemm..!!" Suara deheman dari arah balkon menghentikan percakapan absurd yang Albern dan Lily lakukan. Seketika Lily berdehem karena tenggorokannya tiba-tiba saja terasa tak enak. Dia baru menyadari jika datang ke sini tadi tidak sendirian, ada Darrel yang menunggu di balkon ruang kerja Albern.
"Siapa itu?" Albern melihat ke arah luar jendela.
"Saya, Tuan Muda." Darrel membungkuk hormat saat Albern mendapati keberadaannya.
Seketika Albern membeliakkan matanya.
"Darrel? Jadi kamu yang mengajak Lily ke sini?" Tanya Albern dengan nada suara yang agak marah.
"Maaf, Tuan Muda, justru sebaliknya. Lily yang menyeret paksa saya sampai kemari." Darrel membela diri.
__ADS_1
"Saya tidak punya pilihan selain mengikutinya, daripada dia nekat pergi sendiri. Itu jauh lebih berbahaya." Tambah Darrel lagi.
Albern tampak menghela nafasnya sekali lagi, lalu menoleh kearah Lily untuk mengkonfirmasi kata-kata Darrel barusan. Dan Lily pun tak ada niat untuk menyangkal. Ia mengangguk mengiyakan kata-kata Darrel.
Albern terlihat sangat syok. Tapi belum sempat bereaksi lebih banyak, Terdengar suara Ketukan dari arah pintu ruang kerja.
Sontak Lily langsung melompat ke arah balkon tempat Darrel berada dan segera menutup jendela. Bersamaan dengan itu, Zivanna masuk ke ruang kerja Albern tanpa ada komando dari Albern untuk masuk sebelumnya.
"Kak Al." Panggil Zivanna.
Secara impulsif Albern menoleh ke arah tempat Lily tadi berdiri. Dan ternyata gadis itu tidak ada lagi di tempat sebelumnya. Jendela pun sudah tertutup kembali. Tampaknya dia sudah keluar melalui jendela sesaat sebelum Zivanna masuk.
"Kak Al, maaf mengganggu. Aku cuma ingin mengingatkan jika Kak Al tidak boleh sampai tergoda dengan perempuan bernama Briana itu selama ada di New York nanti."
Albern kembali menoleh kearah Zivanna.
"Sangat terlihat jika dia menyukai Kak Al. Aku tidak suka melihat cara dia menatap Kakak. Jangan pernah berpikir untuk mengkhianati Lily, Kak. Dia itu temanku." Ujar Zivanna lagi dengan nada serius.
Tuhan saja yang tahu bagaimana berbunganya hari Lily mendengar kata-kata Zivanna itu.
'Lily tidak seperti para gadis lain yang menginginkan Kak Al karena semua yang Kakak punya saat ini. Dia tulus, meskipun seringkali kelakuannya memang sangat menjengkelkan. Aku akui dia itu manja, pemaksa, banyak maunya dan sering membuat kepala orang menjadi pusing. Dia juga bahkan terkadang bersikap narsis dan membuat orang benar-benar merasa mau muntah."
Lily yang berada di balkon mendelik mendengar deskripsi Zivanna tentang dirinya.
'Terus, Kak Zi, terus ... keluarkan saja semuanya. Aku akan anggap tidak mendengar apa-apa.'
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️