
Zaya terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya menyetujui permintaan Carissa untuk bertemu. Keduanya kemudian menentukan tempat untuk mereka bertemu besok. Dan setelah sedikit berbasa-basi, Carissa pun mengakhiri panggilan telponnya.
Pandangan mata Zaya kembali pada Albern, lalu berganti pada Zivanna.
"Zi, Mama harap kamu tidak akan lagi membantu Lily berbohong pada orang tuanya." Ujar Zaya kemudian pada Zivanna.
"Iya, Ma." Zivanna menjawab sambil kembali ke tempat duduknya semula.
"Dan kamu, Al. Katakan pada Mama, sejauh mana hubunganmu dengan Lily. Sudah kamu apakan saja dia?" Zaya beralih bertanya pada Albern.
Albern tampak menautkan kedua alisnya.
"Sayang, apa kamu sungguh perlu sampai bertanya seperti itu pada Albern? Dia itu sudah sangat-sangat dewasa, pasti tahu batasannya. Lagipula jika mereka melakukan sesuatu, tentu saja itu bukan hanya keinginan Albern saja, Lily pasti menginginkannya juga. Harusnya Carissa juga paham." Aaron tampak membela Albern.
Berganti Zaya yang menghela nafasnya. Sebenarnya dia juga merasa jika Albern dan Lily tidak mungkin sampai melakukan hal yang memalukan. Tapi pengalaman masa lalunya yang agak tidak mengenakkan membuat Zaya menjadi sedikit paranoid.
"Aku dan Lily tidak melakukan sesuatu yang akan mencoreng nama baik keluarga, Ma. Percayalah pada kami, kami tidak akan membuat keluarga menjadi malu." Ujar Albern akhirnya menenangkan Zaya.
"Aku membawa Lily ke laboratorium hanya karena ingin memperlihatkan tumbuhan hasil penelitianku." Tambah Albern lagi.
Mendengar itu Zivanna tampak mendengus dengan agak kesal.
"Aku saja tidak boleh melihat, tapi Lily boleh." Gerutu gadis itu.
"Tentu saja boleh. Dia 'kan calon istriku." Albern menanggapi gerutuan Zivanna.
Zaya kembali menatap Albern.
"Benar kamu dan Lily tidak melakukan apapun di sana, Al? Mama tidak tahu mesti mengatakan apa pada Mamanya Lily kalau sampai kamu menodai anak gadisnya." Tegas Zaya dengan nada serius.
"Kata-kata Mama terdengar menyeramkan." Gumam Albern. Tapi kemudian dia tampak sedikit berpikir. mengungkapkan kata-kata cinta bukan termasuk dalam kategori menodai, kan? Menodai pikiran maksudnya.
"Sudahlah, Sayang. Percaya saja pada putra kita. Dia pasti tahu bagaimana caranya menghargai perempuan." Aaron tampak berusaha kembali menenangkan Zaya. Dapat dia lihat istrinya itu melirik padanya dengan pandangan yang agak tak biasa.
"Jangan bilang dia bisa menghargai perempuan seperti Papanya." Gumam Zaya jengah.
"Memangnya kenapa denganku?" Aaron bertanya pada istrinya itu dengan memasang wajah tanpa dosa.
Zaya tak menjawab dan hanya menghela nafasnya. Banyak mengalami hal pahit diawal pernikahannya dulu memang terkadang membuat Zaya merasa takut. Meski kemudian kehidupannya bisa dibilang sangat bahagia dan Aaron juga begitu mencintainya. Tapi tetap saja, rasa takut seringkali datang. Takut jika Albern tanpa sadar melakukan kesalahan yang sama seperti Papanya, dan takut penderitaan yang pernah dia rasakan dulu juga dirasakan oleh siapapun yang menjadi pasangan Albern.
__ADS_1
Ah, sungguh itu kekhawatiran yang tak beralasan. Zaya berharap hal itu tidak akan pernah terjadi.
Interogasi terhadap Albern pun akhirnya selesai juga. Albern bisa menghela nafas lega karena Sang Mama sudah tak salah paham lagi terhadapnya.
Keesokan harinya, Zaya datang ke tempat yang telah disepakatinya bersama Carissa. Ia datang lebih dulu beberapa menit daripada Mama Lily itu.
Selang beberapa saat, Carissa juga datang.
Zaya bangkit dari duduknya untuk menyambut Carissa. Mereka kemudian sama-sama duduk dan memesan minuman.
"Apa kabarmu, Carissa?" Tanya Zaya berbasa-basi.
"Aku baik." Jawab Carissa.
"Sudah lama tidak melihatmu bermain piano. Senang rasanya kamu bersedia kembali mempertunjukkan permainan pianomu saat acara pengangkatan Albern tempo hari." Zaya kembali berbasa-basi pada Carissa.
