Albern & Lily

Albern & Lily
Briana Yang Meresahkan


__ADS_3

"Kak Zi...!" Lily berlari menyusul Zivanna yang sedang berjalan di taman kampus bersama Darrel. Tampak gadis itu terengah-engah dengan peluh yang membasahi dahinya.


"Kak Zi dari tadi aku panggil kok tidak dengar, sih?" Gerutu Lily saat ia telah berhasil menyusul.


"Aku dengar, tapi tidak mau bertemu denganmu." Jawab Zivanna dengan raut tak bersahabat.


"Kenapa?" Tanya Lily.


"Kamu menyebalkan. Gara-gara membantumu supaya bisa jalan dengan Kak Al, aku jadi dimarahi Mama. Pokoknya aku marah dan tidak mau bicara denganmu." Zivanna membuang wajahnya kearah lain. Sedangkan Lily hanya bisa terperangah melihat tingkah adik Albern itu.


"Tidak mau bicara denganku, lalu yang barusan tadi apa?" Gumam Lily.


Tanpa sadar sudut bibir Darrel sedikit berkedut karena menahan senyum. Interaksi Lily dan Zivanna memang selalu menghibur di mata pemuda itu. Entah itu saat mereka sedang akur atau sedang berdebat, tingkah kedua gadis itu sama-sama terlihat menggemaskan bagi yang melihat.


"Memangnya kenapa Mama Zaya marah?" Tanya Zivanna dengan raut wajah tanpa dosa.


Zivanna mendengus dengan agak kesal sebelum akhirnya melihat kearah Lily lagi.


"Tante Carissa mengirimkan pada Mamaku fotomu dan Kak Al yang sedang berbelanja di supermarket. Mama marah karena mengetahui tempat itu dekat dengan laboratorium Kak Al. Beliau mengira kalau kalian berdua datang kesana dan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Kak Al juga dimarahi." Jawab Zivanna panjang lebar. Sepertinya dia langsung melupakan ucapannya tadi yang mengatakan dia tidak mau berbicara pada Lily.


"Melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan?" Ulang Lily.


"Iya."


Lily mengerutkan kening.


"Maksudnya apa?" Tanyanya bingung.


"Ah, pokoknya begitulah. Intinya Mamaku marah pada Kak Al karena membawamu kesana, dan Mama juga marah padaku karena telah membantumu berbohong pada Mama dan Papamu."


Lily masih terlihat tak mengerti.


"Mama Zaya bisa marah juga, ya?" Gumamnya kemudian.


"Ya bisa lah. Kamu pikir Mamaku ibu peri?" Zivanna kembali mendengus karena kesal.


"Lalu bagaimana? Setelah ini aku masih bisa bertemu dengan Kak Al lagi, kan?" Tanya Lily lagi.


"Mana aku tahu. Pokoknya aku tidak mau membantumu lagi seperti sebelumnya. Kalau tidak Mama akan memblokir kartu kreditku."


Sontak Lily membeliak kearah Zivanna.

__ADS_1


"Kak Zi, masa rasa kesetiakawanan Kak Zi hanya sebatas kartu kredit?" Lily terlihat tak terima.


"Hei, kamu pikir aku bisa meneraktirmu kalau kartu kreditku diblokir?" Zivanna balik bertanya.


Lily terdiam sesaat.


"Benar juga." Gumam gadis itu sambil tertawa renyah.


Darrel kembali menahan senyum. Baik Zivanna maupun Lily, keduanya akan sama-sama menjadi labil jika sudah bertemu.


"Jadi, sekarang ceritanya Kak Zi masih marah?" Tanya Lily lagi, masih dengan wajah tanpa dosa.


"Ya, masih lah." Zivanna seakan kembali tersadar jika saat ini dia sedang merajuk pada Lily.


"Ayo, Darrel." Ujarnya mengajak Darrel untuk pergi dari sana meninggalkan Lily.


"Mau kemana lagi?" Tanya Darrel.


"Kantin." Zivanna menjawab terus melangkah. Mau tak mau Darrel pun mengikuti Sang Nona Muda.


"Ikut...!" Lily berlari menyusul dan langsung merangkul keduanya dengan tersenyum lebar. Tak peduli pada mata Zivanna yang kini tengah melotot kearahnya.


Setiba di kantin, Zivanna pun tak kuasa untuk merajuk lagi pada Lily. Rayuan maut Lily berhasil meluluh-lantakkan pertahanan gadis itu. Ya, selalu seperti itu. Antara Lily, Zivanna, dan Darrel, tak pernah terjadi perselisihan yang serius selama bertahun-tahun mereka berteman.


