Albern & Lily

Albern & Lily
Momen yang Ditunggu


__ADS_3

Setelah momen mengharukan antara Lily dan sang papa, akhirnya upacara pernikahan antara pun dimulai. Dengan perasaan berdebar, Lily memasuki aula tempat di mana dia akan melangsungkan pernikahan bersama Albern. Dapat dia lihat, lelaki pujaannya itu telah menunggunya dengan mengenakan tuxedo berwarna hitam. Mata keduanya bertemu dan waktu seakan terhenti sejenak. Teringat lagi bagaimana perjuangan mereka selama beberapa tahun belakangan demi untuk bisa bersanding sebagai sepasang pengantin seperti sekarang ini.


Perasaan Lily menjadi bergemuruh. Berbagai emosi tiba-tiba memenuhi hatinya saat ini.


'Perjuanganmu terbayar lunas, Lily. Lelaki yang selama ini selalu kamu impikan, kini sedang menunggumu sebagai pengantin lelakimu.' Lily bergumam pada dirinya sendiri dalam hati. Senyumnya seketika merekah, membuat Albern juga melakukan hal yang sama.


Setelah pengantin perempuan hadir, pembawa acara langsung mengumumkan jika prosesi pernikahan akan segera dimulai. Suasana pun hening sejenak. Semua orang tampak khidmat menyaksikan prosesi pernikahan.


Tak menunggu waktu lama, Lily dan Albern pun akhirnya dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Tangis haru pun pecah saat keduanya menyalami orang tua masing-masing, terlebih saat pasangan pengantin baru tersebut menghadap pada Ginna yang mengikuti acara pernikahan tersebut sembari duduk di atas kursi roda. Keduanya tampak meminta doa pada Ginna sembari bersimpuh di hadapan perempuan renta itu, sehingga membuat terenyuh siapapun yang melihatnya.


Kedua tangan Ginna terulur dan menyentuh wajah Albern dan Lily dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Hiduplah dengan bahagia, Cucuku," ujar Ginna dengan suara bergetar. Diusapnya kepala Albern lembut, lalu bergantian pada Lily juga.


"Terima kasih karena telah membuat Grandma bisa menyaksikan pernikahan kalian." Ginna menambahkan sembari menyeka sudut matanya yang berair. "Sekarang Grandma lega dan siap jika harus segera menyusul Grandpa ...."


"Tidak, Grandma." Lily dan Albern menyahut hampir bersamaan.


"Grandma harus segera sembuh dan tetap sehat. Grandma harus menyaksikan anak-anak kami lahir,"ujar Albern, yang langsung ditimpali anggukan oleh Lily.


"Grandma harus bersama kami lebih lama lagi." Lily menambahkan.


Air mata Ginna jatuh tak tertahankan. Nyonya Besar Brylee yang terkenal tangguh itu tak kuasa menahan tangisnya mendengar ucapan Albern dan juga Lily. Dia langsung memeluk pasangan pengantin baru itu secara bersamaan sembari terisak lirih.

__ADS_1


"Iya, benar. Aku masih harus bertahan agar bisa melihat anak-anak kalian lahir," ujar Ginna dengan sangat emosional.


Lily dan Albern sama-sama membalas pelukan Ginna. Keduanya juga sama emosionalnya dengan perempuan renta itu. Bahkan Albern yang pantang meneteskan air mata dalam keadaan apapun, kali ini juga tak bisa menahan tangisnya. Tak ada yang mampu menahan perasaan. Baik itu Lily, Albern maupun Ginna. Bahkan semua yang menyaksikan adegan itu juga merasa terenyuh, sampai diamdiam menyeka sudut mata mereka yang ikut berair.


"Terima kasih karena sudah bersedia bertahan, Grandma," ujar Albern sambil mengurai pelukannya, diikuti oleh Lily.


Ginna kembali mengusap kepala Albern dan Lily secara bergantian, lalu mengulas senyumnya. Senyum yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang spesialnya saja, karena jika sedang berhadapan dengan orang lain, Ginna lebih banyak memperlihatkan raut wajah datarnya.


"Sudah, ini hari yang bahagia, jangan buat suasananya jadi sedih," ujar Ginna. Dia kemudian meminta Albern dan Lily untuk berdiri.