"Sejak memutuskan pensiun, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah." Jawab Carissa lagi. Perempuan paruh baya yang pernah menerima penghargaan sebagai pianis terbaik ini memang telah mengumumkan untuk pensiun sejak tiga tahun terakhir. Yang dilakukannya sekarang benar-benar mengurus suami dan putrinya saja, full time.
"Bagaimana denganmu? Aku dengar bisnismu berkembang semakin pesat saja. Lily bahkan bercita-cita untuk menjadi seorang pebisnis hebat sepertimu." Berganti Carissa yang bertanya pada Zaya.
Zaya tertawa kecil.
"Bisnis kecil-kecilan tapi bisa menyumbang pada ratusan panti asuhan setiap bulannya. Bahkan Brylee Group saja tidak sedermawan itu." Ujar Carissa lagi.
Sekali lagi Zaya tertawa.
"Jika Brylee Group terlalu dermawan, takutnya malah gulung tikar." Zaya menanggapi dengan berseloroh.
Carissa ikut tersenyum. Suasana pun menjadi cair.
"Jadi Carissa, apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Zaya akhirnya.
Carissa terdiam beberapa saat sembari menghela nafas dalam.
"Ini tentang Albern dan Lily. Mereka berdua menjalin hubungan, apa kamu sudah mengetahuinya?" Carissa balik bertanya.
"Aku dan Aaron sudah tahu. Albern telah memberi tahu kami sejak awal." Jawab Zaya.
"Kalian sudah tahu sejak awal, lalu apa itu tidak masalah untuk kalian?" Tanya Carissa lagi.
__ADS_1
"Kenapa harus jadi masalah? Albern dan Lily saling mencintai. Keluarga kita juga sudah saling mengenal dan berteman sejak lama. Aku rasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan." Zaya berujar sembari tersenyum.
"Jadi kalian merestui hubungan mereka?""
"Tentu saja." Zaya kembali tersenyum.
Carissa terdiam sejenak.
"Tapi usia Albern dan Lily terpaut cukup jauh. Lily masih sangat muda dan labil." Gumamnya kemudian.
"Tidak usah terlalu memusingkan hal seperti itu, Carissa. Kelihatannya sejauh ini mereka merasa cocok-cocok saja. Biarkan saja mereka menjalaninya dulu."
Carissa terlihat kembali terdiam dan nampak sedang berpikir.
"Evan masih belum tahu..." Akhirnya Carissa mengatakan permasalahan yang sesungguhnya.
Berganti Zaya yang terdiam dan memandang kearah Carissa dengan tatapan yang lebih serius.
"Selama ini Evan selalu menentang setiap pemuda yang mendekati Lily. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat tahu Lily menjalin hubungan dengan Albern. Terlebih lagi dia punya pandangan yang agak berbeda terhadap putramu itu."
Zaya masih diam dan mendengarkan.
"Zaya, terus terang, Evan punya kesan yang tidak terlalu bagus terhadap Albern. Dia khawatir hidup Lily akan menderita jika berada di samping seseorang yang punya latar belakang hebat seperti putramu itu. Aku sangat yakin dia tidak akan setuju dengan hubungan Albern dan Lily. Dan sebagai istrinya, aku memahami kekhawatiran Evan. Dia ingin putrinya bahagia."
Sontak Zaya langsung menggenggam kedua tangan Carissa.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Lily menderita bersama Albern, Carissa. Aku berjanji. Dia sudah ku anggap seperti putriku sendiri. Tentu saja aku akan menjaganya." Ujar Zaya dengan tatapan penuh harap.
"Aku juga memahami apa yang dikhawatirkan Kak Evan. Tentu saja aku tidak akan membiarkan penderitaanku di masa lalu dialami juga oleh Lily. Aku berjanji Albern tidak akan melakukan kesalahan seperti Papanya. Lagipula, sejak awal dia sudah sangat mencintai Lily. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang perlu kamu lakukan hanyalah meyakinkan Kak Evan untuk menerima Albern, sisanya aku yang akan tangani."
Carissa tampak mencerna kata-kata Zaya barusan. Entah dia harus mengiyakan atau tidak. Dia merasa seperti berhadapan dengan seorang salesman yang menawarkan barang dan tak mampu untuk menolak.
"Baiklah..." Carissa akhirnya bergumam dengan sedikit mendesah.
"Aku mengiyakannya karena percaya padamu, Zaya. Jangan sampai Albern menyakiti Lily barang sedikitpun, karena jika itu terjadi, aku tidak akan mempercayaimu lagi."
Bersambung...
Tetap like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️