"Berusahalah sendiri. Biasakanlah kalau mau berbuat dosa jangan melibatkan orang lain." Zivanna menanggapi. Terlihat jika sebenarnya dia masih kesal pada Lily.


"Jika jalan dengan Kak Al adalah sebuah dosa, berarti itu adalah dosa terindah yang pernah aku lakukan." Lily bergumam dengan puitis seakan dia adalah seorang pujangga.


"Mana ada dosa itu indah. Dosa ya dosa!" Zivanna berdecih mendengar bualan Lily, sedangkan Darrel hampir tersedak saat menyeruput minumannya. Dan Lily sendiri terkikik geli setelah mengucapkan kata-katanya barusan.


Suasana kantin memang selalu berbeda jika Three Musketeers ini sudah ada di sana.


"Lagipula Kak Al juga sepertinya tidak akan bisa menemuimu weekend ini." Ujar Zivanna akhirnya.


"Kenapa?" Tanya Lily.


"Kak Al akan melakukan perjalanan bisnis ke New York selama seminggu."


"Benarkah?" Lily tampak terkejut.


"Aku tahu itu saat tadi pagi mendengar Kak Al berbicara dengan asistennya. Sepertinya lusa dia berangkat." Ujar Zivanna lagi.

__ADS_1


Lily terdiam selama beberapa saat.


"Kenapa Kak Al tidak memberitahu ku?" Lily bertanya lirih, seakan bergumam pada dirinya sendiri.


"Mana aku tahu." Ujar Zivanna acuh.


"Jangan-jangan Tuan Muda tidak benar-benar menganggap mu sebagai calon istri masa depannya." Kali ini Darrel yang menanggapi. Pemuda satu ini sangat irit bicara, tapi sekali dia berkata-kata, seringkali terdengar sangat menohok.


"Sembarang." Sergah Lily cepat.


"Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak memberitahu padamu jika dia akan pergi selama seminggu. Menurutku seminggu itu waktu yang cukup lama." Tambah Darrel lagi.


Lily kembali terdiam. Benar juga yang dikatakan Darrel, kenapa Albern tidak memberitahunya jika akan pergi selama seminggu? Bukankah seminggu adalah waktu yang cukup lama untuk berpisah, terutama bagi pasangan yang sedang kasmaran seperti mereka. Atau jangan-jangan disini Lily saja yang sedang merasa kasmaran?


"Mungkin karena Kak Al akan pergi bersama perempuan bernama Briana." Ujar Zivanna lagi.


"Briana?" Lily bergumam sambil sedikit membeliakkan matanya.


"Aku dengar Briana itu perwakilan dari perusahaan dari Amerika yang akan bekerjasama dengan Brylee Group. Dia sudah lebih dulu datang ke sini, lalu sekarang giliran Kak Al yang datang ke New York untuk bertemu langsung dengan pemilik perusahaan tersebut. Jadi, kelihatannya mereka akan pergi bersama. Kabarnya pemilik perusahaan itu adalah teman lama Papaku. Dan Briana adalah anaknya."


Lily kembali tertegun dengan raut wajah yang tidak bagus.


"Briana itu... laki-laki atau perempuan?" Tanya Lily kemudian. Gadis itu terlihat syok hingga tanpa sadar melontarkan pertanyaan bodoh yang sudah sangat jelas jawabannya.


"Menurutmu?" Zivanna mengembalikan pertanyaan itu pada Lily.


"Menurutmu, Darrel?" Lily justru melemparnya pada Darrel.


Pemuda itu terdiam sesaat dan tampak berpikir.


"Menurutku, Briana itu adalah seorang perempuan cantik yang cerdas, anggun dan juga matang. Dari namanya juga terdengar jika dia perempuan yang berkelas." Ujar Darrel kemudian dengan santainya. Pemuda itu lalu kembali menyesap minumannya tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Lily.


Seketika Lily membeliak marah pada pemuda di hadapannya itu.


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi sebagai teman, tidak bisakah kamu bilang saja kalau dia seorang transgender?" Sergahnya.


Darrel dan Zivanna saling pandang sambil sama-sama mengangkat bahu mereka.


"Tapi 'kan dia bukan transgender." Keduanya kembali bergumam dengan polosnya.


Dasar!

__ADS_1


Bersambung...


Tuh...mulai dah ibu2 komplek su'udzon sama Briana, padahal kan belum tentu dia nyebelin. Kebanyakan baca novel pelakor kalian, ya🤣🤣🤣✌️


__ADS_2