"Jangan hanya berbicara dengan Grandma saja. Sapa para tamu undangan yang lain. Mereka pasti ingin memberi selamat juga pada kalian," pinta Ginna lagi.


Albern dan Lily saling pandang sejenak, lalu melihat sekilas ke arah sekeliling mereka. Benar saja, meski tak banyak, ada para tamu undangan yang datang ke pernikahan mereka saat ini. Tentu saja para tamu undangan tersebut mesti disapa oleh pasangan pengantin itu.


Ginna mengiyakan ucapan cucunya itu. Meski cuaca cerah, tapi cukup banyak angin yang berhembus sehingga dia memang merasa kedinginan sejak tadi, tak peduli tubuhnya telah dibalut pakaian yang hangat. Dua orang perawat langsung datang menghampiri Ginna setelah mendapatkan isyarat dari Albern. Nyonya besar itu pun akhirnya dibawa kembali masuk ke dalam karena kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan untuk menikmati pesta lebih lama lagi.


Pesta pun berlanjut dengan cukup meriah meski dibalut dengan kesederhanaan. Semua orang yang hadir bargantian memberi ucapan selama pada Albern dan Lily, termasuk Robbin, sepupu Lily yang juga wakilnya di perusahaan. Lelaki muda tersebut datang jauh-jauh dari New York untuk memberikan doa secara langsung pada sang sepupu.


"Akhirnya kamu menikah juga dengan pangeran impianmu yang fotonya tiap malam kamu pandangi sambil menangis," ujar Robbin pada Lily.


Sontak mata Lily langsung mendelik mendengar itu. Dari ekspresinya, Robbin langsung tahu kalau hal tersebut adalah hal yang tak ingin Lily ceritakan pada Albern.


"Apa maksudnya itu?" tanya Albern pada Robbin. Tampaknya lelaki yang baru saja resmi berstatus sebagai suami Lily itu merasa penasaran pada kelengkapan cerita dari kalimat yang diucapkan oleh Robbin barusan.

__ADS_1


Terang saja Lily langsung menggelengkan kepalanya pada Robbin. Dia tak ingin Albern mengetahui hal konyol yang pernah dia lakukan di masa lalu karena merindukan lelaki itu.


"Wah, Anda tidak tahu, ya, kalau Lily memajang foto-foto Anda di kamarnya, lalu akan menangis sambil memandangi foto-foto tersebut karena merasa rindu. Saya benar-benar tersiksa karena hanpir setiap malam mesti membujuknya agar berhenti menangis. Mudah-mudahan sekarang dia tidak cengeng lagi, supaya Anda tidak perlu melakukan apa yang sebelumnya pernah saya lakukan,” sahut Robbin.


"Dasar mulut ember," ujar Lily tak senang. Dia benar-benar merasa malu karena Albern sampai mengetahui sesuatu yang bahkan orang tuanya sendiri saja tidak tahu.


Robbin tertawa senang melihat reaksi Lily. Dia sungguh senang karena akhirnya bisa membalik situasi menjadi orang yang membuat malu Lily. Di masa lalu, dialah yang biasanya dipermalukan oleh Lily di hadapan gadis yang disukainya. Sungguh tak disangka momen ini akhirnya datang juga. Tampaknya akan jauh lebih mudah mengerjai Lily jika sepupunya itu berada dekat dengan Albern.


"Sungguh?" tanya Albern kemudian pada Lily.


"Jangan dengarkan Robbin. Dia memang biasa bercanda berlebihan," sangkal Lily.


"Tidak, aku tidak bercanda. Kamu bahkan pernah tertidur sambil memeluk foto pangeranmu itu, Robbin menimpali kembali.


"Robbin, jangan sembarangan bicara." Lily terlihat semakin mendelik.


"Benarkah sampai seperti itu?" tanya Albern pada Robbin.


"Jangan percaya omongan dia, Kak. Dia itu pandai sekali mendramatisasi cerita." Lily menyela.


"Tidak, aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya," sahut Robbin.


"Dasar." Ingin sekali Lily memukul Robbin sekuat tenaganya, tapi orang yang bersangkutan lebih dulu pamit undur diri dan langsung menjauh sembari terkikik geli. Sepertinya dia cukup membuat Lily merasa kesal kali ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2